Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
79. Serasi


__ADS_3

Semua anak pun menoleh ke Jingga.


"Jingga!" teriak Yuri dan Prilly.


Nita dan Siska yang sudah lebih dulu berjalan pun menoleh. Adip juga menoleh. Hanya saja Adip diam sejenak memberikan Jingga kesempatan menyelamatkan dirinyan sendiri.


Rupanya, meski tak sebesar sungai utama, sungai kecil itu dalam. Jingga yang membawa beban berat begitu jatuh langsung masuk ke dalam, karena tidak siap berpijak dan melayang di air.


"Tolong Nona!" teriak si tukang perahu yang sedang mengikat tali perahu.


"Haish. Apa dia tak bisa renang?" gerutu Adip sambil bergerak.


Adip pun langsung melempar tasnya. Secepat kilat Adip melakukan gerakan lompatan heroik dan cantik seperti atlet renang aquatik, mencebur ke sungai, menyelam dan menolong Jingga.


Yuri dan Prilly pun berpegangan tangan panik. Kenapa Jingga tak bisa berenang?


Ternyata arus sungai yang tenang itu justru yang dalam, karena terkilir kaki Jingga kram dan sakit. Jingga panik. Tasnya yang berisi laptop,hape alat make Up, minuman dan peralatan lain pun membuat Jingga susah mengambang.


Jingga panik dan meminum banyak air. Adip langsung menyelam dan mencari Jingga yang hampir terbawa arus. Dengan gerakan cantiknya Adip meraih tubuh Jingga dan membantunya.


Tas Jingga memang berat. Adip pun berusaha melepaskan dan membiarkan tas Jingga hanyut. Sehingga mereka di air lumayan lama.


Untungnya tenaga Adip yang biasa bekerja keras kuat. Adip pun membawa Jingga naik ke permukaan. Meski sebentar air sungai di daerah hilir itu sudah termasuk air payau. Jingga yang panik dan kakinya kram banyak menelan air.


Jingga tertolong denga keadaan sangat pucat dan lemah, bahkan Jingga pingsan.


"Jingga..." Yuri dan Prilly mendekat.


Adip langsung menepuk punggung Jingga agar mengeluarkan air di tubuh Jingga, keluar sedikit tapi Jingga tetap sangat lemah.


Adip menoleh ke Yuri dan Prilly. Mereka malah nangis dan gugup takut melihat kawanya sangat lemah.


Tidak menunggu lama, karena tidak ada respon nyeri, setelah memeriksa denyut nadi carotis Jingga masih ada, tapi nafas Jingga nihil. Di situ juga tidak ada ambu bag, ataupun alat bantu pernafasan yang memadai.


Adip melakukan pertolongan bantu nafas dengan metode sederhana mouth to mouth. Adip memposisikan Jingga berbaring dengan benar, membebaskan jalan nafas dengan jaw trust dan chin lift.


Kemudian melakukan pertolongan itu dengan cepat dan tanpa ragu. Adip melakukanya dengan pengharapan murni keselamatan. Meski tidak bisa dipungkiri dada Adip bergemuruh.

__ADS_1


Adip sendiri juga jadi panik dan khawatir. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Jingga, lebih dari siapapun Adiplah yang akan menyesal dengan sangat. Jadi bagaimanapun caranya Adip harus pastikan keselamatan Jingga.


"Uhuk!" Jingga berhasil tersadar lemah setelah Adip melakukanya dengan baik..


Yuri dan Prilly kemudian mendekat ke Jingga dan membantunya setelah Jingga tersadar lemah.


"Apa kau berbohong pada panitia?" celetuk Adip spontan begitu Jingga membuka mata.


Yuri dan Prilly hanya menoleh kenapa Bang Adip terlihat marah.


Jingga yang terlihat lemah berusaha menjawabnya.


"Ap-pa mak sudnya?" tanya Jingga semakin merasa tersakiti oleh perkataan Adip.


"Saat seleksi masuk, syarat ikut ke sini bisa renang kan? Kau berbohong?" tanya Adip laagi menghakimi. Padahal Jingga masih gemetaran dan pucat..


Jingga pun terdiam dan meneteskan air mata lagi.Jingga merasa benar- benar tersakiti oleh semua orang di situ.


