Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Kebalik


__ADS_3

"Noon...," lirih Vera bingung menepuk punggung Jingga.


Jingga memungkuk menutup wajah dengan kedua tanganya. Rasanya pedih perih dan sesak. Ingin rasanya Jingga berteriak, meminta oesawat Gunawijaya yang baru saja lepas landas kembali.


Tapi Jingga sekarang mengerti, menjadi perempuan yang dicintai Adip harus bisa mendukung langkah Adip jiga. Jingga tahu, cita-cita Adip besar. Jingga harus membiarkan dan mendukungnya.


Meski begitu, tetap saja, berpisah merupakan sesuatu yang berat. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Bayangan perpisahan, kisah kedua mertuanya terus membayangi Jingga.


Apalagi Jingga harus menghadapi Rendi yanh sama sekali tidak pernah Jingga duga begitu payah.


Jingga baru merasa dunianya begitu indah dan sempurna saat bersama Adip. Tapi kini Jingga seperto kehilangan separuh jiwanya. Hati yanh kemarin menghangat, kini kembali dingin. Dekapan yang merasuk masuk menjadi candu kini menjauh, entah kapan kembali.


"Hiiiks... hiiikk.." Jingga tidak bisa berkata- kata hanya bisa menyembunyikan suara isaknya dengan kedua mulutnya.


Tak akan ada bisa mengerti bagaimana rasanya harus melepas semua hangat dan indah yang baru dia rasa seperti mimpi.


"Ehm...," seseorang datang berdiri di depan Jingga.


"Nih tissunya!" ucap orang itu.


Mendengar itu Jingga langsung berhenti terisak, membuka tanganya cepat dan menatap pria itu nyalang.


"Kalau nggak kuat ditinggal kenapa tadi nggak ikut saja?" tutur Pria itu.


Jingga tidak menjawab mendadak emosi, dan seakan air matanya langsung berhenti.


"Saya nggak butuh tissu anda dan cepat pergi!" ucap Jingga keras.


"Mbak, boleh saya ngobrol dengan Nonamu!"


"Tidak!" jawab Jingga cepat.


Vera hanya diam


"Oke.... mau sampai kapan menangis di sini. Ayo pulang!" ajak Rendi ke Jingga.


"Mbak Vera, mana ponselmu. Rekam semua yang dia katakan!" ucap Jingga kembali ceroboh.


Niatnya menggertak Rendi tapi hal itu justru membuat Rendi jadi makin waspada.

__ADS_1


"Rekam?" tanya Vera.


Rendi yanh mendengat itu tentu saja tersenyum.


"Aku yakin Adip laki- laki yang baik. Sabar yah. Ya udah aku pulang dulu!" ucap Rendi baik karena tau Jingga sedang mencari bukti mengadu.


Jingga pun membiarkan Rendi pergi. Jingga jadi ingat Nila.


"Ayo cepat pulang Mbak!" ajak Jingga ke Nila.


Kini perasaan sedih Jingga hilang berganti khawatir. Benar memang, mengatasi sesuatu tanpa bukti itu susah. Tapi Jingga berharap jika Jingga memakai hati akan membuat Nila mengerti.


"Ini kita jadi naik motor?" tanya Vera.


"Jadilah. Ogah banget aku vareng sama dosen gila itu?" jawab Jingga.


"Tapi Pak Rendi keliatanya baik Non!" celetuk Vera.


Jingga hanya melirih dan mendengus. Mau menyanggah percuma hanya buang tenaga. Semua oramg bilang Rendi baik, sopan tampan dan mapan.


Aaah kesal sekali Jingga. Tidak ada yang tahu sosok Rendi tidak lain pria penuh ambisi, otoriter, kaku dan menyeramkan.


"Sini kuncinya!" ucap Jingga.


"Non bisa?"


"Udah diam!" jawab Jingga


Jingga beberapa kali naik mainan bareng Iya dan Iyu. Jingga yakin bisa juga naik motor. Meski hanya muter di halaman rumah Jingga pernah berlatih.


Bermodal emosi yanh menggebu mengusir semua takut dan ragu. Jingga pun menyalakan motor Adip dan mulai nekad melaju. Ternyata bisa meski pelan dan awalnya belak belok. Tapi seiring berjalan Jingga lancar naik motor. Vera yanh diboneceng mulutnya tak hentinya komat kamit.


Begitu sampai rumah, Jingga langsunh ke kamar Nila.


"Kakak!" pekik Nila tersipu


Nila sedang memilah baju kebaya pengantinya.


Jingga mendelik, salah makan apa Nila. Baru mau masuk SMA kenapa sika sekali dengan semua hal berbau pernikahan

__ADS_1


"Nilaa... apa ini?" tanya Jingga kaget.


"Aku cantik nggak?" tanya Nila tersenyum ramah.


Entah kenapa melihat senyum dan semqngat Nila justru hati Jingga teriris.


"Kamu bukan hanya cantik Nila. Tapi sangat cantik, dan tidak seharusnya kecantikanmu dikorbankan untu pria menyebalkan seperti Rendi," batin Jingga.


"Cantik, Nila!"


"Kenapa Kakak terlihat sedih?" tanya Nila.


"Kaka mau bicara!"


Nila mengangguk dan mengajak Jingga duduk. Sepertinya Nila sudah tahu apa yang hendak Jingga bicarakan


"Apa Kakak masih mau bilang Nila batalkan perjodohan ini?" tanya Nila tepat


Jingga mendelik..


"Lebih tepatnya Kakak ingin selametin kamu Nila. Kakak nggak mau kamu sakit hati, kamu berhak dapatkan cinta yang tulus dari suamimu nanti, Pak Rendi bukan orang yang baik untuk kamu nila," sahut Jingga cepat.


sayangnya Nila malah teesenyum


"Kakak nggak usah takut. Nila hanya berharap.cinta dari Alloh. Alloh yanh akan kasih Nila cinta. Yang tahu baik dan buruk untuk Nila kan bukan Nila, Kak!" jawab Nila tenang buat Jingga speechless.


"Nila tahu kok, Kak Rendi itu cinya sama Kakak. Tapi bukankah Alloh maha membolak balikan hati manusia. Nila ingin bahagiain baba dan kabulkan keinginan Baba, Nila yakin kok seiring berjalanya waktu, jika Nila nanti dewasa Pak Rendi akan cinya Nila!" sambung Nila lagi.


"Sejak awal, Nila juga jatuh cinya ke Kak Rendi," ucap Nila lagi.


Tadinya Jingga yang mau kasih tahu Nila, malah Jingga yanh serasa dinasehati Nila.


"Semoga kamu benera sadar dan tahu dengan apa yanh kamu katakan Nila!" ucap Jingga.


"Percayalah kak. 3 tahun cukup kok buat Nila berdoa. Kalau memang Kak Rendi bukan jpdoh Nila. Akan dijauhkan!" jawab Nila.


Jingga pun tak bisa berkata apa- apa lagi.


"Ya sudah kalau memang itu pilihan kamu!" jawab Jingga

__ADS_1


Jingga memilih pasrah dan pamit pergi ke kamar.


"Ya semiga saja 3 tahun ini Pak Rendi berubah. Ini artinya aku harus menjauh setiap ada dia!" batin Jingga


__ADS_2