Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
196. Minta Maaf


__ADS_3

Di Kafe Danau, merasa pihak Baba yang bersalah, mengajak sendiri, berjanji sendiri dan mengingkari, Baba bersama Buna datang lebih dulu.


Apalagi meski Jingga diterpa gosip buruk, Rendi tetap bertahan dan menerima Jingga. Itu sudah menjadi bukti, Rendi benar- benar ingin Jingga. Rasa bersalah Baba juga tambah besar. 


Akan tetapi rasa bersalah Baba dengan rasa sayang Baba ke Jingga tetap lebih besar rasa sayangnya. Saat Baba melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana bucinnya Jingga ke Adip. Bagaimana Jingga tertawa dan menempel pada Adip. Terlebih mereka memang sudah menikah. 


Baba sadar, posisi mereka menikah darurat. Jadi pernikahan mereka tetap diakui Baba. Baba pun harus siap merendahkan diri meminta maaf pada Rendi, Ibunya, Bapaknya dan Farid, sahabatnya. 


Persahabatan Baba dan Gery sudah terkabul menjadi keluarga dengan pernikahan Opa Nando dan Oma Mirna.


Cita- cita Baba selanjutnya adalah menjalin hubungan keluarga dengan keluarga Om Farid. 


Sayangnya anak- anak Om Farid masih kecil. Dulu Tante Anya dianugerahi keturunan lumayan lama sampai di tahun ke 10 pernikahan. Anak- anak Om Farid juga laki- laki sehingga tak bisa dijodohkan dengan anak Baba. Muncullah Rendi sebagai harapan. 


Setelah harapan ada dan sepakat, takdir berkata lain. Baba harus perbaiki.


“Mas..” panggil Buna ke suaminya. Jika tak ada anak- anak, Buna manggil Baba, Mas. 


“Hemmm... apa Sayang?” jawab Baba menoleh ke Buna kemudian merangkul bahunya.


Jika hanya berdua, Baba dan Buna masih selalu seperti dua sejoli yang masih muda, mesra.


“Jangan emosi lho ya, kalau pihak keluarga Rendi marah!” tutur Buna memikirkan hal- hal terburuk yang akan datang. 


“Nggaklah... Mas ngerti kok, kita yang salah!” jawab Baba. 


“Apa kita tidak terlalu menjadi orang tua yang murahan menawarkan anak gadis kita yang masih kecil? Aku malu lho Mas... Nila itu cantik kok, dia juga solekhah. Kelak akan banyak juga yang sayang. Ahh.. Aku masih ragu!” tutur Buna curhat ke suaminya. 


“Ya, Mas nggak akan langsung to the point lah, masa anak gadis kita ditawar- tawarkan! Itu kan hanya solusi, kalau terjadi sesuatu. Yang penting minta maaf dulu. Percaya semua akan brjalan baik.” 


“Tapi kan kata Baba, Baba mau sampaikan kalau mau nuker Jingga dan Nila?” 


“Ya bahasanya diperhalus, nggak to the point langsung?” jawab Baba. 


Buna kemudian melirik Baba. 


“Bisa? Biasanya kan Mas kalau ngomong suka ceplas ceplos!” 


“Kalau suamimu ini, tak pandai berkata- kata dan mengambil hati orang, mana ada usaha kita bertahan dan berekembang sebesar sekarang, Sayang!” jawab Baba mulai kumat sombongnya. 


Buna pun langsung mencubit pinggang Baba. 


“Sukses karena Alloh, bukan karena Mas!” ucap Baba. 


"Yaya... maksduku, Alloh titipin otak cerdas ke suamimui ini!” jawab Baba, tidak lama rombongan keluarga Rendi datang. 


“Huuuuft!” Baba dan Buna pun bersiap, meminta maaf dan menyiapkan segala resiko. 


Pegawai Baba mengantarkan Om Farid dan Ibunya Rendi masuk. Baba terus menoleh. Berharap ada orang lain, tapi ternyata hanya bertiga. 


“Rendi nggak ikut, Mas!” bisik Buna. 


“Apa mungkin nyusul kali!” jawab Baba berbisik. 


“Assalamu’alaikum,” sapa Om Farid mulai masuk mendekat ke Baba dan Buna. 


“Waalaikum salam,” jawab Baba. 


Baba dan Om Farid kemudian bersalaman akrab masih seperti dulu saat muda, dan sedikit bersalaman. 


Buna pun menyalami, Ummi Rendi dan Tante Anya. Mereka bersalaman, cipika cipiki lalu saling mempersilahkan duduk. 


“Sehat, Bu Alya?"


"Alhamdulillah, sehat!"


"Sudah mulai besar ya, kandunganya, jalan berapa bulan?” tanya Ummi Rendi. 


“Alhamdulillah 4 bulan, jalan 5 bulan!” 

__ADS_1


“Waah, alhamdulillillah! Udah aman, semoga lancar sampai lahiran,” jawab Ummi Rendi bosa basi. 


"Aaamiin aamiin, mari silahkan duduk!"


