
Cuaca setelah Amer tiba di ibukota pulau P hujan jadi Amer tidak melanjutkan perjalanan ke desa dan memilih menginap di salah satu hotel yang dipilihkan anak buah Baba. Amer yang terbiasa hidup di luar negeri sedikit kaget melihat ibukota pulau P.
“Ini kotanya Pak?” tanya Amer.
“Iya, Den!” jawab pengawal Amer.
Seketika Amer langsung mengernyit, jika ibukotanya seperti ini? Apa kabar dengan desa tertinggalnya.
Di kota itu memang sudah banyak jalan beraspal, dan pertokoan, tapi tetap saja kotanya terasa lengang, tak sepadat gedung diibukota yang berbaris tanpa celah berlomba- tinnggi- tinggian.
Kota di pulau P masih banyak pohon, antar gedung juga masih tersisa jarak tanah yang lumayan panjang. Hotel ataupun mall disitu juga tak setinggi bangunan hotel dan mall di ibukota negara.
“Kira- kira kapan bisa ke desa T itu ya?” tanya Amer lagi.
“Kita tunggu cuaca cerah, Den. Terlalu berbahaya jika nekat terbang ke kabupaten M dengan cuaca seperti ini, mau lewat jalur laut atau sungai juga bahaya, ada badai dan arusnya terlalu deras!” terang pengawal Amer menambahkan.
“Oh gitu? Yaya,” jawab Amer mengangguk mengerti.
Pesawat Baba Ardi harus kembali ke ibukota karena Baba Ardi masih ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Amer pun terpaksa akan melanjutkan perjalananya menggunakan kendaraan sewaan di pulau P itu.
Amer kemudian menyeruput kopi khas daerah pulau P yang dihidangkan pihak hotel, setelah itu pamitan ke kamar untuk beristirahat menikmati suasana hujan.
“Kenapa Kakak nekat pergi ke daerah seperti ini sih? Kurang kerjaan apa gimana? mau nikah juga bukanya dipuas- puasin seneng- seneng malah ngilang ke tempat begini?” gerutu Amer duduk menyalkan telvisi.
Saat Amer menghubungi Adip, sambungan ponselnya tidak nyambung. Amer memilih mengirimkan pesan, tapi dari kemarin belum dibalas padahal sudah terkirim.
Amer kemudian mengambil ponselnya berniat menghubungi kakaknya. Sayangnya ponsel Jingga juga sama sekali tidak terhubung.
Amerpun memilih mengklik menu permainan, mengisi waktunya dengan bermain game online.
*****
Di tempat lain.
Sebagai dosen dan pria berprestasi dalam hal akademik dan materi. Rendi memang selalu mengupgrade ilmunya.
__ADS_1
Meski tak melalui jalur pendidikan formal, karena dia juga sudah S3, Rendi masih sering mengikuti seminar- seminar ilmiah ataupun pelatihan.
Bagi Rendi belajar itu seperti makan dan minum, harus selalu dia lahap dalam setiap hari dan waktunya.
Saking bangga dan senangnya, perjalanan Rendi kali ini disponsori Baba. Baba yang juga ternyata hendak melakukan pertemuan bisnis dengan rekanya di negara yang sama dengan negara tujuan Rendi, Baba mengajak Rendi naik dengan pesawat pribadi milik Gunawijaya.
Rendi, meski malu- malu menyambut baik kebaikan calon mertuanya itu. Sangat bisa dirasakan, Baba Ardi sangat menyayangi Rendi.
“Terima Kasih Pak!” ucap Rendi ke Baba Ardi.
“Jangan sungkan, biasa saja nikmatilah semua ini, kelak kemanapun Jingga dan kamu ingin bulan madu, pergilah, bawa ini!” ucap Baba lagi.
Rendi menangguk- angguk, masih merasa tidak percaya. Calon mertuanya benar- benar the real crazy rich.
Padahal di daerah asalnya keluarga Rendi merasa sudah paling kaya, setelah bertemu Baba Ardi, Rendi merasa belum ada apa- apanya. Lebih dari itu, Rendi tak menyangka ada orang sekaya Baba Ardi di negaranya.
“Semoga saya, bisa menakhlukan hati, putri Bapak!” ucap Rendi tiba- tiba nyeplos dan kepikiran begitu.
Baba Ardi mendengar ucapan Rendi langsung menoleh.
“Aamiin!”
“Apa sebelumnya kamu pernah menyukai perempuan atau di hatimu ada perempuan lain? Aku tidak mau putriku dinomor duakan dan tidak menjadi prioritas!” ucap Baba Ardi kemudian.
