
Tidak berapa lama perahu mereka berhenti di tempat dimana Jingga pernah tenggelam dan menghanyutkan, barang- barang Jingga.
Meski orang kota, karena rombongan Baba laki- laki semua,mereka turun dengan sigap dan langung memasuki ke desa T.
Baba kembali di buat tertegun melihat beberapa rumah kayu di depanya, sangat kecil dan sederhana di matanya.
Akan tetapi alamnya begitu luas membentang dan mengagumkan.
Di depanya jalan setapak yang menjadi saksi bisu, jalan yang dilalui Adip menggendong Jingga juga membuat Baba terkagum. Baba tidak tahu itu jalan terindah bagi putrinya bersama pujaan hatinya.
Jalan setapak yang membelah padang rerumputan indah, bahkan di beberapa tempat rumput itu ditumbuhi bunga ilalang yang warnaya putih dan lembut, terlihat anggun saat bergoyang dan menaari tertiup angin. Ada juga bunga-bunga kecil berwarna merah dan kuning, seperti di surga impian.
“Ini desanya?” tanya Baba.
“Iya, Ba...,”
“Mana perkampunganya?” tanya Baba belum melihat aktivitas warga.
“Perkampungan tempat Kak Jingga tinggal ada di dalam, tempat Kak Adipati dekat sini... belok ke kanan, Kak Adipati rumahnya dekat sungai kok!” jawab Amer memberitahu.
“Berarti kakakmu dan pencuri itu tidak tinggal satu rumah?”
“Bang Adip, Ba.. Bang Adip, bukan pencuri!” jawab Amer.
“Ya... itulah siapa namanya?”
“Ya enggaklah Ba. Bang Adip kan laki- laki, Kakak perempuan, Kakak tinggal di dalam dekat dengan sekolahan dan masjid, dekat dengan pos kesehatan desa juga, kalau Bang Adip hanya menempati rumah kosong di dekat sungai sini!” ucap Amer memberitahu.
Baba mengangguk sedikit lega, itu artinya anaknya terjaga, point mengira Adip merayu Jingga terbantahkan.
Baru satu point, di otak Baba banyak sekali pikiran buruk tentang Adip yang bersemayam. Sampai Baba yakin Adip menggunakan ilmu pelet segala.
“Terus kita kemana? Jalan kaki lewat jalan ini? Jauh nggak?” tanya Baba sambil mengelap kerigatnya, karena sudah mulai tua, Baba sudah tak seperkasa dulu, jalan beberapa meter sudah mulai keringetan.
“Baba mau menemui Bang Adip kan? Apa mau ketemu teman- teman Kak Jingga dan kepala desa? Pilih mana?” jawab Amer memberi pilihan.
“Yang paling dekat dulu, Baba ingin buang air,” jawab Baba.
Amer mengangguk, pilihanya berarti ke rumah Bang Adip dulu. Amer kemudian mengantar ke rumah Adip.
Rombongan Baba pun berjalan kaki melewati jalan setapak bebatuan dan banyak rumput itu menuju ke rumah Adip.
Sepatu mahal Baba Pak Dino dan yang lain tiba- tiba terasa berat karena ternyata kemarin hujan dan tanah pegunungan menempel di sepatu mereka.
“Haish...,” gerutu Baba kesal.
“Ada apa Ba?”
“Apa di sini ada tooko sandal?” tanya Baba.
“Hemmmm,” Amer berdehem melihat kaki ayahnya, padahal suda diingatkan jangan pakai sepatu.
“Nanti tanya Bang Adip,” jawab Amer tidak tahu.
Babapun melepas sepatunya dan menyerahkan ke pengawal, pokoknya Baba berjalan membawa diri itu saja keringetan.
Sesampainya di rumah Adip, semua terhenti dan bengong. Rumahnya sangat kecil, terlihat seperti gubuk di mata Baba.
__ADS_1
Di depan rumah terlihat tiga anak kecil sedang bermain mobil- mobilan dari sabut kelapa.
