Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
193. Besok Jangan PHP


__ADS_3

*****


Hehehe


Dilarang baca untuk yang single.


Dihimbau untuk jangan tertawa dan sholat dulu buat yang Ibu- ibu.


****


Sudah menjadi kodratnya, makhluk hidup itu berkembang biak. Meski caranya berbeda- beda. Ada yang dengan cara membelah diri, tunas atau berkawin.


Jika hewan saja yang tanpa ilmu dan aturan pandai apalagi manusia. Meski sama- sama masih amatir, sama- sama perdana tetap saja naluri bisa membimbing mereka, menjadi pintar secara alami.


Siang itu, meski suhu ruang di kamar Jingga 16°C dan kamar sepi tak ditempati selama seminggu, ruangan menjadi panas. Penghuninya pun jadi gerah.


Ini kali ketiga bibir mereka dipertemukan, tentu saja berbeda dengan kali pertama dan kedua. Semakin lama semakin membuat candu, seperti bara, yang ditambah bahan bakarnya akan semakin menyala.


Adip pun lebih pandai meluumat dan menyesapnya, menautkan bibirnya, menggerakan dan menelusupkan lidah basahnya yang mengantarkan gelora rasa yang selama ini dia pendam.


Jika sebelumnya ragu dan takut, kini Baba mengakui pernikahanya. Bahkan sebentar lagi di akui dan dimasukan ke dalam hukum dan tatanan negara. Jingga adalah haknya.


Jingga pun terpedaya, setiap sentuhan yang Adip berikan membuat bulu kuduknya berdiri. Seketika tubuhnya memanas, lalu ada banyak kupu- kupu beterbangan seperti bernyanyi, menari berputar- putar, menggelitik dan meniupkan sihir yang membuat Jingga melayang.


Jingga hanya bisa pasrah membiarkan Adip melahap habis bahkan sempat menggigitnya.


"Auh!" keluh Jingga mendorong Adip tatkala perih terasa.


"Hoh... hoh...," keduanya pun mengambil jeda nafas.


"Maaf!" ucap Adip merasa bersalah terlalu gemas sampai tanpa sadar menyakiti Jingga.


"Jangan digigit! Sakit tau!" ucap Jingga cemberut. Jingga belum tahu sakit di atas tak seberapa jika nanti bagian bawahnya terkoyak keras.


"Iya!" jawab Adip mengangguk merasa bersalah.


Adip masih bernafas tersengal- sengal. Karena tubuhnya kini memanas, bahkan yang di bawah sana, mengeras dan berdiri tegak sempurna.


"Kenapa diam?" tanya Jingga tersenyum dengan pipi memerah, tanpa ada rasa takut sedikitpun meski melihat Adip wajahnya menegang dan wajahnya merah.


"Hoh!" pekik Adip menahan gejolak di dadanya yang membuncah.


"Lagi!" ucap Jingga malah menantang Adip lagi dengan mata cantiknya.


Ternyata Jingga sangat menyukai ciuman Adip, bahkan apa yang dilakukan Adip membuat Jingga melayang, meski bagian tubuhnya yang dijamah baru bibirnya, rupanya, itu seperti saklar kenikmatan pembuka jalan kesemua bagian tubuh.


Yang begetar bukan hanya bibir Jingga tapi seluruh bagian tubuh Jingga memanas, melayang, membuat Jingga terbuai dan ingin terus bertambah.


Permintaan Jingga pun tidak terasa seperti permintaan, tapi lebih seperti kabar bahagia, bahwa Adip boleh melakukan apa yang dia suka.


Mengikuti bisikan dan rayuan Adik kecil Adip yang bersembunyi di balik celana. Adip mengulurkan tanganya lagi membelai rambut Jingga, disusurinya dengan jemari Adip dari rambut ke pipi. Di elusnya pelan pipi Jingga.


Ditatapnya Jingga dengan gairah yang membara. Jingga benar- benar cantik dan menarik.


