
Jingga menunduk saking kebalnya selalu diperlakukan ketus sama Adip.
“Jadi aku salah menilaimu!” ucap Adip pelan. Meski sederhana tapi kata- kata Adip salah menilai Jingga membuat Jingga penasaran dan jantungnya tiba- tiba berdebar lebih kencang. Jingga kemudian menoleh ke Adip.
“Memang bagaimana kau menilaiku? Bukankah aku selalu salah di matamu?” tanya Jingga membawa emosi entah kenapa Jingga tak bisa menahan rasanya lagi merasa sedih selalu diperlakukan berbeda oleh Adip. Jingga bahkan menatap Adip dengan mata nanar.
Adip menghela nafasnya lalu memandang Jingga dalam, Adip sendiri saat menatap Jingga begitu jadi ngebleng dan lupa mau ngomong apa.
“Kamu calon dokter kan?” tanya Adip lagi.
“Ya, aku mahasiswi kedokteran!”
“Dimana letak hati nurami melihat mereka, bisa- bisanya kamu mengusir mereka? Dokter macam apa kamu!” jawab Adip akhirnya marah lagi.
“Apa kamu sekarang sedang menyalahkanku lagi? Apa menurutmu tindakanku salah?” jawab Jingga kali ini melawan dan tidak terima.
“Kamu masih bertanya apa kamu salah? Wahhh benar- benar, sepertinya kamu salah ambil jurusan kuliahmu!” jawab Adip.
“Apa salahku?” tanya Jingga masih membela diri.
“Ini nih, dokter masa depan yang tujuanya hanya uang yang begini. Bukanya orang tuamu sudah kaya? Apa hidupmu dan tujuanmu memang hanya uang?” tanya Adip dengan nada menekan dan benar- benar menyudutkan Jingga.
“Plak!” Jingga reflek menggerakan tanganya saking geramnya dan saking sakit hatinya dipojokkan terus oleh Adip.
“Kau berani sekali?” tanya Adip tidak menyangka, Jingga terlihat begitu lemah manis sering terlihat imut, lucu dan menggemaskan di mata Adip kenapa sekarang galak dan sangat lancang.
Padahal tamparan Jingga sama sekali tidak sakit, tapi hati Adip yang sakit. Malahan lebih dari Adip Jingga sendiri yang meneteskan air mata sakitnya, bahkan tangan Jingga gemetaran, dia sendiri tidak menyangka dirinya menampar orang. Anak- anak jadi menonton mereka.
“Jaga ucapan kamu! Aku tidak pernah seperti itu!” jawab Jingga berani, Jingga juga tidak memanggil Adip, Bang seperti yang lain.
“Kalau memang bukan uang tujuanmu lantas kenapa kamu tega membiarkanya? Mereka hanya butuh belas kasihanmu?” jawab Adip dengan nada emosi juga.
“Kamu veteriner kan? Tahu dong kode etik?” jawab Jingga mengeluarkan unek- uneknya.
“Kode etik?” tanya Adip.
__ADS_1
“Gue mahasiswa , gue nggak punya pegangan apapun, gimana gue bisa ngobatin. Gue nggak mau ya, ngorbanin orang php dengan ilmuku yang belum cukup dan bermain- main dengan nyawa orang, lebih dari itu resikoku tertular penyakit juga tinggi! Ini itu bukan tentang uang, ngerti nggak sih!” jawab Jingga menggebu dan penuh emosi.
“Lo lupa apa kata kepala puskesmas kemarin hah?”
“Gue ingat, tapi nggak harus dong gue beradaapan dengan orang tanpa masker!” jawab Jingga masih sangat idealis dengan prinsipnya sehingga membuat Adip geleng- geleng kepala dan habis kesabaranya.
“Gue juga nggak mau dikatakan mall praktel di sini!” jawab Jingga lagi.
“Hoh!” ucap Adip lagi menatap Jingga dengan emosi bercampur- campur.
“Lalu kamu tega membiarkan mereka kesakitan atau bahkan meninnggal tanpa pertolongan begitu saja?” tanya Adip sekarang nadanya lebih pelan.
“Ya mereka kan bisa berobat ke nakes yang lebih tepat!” jawab Jingga.
“Nakes lain?” tanya Adip wajahnya lebih maju menatap Jingga tajam,
Jingga jadi terdiam dan memundurkan langkahnya.
