
Sesuai intruksi Baba, Jingga bersama Oma Rita dan Nila pergi ke butik tante mereka, tante Intan.
Di butik tante Intan memang sudah banyak hasil karya yang siap pakai dan indah- indah semua. Jingga hanya tinggal pilih mana yang Jingga suka.
Akan tetapi untuk Jingga, tante Intan juga bersedia lembur ngebut untuk Jingga.
“Jingga ambil yang udah jadi aja, Tante. Waktunya tinggal sehari lagi, kalau buat nanti hasilnya malah nggak bagus!” tutur Jingga dewasa.
“Pernikahan itu hanya sekali, Nak! Yakin kamu nggak nyesel? Nggak pengin desain baru?” tanya tante Intan.
“Nggak, ingin suami Jingga dan Buna malah nggak usah resepsi, kita ikut mau Baba aja ini Mah!” jawab Jingga.
“Oke..,” jawab tante Intan mengangguk. “Yuk sini yuk, kamu pilih sendiri! Ini ori dan limitid juga kok!” jawab Tante Intan meminta Jingga ikut tantenya. Butik Tante Intan kan dimodalin Baba juga dulu.
2 hari sbelum hari H. Jingga pun baru fitting baju penganten. Pokoknya Jingga penganten yang beda dari penganten pada umumnya.
Jingga juga bukan pergi bersama Adip melainkan bersama Nila dan Oma Rita.
Adip bukan tidak tanggung jawab dan tidak peduli, tapi Adip sedang dalam perjalanan.
Adip juga harus siapkan sasrahan, maskawin dan sebagainya serba mendadak. Saat ini pun Adip masih di dalam mobil bersama sopir Baba. Adip juga jauh lebih pusing dari keluarga Baba.
****
“Abang terserah kamu, Sayang. Udah pilih yang terbaik! Abang ikut!” ucap Adip di telepon.
“Nggak mau lihat atau pilihin?” jawab Jingga di video call.
“Semuanya bagus, udah bagus semuanya!” jawab Adip lagi tidak mau pusing.
“Kasih saran kek!" pinta Jingga.
"Abang nggak mudeng gaun, Jingga!"
"Ya udah coba lihat! Mau putih tulang? Abu atau pink salem? Atau gold? Atau biru? Atau coklat?” tanya Jingga lagi.
“Istri Abang cantik pakai warna apapun, udah terserah aja!” jawab Adip lagi.
“Ihh, Abang Mah! Masa nggak mau terlibat sedikitpun! Pilihin warna doang kok!’” keluh Jingga kesal.
Inginya Jingga meski lewat video call setidaknya fitting baju tetap Adip terlibat. Perempuan kan gitu suka ribet.
“Ya udah yang biru wes....!” jawab Adip asal milih daripada istrinya ngambek, bahaya kalau di PHP in lagi besok.
“Kok biru? Nggak deh, terlalu kalem!” ucap Jingga ternyata nggak suka dengan pilihan Adip.
“Hemm...,” dehem Adip di telepon, sudah masih di mobil, suaranya nggak jelas maksa dipilihin tapi nolak. Adip kan kesel.
“Ya udah yang gold!” jawab Adip tetap sabar.
“Gold terlalu tua nggak ya? Seksi nggak sih? Cantik nggak ya?” tanya Jingga lagi memperlihatkan gaunyaa.
Adip menelan ludahnya lagi, dari ponsel kejauhan kan warna nggak begitu jelas, apalagi detailnya, Pusinglah Adip disuruh tentuin.
“Abang bingung... udahlah ter!” ucap Adip terpotong, tiba- tiba warna layarnya berubah jadi hitam.
“Hmmm...,” dehem Adip ternyata bateraynya lowbat.
Adip pun menutup ponselnya dan memasukanya dalam saku sambil tersenyum.
Sepertinya dua hari ini akan lebih baik bateray ponselnya lowbat saja terus. Jingga pasti akan setiap detik menghubunginya menanyakan semua persiapan pernikahan. "Huuuft,"
“Ini lurus, kan Den?” tanya sopir ke Adip.
Mereka mulai memasuki area perkampungan.
“Ya Pak!” jawab Adip.
Adip kemudian memilih membuka jendela mobilnya, Adip ingin melepas rindu dengan kampung halaman mendiang ibunya.
Akhirnya Baba memilihkan mengguakan mobil kecil untuk mengantar Adip. Sebab jika ada rusak dan papasan dengan mobil lain akan memudahkanya, berbeda kalau mobil besar. Baba juga tidak tega Adip pulang naik kendaraan umum.
