
"Aku lupa!" jawab Adip asal, buat Adip rasanya sangat meresahkan dan malu membahas masalah perasaan ke Jingga
"Issh, aku ingin tahu. Ayo katakan!" Jingga mengekerucutkan bibirnya manyun dengan kedipan mata manja dan bawelnya.
Bahkan Jingga dengan agressif memeluk tangan Adip posesif, sehingga Adip kegerahan dan gelagapan. Jingga sangat ingin tahu perasaan Adip sebenarnya selama ini ke Jingga bagaimana.
Tanpa Jingga tahu, sikap Jingga membuat adik kecil Adip yang bersembunyi di bawah sana terbangun.
"Aku lupa, tolong jangan pegang tanganku begini!" jawab Adip melepas tangan Jingga.
"Ishh!"Jingga pun jadi tersinggung dan kesal dirinya bahkan mau pegang tangan Adip ditolak. "Tuh kan katanya aku istrimu katanya kau mencintaiku. Apaan?" gerutu Jingga menundukan kepala.
Adip pun menatap Jingga dengan menghela nafas. Jingga tidak tahu kalau Adip begitu menghindari Jingga dari dulu karena melawan gejolak adik kecil Adip.
"Pletak!" Melampiaskan gemasnya Adip menyentil kepala Jingga yang keganjenan karena terlewat bahagia cintanya terbalas. Jingga sampai tidak peduli lagi tentang Tama.
"Aku baru ingat, aku mau ambil umbi yang tadi dibawain Bidan Risa. Sekalian dicuci biar nanti bisa kita rebus buat makan siang kita!" ucap Adip kemudian.
"Ho" Jingga terbengong dan melongo.
Jingga samasekali tidak memikirkan apapun tentang bagaimana mereka akan hidup selama 3 hari ke depan.
"Ayo bantuin!" ucap Adip kemudian.
Sebenarnya Adip juga kepikiran baru saja gara- gara mencari cara agar dirinya tidak terpancing suasana.
"Ya!" jawab Jingga mengikuti Adip.
Mereka berdua kemudian bekerja sama membuka bahan makanan yang dibawakan Bidan Risa. Semua dari tanaman. Tidak ada yang dari hewan apalagi makanan instan, tapi lengkap dengan bumbu- bumbu, garam gula, cabai dan bawang.
"Kita masaknya pakai apa?" tanya Jingga pikiranya tidak sampai.
"Sudah diam saja. Ayo cepat kita bawa ke sumber air yang aku ceritakan!" ajak Adip.
"Oke!" jawab Jingga patuh dan ikut saja.
Mereka berdua berjalan ke lembah bagian sisi bukit yang bawahnya sungai dan terbentuk air terjun. Jingga pun kembali berdecak kagum melihat keindahanya.
Semua sisi bukit itu indah. Ke depan menghadap laut, sisi kiri, tebing- tebing batu tinggi, sisi belakang ; hutan dan perkampungan, sisi kiri lembah dan sungai serta perbukitan.
__ADS_1
"Indah sekali!" gumam Jingga.
Jika Jingga terbengong menikmati pemandangan. Adip langsung turun ke air yang mengalir, mencuci umbi- umbian, sayuran dan buah- buahan. Seharusnya Jingga yang perempuan yang melakukan itu. Tapi jiwa kesultanan Jingga tak memikirkan itu. Adip pun mengalah.
Mata Jingga tiba- tiba terpaut pada sesaji yang terletak di situ.
"Adip!" panggil Jingga spontan.
"Hemm!" jawab Adip hanya menoleh.
"Ini apa? Siapa yang naruh?" tanya Jingga.
"Warga, sudah biarkan saja!"
Jingga yang tidak tahu menahu tentang hal- hal seperti itu jadi otaknya paranoid dan langsung mendekat ke Adip. Bukanya membantu Adip Jingga malah berfikir buruk tentang tempat itu, dan menarik baju Adip yang sedang menunduk ke arah pancuran air mencuci.