Kali ini Adip tak lagi mendaratkan bibirnya ke mulut Jingga, tapi mendekatkan keningnya, menempel kening Jingga lalu dengan bernafas memburu, mereka berbagi nafas yang terasa hangat.


Adip kemudian berbelok, meniupkan udara panas ke telibganya yang membuat Jingga melayang. Adip mencium rambut Jingga, menjilaat leher dan telinga Jingga.


"Aaaah," desah Jingga merasa ada desiran hangat dan sensasi rasa yang enak.

__ADS_1


Jingga menggeliat kegelian tapi tak ingin berhenti, sehingga tanganya malah reflek meminta Adip merapat.


Adip merapat, tapi tidak berhenti di situ. Adip kemudian mendorong Jingga, menuntunya agar berbaring dan mereka berdua kini berhadapan saling bertindih di atas kasur Jingga yang empuk dan luas.


Mereka saling pandang dengan tatapan keduanya yang sama- sama terbalut gairah. Mereka berdua merapat, sehingga Jingga merasa ada benda keras menempel, yang waktu itu pernah dia tanyakan. Kini lebih terasa.


"Ehm...," Jingga mendadak salah fokus.


"Keras sekali?" ucap Jingga dengan polosnya.


"Kamu yang membuatnya begitu!" jawab Adip.


"Apa itu punyamu?"


"Kenapa masih tanya?"


"He...," Jingga malah nyengir, tentu saja Adip tak menyiakan kesempatan dan semakin merapatkanya meski pakaian mereka masih lengkap.


"Aaakh, Bang!" desah Jingga merasa tertekan tapi ada rasa yang Jingga suka.


"Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu yang memancingku?" ucap Adip sedikit mengangkat tubuhnya.


"Bukan.. aku boleh liat dan pegang tidak?" tanya Jingga semakin berani dan nakal.


"Hohh," jawab Adip tersenyum senang.


"Tentu saja, ini kan punya kamu!" jawab Adip. Adip kemudian duduk, dan bersiap.


Jingga menelan ludahnya ikut bersiap juga. Tapi tiba- tiba Jingga tampak panik gugup dan entan apa yang ada di otaknya.


Adip pun duduk, terlihat melonggarkan ikat pinggangnya, lalu melepasnya.


"Aa tidaak! No! Stop jangan!" pekik Jingga tiba- tiba mengagetkan Adip. Jingga malah menutup matanya, dan berbalik tengkurap menghindar. Tentu saja sikap Jingga membuyarkan mood Adip.


"Iyah! Tapi! Jangan! Jangan dulu!" ucap Jingga berbisik dengan wajah panik.


"Ehmmm...," Adip jadi kesal dan malu. Padahal Jingga yang memancing dan meminta, tapi terlihat Adip yang tidak sabaran sekarang. Sikap Jingga pun membuat kesadaran Adip kembali.


"Hhhh..." Adip menghembuskan nafasnya kesal dan merebahkan badanya di samping Jingga.


"Apa semua orang menikah akan merasakan hal ini?" tanya Jingga tiba- tiba.


Adip diam masih kesal dan berusaha menguasai kesadaranya kembali.


Jingga pun merasa brsalah dan menoleh.


"Jawab!"


"Kamu normal kan? Kamu udah puber kan? Kok tanya? Bukanya kamu suka?" jawab Adip kesal dan malas. Istrinya kan menyebalkan.


"Bukan! Maksudku, jika Nila menikah sekarang meski dia masih kecil apa dia akan merasakan seperti yang aku rasakan dan akan melakukan seperti kita juga? Kaya gini?" tanya Jingga lagi mengernyitkan dahi bermaksud membayangkan apa jika Nila menikah akan bercumbu juga dengan Pak Rendi.


Ternyata saat Adip hendak membuka celananya, yang datang di benak Jingga malah bayangan Nila yang masih kecil akan menemui hal- hal seperti yang dia temui.


Mendengar pertanyaan Jingga, Adip mengernyit aneh. Adip kemudian memiringkan tubuhnya dan menatap istrinya.


