
Di rumah Dokter Gery.
Setelah diajari beberapa teknik mengurus ternak kucing itu, Bunga dan asistenya langsung mengeksekusi kucing- kucing yang sakit.
Bunga juga langsung membeli apa yang Adip suruh. Sampai tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan ayahnya pulang.
“Pulang jam berapa Adip?” tanya Dokter Gery ke Bunga.
“Abis Ashar Pah!” jawab Bunga.
“Gimana? Mau dia urus mereka?” tanya Dokter Gery.
“Kan papah dengar sendiri. Kak Adip mau pulang ke kampung halaman Bapaknya di pulau P! Cari dokter lain deh Pah!” ucap Bunga kemudian.
“Dokter lain susah Sayang, yang ada kita yang harus di suruh ke klinik mereka, kalau nggak telpon Amer, suruh jual sebagian, bikin ribet!” omel Dokter Gery.
Kucing yang dititipkan Amer dan Ikun memang terlampau banyak. Bukan hewan peliharaan lagi, mirip peternakan. Bunga diam, saran dari bapaknya ada benarnya juga sih.
Bunga kemudian menelpon sepupu tirinya.
“Apa, Ngaa telpon jam segini?” jawab Amer.
“Kamu kapan pulang sih?” jawab Bunga.
“Kenapa? Lo kangen sama gue?” tanya Amer.
“Ih... ogah! Ni kucing lo nih!” jawab Jigga cemberut.
“I am so sory sister! Kucing gue terlalu subur kek Bunaku, makanya cepet banyak dan beranak pinak. Di KB aja. Katanya Om Gery punya kenalan dokter Hewan, gimana?” tanya Amer.
“Ya dia jadi ke sini, tapi dia nggak bisa urus setiap saat, dia malah mau menetap ke pulau P! Via telepon paling, tapi baik sih dia!” ucap Bunga menceritakan Adip.
“Wah gila jauh banget!” jawab Amer terkejut mendengat kata pulau P. Amer tidak tahu kalau kakaknya juga ingin pergi ke sana.
“Tapi dia udah banyak kasih, edukasi dan resep- resep buat kucing- kucing lo!” tutur Bunga bercerita.
“Oke siip, nggak apa-apalah yang penting aman!” jawab Amer.
“Lo nggak tertarik buat jual sebagian? Banyak banget inih! Pusing gue!” tutur Bunga.
“Sok atuh, kalau lo sempat!” jawab Amer memberikan ijin.
“Kak Adip sih tadi sempat cerita, dia juga punya komunitas, gue pasrahin sama dia aja yak!’ ucap Bunga.
Rupanya Bunga dan Adip sempat ngobrol tentang jual beli kucing peliharaan.
“Gue minta nomernya dong! Orangnya gimana? Asik nggak?” jawab Amer.
__ADS_1
“Asih, asik banget, dia masih muda juga!” jawab Bunga.
“Oke. Gue minta nomernya deh kalau gitu!” jawab Amer.
Bunga kemudian memberikan nomer ponsel Adip ke putra konglongmerat di negara itu, yang tidak lain adalah adik Jingga.
Bunga kemudian berlenggang masuk ke dalam rumahnya. Papa Mama Bunga terlihat sedeng berdiskusi di ruang santai.
“Gimana, Sayang? Apa kata Amer?” tanya Dokter Gery.
“Kak Amer bolehin dijual Pah. Terus Bunga kasih nomer Kak Adip!” jawab Bunga.
“Bagus!” jawab Mama Mira mengangguk.
Istri Dokter Gery adalah dokter Mira, seorang dokter spesialis anak yang sekarang buka klinik khusus untuk anak- anak, dan menangani berbagai permaslahan tumbuh kembang anak.
“Kemarilah, Sayang, Papa Mama mau bicara!” tutur Dokter Gery menggerakan tangan meminta Bunga mendekat.
Bunga kemudian mendekat ke Papa Mamanya.
“Ada apa? Pah? Mah?” tanya Bunga.
“Anak Papah, kan udah selesai ujian kelulusan, terus gimana? Udah daftar kemana aja? Jadinya mau ambil jurusan apa?” tanya Mama Mira.
“Kan Bunga udah bilang, Bunga mau ambil holticultura, di kampus IP*, Mah!” jawab Bunga mengutarakan cita- citanya. Bunga seperti Kakek Nando hoby tanaman.
“Sayang, dengarkan Mamah ya!” ucap Dokter Mira.
“Hmmm, apa Mah?” tanya Bunga.
“Anak Mamah kan cuma kamu, anak Mamah satu- satunya. Opa Nando, punya rumah sakit, Mama juga punya klinik, apa kamu nggak tertarik buat ambil kedokteran aja?” tanya Dokter Mira pelan.
Dokter Mira dan Dokter Gery ingin anaknya menjadi seperti mereka, menjadi seorang dokter.
