
"Aku mencintaimu, apa adanya Jingga" tutur Adip dengan kesungguhanya menatap Jingga dengan sorot mata serius, masih dengan tangan menangkup kedua pipi Jingga.
Jingga pun masih terdiam tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Dia masih terus menatap Adip dengan tatapan tidak bisa dijelaskan.
Nafas Jingga yang tersengal karena sedih dan menangis berubah jadi deruan nafas dan debaran jantung dipenuhi hawa panas.
Adip pun menunggu respon Jingga dengan pacuan jantungnya.
Adip masih ragu yang dilakukanya benar atau salah. Yang Adip tahu, jika masih ada ayah Jingga, seharusnya wali nikah Jingga adalah Babanya, bukan Amer. Adip sendiri bingung pernikahanya sah atau tidak?
Adip pun gelagapan, menerka Jingga akan marah. Atau akan membalas ungkapan rasanya.
"Apa barusan kita itu ciuman?" celetuk Jingga dengan polosnya tiba- tiba, di luar dugaan Adip.
"Maaf" jawab Adip segera menarik tanganya dan menjauhkan diri dari Jingga.
Adip sungguh gemetaran dan dipenuhi rasa bersalah dan malu.
Berbeda dengan Adip yang takut. Jingga malah senang.
Jingga menyentuh bibirnya dan tersenyum dengan centilnya kemudian melirik ke Adip yang gelagapan dan salah tingkah. Meski Adip yang melakukanya, tapi malah Adip yang wajahnya seperti kepiting rebus.
"Kenapa maaf?" tanya Jingga centil.
"Maaf aku sudah lancang, maaf juga aku tak pandai!" tutur Adip kesal kenapa Jingga habis nangis malah senyum- senyum.
"Kita suami istri kan?" tanya Jingga lagi mengulang pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
"Kenapa kau selalu bertanya hal yang sama?" jawab Adip semakin kesal Jingga seperti memainkan emosinya.
Kalau kata warga adat dan orang setempat, kata mereka sah. Tapi Adip merasa ragu, pernikahan yang dia ingin bukan seperti ini.
"Coba ulangi lagi katamu tadi?" ledek Jingga membalas perlakuan Adip pagi tadi saat habis dari jurang, masih dengan ekspresi bahagianya.
Tentu saja Adip sangat kesal, bisa- bisanya Jingga berubah ekspresi sedrastis itu.
"Kau ini? Kau menangis hanya akting ya? Jangan- jangan kau tidak bersedih? Dasar!" jawab Adip malah menyentil kepala Jingga gemas.
"Ish... ternyata kau yang bohong!" jawab Jingga balik mencibir.
__ADS_1
"Aku?" tanya Adip semakin kesal.
Tidak menjawab pertanyaan Adip, dengan agresif Jingga maju dan memberanikan diri mencium pipi Adip. Tentu saja Adip kaget karena Jingga seagresif itu.
"Terima kasih sudah mau jadi suamiku. Sungguh kan kau mencintaiku?" tutur Jingga kemudian.
Kali ini Jingga mengucapkanya dengan kesungguhan dan dengan tatapan berkaca- kaca.
"Ehm!" Adip berdehem lagi bingung tidak tahu mau jawab apa, jika tadi mengucapkan spontan sekarang jadi terasa berat.
"Tapi maaf ya.... karena aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, untuk kasih yang terbaik buat kamu!" ucap Jingga kembali melow lagi merasa dirinya kotor.
"Haish!" desis Adip kesal.
Adip benar- benar bingung menghadapi emosi Jingga. Sedih tiba- tiba, senyum tiba- tiba, marah tiba- tiba.
"Sudahlah tidak usah bahas itu lagi, ikut aku yuk!" ucap Adip bangun ingin mengajak Jingga ke air terjun yang dia lihat.
"Tunggu!" panggil Jingga menghentikan Adip.
"Apa lagi?"
"Kenapa perempuan sangat suka sekali bertanya hal yang sama sih?" gerutu Adip tidak menjawab.
"Ish... aku baru tanya. Aku kan hanya ingin memastikan," ucap Jingga menggerutu.
"Haisshh " Adip pun mengacak- acak rambut Jingga gemas.
Adip sangat berat bilang cinta lagi. Tidak menjawab, Adip malah berjalan menjauh.
Melihat itu Jingga tidak terima, dan dengan berani Jingga mengejar Adip bahkan berinisiatif meraih tangan Adip dan menggandengnya.
"Ehm...." Adip berdehem bingung, sebenarnya sangat suka menggandeng Jingga tapi bingung sudah boleh atau belum.
"Benarkah kamu tukang ojek dan supir angkot merah itu? Iya kan?" tanya Jingga kemudian.
"Menurut kamu?" jawab Adip malu- malu dan asal.
"Hehehe jawab iya kenapa sih? Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Jingga lagi centil.
__ADS_1
*****
Kakak Maaf
Sungguh author ragu sama alur author.
Maaf banget.
Setelah tanya ke yang lebih mengerti ilmu fiqih . Ternyata kalau masih ada Ayah kandung.Harus seijin ayah kandung dulu.
Jadi author takut sesaat..
Bingung jadinya mau lanjutin alur.
Kalau alur tetep halu, tapi Ilmu fiqihnya halu juga meski sesat boleh nggak sih. Jangan dipakai ilmu sesatku. Jangan disamain juga sama ilmu beneran.
Boleh nggak sih?
Tapi ini aku kasih tahu dulu. Kalau hukumnya hukum haluuu.
Sebelum nulis author udah riset duluan search dan tanya2, aku salah ambil kesimpulan. Barusan diskusi sama yang lebih tahu.
Ternyata yg bener, perwakilan perwalian hanya ada dua syarat meninggal dan tidak diketahui keberadaanya. Nah kalau Baba Ardi diketahu, tapi nggak bisa menghubungi dan kepaksa.
Jadi sebenarnya polemik juga.
Nggak peduli nupel lain.
Aku ingin juga nulis lbh dari sekedar uang dan popularitas, tapi pen buat bahagia dan sematin nilai2.
Tapi ternayata mumet dan salah.Gimana Dong Kak?
Lanjutin sesuai alur awal? Berhentiin? Ubah alur?
Minta tolong kalau berkenan baca part yang "Maaf aku harus menikahimu dan Air putih?
Di situ kutambah keterangan. Mewakili kesalahan nggak ya?
Makasih yang bersedia diajak diskusi.
__ADS_1