Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
122. Maaf, aku harus menikahimu.


__ADS_3

“Huuft!” 


Adip meregangkan tanganya saat diberi waktu guru tua beristirahat sambil menunggu Jingga.


Semua ngilu di badanya masih terasa, apalagi udara malam yang dingin seperti menusuk ke tulang.


Heranya meski kepalanya seperti melayang ingin segera dilelapkan, tapi mata Adip sama sekali tidak mengantuk. 


Adip masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


Jika dinikahkan dengan upacara adat kepercayaan lain, tak ada rasa bersalah di hati Adip jika nanti harus menceraikan Jingga, tapi jika menikah dengan cara dan keyakinan agama Adip. Adip tidak mau main- main. 


Adip percaya akan Tuhanya. Adip tahu pernikahan itu suci dan tanggung jawabnya besar. Adip takut salah dan dosa. Saat ijak qobul Adip ucapkan dan menyebut nama Tuhanya, itu seperti transaksi tanggung jawab dunia dan akhirat.


Lebih dari itu, Adip tidak ingin menyakiti Jingga. Adip juga tidak mau membuat Jingga menjadi anak yang durhaka dan menyakiti orang tuanya. Adip juga sangat tahu merebut perempuan yang sudah dilamar orang lain itu salah. 


Adip mengira Rendi sudah melamar Jingga secara resmi, padahal belum. Di sisi lain, semua orang juga mengira Jingga sudah kehilangan harta berharganya. 


“Tolong selamatkan Kakakku, Bang!” tepuk Amer melihat Adip terbenging ragu. Adip pun menoleh.


“Ehm!” Adip yang gusar tersenyum mengangguk. “Pasti!” jawab Adip. 


Apapun yang terjadi, Adip harus tetap mengambil jalan itu. Menikah denganya atau tidak, Tama sudag sudah merusak Jingga. Rendi tetap mendapatkan Jingga dalam keadaan tidak utuh, entah Rendi masih menerima atau tidak, begitu pikir Adip.  


Di sini, justru Adup yang ditimpa sial. Padahal sejak Adip kuliah, beberapa guru spiritual dan dosenya, semangat menjodohkan Adip dengan gadis- gadis terbaik. Aktivis kampus, dokter, putri- putri mereka, santriwati mulai dari pesantren modern, pesantren yang tradisional yang mengkaji kitab- kitab tua sampai dengan hafalan yang bagus.


Semua Adip lewatkan. Adip merasa belum siap diamanahi tanggung jawab suami. Sebab tanggung jawab itu begitu besar, seumur hidup. Mendidik dan memenuhi kewajibanya bersama- sama mengarungi kehidupan meraih ridzoNya.


Adip benar- benar ingin pernikahanya sempurna. Meminta dengan cara yang baik pada orang tua pengantinya. Mengucap ijab qobul dengan gagah dan terhormat.


Hari ini, tanpa Adip susah payah mengkhitbah, Adip harus segera menghalalkan seorang gadis yang cantik jelita, sayangnya di pikiran Adip mengira sudah tidak perawaan lagi karena hasil perkosaan laki- laki tak tahu diri. 


“Dengan nama Tuhan, ini yang terbaik, aku niatkan menolong kawanku, ini darurat!” batin Adip menelan ludahnya ada kekecewaan, tapi dalam hati terus meyakinkan dirinya, jalan ini jalan yang tidak bisa dia hindari. 


Pemuka agama yang sama dengan Adip sudah datang. Rupanya dia juga seorang pegawai negeri pendatang yang pemerintah letakan di situ. Dia adalah Pak Karim. 


“Saya sudah mendengar ceritanya!” tutur Pak Karim mendekat dan mengajak diskusi ke Adip. 


“Ya, Pak!” jawab Adip menunduk. 


“Apa kamu yang melakukanya?” 


“Tidak! Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya menemukan teman saya dalam keadaan tak sadarkan diri dan tak berbusana dengan laki- laki bejat itu, bukan saya yng melakukanya!” terang Adip menjelaskan sejujur- jujurnya. 


“Tidak ada saksi lain, maka kamu harus mengikuti aturan di desa ini. Kalian dari mana? Siapa yang akan jadi wali, saksi? Mana mas kawinnta?” tanya Pak Karim mempersiapkan. 


“Saaya pegawai kontrak dari kementerian peternakan dan pertahanan pangan yang bertugas keliling di kecamatan DT ini Pak! Teman saya mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan bakti ke sekolah di desa T!” jawab Adip memberitahu. 


“Hhhh!” Pak Karim menghela nafas. 

__ADS_1


“Saya adik kandung, calon memperlai perempuan!” jawab Amer mengimbuhi. 


Pak Karim menoleh Amer dan tersenyum. (*Mohon Maaf bagian ini hanya ada di dunia halu. Dunia sesungguhnya tanyakan pada ahli fiqih dan pihak KUA ya. Please ini dunia halu. Author pen kaya real jadi terpaksa ada agamanya. Tapi maaf bukan bermaksud menyalahi, ini hukum dunia halu seakan terpaksa. Untuk meluruskan setahu author yang benar adalah harus mencari keberadaan ayah kandung dulu, dan sepengetahuanya, baru boleh diwakilkan, dsb)


“Syukurlah, kita bisa melakukanya dengan menggenapi sarat- saratnya, nanti saksinya kalian bisa memilih dari yang ada di sini! Persiapkan mas kawinnya!” ucap Pak Karim memberitahu. 