“Kata kakak dokter untuk roda dibuat bulat?” seru salah satu anak, mengingat ilmu yang Adip ajarkan membuat mobil yabg ditarik pakai tali pelepah pisang.
“Tapi saya tidak bisa buat bundarnya...bagaimana?”
“Ahh, kenapa kakak dokter lama sekali siih tidak kembali kesini?” keluh salah satu anak terlihat sedih dan melemparkan mainanya seperti sangat merindukan seseorang.
Amer diam dengan wajah kecewa, sepertinya Adip tak ada di desa itu.
“Ini rumahnya?” bisik Baba.
“Iya...Ba?”
“Siapa mereka? Kakak dokter itu siapa? Jingga?”
“Bukan! Kaka dokter itu Bang Adip. Anak- anak asuh Bang Adip?” jawab Amer. sejak Adip mengobati ayah mereka, warga memanggil Adip Kakak dokter ke Jingga Kakak bidadari.
“Whaat?” tanya Baba, kaget dan tidak mengerti.
Amer tidak menjawab Babanya dan maju menyapa Yusuf, Markus dan temanya.
Anak- anak pun dibuat kaget dan ketakutan kedatangan tamu orang dewasa banyak.
“Kakak ini, teman Kaka dokter bukan?” tanya Markus berani.
“Ya... dimana Kaka doktermu itu?” tanya Amer.
“Apa kakak akan ambil Kaka dokter dari desa kami?” tanya Yusuf sedih dan kecewa.
“Apa kaka dokter tidak kembali karena kakak? Tolong jangan kau suruh dia pergi, kami sayang ka sama dia! Kakak bidadari sudah pergi, tolong jangan ambil Kakak Dokter juga, biarkan dia di sini bersama kami!” sahut mereka lagi dengan ucapan tulus.
Walau tak tahu ceritanya, Baba mulai menerka, siapa Kakak Bidadari dan Kakak dokter yang mereka maksud. Anaknya memang bidadari di hatinya. Bidadari yang sangat dia jaga.
“Tidak, kami hanya ingin bertemu, dimana dia?” tanya Amer.
"Kami tidak tahu!” jawab anak- anak dengan wajah seperti ngambek.
Anak- anak itu malah berlari dengan kencang seperti tak punya rasa capek padahal tak memakai alas kaki.
Amer dan rombongan dibuat bingung. Amer yang sempat beristirahat di rumah Adip mempersilahkan ayahnya untung buang air. Ternyata di rumah Adip tak ada wc, hanya ada ******.
Baba menelan ludahnya sangat getir dan melihat ke sekeliling.
Baba juga melihat peralatan masak Adip yang sangat sederhana, yang terbuat dari batu alam. Bisa terbaca, Adip laki- laki mandiri dan prihatin.
"Kenapa mereka memanggil Adipati itu, dokter?Bukankah dia veteriner?" tanya Baba..
Amer pun menjelaskan. Adiplah yang mengajari Jingga membantu masyarakat saat tak ada tenaga kesehatan.
Baba mengangguk mulai bisa merajut kata darimana awal kedekatan putrinya dan pemuda itu.
“Kita harus ke desa BA,” ucap Amer lagi.
"Oke, lanjut jalan!"
__ADS_1
Baba dan Pak Dino, meski hanya sarapan roti di kapal, mereka tidak mau menunda dan bersemangat masuk ke desa.
Mereka berjalan kaki melewati padang rerumputan indah itu. Meski kaki sedikit pegal, tapi Baba rupanya mulai ikut tersihir dengan keindahan alam itu dan berjalan cepat ingin segera sampai.
Seperti saat kedatangan Adip pertama, Yusuf and friends menjadi pembawa kabar.
Warga desa dibuat kaget dan terheran melihat rombongan Baba datang. Tidak terkecuali Siska, Nita, Yuri dan rombongan.
