
“Ada apa ini?” batin Adip gelapagan.
Tadinya Adip di luar gubug, takut jika di dalam imanya runtuh berdua bersama Jingga yang dalam keadaan tak sadarkan diri dan dengan tanpa busana.
Tapi karena hujan cukup lebat, Adip masuk dan menutup pintu. Niat Adip pun hanya menutup pintu, Adip tetap ingin berada di ruangan yang berbeda dengan Jingga.
Sayangnya, begitu Adip menutup pintu, tanpa Adip duga dan kira, dari ujung jalan. Semua yang diingini Tama berhasil. Warga berbondong- bondong datang ke rumah kayu kosong di tepi ladang yang biasa warga gunakan untuk menyimpan hasil tani itu.
Adip gelagapan menghadapi warga yang semua membawa obor dengan tatapan menghakimi.
“Siapa kamu, berani beraninya di sini!” tanya seorang laki- laki berperawakan tinggi besar.
“Saya Adip, nama saya Adipati Wirajaya! Saya numpang berteduh. Ada apa ya Pak?” jawab Adip berusaha tenang.
Semua warga saling berbisik melihat Adip yang bertelanjang dada.
Adip jadi kebingungan sendiri. Dari mana mereka datang? Kenapa mereka tahu ada Adip dan Jingga di situ.
Tiba- tiba warga menyerobot masuk ke dalam tambah membuat Adip bingung.
“Ada apa ini Pak! Jangan masuk!” ucap Adip berlari mencegah warga masuk. Adip tidak mau Jingga dilihat orang banyak.
Sayangnya omongan Adip justru ditafsirkan berbeda oleh warga, kenapa Adip menghalanginya?
“Bawa anak asing ini!” ucap Salah seorang yang di kepalanya terdapat aksesori seperti topi tradisional dan terdapat bagian hewan yang sudah dibersihkan, rupanya itu simbol kepala suku.
“Baik, kepala!” jawab warga yang lain, tiba- tiba dua orang meraih tangan Adip dan membawa Adip seperti tahanan.
“Ada apa ini Pak? Apa salah saya? Tolong jangan masuk! Teman saya tidak sadarkan diri, dan tidak berpakaian!” ucap Adip memberitahu.
Sekali lagi ucapan Adip justru disalah artikan, entah karena sedang marah? Atau saking primitif dan tidak belajar sopan santun, para warga dengan beringas tetap masuk ke dalam.
“Jangan!” teriak Adip berusaha meronta dan melawan melepaskan diri ingin berlari masuk.
Adip tadi begitu gugup menyentuh dan memakaikan pakaian pada Jingga. Dia hanya melilitkan bajunya tanpa memakaiakan dengan baik. Sebagian tubuh Jingga masih bisa terlihat.
Entah Jingga masih suci atau sudah direnggut Tama. Adip tidak rela orang lain melihat tubuh Jingga lagi, bahkan Adip sendiri takut akan dosa melihatnya. Adip ingin Jingga tetap terjaga.
“Jangaaannn!!” teriak Adip sambil menangis dan meneteskan air mata.
Adip benar- benar tidak tahu situasi apa yang dia hadapi sekarang, mimpi atau nyata.
Beberapa sosok laki- laki bertubuh tingga besar mengelilinginya membawa obor. Bahkan dua di antaranya memegangi tangan Adip. Saat Adip meronta, warga lain memukul Adip.
Adip berusaha mengeluarkan jurusnya dan nekat ingin melepaskan diri. Sayangnya Adip kalah jumlah. Adip kembali dibekukan, bahkan dipukuli.
__ADS_1
Laki- laki yang tadi dipanggil kepala kemudian keluar dari kamar Jingga berada.
“Benar, mereka telah berlezat! Bawa mereka ke balai! Aku tidak mau dewa marah dan datang badai lagi, kita harus hukum mereka!” ucap kepala suku.
Mendengar ucapan kepala suku Adip langsung membelalakan matanya.
“Apa itu berlezat? Tidak ada yang kami lakukan! Tolong lepaskan kami! Kami tersesat!” teriak Adip meminta.
“Plakk!”
Warga justru memukul Adip lagi.
“Kau tahu? Desa kami desa suci? Kalian lancang mengotori desa kami! Kami tidak akan menanggung akibat perbuatan kalian dan membuat dewa marah. Lihat hujan datang jangan sampai ada badai!” ucap salah seorang warga.
Adip pun mengernyit tidak mengerti, apa hubunganya hujan badai dan tanah suci? Hujan dan angin kan peristiwa alam. Letak geografis mereka di dekat laut, pegunungan pula. Bukankah hal yang wajar jika ada angin kencang? Adip juga tak melakukan apapun.
“Kami tidak melakukan apapun? Teman saya hampir diperkosa oleh orang lain, dia dibius, saya hanya ingin tolong teman saya! Percayalah!" ucap Adip menjelaskan.
“Mereka tidak akan mengakui Kepala! Kita bawa saja ke balai!” ucap salah seorang warga.
Kepala suku mengangguk setuju.
"Bawa mereka!"
"Tolong percaya kami, kami tidak melakukan apapun!" teriak Adip ingin menjelaskan tapi tak ada yang berusaha mendengar.
Jingga yang tak sadarkan diri, hanya diseret secara kasar oleh salah satu warga sehingga membuat Adip melihatnya semakin ngilu.