“Kan, Mamah Papah mulai lagi. Bunga nggak suka rumah sakit, Bunga nggak suka pasien. Nggak titik. Bunga nggak mau ambil kedokteran!” jawab Bunga ngeyel.
Ini bukan kali pertama Dokter Gery dan Dokter Mira merayu Bunga.
“Terus kalau Opa Nando udah nggak ada, Mama udah tua, siapa yang mau urus rumah sakit dan klinik?” tanya Dokter Mira lagi, merayu anaknya.
“Kak Jingga kan juga cucu Opa Nando. Kenapa nggak Kak Jingga aja! Kak Jingga kan dokter!” jawab Bunga melawan.
Bunga memang pernah diberi pengertian kalau, Opa Nando dan Oma Nurma menikah di usia tua. Papa Gery dan Om Ardi itu saudara beda orang tua dan tidak ada hubungan darah.
Seharusnya Bunga tau, kalau warisan opanya hanya untuk Bunga, tapi karena keluarga Papa Gery dan Om Ardi sangat denkat, anak- anak mereka merasa merasa mempunyai hubungan darah. Lebih dari sekedar saudara sambung.
Sementara Mira dan Gery, tetap sesuai tempatnya. Warisan akan diturunkan ke silsilah keturunan sesuari darah. Dokter Gery juga sangat yakin, Ardi tidak memperbolehkan anak- anaknya mengambil yang bukan haknya. Apalagi usaha Ardi juga banyak. Ardi juga sudah menyiapkan aset untuk anak- anaknya sesuai porsi dan bakatnya.
__ADS_1
“Sayang!” panggil Gery.
“Papa mau bilang kan? Kalau Kak Jinggaa itu bukan cucu Opa Nando kandung, Om Ardi juga akan buatin klinik sendiri buat Kak Jingga. Ya udah Papa Mamah bikin adik aja buat Bunga! Beres kan!” jawab Bunga melawan orang tuanya lagi.
Dokter Mira dan Gery hanya bisa menghela nafasnya menahan sabar. Setelah hamil Bunga, Dokter Mira memang pernah hamil lagi, tapi karena suatu hal, dokter Mira terpaksa tidak boleh dan tidak bisa hamil lagi.
“Ya sudah, tunggu pengumuman seleksimu ya! Papa Mama ijinin kamu ambil jurusan sesuai mau kamu, tapi kalau kamu nggak ketrima, ambil kedokteran. Oke?” tanya Mira bijak.
Dokter Mira sangat sayang pada anak semata wayangnya itu. Dia tidak mau membuat Bunga marah ngambek dan kabur. Mereka ingin merayu Bunga pelan- pelan, kalaupun tidak berhasil mereka berdoa, anaknya itu berjodoh dengan seorang dokter.
“Bunga akan ketrima kok!” jawab Bunga yakin, Bunga akan kuliah di kampus dan jurusan yang dia inginkan.
“Adik Nila katanya mau pulang!” tutur Oma Nurma dari dalam menghentikan pembicaraan anak dan kedua orang tuanya.
Bunga, Dokter Gery dan Dokter Mira menoleh.
“Benarkah, Oma?” tanya Bunga bahagia.
Bunga sangat dekat dengan Nila, dibanding dengan Jingga Bunga lebih akrab dengan Nila.
“Buna Alya juga hamil lagi!” tutur Oma Nurma lagi.
“What?” pekik semua orang.
Dokter Gery, Dokter Mira dan Bunga langsung menganga tidak percaya.
“Alya?” gumam Mira. Mira merasa kasihan dengan sahabat dan saudaranya itu, sudah tua masih harus berjuang hamil dan melahirkan.
“Ardi, gila lo Ar!” gumam Gery. Sahabatnya itu menurutnya sangat hebat. Sudah tua tapi masih selalu bugar dan produktif.
“Ih senengnya!” batin Bunga yang ingin punya saudara.
Semua syok dengan persepsinya masing – masing, mendengar Bunda Alya yang sudah tua dan banyak anak masih hamil lagi.
“Iya, Oma rencanaa mau nginep di sana. Sama Opa! Baba Ardi lagi jemput Nila soalnya!” tutur Oma Nurma berpamitan.
“Oh Ardi lagi ke T?” tanya Dokter Gery menyebut namaa saudaranya itu cukup dengan namanya.
“Ya. Bunga mau ikut? Iya dan Iyu pasti merindukanmu!” tutur Oma mengajak Bunga.
“Ikut Oma, boleh ya Pah!” jawab Bunga melirik ke Papa Mamahnya.
Dokter Mira mengangguk.
“Sekalian belajar sama Kak Jingga ya, barang kali holticulturamu nggak ketrima coba daftar kedokteran, oke?” tutur Dokter Mira masih merayu Bunga untuk kuliah kedokteran.
“Humm!” Bunga Manyun dan bangun tidak menjawab.
__ADS_1
“Tunggu Bunga bentar Oma!” ucap Bunga meminta Oma dan Opanya menunggu.