Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
155. Kesaksian Vivi


__ADS_3

Masih berlanjut Baba dan Buna. 


Mendengar jawaban ketus istrinya, Baba jadi tambah tersinggung. 


“Apa susahnya jawab pertanyaan suami!” jawab Baba ngambek, tanpa disuruh Baba juga udah searching, tapi kan ingin tahu dari istrinya yang lulusan dokter.


“Ba...pertanyaan Baba nggak perlu Buna dijawab, Baba udah tahu dong visum keperawanan itu bagaimana? Yang diperiksa apa? Ya Jingga nggak maulah. Di rumah sakit pun, petugas kesehatan tidak akan melakukan kalau pasien tidak setuju! Baba nggak bisa paksa anak sedewasa Buna!” jawab Buna memberitahu. 


“Buna kenapa sih kaya nggak dukung Baba banget, bukanya bantu rayu anaknya biar mau, malah mau nyalahin Baba!” jawab Baba lagi merasa terpojok.


“Lah Baba... Buna kurang ngrayu gimana coba?, Tiap jam, tiap saat malah, Buna bolak balik kamar Baba dan Jingga kaya setrikaan sampai Buna pusing. Buna sampai kehabisan kata- katam Jingga udah dewasa Ba... sudahlah, Baba temui saja Uminya Rendi dan keluarga Kak Farid! Jelaskan apa adanya, bawa Amer dia jadi saksi. Jingga dijahati bukan digerebek dalam keadaan sadar. Toh berita tentang Jingga sudah redup Ba, keluarga dan saudara juga sudah mengerti setelah Amer jelaskan!” tutur Buna merasa sudah lelah dan habis kesabaran ngasug Baba, si bayi pertamanya yang dari dulu sama terus nggak berubah.


“Baba malu Bun! Jingga kan anak Baba!” 


“Malu gimana? Jingga nggak salah Ba!” 


“Tapi kalau nanti orang tua Rendi nggak percaya dan nuduh anak kita, Baba nggak terima. Baba mau bela pakai cara apa, kalau nggak ada bukti!” 


“Ya udah, kalau mereka nggak percaya apa kata Jingga dan Amer, ya berarti emang mereka bukan keluarga yang baik untuk kita! Udah batalin!” jawab Buna lagi. 


“Buna seneng perjodohan ini dibatalkan? Buna nggak pro sama Baba?” tanya Baba sewot lagi penyakit anak kecilnya tambah parah.

__ADS_1


“Astagah, Baba! Astaghfirulloh!” jawab Buna memukul keningnya gemas dengan suaminya sendiri. 


“Ba... pro nggak pro sama Baba... Buna bersikap objektif Ba..., ini hidup anak kita, Jingga sudah dewasa, Jingga yang akan jalanin. Jingga berhak tentuin Ba. Dan kenyataanya Jinga udah menikah dengan orang lain.” 


“Tapi Buna!” potong Baba.


“Si laki- laki yang bernama Adip itu nggak jelas asal usulnya. Jingga saja kita tanya nggak bisa jawab, pekerjaanya kontrak nggak jelas lagi. Baba nggak bisa lah nglepas anak kita dengan pria sembarangan begitu hanya karena si anak bernama Adip itu ganteng dan kataya baik!” jawab Baba ngotot. 


Saat berdebat dengan Jingga kemarin, Baba sudah menginterogasi Jingga dan Amer tentang siapa Adip itu. Itulah sebabnya Baba ngotot tidak boleh dan harus cerai. Jingga juga ngotot mau menikah dengan Adip, sampai anak dan ayah itu saling diam. 


“Tapi..Ba!” sela Buna tapi belum jadi bicara sudah dipotong Baba. 


“Salahin aja Baba terus, salahin Baba, heran sama Buna kok bisa anak kita yang cantik cerdas gitu, mau dilepas gitu sama orang nggak jelas!” jawab Baba merasa dirinya benar.


Buna menghela nafas panjang. 


“Vivi barusaja menemui Buna Ba...!” celetuk Buna akhirnya. 


Baba yang marah seketika terdiam dan menoleh ke istrinya. 


“Apa hubunganya dengan Vivi?” 

__ADS_1


“Adip bukan orang sembarangan, Adip juga anak yang Buna cari. Putri kita tidak mungkin mempunyai selera sembarangan. Jingga anak Buna, Buna kenal betul anak Buna!” tutur Buna memilih membela Adip. 


Vivi ikut resah saat nama kelurga yang berperan besar menyelamatkan hidupnya dari jalanan terusik.


Saat Vivi melihat putri kandung orang tua asuhnya sangat kaget, apalagi melihat pria yang berada di samping Jingga.


“Adipati? Ini nggak mungkin, ini pasti fitnah!” batin Vivi yang sangat mengenal Adip yakin seratus persen itu salah. 


Vivi pun langsung menelpon Buna meminta bertemu, menanyakan dan memberi kesaksian. 


“Apa maksud Buna?” 


"Adip itu seorang santri, dia memang sebatang kara. Ayahnya dulu seorang prajurit yang meninggal di medan perang. Ibunya dan adiknya meninggal karena sakit. Adipati dibesarkan di lanti asuhan, tapi kemudian diambil oleh seorang Kyai di suatu pesantren. Dia hafids Ba... dia bukan anak sembarangan. Dia juga aktivis diberbagai organisasi sosial. Itu sebabnya banyak perempuan tergila- gila padanya, termasuk anak Baba!" tutur Buna panjang.


Baba terdiam tidak bisa menjawab.


"Putri Buna tidak akan mencintai orang sembarangan Ba. Vivi juga jatuh cinta dengan anak itu!" tutur Buna lagi.


"Tapi kan dia tidak mapan Bun!" jawab Baba masih membela diri.


"Astaghfirulloh Ba...! Harta Baba udah banyak. Kasihlah satu aset saja untuk Jingga mereka nggak akan kelaparan Ba!" jawab Buna gemas.

__ADS_1


Belum Baba menjawab pintu ruang kerja Baba diketok keras oleh Ikun


"Ba... Bun... Kak Jingga pingsan!"


__ADS_2