"Jingga awas nanti jatuh!" ucap Adip memperingati.
"Ayo balik yuk!" ajak Jingga takut.
"Belum selesai!" jawab Adip.
"Lama!" gerutu Jingga manja.
"Ish udah pulang aja!" ajak Jingga lagi.
"Kamu mau kelaparan?"
"Enggak. Tapi sepertinya tempat ini angker deh!" ucap Jingga ngawur lagi.
"Kamu punya agama kan? Udah yang penting kita di sini sopan. Hargai kepercayaan warga sini, tapi kita jangan ikutan percaya hal- hal beginian. Cepat bantu cuci!" tutur Adip menasehati. Tidak ada pilihan lain Jingga patuh.
"Ya...!" jawab Jingga.
Mereka berdua bekerja sama lagi, mencuci bahan makanan itu, dan meminum air di situ tanpa dimasak.
Setelahnya mereka berdua kembali ke gubug.
"Bagaimana masaknya?" tanya Jingga lagi masih terus bawel.
__ADS_1
Adip tidak menjawab, otaknya justru memikirkan langkah yang akan dia ambil, matanya berkeliling mencari sesuatu. Jingga kesal tidak dijawab.
"Bang Adip! Nggak ada gas elpiji. Nggak ada wajan nggak ada minyak gimana masaknya?" tanya Jingga lagi merasa mustahil.
Adip masih diam malah berjalan ke arah belakang gubug.
"Hiiih!" gerutu Jingga kesal dicueki.
"Adip suamiku!" panggil Jingga lagi merasa sangat kesal. Jingga benar- benar bawel.
Adip tidak menjawab dan justru hilang di balik semak- semak.
Jingga yang paranoid ditinggal sendiri jadi berpikir macam- macam dan menangis lagi.
"Ih. Dia itu sebenarnya gimana sih?" gerutu Jingga.
Tidak lama, Adip datang membawa kayu bakar. Lalu menyusun bebatuan di depan gubuk. Setelah menurut Adip selesai Adip masuk dan mendapati Jingga menangis.
"Astaga. Kamu menangis lagi?" tanya Adip ke Jingga sangat heran.
"Daritadi aku dicueki. Tanya nggak pernah dijawab. Katanya cinta, aku ditinggal sendirian!" omel Jingga bawel. Meski menangis Jingga masih bisa marah-marah.
"Haish" Adip pun hanya bisa menghela nafas, sepertinya Adip harus banyak bersabar menghadapi Jingga.
"Kamu sangat bawel ternyata?Aku sedang berfikir bagaimana caranya kita bisa masak. Aku baru mencari kayu bakar, apa iya harus ajak kamu? Ni aku juga mencari batu untuk buat api!" jawab Adip ke Jingga memberitahum
"Ehm, oh gitu!" jawab Jingga malu, Jingga mana sampai berfikir sejauh itu.
Hari itu Adip pun mengajari Jingga cara memasak secara alami. Meski tak ada wajan kompor dan lain sebagainya. Mereka bisa makan umbi dibakar,membuat api dari gesekan batu yang Adip temukan di situ.
****
Terima kasih atas ilmu dari Kakak kakak semuanya.
Aku bersyukur banget sama Alloh ditemuin pembaca kaya Kakak- kakak di sini.
Meski aku tidak sefamous author lain aku jadi semangat berkat kalian baik semua.
Pokoknya terima kasih ya. Tanpa kakak pembaca semua mungkin aku nyerah.
__ADS_1
Meski aku nggak Famous, Aku memang berusaha menulis yang ada bekasnya dan bermanfaat untukku atau orang lain selain kebahagian.
Doain ya. Alloh kasih author otak ngalir ide yang menarik dan kasih ilmu juga. Pokoknya kalau author salah tegur aja. Makasih.