Para peserta Ruang Inspirasi teryata sedang berkumpul bersama warga. Mereka ternyata membuat proyek, toilet umum. Sebagian juga sedang menyiapkan tempat ternak yang Adi ajarkan. Semua berbisik bertanya siapa mereka.
“Laki- laki tua itu, mirip Jingga nggak sih? Kaya orang eropa nggak sih?”
“Iyah... aku pernah lihat di TV,”
“Itu kayaknya bapaknya Jingga deh.” Anak- anak saling berbisik.
Berita Jingga yang pulang dan Jingga menikah dengan Adip juga sudah menyebar dari berita yang Pak Anton bawa. Jadi Pak Abrhaman sebagai kepala desa dan anak- anak bisa menebak siapa rombongan Baba, tapi mereka belum tahu seberapa kaya orang tua Jingga itu.
Pak Abrahaman dan pak Anton yang sempat mengenal Amer pun menyapa. Pak Ahmad juga bisa mengerti.
Seperti sifat mereka yang alami, mereka pun menyambut Baba dengan penuh hormat dan mengajak rombongan Baba meneduh di bawah pohoon duduk di atas bebatuan dan berkumpul, karena memang mereka belum sampai ke rumah. Tanpa ada hidangan apalagi sambutan.
“Niat kedatangan kami kesini, ingin menemui Bang Adip, Pak!” tutur Amer menyampaikan tujuanya, setelah bosa – basi, sebagai ketua rombongan mewakili Babanya.
“Oh... Nak Dokter... katanya sedang menunaikan tugasnya ke desa sebrang. Sudah beberapa hari ini tidak ada di desa kami, katanya mau kejar target, tugasnya harus selesai bulan ini. Bulan depan mau cuti 5 hari, katanya mau, terbang ke Ibukota,” tutur Pak Abraham menjelaskan, mengibgat Adip pamit titip rumah.
Sesuai janjinya pada Jiingga, Adip memang ingin menemui Baba Ardi setelah gajian dan menyelesaikan tugas konseling ke desa- desa.
Baba Ardi hanya diam menyimak, seperti ada satu point lagi yang dibiskan ke telinga Baba, Adip pria yang amanah.
“Tepatnya di desa mana ya?” tanya Amer lagi.
“Saya kurang tahu, kan tanggung jawab Nak Dokter memang semua desa di kecamatan ini, tapi tidak banyak kok, desanya hanya ada 7 desa, tapi jaraknya memang lumayan jauh! Kalau yang terdekat desa S, P, dan desa R, mungkin di antara desa itu,” jawab Pak Abraham lagi.
Amer menelan ludahnya, sepertinya akan melelahkan mencari, Bang Adip.
Amer menoleh ke rombongan dan berfikir, apa harus bawa semua rombongan apa sebagian saja. Lagian Baba susah dibilangin, dikasih tahu bawa orang secukupnya tapi ngeyel, merepotkan!.
“Apa Pak Anton bisa, antar saya agar bertemu Bang Adip ke desa- desa itu?” tanya Amer.
“Bisa Kakak, tapi hanya ada satu perahu,” jawab Pak Anton bersedia.
Amer mengangguk dan melirik Babanya.
“Nggak apa- apa, saya, Ayah saya dan Pak Dino aja kok yang ikut,” jawab Amer, tanpa meminta rundingan Babanya.
Baba semlat kaget dan mengernyit, tapi Amer tak peduli.
Biar saja, Baba jalan- jalan sekalian, diajakin muter- muter desa tanpa pengawal. Kalau ada pengawal Baba seenaknya menyuruh, sepatu aja minta dibawakan, kalau bersama Amer dan Pak Dino, mereka masih ada berani- beraninya sedikit.
*****
Hehehe Makasih kakak sudah baca...
Pokoknya dukung author dan doain author gajian. Nanti ada give away pulsa 20k, untuk 5 pembaca terpilih, dari rangking dukungan dan komentar.
Nah kalau yg buku cetak, yang ingin baca bisa beli dan inbox aku di IG (ririnrohmanningsih).
__ADS_1
I love you....