Mereka kemudian saling duduk, pelayan Baba langsung sigap mengeluarkan minuman hangat. Dengan cangkir eklusif dan camilan sebagai menu pembuka. 


“Silahkan... silahkan diminum, pasti lelah kan perjalanan jauh kesini?” tutur Baba ramah.


Baba bisa ramah dan sangat sopan kalau sama orang, tapi kalau di rumah suka sesukanya sendiri. 


“Ah terima, kasih. Tuan Ardi juga pasti lama menunggu, maafkan kami yang datang terlambat,” tutur Ummi dengan basa basinya.


"Nggak lama kok, kita memang sering menghabiskan waktu ke sini," sahut Buna.


Buna pun sigap menghormati tamunya, mendekatkan cangkirnya dan menyerahkan ke tamunya agar diminum. Mereka pun menyeruput teh bersama. 


“Ehm....,” setelah meneguk beberapa kali Baba meletakan cangkirnya dan siap berkata. 


“Nak Rendinya? Kemana kok nggak ikut?” tanya Baba membuka pembicaraan. 


“Katanya ada kunjungan bersama dewan ke kampus tetangga. Ummi mewakili Rendi, mohon maaf tidak bisa datang,” tutur Ummi Rendi.


“Oh... begitu, sayang sekali, saya ingin bertemu dan berbincang denganya,” tutur Baba. 


“Nanti pasti saya sampaikan. Lain kali kan juga bisa buat janji lagi!” jawab Umii lagi.


Baba mengangguk.


“Ya... tentu kita bisa buat janji lagi. Saya juga berharap kita akan tetap sering bertemu dan berkumpul begini, sebagai keluarga,” tutur Baba berbosa- basi. 


“Lhoh bukankah kita memang akan menjadi keluarga?” jawab Ummi. 


“Ehm....,” Om Farid yang sudah tahu berdehem. 


“Kalau boleh tahu, sebenarnya ada hal mendesak apa ya? Sehingga Tuan Ardi dan Bu Alya mengundang saya kemari?” 


“Tentu saja, dari dulu kan Tuan Ardi memang sudah menjadi keluarga kami!” jawab Ummi Rendi. 


“Terima kasih Ummi. Saya mengundang Ummi, saya mewakili keluarga saya, mohon maaf, maafkan kami Ummi,” sambung Baba merendah, terhadap calon besan Baba merendah.


“Maaf bagaimana?” 


“Sungguh tidak mengurangi rasa hormat, saya menyesal, karena harus mengingkari janji saya, dan membuat kecewa. Saya mohon maaf sekali, sebagai orang tua, saya sudah berusaha yang terbaik, tapi kenyataan berkata. Anak- anak mempunyai jalan sendiri, tolong maafkan Jingga anak kami?,” tutur Baba panjang


“Ya....” jawab Ummi tenang dan tersenyum.


Sebenarnya percakapan ini hanya bosa basi, karena Ummi dan Rendi sudah lebih dulu tahu, kalau Jingga sudah menikah dengan orang lain. Buna jadi dheg- dhegan menunggu respon Ummi, heranya Ummi terlihat biasa saja.  


“Anak muda biasa kan melakukan kesalahan. Saya pasti akan memaafkanya. Tapi ya mau bagaimana? Ya, tapi ngomong- ngomong memang apa yang terjadi dengan Jingga?” 


“Saya atas nama Jingga minta maaf, karena Jingga tidak bisa jadi menantu, Ummi. Jingga memilih jalan jodohnya sendiri. Maafkan kami karena harus mengingkari Nak Rendi,” tutur Baba lagi.


“Oh itu... ya... saya tidak masalah dengan hal itu!” jawab Ummi tersenyum, Ummi kan memang tidak suka dengan Jingga. 


Buna yang memperhatikan jadi aneh, Ummi sama sekali tidak marah.


“Maafkan kami, Ummi, takdir ternyata tak sesuai rencana. Kita masih tetap jadi saudara kan?” tanya Baba bosa- basim


“Ya tidak apa- apa. Kita semua sadar kok, manusia hanya bisa berencana, yang menentukan Tuhan! Apapun keputusan nak Jingga saya menghargainya, saya juga tetap sayang pada Nak Jingga. Semoga keputusanya yang terbaik dan membawa bahagia, saya doakan itu. Tentu saja kita akan tetap baik.” 


“Terima kasih Ummi, ada mulia sekali, doa baik akan kembali baik pada yang mendoakan. Aduh, saya jadi sedih mengingatnya. Saya akan tetap menganggap Nak Rendi sebagai putra kami, jadi tolong meski Jingga tak jadi menjadi penyambung kekeluargaan kita, kita masih tetap menjadi keluarga ya!” tutur Baba lagi. 


“Tentu saja, saya juga sangat menyayangkan, Nak Jingga tak menjadi menantu saya, padahal saya bahagia jika keluarga kita semakin dekat, tapi dekat tidak harus lewat dengan Jingga kan?” tanya Ummi malah Ummi dulu yang memancing.


