
Baba meninggalkan ruang diskusi kacau. Baba tidak ingin anak- anaknya melihat baba menangis. Amer dan Ikun pun bisa mengerti perasaan orang tuanya.
Keterangan tentang Adip dari Amer pada awal Baba simpulkan sendiri. Sehingga Baba merasa tidak begitu perlu mendengar lebih banyak. Baba rasanya sangat kacau dan tidak bisa diungkapkan hancurnnya membayangkan Putrinya dipeerkosa.
Baba sudah menjaga Jingga dengan sangat posesif, Baba begitu takut Jingga kenapa- kenapa. Hal yang paling Baba takutkan, datang. Meski sebenarnya tidak.
Baba ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Marah pada Buna yang membiarkan Jingga pergi, tapi Buna sedang hamil dan Baba tak bisa jika tidak ada Buna. Mau marah pada Jingga semua sudah terjadi.
Yang ada di pikiran Baba, Baba mau menemui siapa Tama dan menghancurkanya dengan tangan Baba sendiri.
Baba ingin meluapkan emosinya dan kemarahanya pada orang yang berani menyentuh buah hatinya yang berharga.
Di ruang kerjanya, setelah sekian tahun lamanya. Baba menangis sejadi- jadinya. Memukul meja sampai lenganya berdarah.
Sementara Buna memeluk Jingga erat. Meluapkan rasa sedihnya dengan air mata. Buna ingin tegar dan mengobati luka hatinya, sekaligus berusaha memberi kekuatan pada Jingga. Tapi tetap saja tidak bisa.
Dan di waktu menegangkan itu, bel rumah berbunyi.
Ikun yang emosinya masih terkendali bangun, meninggalkan Buna, dan kedua kakanya. Ikun membuka pintu tamunya, meski hampir bersamaan dengan ARTnya
"Biar saya saja Bik!"
"Ya Tuan!"
Ikun pun membuka pintu. Tiga orang kepercayaan Baba datang.
“Pak Dino!” sapa Ikun terhadap karyawan tertua Baba.
“Selamat Siang Tuan Muda Kuni!” sapa Pak Dino menganggukan kepala.
“Silahkan masuk Pak. Baba ada di ruang kerja!” jawab Ikun singkat.
Ikun tahu, pasti Pak Dino dan kedua anak buahnya sudah tanggap, langsung mau mengatasi masalah pencemaran nama baik Gunawijaya dan siap menghabisi Tama.
Pak Dino mengangguk, lalu Ikun mengantar mereka ke ruang kerja Baba.
Setelah sampai Ikun turun ke bawah. Dalam hal pekerjaan, Ikun yang masih muda tidak mau ikut campur. Ikun kemudian masuk ke kamarnya.
****
Masih di ruang keluarga.
“Astaghfirulloh, ya Tuhan ya Robb, cobaan apa ini? Kuatkan aku. Ampuniii aku. Salah kami ya Tuhan. Astaghfirulloh... Ya Tuhan Jingga... Jingga!"
"Seharusnya kamu tidak pergi, pasti semua ini tidak akan terjadi!” ucap Buna memegangi kepalanya.
Buna melepaskan pelukanya, meracau kacau, meluapkan beban panas yang menyerang dan memenuhi kepalanya.
Buna kalut, pikiranya pun tak setenang awal hingga menyalahkan dirinya sendiri.
Jingga masih terdiam menunduk.
Amer kemudian mendekat ke Buna dan merangkul bahu Buna.
__ADS_1
“Ceritanya belum selesai Bun. Buna tenang ya. Semua akan baik- baik saja Buna!” tutur Amer pelan, maksud hati Amer ingin menghibur Buna.
“Plak!”
Tidak tahu mau bagaimana, mendengar Amer Buna malah memukul Amer.
“Bagaimana bisa Buna baik- baik saja Amer??” tanya Buna gemas ke Amer sambil mengeratkan rahangnya.
“Putri Buna disakiti, Putri Buna hancur, Buna juga ikut hancur. Putri Buna diperkoosa. Difitnah!!" tutur Buna keras.
"Seharusnya Buna melarang kalian pergi. Kamu juga, kalau saja kamu datang lebih cepat pasti tidak seperti ini, hiks... hiks..” racau Buna lagi sekarang nadanya rendah penuh penyesalan.
“Bun... Semua masalah ini akan kita selesaikan dan hadapi. Di setiap kejadian juga akan ada hal positifnya. Kak Jingga juga sekarang akan bahagia!” ceplos Amer lagi
Kata Jingga akan bahagia membuat tangis Buna berhenti, tapi Buna tetap tidak senang.
Buna langsung memasang muka marahnya menatap ke Amer.
Tidak tanggung- tanggung, Buna melayangkan tanganya menampar Amer. Dan membuat Jingga dan Amer melotot.
“Buna...!” pekik Amer memeganhi Pipinya, semenyara Jingga mengernyit kasian ke Amer.
“Adik macam apa kamu! Bagaimana bisa, Jingga bahagia, lihatlah kakakmu kacau begitu!"
"Kakakmu kehilangan kehormatanya, bagaimana Buna dan Baba menghadapi keluarga Pak Dhe Farid dan keluarga Rendi, bagaimana kehidupan Jingga nanti. Apa kamu tidak memikirkan itu?Putri Buna sudah direnggut paksa kesucianya. Amer. Dia kakakmu! Siapa yang mau menikahi anak Buna? Pikiran kamu dimana sih?" omel Buna ke Amer.
