
Jingga terus memperhatikan dan mendengar percakapan Pak Rendi dan mahasiswa itu. Jingga berniat memastikan siapa mahasiswa itu, dan Jingga akan mengejarnya untuk ditanyai program itu, tapi saat Jingga bangun mengintip, yang menoleh ke Jingga bukan si mahasiswa tapi dosen killer yang tidak Jingga suka.
"Hap"
Jingga langsung membalikan badanya. Pak Rendi menangkap basah Jingga sedang mengintipnya.
"Haish... kenapa malah dia yang menoleh bukan laki-laki itu. Aku hanya ingin tau siapa dia. Gawat!" batin Jingga menyesali perbuatanya.
Jingga kemudian menunduk dan bersembunyi di balik tembok. "Semoga dia tidak melihatku, bisa ke GR an dia" batin Jingga sambil menggigit bibirnya.
Setelah beberapa saat, suara percakapan itu tidak terdengar. Jingga kemudian menoleh ke belakang lagi memastikan, Pak Rendi dan mahasiswa itu tidak ada lagi.
"Kemana mereka? Siapa mahasiswa itu?" batin Jingga mengedarkan pandanganya ke belakang, tapi tidak ditemukan mereka berdua.
"Hap"
Saat Jingga menoleh ke depan, tepat di depan Jingga pria matang yang berparas tampan itu berdiri menyunggingkan senyum maskulinya ke Jingga.
"Ehm!" Jingga berdehem menunduk dan merapihkan rambutnya.
"Jingga, sedang apa kamu di sini?"
"Tidak apa-apa!" jawab Jingga menggelengkan kepala dengan mantap.
"Kamu mengikutiku?" tanya Pak Rendi tenang menatap ke Jingga.
"Hoh? Ngikutin bapak? Sory ya Pak. Nggak! Buat apa saya ngikutin bapak" jawab Jingga ketus tidak mau menoleh ke wajah Pak Rendi.
Pak Rendi malah tersenyum dan memasukan tanganya ke saku celana. Pak Rendi menatap Jingga dengan tatapan tajamnya.
"Jujur saja. Cepat atau lambat kita akan menikah! Ja!" ucap Pak Rendi tenang tapi langsung dihentikan dan dijeda Jingga.
"Sssttt" ucap Jingga spontan berani menatap dosenya dan menggerakan tangan menutup mulut dosenya untuk tidak berbicata keras dan bahas perjodohan. Gerakan Jingga membuat dirinya dan Pak Rendi saling berhadapan. Bahkan tangan Jingga berani menyentuhnya.
"Ehm!" Jingga berdehem salah tingkah menurunkan tanganya dan mengibaskannya dengan ekspresi jijik karena sudah menyentuh Pak Rendi. Jingga melihat sekeliling takut ada yang melihat.
Sementara Pak Rendi masih dengan sikap tenangnya menatap Jingga, tanpa khawatir dilihat orang lain.
__ADS_1
Pak Rendi malah bahagia dengan sikap Jingga itu. Sejak awal masuk ke kampus, diam-diam Pak Rendi memang sudah mengincar Jingga, setelah dikasih tau siapa Jingga.
Apalagi setelah melihat Jingga sangat cantik, Rendi langsung jatuh hati, hanya saja sifat Rendi yang dingin membuatnya mengagumi dalam diam dan memperhatikan dari kejauhan.
"Bapak jaga ucapan Bapak. Jangan sampai ada yang mendengar" ucap Jingga kemudian dengan lirih tapi mengancam.
"Emang kenapa kalau ada yang mendengar?" tanya Pak Rendi malah sengaja mengeraskan suaranya.
"Iiissh!" gerutu Jingga gemas, disuruh diam tapi tetap saja Pak Rendi ngeyel.
"Ya sudah ya. Katakan kenapa kamu mengikutiku?" tanya Pak Rendi lagi masih mode GR mengira Jingga mengikutinya. Pak Rendi tau kalau mahasiswinya banyak mengagumi ketampananya sehingga Pak Rendi menyimpulkan Jingga juga sama.
"Saya tidak mengikuti Bapak!" jawab Jingga tegas.
"Benarkah?" tanya Pak Rendi menelisik dan memajukan berdirinya mendekati Jingga. Pak Rendi mengira Jingga malu-malu kucing, dan ingin membuat Jingga mengaku. Kali ini Pak Rendi benar-benar ke GR an.