Rendi pun jadi kaget, kenapa malah calon mertuanya menangkap kesan salah, padahal ungkapan Rendi jujur sebuah harapan dan doa, karena setiap bertemu, Jingga sangatlah ketus dan selalu menolak Rendi mentah- mentah. Bukan Rendi ada perempuan lain,bukan.
“Tidak, Pak!” jawab Rendi.
“Benar ya!”
“100 % benar, saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, sejak SD saya di pesantren dan saya hanya fokus sekolah dan kuliah, saya tidak sempat menjalin hubungan dengan siapapun meski Abah dan Ummi sering menawarkan ke saya untuk menerima perjodohan. Beberapa orang tua santri dan kawan Abah juga datang membawa pinangan untuk putrinya, tapi saya saat itu masih di luar negeri!” jawab Rendi mantap dan sedikit meninggi menunjukan kualitas dirinya, sebagai penawaran dan meyakinkan calon mertuanya itu. Dirinya memang layak mendapatkan putri seorang Gunawijaya.
“Farid sudah banyak bercerita, aku percaya!” jawab Baba Ardi.
“Jujur sejak pertama bertemu Jingga, saya jatuh hati pada putri Bapak, insya Alloh saya akan jaga putri Bapak dengan segenap hati dan seluruh tenaga saya!” ucap Rendi berjanji dan meyakinkan Baba Ardi.
__ADS_1
“Wajib, lihatlah aku dan Bunanya anak- anak. Semakin bertambahnya usia pernikahan dan usia kami, cinta kami tak berkurang dan akan semakin bertambah, aku ingin putri- putriku juga mendapatkan cinta yang seperti itu dari suaminya!” sambung Baba lagi.
“Iya Pak, Bapak Ardi dan Ibu Alya teladan bagi saya!” jawab Rendi memuji.
“Bunanya Jingga, dulu lebih pembangkang dari Jingga, kuncinya kita harus tetap sabar dan bisa memberithau siapa kita di hidup dia. Kita pemimpin, kita juga yang akan bawa kemana arah hidup keluarga kita. Pada dasarnya Jingga anak yang bisa berfikir dengan baik, bimbing dia, dia pasti akan mengerti apa kewajiban dan kedudukan sebagai seorang istri setelah menikah nanti, meski itu semua butuh waktu!”
“Siap Pak!” jawab Rendi mantap.
“Kau tau, aku sangat menyayangi putriku, aku banyak berharap padamu!”
“Ya Pak!” jawab Rendi bertekad.
Jangankan setelah mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari seorang ayah yang biasanya menjadi tantangan dalam meminang gadis. Hanya dengan melihat wujud Jingga, tanpa disuruh, Rendi pun sangat ingin memiliki Jingga dan membahagiakanya dengan penuh cinta.
Jingga begitu menawan dan menyenangkan untuk dilihat. Meski sedikit merepotkan karena terkadang jutek dan bawel, tapi itu menjadi seni tersendiri sebagai paketan komplit makhluk Tuhan yang unik dan indah.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan sambil terus bercengkerama.
Baba banyak bercerita tentang masa mudanya, tentang hamilnya Jingga, masa kecil Jingga dan juga perjalanan karir Baba.
Rendi pun menjadi pendengar setia sebagai layaknya anak muda yang sedang mencari ilmu pada orang tuanya.
Hingga tidak lama pesawat medarat di negeri yang indah dan gemerlapan penuh dengan kemewahan dunia dengan gedung- degungnya yang tinggi dan megah, tempat itu adalah Dubai.
Setelah turun dari pesawat dan menyempatkan waktu makan di salah satu restoran teman Baba. Mereka kemudian berpisah, Baba berlanjut menemui kawanya, sementara Rendi segera mengunjungi universitas tempatnya akan menimba ilmu.
Di pertemuanya dengan sahabat Baba, Baba juga sangat percaya diri mengenalkan Rendi pada kawanya sebagai calon menantu.
“He looks so handsome and smart!” (Dia terlihat begitu tampan dan cerdas)
“Yah, he will be my son-in-law!” jawab Baba Ardi selepas Rendi pergi. (Ya dia akan menjadi manantuku)
“Your daughter will be a lucky girl!” sahut teman Baba. (Putrimu akan menjadi perempuan yang beruntung).
****
__ADS_1
Maaf sok sokan pake bahasa asing padahal maah pakai google translate hahahaha