“Jangan.... jangan perlakukan dia kasar begitu!” teriak Adip sambil terus meronta ingin melepaskan diri dan memukul semua orang yang ada di situ. Sayangnya mereka ada 20 an orang Adip sendirian.
“Diam kamu!” bentak warga menendang kaki Adip,
“Tolong jangan kasari dia! Dia tidak sadarkan diri! Jangan sakiti dia! Tolong!” rengek Adip lagi dengan mata berkaca- baca. Bahkan Adip juga dipukuli warga.
Lucunya, Jingga sama sekali tak bergerak. Untung bagian inti Jingga, baik yang di atas atau yang di bawah terlindungi dengan baik oleh pakaian Adip. Tapi tetap saja, bagian perut, kaki dan tubuh bagian belakang Jingga terekspos.
“Bug!” Adip dipukul lagi oleh warga. Adip kalah tenaga karena dipegangi jadi hanya pasrah.
“Cukup!” ucap kepala suku.
Mereka diam, kemudian mendekat ke Jingga dan menggerakan tubuh Jingga memastikan.
“Bangunkan dia!” seru kepala suku.
Warga berusaha membangunkan Jingga tapi tak berhasil.
__ADS_1
“Dia dibius oleh orang jahat, tolong percaya kami!” ucap Adip dengan tatapan penuh permohonan.
Kepala suku memperhatikan Adip dan Jingga, tapi penuh keraguan.
“Angkat gadis ini, bawa mereka!” ucap kepala suku.
Kali ini seseorang mengangkat Jingga layaknya selendang yang di letakan di bahu, seakan tubuh Jingga tak berat sama sekali. Jingga pun bergelantungan tak sadarkan diri ikut saja.
Adip menatap ngilu orang yang dicintainya diperlakukan seperti itu, meski begitu ada sedikit perasaan lega, karena Jingga tak di seret seperti sebelumnya. Di bagian paha Jingga bahkan sudah tampak merah tergores kayu.
Beribu penyesalan datang menyergap hati Adip. Andai Adip tak meminta memasukan Jingga masuk ke acara ini, mereka tak sampai di titik ini. Jingga tetap terlindungi sebagai putri Gunawijaya yang terjaga.
Adip meneteskan air mata lagi, betapa dia merasa sangat berdosa, menjadi pangkal musibah ini.
Tak peduli air terus turun membasahi baju mereka, para warga membawa Adip dan Jingga ke sebuah lapangan di ujung bukit. Di sana di kelilingi gubung yang ada obornya membentuk lingkaran.
Arah jalan mereka ternyata berlawanan dengan rumah yang tadi Adip datangi bersama Pak Anton.
Rupanya sama seperti di desa T. Di desa itu ada dua kelompok warga, sebagian warga merupakan warga maju yang mulai mengenal pendidikan, pemerintah dan dunia modern meski banyak ketertinggalan. Sebagian warga yang lain merupakan masyarakat primitif.
Masyarakat primitif tak mengenal agama dan pendidikan apalagi percaya pemerintah. Mereka menganut kepercayaan nenek moyang. Mereka mempunyai hukum sendiri. Itulah sebabnya desa S tak digunakan sebagai tempat pengabdian mahasiswa.
“Ikat mereka!” perintah kepala suku.
Di tengah bukit itu terdapat dua tiang, yang terbuat dari pohon pinang yang sudah dihaluskan. Bukit itu oleh warga disebut bukit pengampunan atau tempat untuk warga melakukan upacara atau hukuman bagi mereka yang bersalah.
“Baik, kepala!” jawab salah seorang warga. Adip pun diikat di tiang itu begitu juga jingga.
“Jingga sadarlah Jingga!” lirih Adip tatapanya tak lepas dari Jingga.
Jingga masih tergolek lemas, seperti boneka yang diam saja mau diapakan tubuhnya oleh orang lain. Untung baju Adip yang dililitkan ke tubuh Jingga lumayan kencang sehingga bagian inti tubuh Jingga masih terlindungi.
Mereka berdua seperti tahanan. Mereka diikat menempel pada tiang dan terus merasakan guyuran hujan di malam yang dingin. Adip yang tak memakai baju pun menahan semua dingin itu dengan kulitnya.
“Kapan kita akan hukum mereka kepala?” tanya seorang warga.
“Panggil semua warga. Mereka berhak, ikut menghukum. Bawa pemuda yang tadi melapor!” jawab kepala suku.
Mendengar kata pemuda melapor membuat Adip langsung membulatkan matanya. “Haisshh... kenapa tidak kulempar ke sungai saja bedebahh itu!” gumam Adip bisa menebak, warga tidak akan tahu keberadaan Adip dan Jingga kalau tidak ada yang melapor.
Tama tau dari dokter Reza, sebagian desa hilir warga menganut kepercayaan kuno. Para warga primitif desa hilir itu percaya, bencana yang pernah terjadi yang membuat air laut naik dan ada angin kencang, akibat dulu warganya bergaul bebas melakukan penyatuan tanpa upacara adat lebih dulu.
Bagi warga yang melanggar akan dihukum ramai- ramai dilucuti pakaianya dan dilempari dengan batu agar leluhur mereka tak marah. Dan kini Jingga dan Adip dituduh melakukan itu, mereka tinggal bersiap menunggu semua warga hadir menghukumnya.
*****
__ADS_1
Please episode ini jangan protes....
Nggak tahu kenapa di otak author muncul ide ini. Hahahahaha bagaiman kelanjutanya? Doain hari ini author bisa double Up ya....