“Ya, tentu saja. Ada banyak jalan. Sungguh saya juga masih berharap dan akan bahagia kalau Nak Rendi sungguhan benar- benar tetap jadi anak saya, saya bahagia sekali,” ucap Baba memancing lagi.


“Coba kalau bisa ya? Sayangnya Jingga sudah memilih orang lain? ” 


“Ehm...,” Baba berdehem. “Bisa, kan kata orang di dunia ini tidak ada yang tidak bisa kalau Alloh berkehendak, hah bagaimana ya?” tutur Baba lagi muter- muter. 

__ADS_1


Buna dan Om Farid yang mendengarnya jadi gemas dan mual sendiri. Kenapa mereka berdua tidak to the point saja. Buna jadi gatal ingin cubit Baba tapi Buna memilih lirik- lirikan dengan Anya.


“Memangnya, meski Nak Jingga sudah menikah dengan orang lain? Rendi masih boleh berharap dan ada tempat menjadi tali penghubung keluarga kita?” tanya Ummi kena pancingan Baba. 


Baba tidak tahu saja, kalau Ummi memang sukanya dengan Nila, bukan Jingga, dipancing sedikit tentu saja langsung nyaut. 


“Oh ya... boleh, boleh? Bisa!” jawab Baba. 


“Bagaimana cara menghubungkanya? Saya  tidak suka memutus tali yang sudag terhubung ke tempat lain,” 


“Oh ya jangan. Memutus tali yang sudah tersambung dengan pasanganya akan susah menyambungnya lagi, mudah rapuh! Tali yang kokoh tetap menyambung tali yang sesuai jalurnya,” 


“Oh ya saya setuju itu” 


“Ehm... ehm... setuju bagaimana?” 


“Menyambung tali yang sesuai jalur saja, yang jalanya lurus dan pas di hati?” 


“Ya.... apa Ummi merasa ada tali yang sesuai, untuk menghubungkan keluarga kita?” tanya Baba menegaskan.


“Ada..., Ummi suka dan jatuh hati, pada Nak Nila,” tutur Ummi tidak mau menyiakan kesempatan. 


Baba langsung tersenyum, sementara Buna menelan ludahnya menoleh Baba. "Hah...,Nila," gumam Buna menggigit bibirnya.


“Terima kasih, Ummi,” jawab Baba. 


“Bolehkah, saya meminang Nila untuk Rendi?” tanya Ummi to the point.


"Saya sebenarnya tidak ada masalah, tapi Nila masih kecil, bagaimana tanggapan Ummi dan Nak Rendi? Kalau saya nanti ada syarat tertentu terkait waktu?"


"Ah saya tidak masalah. Sangat membahagiakan saya jika bisa berputrikan anak manis dan solekhah seperti Nak Nila. Rendi juga sedang menyelesaikan studynya kan?"


"Oh begitu?"


"Jadi benar ini? Tali di antara kita tetap akan tersambung?"


“Saya tidak mau mengulang salah yang sama, bagaimana kalau, Ummi tanya langsung pada anaknya, mengingat Nila masih sekolah, sepertinya kita akan lebih banyak permusyawarahan dulu,” jawab Baba jual mahal.


Baba senang karena tidak terkesan menawarkan anaknya, tapi tetap tidak mengecewakan orang. Ternyata Ummi malah terlihat sangat bahagia Rendi batal dengan Jingga.  


“Ya... itu lebih baik, kapan kami bisa menemui Nila?” tanya Ummi. 


“Setelah resepsi Jingga,” 


“Lhoh, udah mau langsung resepsi?” tanya Ummi kaget. Ummi kira Jingga hanya menikah seperti yang di berita, ternyata Baba setuju dan mendukungnya.


Baba kemudian mengkode Buna. Buna pun mengambil undangan. Baba menyuruh anak buahnya mencetak undangan eksklusif untuk orang- orang tertentu.


“Ini undanganya, datanglah ke hotel Gunawijaya, kami sangat bahagia jika Ummi berkenan datang,” 


“Kita kan keluarga, tentu kami akan datang,” jawab Ummi menerima undangan Jingga. 


Pemanasan Baba akan misinya sudah berhasil, selebihnya mereka akan atur ulang pertemuan.


Jika Baba bahagia, berbeda dengan Buna yang harap- harap cemas.


Setelah selesai berbosa basi, makanan pun datang. Mereka kemudian menyantap makan siang bersama. Setelah itu pulang. 


Rupanya, Rendi tak datang karena dia sudah tahu tentang rencana pernikahan Jingga dari Adip sendiri.


Seperti janji Adip pada Jingga waktu itu. Begitu Adip punya signal, Adip akan langsung menghubungi Rendi. Permisi, memohon ijin sebagai junior meminang Jingga dan memohon maaf.


Adip jentel melakukanya. Sayangnya pesan Adip tak dibalas, makanya Adip diam- diam saja, dan sedikit cemburu. 


*****


Cerita Nila dan Rendi inginya Author nanti jadi kisah sendiri, tapi masih di angan- angan, kerangka belum matang. Masih ditimbang- timbang juga mau kemana?


Nanti share di IG aja. Hehe

__ADS_1


__ADS_2