"Iya benar dong! Lagian bapak kepedean banget sih? Tolong mundur jangan deket-deket, ih!" jawab Jingga jujur dan menjauhkan dirinya dari Pak Rendi dan kesal karena Pak Rendi benar- benar tidak bisa diajak menjaga rahasia.
Jingga terus melihat ke sekeliling takut ada teman atau ada mahasiswa lewat. Jingga tidak mau ada yang salah paham terutama Kak Tama.
"Terus kenapa kamu ngintip-ngintip di sini? Kalau kamu memang menyukaiku katakan saja. Katakan pada Babamu. Kapan kamu siap? Aku akan bawa keluargaku ke rumahmu secepatnya!"
"Oh iya?"
"Iya! Satu lagi. Saya di sini bukan ngintip bapak. Tapi saya perlu mengambil kertas itu! Saya butuh kertas itu!" ucap Jingga menunjuk kertas yang dipegang Pak Rendi.
"Ehm!" Pak Rendi pun menjadi malu dengan mahasiswinya sendiri.
"Ini?" tanya Pak Rendi mengangkat kertas yang sudah dia lipat itu.
"Iya!" jawab Jingga mengangguk mantap.
"Kamu mau ikut ini?" tanya Pak Rendi sedikit heran.
"Iya!" jawab Jingga lagi.
"Yakin?" tanya Pak Rendi lagi masih tidak percaya.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Saya sangat yakin!"
"Kamu tau program apa ini?"
"Tahu, selama kurang lebih satu bulan sayabakan tinggal di daerah terpencil. Melakukan pengandian masyarakat di sana!" jawab Jingga mantap.
Pak Rendi mengangguk rupanya Jingga meang sudah tahu.
"Apa Babamu mengijinkan?"
"Apa alasan Baba menolak, ini kan demi menyelesaikan tugas saya?" jawab Jingga.
"Tapi kurasa Babamu tidak akan semudah itu melepasmu ikut program semacam ini!" ucap Pak Rendi menerka, sebenarnya Jingga juga berfikir seperti itu, tapi Jingga nekat, Jingga ingin merasakan hidup di luar kekangan Babanya.
"Kenapa Bapak bilang begitu?" tanya Jingga tersinggung.
"Karena aku sendiri ragu kamu bisa. Maksudku, anak sepertimu?"
"Maksud bapak menhmgatai, anak sepertiku apa Pak? Bapak nglecehin saya?"
"Tidak, tapi kamu harus tau, di tempat terpencil seperti ini tidak ada kemewahan sedikitpun, kamu juga dilarang membawa pelayan. Kamu juga harus bisa bertahan makan seadanya di sana, harus beradaptasi dengan iklim. Kebiasaan disana, dan" tutur Pak Rendi menjelaskan sedemikian rupa sehingga kemungkinan di sana.
Pak Rendi mengira Jingga tidak akan bertahan hidup di tempat terpencil. Apalagi jauh dari orang tuanya. Pak Rendi kira Jingga sungguh anak sultan yang tergantung pada orang lain.
Tebakan Pak Rendi memang benar sih, Jingga memang anak sultan yang sangat manja, tapi Pak Rendi tidak tahu, impian terbesar Jingga adalah bisa merasakan hidup bebas tanpa aturan dan pengawasan Babanya.
"Saya tau Pak. Dan jangan remehkan saya. Saya bisa melaluinya. Tolong serahkan lefleat pengumumn itu pada saya!" jawab Jingga memotong ucapan Pak Rendi.
"Oke baiklah!" jawab Pak Rendi mengangguk.
Jingga langsung mengambil leaflet itu dan pergi membawanya. Jingga berjalan tanpa tujuan yang pentinh menjauh dari Pak Rendi.
Setelah menemukan tempat sepi, tepatnya di gazebo bawah pohon di depan gedung kelasnya, Jingga duduk dan membacanya lagi.
Apa saja kegiatan Ruang Inspirasi itu, siapa yang bertanggung jawab, tempat mana saja yang mau didatangi, berapa lama dan beberapa aturan mengenai itu.
"Sepertinya menyenangkan?" gumam Jingga.
__ADS_1
"Ini seperti petualangan" Jingga tersenyum sendiri.
Jingga mengambil ponselnya untuk mencari tau tentang lokasi yang akan mereka kunjungi itu sebagai sasaran tempat mereka melakukan pengabdian masyarakat.