"Kamu kok mikirin Nila sih?" tanya Adip merasa istrinya aneh.


"Hiks..." Jingga malah menutup matanya dan bibirnya meleot.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Adip tambah heran.


"Aku masih belum ikhlas dan nggak rela!" ucap Jingga terisak.


"Nggak rela? Kenapa?" tanya Adip kemudian mendekat dan mendekap Jingga agar bertumpu di dadanya.


"Masa Nila mau menawarkan diri untuk menikah di usianya yang sekarang!"


"Whoah?" pekik Adip menguraikan pelukanya dan menatap Jingga kaget.


"Nila kan baru mau SMA?"


"Iya makanya. Nila katanya mau jadi istri Pak Rendi, Bang!" ucap Jingga lagi.


Adip melepaslan pelukanya dan membaringkan tubuhnya menghindari Jingga dengan ekspresi masih kesal.


"Kamu nggak rela ke Nilanya apa Pak Rendinya?" tanya Adip.


"Iiih!" keluh Jingga lalu mencubit perut Adip.


"Isssh! Jangan sakit!" keluh Adip menghindarkan tangan Jingga.


"Nyebelin deh. Aku kan udah punya kamu, ngapain mikirin Pak Rendi. Masa iya aku beratin Pak Rendi, ya tentu saja aku khawatirin Nila lah."


"Lah, bisa- bisanya kamu lagi sama aku bayangin orang lain! Pak Rendi lagi," ucap Adip kesal dan marah.


"Aku kakaknya Nila Bang. Aku kepikiran Nila. Nila masih kecil. Aku tidak bisa membayangkan kalau Pak Rendi akan menjamahnya, menciumnya. Masa dia menawarkan diri buat jadi istrinya Pak Rendi? Apa iya bayangan Nila sudah sejauh itu?" ucap Jingga lagi curhat dan berfikir jauh.


Adip diam, masih tidak mengerti.


"Apa Nila tahu kewajiban istri gimana? Lalu apa respon Pak Rendi? Apa iya Pak Rendi akan punya hasrat dan nafsu ke Nila yang masih kecil begitu?" gumam Jingga lagi.


"Kenapa kamu malah mikirin orang lain sih.Kamu sendiri aja jadi istri emang udah bener?" jawab Adip lagi.


"Iih makanya itu. Aku aja belum, kok Nila nekat banget?" ucap Jingga lagi.


"Hhhh...," Adip menghela nafasnya berfikir. "Emang bener Nila mau jadi istri Pak Rendi? Kok bisa?"


"Ck. Tuh kan? Nila ngomong sama aku gitu. Karena aku nikah sama kamu Bang. Nila nawarin diri jadi penggantiku. Katanya dia mau lanjutin SMAnya di yayasan orang tua Pak Rendi aja!" ucap Jingga lagi.


"Maksudnya mondok di sana?"


"Iya!" jawab Jingga.


"Hemmm, konsep nikahnya gimana emang?"


"Nggak tahu!"


"Kalau Pak Rendi mau bersabar, nggak ada salahnya sih. Udahlah nggak usah mikirin orang lain!" ucap Adip akhirnya.


"Jadi Bang Adip setuju?" tanya Jingga.


"Ya twrserah merekalah. Udahlah, Abang mau pulang aja ya. Banyak nih yang harus diurusin!" ucap Adip bangun dari rebahanya.


Adip bete karena di PHP in Jingga.


"Katanya mau istirahat dulu!" ucap Jingga.


"Di sini nggak bisa istirahat. Lusa kita menikah KUA dan Baba ingin resepsi juga. Besok jangan PHP lagi!" ucap Adip bangun.

__ADS_1


"Hmmm," Jingga pun hanya diam dan memanyunkan bibirnya.


"Baba dan Buna sepertinya sedang bahas masalah Nila. Sana turun! Abang pulang ke orang tua Abang dulu! Besok abis resepsi, kamu harus ikut, Abang ke mereka juga!"


__ADS_2