Kali ini Buna hilang kendali, tidak lagi lembut, tapi sifat cerewetnya keluar.
Mendengar itu, Jingga pun langsung bereaksi. Jingga sekarang lebih tenang karena tidak ada Baba.
“Wuah!” pekik Buna benar- benar seperti diberi kejutan durian runtuh.
“Buna tidak usah khawatirin Jingga dalam hal ini!” ucap Jingga lirih dan menunduk, menelan ludahnya dheg- dhegan dan ragu.
“Lihatkan Buna... dalam hal ini Kak Jingga baik- baik saja! Masalah kita sekarang adalah nama baik keluarga kita. Bukan Kak Jingga!” celetuk Amer lagi.
“Jingaaa! Amer!” pekik Buna tidak mengerti.
Amer dan Jingga terdiam saling pandang.
”Hoh..” Buna kemudian mengambil nafasnya panjang mencoba memahami anak- anaknya tapi tetap tidak bisa dimengerti.
“Percayalah Buna, semua akan baik- baik saja, yang penting, kita harus segera meredam berita itu. Dan memberi pelajaran ke Tama!” tutur Amer lagi.
“Tunggu, jelaskan pada Buna, apa maksud kalian, Bagaimana kamu bisa baik- baik saja Jingga?” tanya Buna.
“Jingga mencintai Bang Adip Buna..., tanpa kejadian ini, Jingga tidak menikah dengan Bang Adip. Jingga tidak mau menikah dengan Pak Rendi!” tutur Jingga lancar.
Jika tidak ada Baba, Jingga dan Amer memang lebih leluasa menceritakan semuanya pada Buna.
“Tuh Bun... dengar kan? Di sana Kak Jingga malah kecentilan dan senyum- senyum terus Bun! Kenapa Buna malah tampar Amer!” gerutu Amer kemudian.
Buna terdiam melotot seperti dipermainkan anak- anakny. Buna masih terus berfikir, saking pusingnya, Buna sampai melepas jilbabnya.
__ADS_1
“Ini apa sih sebenarnya? Ini apa? Kalian ini ngomong apa?” tanya Buna meminta keterangan.
"Makanya biarkan Amer cerita dulu Bun!"
"Ya udah cerita!"
Amer kemudian menceritakan semuanya, dari Amer dan Adip tiba, sampai Adip digerebeg, Jingga diarak dalam keadaan tidak sadar, sampai Jingga dinikahkan, dan dihukum di tawan tidak boleh pergi selama tiga hari.
“Ambilkan minum!” celetuk Buna pertama kali menanggapi cerita Amer yang panjang kali lebar kali tinggi. Tidak oh, tidak berkomentar atau bertanya.
Jingga pun segera bangun dan mengambil air minum untuk bunanya. Jingga sangat berharap Buna mengerti dan membantunya.
Setelah tenggorokanya yang kering karena menangis normal lagi, Buna menatap Jingga tajam dan serius.
“Kalau begini ceritanya? Jadi kenapa daritadi kamu menangis? Benar kamu bahagia? Kamu mau buat lelucon Baba dan Buna?”
“Buna jangan tatap Jingga begitu dong!” jawab Jingga malah melengos dan protes membuat Bunanya gemas dan melongo.
“Plak!” Buna akhirnya tega memukul paha Jingga. Anaknya yang satu ini benar-benar kurang ajar.
“Buna sakit!” keluh Jingga.
“Kamu tidak lihat, Oma dirawat?Baba marah? Masih bisa kalian begini? ”
“Maaf Buna!”
“Hhhhh!”
“Jingga takut sama Baba, Jingga takut Baba dan Buna marah, Jingga juga takut oma kenapa- kenapa. Jingga hanya cerita ke Oma kalau Jingga udah menikah,"
"Jingga juga sedih karena Jingga udah bikin malu keluarga. Tapi terhadap hal yang menimpa Jingga, Jingga sudah bisa atasi itu Buna! Bang Adip kuatin Jingga. Jingga akan semangat lagi!” ucap Jingga lancar sekarang tidak ketakutan mengungkapkan.
Buna masih diam dan berfikir tidak merespon.
“Bang Adip cukup membuat Jingga sembuhin semuanya Buna. Jingga cinta Bang Adip Buna! Jingga akan bahagia!” lanjut Jingga lagi meyakinkan Bunanya.
Buna masih belum mau menanggapi.
“Bun...!” panggil Jingga lagi.
“Stop!” bentak Buna singkat.
Hal itu membuat Jingga memanyunkan bibirnya.
“Tetap saja Jingga, kamu diperkosa! Baba dan Buna tidak terima. Orang yang bernama Tama itu harus dipenjara, harus diberi balasan yang setimpal!” tutur Buna gemash.
“Jingga tidak ingat apapun dan tidak rasa apapun Buna. Jingga cuma mau, Baba dan Buna restui, Jingga dan Bang Adip Buna..!” celetuk Jingga lagi dengan polosnya.
“Jingga...!” pekik Buna merasa anaknya kali ini sangat bodoh.
“Please, Buna.. bantu Jingga. Bantu Jingga rayu Baba! Jingga janji akan baik- baik saja. Jingga hanya butuh Bang Adip!”
*****
__ADS_1
Maaf Up nya lama. Hari ini aku kerja pagi.
Gemesh juga pen ketik terus sampai selesai, tapi di jabarin ke kata ternyata panjang dan butuh waktu. Maap yaaa...