Dheg 


Adip menelan ludahnya dan melihat Amer, mereka saling pandang. Kenapa dari tadi tak memikirkan mas kawin?


Adip saja tak membawa apapun selain uang yang sudah diserahkan pada Pak Anton sebagai upah membayar perahu dan uang ganti solar. 


“Mau mas kawin apa kakakmu?” tanya Adip bingung. 


“Mana kutahu!” jawab Amer sama- sama bingung. 


Dompet mereka sama- sama tertinggal.


“Haissshh!” Adip mengacak- acak rambutnya. Pernikahan macam apa ini? 


Di saat yang bersamaan tandu yang membawa Jingga datang. Adip semakin gelagapan dan denyut jantungnya semakin berdetak kencang tak bisa dikendalikan. 


Tandu diturunkan, isak tangis dan suara penolakan Jingga masih bisa di dengar. Adip dan Amer lega Jingga sudah sadar meski merasa sakit juga. Mereka tahu Jingga pasti syok dan tidak menerima.


Jingga sudah berpakaian dengan benar, tapi sangat berantakan. Karena Bidan Risa memberikan pakaian berwarna terang, kotoran tanah basah dan semak- semak saat Jingga tejatuh, terlihat jelas mengotori pakaian Jingga. Rambut Jingga juga berantakan. Sungguh calon pengantin yang berbeda. 


“Kakak!” pekik Amer segera mendekat. 


“Aku tidak mau menikah!” lirih Jingga masih menangis dan menutup matanya denga telapak tanganya yang sudah bisa dia gerakan.


“Kak Jingga, ini aku!” panggil Amer segera menghampiri Jingga. 


Jingga terdiam. 


“Kak...!” panggil Amer lagi menepuk pelan bahu Jingga mengajaknya untuk menoleh ke Amer. 


Jingga sungguh terkejut dan merasa  dunia semakin lucu dan seperti permaianan saja. Jingga merasa dunianya sangat mustahil. Perlahan Jingga menoleh dan membuka matanya. 


“Amer!” pekik Jingga kaget. 


“Ya, ini aku!” jawab Amer. 


Jingga yang efek biusnya mulai menghilang berusaha bangun, tapi masih terasa pegal di sekujur tubuhnya. Amer pun segera membantunya. 


“Ini benar kamu?” tanya Jingga tidak percaya dan pipinya kembali teraliri air dari kedua matanya. 


“Iya Kak!” jawab Amer langsung memeluk Jingga. Mereka berdua kemudian berpelukan dan sama- sama terisak.


“Maafin kakak!” lirih Jingga.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dalam tanduannya, Jingga menyesali keputusanya pergi tanpa ijin Baba. 


Semua yang ada di situ pun hanya menjadi penonton keharuan kakak adik itu. 


“Amer yang minta maaf, terlambat nemuin Kakak!” jawab Amer lalu melepaskan pelukanya.


Amer menangkup wajah kakaknya dengan kedua tanganya. 


“Kakak banyak jerawatnya” lirih Amer masih sempat mencibir. 


“Ish!” desis Jingga. “Bagaimana kamu bisa ada di sini? Ngapain?” tanya Jingga lirih, tangisnya berangsur berhenti.


“Ceritanya besok saja!” jawab Amer. 


Amer kemudian merapihkan rambut Jingga yang berantakan. 


“Menikahlah dan kita harus segera pergi dari sini, aku akan jadi wali kakak!” bisik Amer sambil merapihkan wambut Jingga. 


Meski Amer adiknya, orang yang tidak kenal semua akan mengira Amer kekasih Jingga atau kakaknya. Jingga sangat manja dengan tatapan polosnya, Amer begitu dewasa dan sweet. 


“Kakak tidak mau menikah dengan pria bejat seperti dia, Amer!” lirih Jingga menggelengkan kepalanya. 


“Bejat?” tanya Amer salah mengira yang Jingga maksud adalah Adip. Padahal yang Jingga maksud itu Tama. 


“Ya...! Kau kekacauan ini karena dia!” bisik Jingga lagi. 


“Tidak masalah, ini pernikahan di bawah tangan tidak tercatat! Yang penting kita selamat dulu. Nanti setelah pergi dari sini, segeralah minta cerai dan tinggalkan dia!” jawab Amer memberitahu. 


Jingga hanya mengangguk. 


Kemudian Amer beralih dari jongkoknya, berusaha memapah Jingga untuk dataang ke tempat yang sediakan.


Adip yang tadi duduk terhalangi oleh beberapa warga kini terlihat. 


"Bang Adip? Kok di sini juga?" batin Jingga tidak mengerti. "Kapan dia kembali? Kenapa ada di sini?"


Jingga pun segera mengedarkan pandanganya, dan kali ini berusaha menggunakan indra penglihatanya dengan benar. 


“Tidak ada Tama di sini?” batin Jingga lagi.


Tiba- tiba tubuh Jingga memanas dan jantungnya berdebar lebih kencang. 


Jingga kemudian menggenggam tangan Amer menggoyangkanya dan berbisik di telinga Amer. 


“Apa yang terjadi, siapa yang akan menikahiku?” bisik Jingga. 


“Bang Adip!” jawab Amer lalu mendudukan Jingga di tempat duduk di sisi Jingga. 


“Hoh.. hoooh!” Jingga terbengong masih tidak percaya dengan apa yang terjadi denganya, di dadanya seperti ada banyak prajurit yang menabuh gendang.

__ADS_1


“Maaf, aku harus menikahimu!” bisik Adip ke Jingga yang sekarang duduk di dekatnya. 


__ADS_2