“Semoga Bapak dan emak nggak jantungan denger aku udah nikah dan mau resepsi besok!” batin Adip memandangi jalan panjang menuju rumah orang tua angkatnya.
Sekitar 15 menit Adip sampai di depan sebuah rumah sederhana. Akan tetapi halamanya luas, lantai rumahnya sudah permanen keramik, untuk teras, pagarnya, dindingnya dan tiangnya terbuat dari kayu, tapi berbeda dengan di pulau Panorama. Kayunya ini lebih mengkilap bersih dan terlihat asri.
“Ini rumahnya, Pak!” tutur Adip meyuruh sopir berhenti.
"Ya, Den!"
Mendengar suara mobil, si penghuni rumah keluar. Terlihat ibu paruh baya membuka pintu dan memeriksa siapa yang datang.
__ADS_1
Adip segera turun membawa tas punggungnya.
“Adip?” ucap Ibu itu melebarkan matanya seperti kaget. Setelah yakin itu Adip barulah terlihat senyumnya. 5 jam perjalanan lewat tol, Adip sampai ke kampung ibu angkatnya.
“Assalamu’alaikum Maak...” sapa Adip berjalan sedikit berlari meletakan tas dan memeluk ibu angkatnya itu.
"Ini beneran kamu?" tanya Emak Adip.
"Bener Mak!"
“Lho... katanya kamu udah berangkat ke pulau Panorama? Baru sebulan kok udah balik? Kamu nggak jadi kerja?” tanya Ibu Adip kaget.
“Masuk dulu, Mak, ngobrolnya di dalam ya, Adip lelah dan haus! Bapak kemana?” tana Adip ingin bahas di dalam.
“Bapak ke ladang, kamu pulang bukan karena dipecat kan? Kerja itu uangnya ditabung, jangan sering pulang. Sayang uangnya, yang buat beli tiket kalau sering pulang begini!” tutur Emaknya Adip cerewet mode orang tua.
“Emak nggak suka, Adip pulang?” tanya Adip santuy, perempuan dimana- mana memang cerewet. Meski terkesan cerewet tapi itu bukti sayang dan perhatianya seorang Emak.
“Ya suka, tapi kan Emak kasian, ke kamu! Kok kerja baru sebulan udah pulang? Udah mampir ke Abah Anwar belum?” tanya Emak Adip lagi.
“Besok sama Emak dan Abah kesananya. Oh ya, Pak Sandi belum disuruh masuk Mak, kasian nyupir lama!” jawab Adip mengingatkan ibunya kalau di mobil ada supir.
“Kok besok ke Abah Anwarnya, biasanya mampir ke sana dulu? Itu siapa? Kamu kok pulang pakai mobil bagus dan supir segala sih?” tanya Emak Adip masih mode cerewet dan penasaran.
“Nanti, Adip kasih tahu, kasian Pak Sandi, buatin teh dulu, ya!” ucap Adip meminta lagi.
Emak Adip pun mempersilahkan supir Baba masuk, lalu membuatkan minum.
Pak Sandi pun masuk dan melihat- ihat rumah Emak dan memperhatian dengan seksama. Rumahnya memang nyaman dan asri tapi kecil, terlihat Adip bukan orang kaya.
Pak Sandi pun membatin, beruntungnya Adip dapat mertua seperti Baba.
Tidak ada yang tahu, jika tidak meninggal, Adip pun sebenarnya anak seorang jenderal, pahlawan pula. Hanya saja nasib orang tua Adip tak beruntung. Beliau gugur di medan tugas meninggalkan dua anaknya yang masih balita dan istrinya yang sakit- sakitan.
Adip dirawat emak dan disekolahkan Abah Anwar. Adip juga pernah tinggal di panti.
“Mangga minumnya, Pak!” sapa Emak Adip.
“Terima kasih!” jawab Pak Sandi.
“Kalau boleh tau anda siapanya anak saya?” tanya Emak kepo.
Adip sedang ke kamar mandi dulu. Meski belum jadi dibuka dan belum jadi masuk tapi kan Adip sudah terbayang dan masuk ke perangkap Jingga. Adip harus mandi.
Endingnya tanpa sepengetahuan Jingga, Baba tetap tidak rela menantu dan besanya naik mobil jelek. Meski mungkin nanti mobil merahnya tetap dibawa untuk mengangkut keluarga Adip, tapi Baba tetap memerintahkan anak buahnya menemani Adip pulang. Baba meminta mobil yang ramping merek avanza terbaru untuk mengantar Adip.
“Whoah? Supir? Den?” pekik Emak Adip heran.