“Kamu tahu sekarang dimana? Di mana otak dan kesadaranmu saat rapat kemarin hah? Kamu tau kan ini desa hilir yang tidak ada fasilitas lain selain puskesmas? Tidak ada nakes atau fasilitas kesehatan lain di sini!” jawab Adip keras.
“Tapi kan aku juga tidak punya obat!” jawab Jingga masih membela diri.
“Kamu masih lupa atau memang tidak dengat sih? Ingat perkataan kepala puskesmas dan pernyataan Tuan Abraham?” tanya Adip lagi.
Waktu Pak Abraham menjelaskan kalau di desa itu juga ada puskesmas kecil yang kosong Jingga kan sedang di dalam kamar jadi Jingga tidak tahu.
Jingga terdiam menunduk.
"Aku nggak ingat!" jawab Jingga masih bandel.
Adip gemas dan menarik tangan Jingga.
“Lepas, Nggak! Mau kemana?” tanya Jingga kageet.
Adip terus menarik lengan Jingga ke puskesmas pembantu di belakang mushola. Di situ ada rumah kecil yang biasa di tempati bidan desa, obat- obatan pertolongan pertama dan alat periksa kesehatan ada di situ semua.
__ADS_1
Adip menarik tangan Jingga kasar untuk masuk. Setelah sampai di depan rumah kecil itu Adip melepaskan tangan Jingga kasar.
Rumah itu juga tidak dikunci, tapi tidak ada juga yang berani masuk ke dalamnya karena mereka tidak mengerti.
Jingga kemudian terdiam melihat ruangan sempit itu, di dinding kayu terdapat barisan obat- obatan sederhana peninggalan sang bidan desa yang sedang cuti.
“Kau menyanggupi untuk jadi kader kesehataan kan?" tanya Adip ke Jingga.
Jingga hanya menunduk menelan ludahnya.
"Setidaknya pakai nuranimu pada mereka yang datang, tanyakan apa keluhan mereka. Tunjukan kepedulianmu dengar apa yang mereka keluhkan!"
"Baik kamu sudah jadi dokter ataupun kamu sebagai mahasiswa. Kamu harapan untuk mereka!Obati sebisamu! Ini hanya sementata kok. Sampai bidan desa di sini datang. Kamu juga punya surat delegasi kan dari Puskesmas?" ucap Adip panjang.
Jingga terus menunduk tidak berani menatap Adip. Mata Jingga berkaca- kaca.
"Tidak ada dokter di dunia ini yang bisa menyembuhkan sesorang kecuali dari ijin Tuhan. Kamu pun tidak disuruh mengobati mereka. Lakukan sesuai porsi dan semampumu. Setidaknya bersikaplah sebagai manusia yang bisa memanusiakan orang lain! Kalau memang keadaan mendesak harus ke rumah sakit, kamu bisa memberi mereka pengertian! Jangan lantas kau usir dan jijik ke mereka!” lanjut Adip masih terus memberi pengertian ke Jingga.
“Kamu pikir jika kamu menjauhi mereka kamu bisa terus terhindar dari penyakit bertahan hidup di sini? Sementara semua orang di sini sakit? Hidup di tempat terpencil seperti ini kita saling ketergantungan dan saling membutuhkan? Apa selamanya kau akan bisa hidup sendiri dengan prinsipmu?” ucap Adip panjang langsung membungkam Jingga.
Jingga menelan ludahnya semakin merasa tertohok. Air mata Jingga pun lolos dari genanganya.
"Kamu pikir memilah antara dosa karena aku menyentuhmu menolongmu tenggelam dengan nyawamu itu juga bukan dilema?" ucap Adip lagi mengungkit saat Adip terpaksa menyelamatkan Jingga.
"Kamu di sini bukan hidup di tempat dimana kamu bisa memilih sesuatu berdasarkan idealismemu. Tapi kamu harus berfikir tentang kamu memilih hidup atau mati?" ucap Adip masih terus berkata meski Jingga sudah terisak.
Mereka kemudian saling terdiam. Dengan nafas mereka yang sama- sama memburu.
“Jangan sampai kamu membuatku menyesal!” ucap Adip lagi lirih.
Mendengar perkataan Adip Jingga mengangkat wajahnya.
“Apa maksudmu, aku membuatmumenyesal?” tanya Jingga merasa perkataan Adip aneh.
Adip diam, memperhatikan Jingga dengan perasaan tidak nyamanya, kemudian pergi meninggalkan Jingga. Adip tidak mau ketahuan dirinya yang membuat Jingga ada di situ.
__ADS_1