"Aku tidak bohong. Aku bisa renang. Babaku mendatangkan guru les ke rumahku, sejak aku umur 5 tahun, tapi!" jawab Jingga terbata.


"Kalau memang kau bisa renang. Kenapa kamu tidak berusaha naik ke permukaan dan begini? Kau tahu ini bahaya! Buktikan kalau kamu bisa renang!" jawab Adip lagi memojokan Jingga.


"Lebih baik tenggelam saja dari pada dimarah- marahi!" pikir Jingga air matanya semakin deras mengalir.


"Aku panik! Maaf, hiks hiks!" jawab Jingga lagi dengan lirih dan terisak. Kenapa Adip selalu memarahinya, tapi ke orang lain ramah.


Prilly dan Yuri pun tak bisa berkata apa- apa. Mereka juga takut mendengar Adip terlihat emosi.


"Haishh!" desis Adip tidak tega melihat Jingga menangis.


Sebenarmya Adip marah karena menutupi rasa panik yang menguasai. Bahkan Adip ingin memeluk Jingga saat itu. Sayang Adip menyadari Jingga bukan siapa- siapanya Adip. Apalagi mendengar kata Tari Jingga akan menikah dengan Pak Rendi. Adip jadi jengkel dengan perasaanha sendiri.


Adip kemudian mengambil tasnya dan memberikan jaket ke Jingga. Ternyata kaos yang Jingga kenakan lumayan ketat dan membekas terawang membuat lekuk tubuh dan buah ranum Jingga terlihat.


"Pakailah!" ucap Adip perhatian meski nadanya ketus. "Cepat bangun dan ikut aku!" ucap Adip.


Yuri dan Prilly kemudian membantu Jingga. Sementata Nita dan Siska saling mencibir.

__ADS_1


"Ish banyak drama!"


Saat Yuri mengajak Jingga bangun mereka malah terhuyung.


"Auwh!" pekik Jingga. Adip pun menoleh ke Jingga lagi.


"Kenapa Ngga?" tanya Prilly.


"Kakiku sakit banget," lirih Jingga lagi menunduk takut dimarahi Adip lagi.


"Sakit kenapa?" tanya Yuri.


"Aku nggak tahu. Kek kesemutan gitu!" jawab Jingga menepuk nepuk kakinya.


Adip yang melihatnya pun mendekat dan berjongkok tiba- tiba.


"Naiklah!" ucap Adip menepuk punggungnya.


Yuri, Prilly dan Jingga terdiam dan menoleh ke Adip. Jingga menelan ludahnya takut dimarahi lagi. Nanti dibilang cari oerhatian lagi.


"Kenqpa diam? Cepatlah!" ucap Adip.


Jingga masih ragu. Adip memundurkan badanya dan mendekat ke Jingga.


"Nggak apa- apa Ngga!" tutur Yuri mengangguk dan membantu Jingga naik ke badan yang Adip sediakan.


Meski canggung Adip berjalan menggendong Jingga. Yuri dan Prilly kemudian berjalan di belakangnya. Sementata Nita dan Siska memasang muka cemberutnya menunggu mereka.


Mereka pun berjalan melewati jalan setapak, jalanya itu berundak membentuk tangga alami. Undakan itu terbuat dari batu yang disusun rapi oleh warga sekitar.


Tukang perahu tidak mengantar hanya memberitahu nama kepala desa T, namanya Tuan Abraham. Rumahnya paling beda sendiri di pojok kampung dengan atap daun membentuk rumbai.


Jingga pun menyandarkan tubuhnya nyaman di bahu bidang Adip. Entah kenapa saat seperti itu Jingga merasa nyaman.


Begitu juga Adip, meski tak terucapkan. Adip begitu tenang seperti ada sejuta kupu- kupu menari di hatinya. Adip merasa tubuh Jingga memberikan daya dan energi yang membuatnya tak lelah.


Baju Adip yang basah tak ia rasakan. Kakinya yang pegal mendadak bergerak begitu lincah tanpa lelah. Meski saling diam hati mereka saling tertaut, mereka nyaman dengan posisi mereka.

__ADS_1


Yuri dan Prilly yang jalan di belakang mereka pun melihatnya senang tak ada rasa cemburu. Mereka seperti sepasang kekasih yang terlihat serasi.


__ADS_2