Emak Adip tahu Adip pintar. Tapi anaknya yang dia kenal tukang angon bebek, dan bantu bapaknya nyari rumput, kan baru lulus kuliah berapa bulan dan kerja satu bulan, masa dipanggil den dan punya supir. Kerja apa Adip?
“Iya, Bu!” jawab Pak Sandi.
“Gleg..,” mendadak emak Adip limbung dan terbengonng, lalu memperhatikan penampilan Pak Sandi dai atas sampai bawah dan melirik mobil yang di luar.
Pakaian Pak Sandi dan pakaian Adip kan lebih rapih pakaian Pak Sandi, "Aneh," batin Emaknya Adip.
“Anda sopirnya anak saya?” tanya Emak lagi.
“Iya, Nyonya!”
“Hoh!” emak menghela nafasnya dan terbengong. Emak menelan ludahnya dan menepuk- nepuk pipinya, ternyata sakit. Emak memejamkan matanya lalu mengerjapkan matanya dikira mimpi.
Tapi Pak Sandi tetap ada, di depan rumahnya juga tetap ada mobil.
Pak Adip jadi bingung sendiri dengan yang dilakukan emaknya Adip.
“Ya sudah diminum dulu, tehnya. Saya tak cari suami saya dulu!” tutur Emak masih kaya oranng bingung.
"Ya..Bu!"
Emak labgsung berjalan ke belakang.
“Diip,” panggil emak mengetuk pintu kamar mandi.
“Yaa, Mak!”
“Emak, cari Bapak dulu, ya!”
“Ya!” jawab Adip.
Emak Adip keluar rumah, Emlmak Adip masih terus melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya sambil berfikir. Apa iya itu mobil Adip, apa pekerjaan anaknya sebenarnya.
Emak Adip pun berjalan cepat menyusul suaminya yang bekerja di ladang.
__ADS_1
“Pak...,ayo pulang!” ucap Emak Adip berjalan tergopoh- gopoh.
Kawan- kawan lain ikut menoleh.
“Ada apa?”
“Sudah ayo cepat pulang!” tutur Emak tidak mau memberitahu dulu, Emak juga masih bingung. Nanti kalau keceplosan digosipin lagi.
Mereka berdua pun segera berjalan cepat dan pulang.
“Itu mobil siapa,Mak?” tanya Bapak Adip.
“Punya Adip!”
“Adip?” pekik Bapak kaget.
“Iya!”
Bapak pun segera mencuci tangan dan kakinya, melepas pakaian kotornya dan masuk. Dilihatnya anak laki- laki yang pernah dia tolong sedang ngobrol dengan Pak Sandi dan menyeruput teh hangat.
“Adip?” pekik Bapak bingung.
“Bapak?” sapa Adip bangun dari duduknya dan mencium tangan Bapaknya. “Sehat, Pak!”
“Kok kamu pulang? Bukanya katanya kontrakmu di Pulau Panorama setahun?” tanya Bapak Adip sama seperti Emak.
Bukan mereka tidak suka Adip pulang, tapi untuk orang desa, merantau itu memang harusnya pantang pulang sebelum terkumpul uang.
“Ceritanya panjang, Pak!” jawab Adip.
“Ini siapa?” tanya Bapak Adip bermaksud tanya siapa Pak Sandi.
“Tem...,” jawab Adip mau jawab Pakk Sandi teman.
“Saya supir, Den Adip, Pak! Kenalkan Sandi!” ucap Pak Sandi menyerobot, Adip melirik ke Pak Sandi, pasti bingunglah orang tuanya.
“Supir?” tanya Bapak Adip.
“Duduk dulu, Pak,,, duduk dulu,nanti Adip jelaskan!” ucap Adip menyuruh ayah angkatnya duduk.
Mereka kemudian duduk di kursi kayu di ruang tamu mereka itu. Adip pun mulai mengutarakan niatnya.
“Adip pulang mau jemput Bapak sama Emak, Pak!” ucap Adip kemudian.
“Jemput?” tanya Bapak dan Emak bingung.
“Iya...,”
“Jemput kemana? Kan kamu udah wisuda? Emang mau ada apa?” tanya orang tua Adip bingungm
“Pas di Pulau Panorama, Adip menikahi seorang gadis, Pak Bu! Lusa resepsi pernikahan Adip!”
“Menikah?” tanya orang tua Adip kaget dan syok.
“Ya!” jawab Adip tegas.
“Hoooh...,” Emak Adip mendadak sesak nafas dan menepuk dadanya.
Semya pun panik dan menenangkan Emak Adip.
“Adiip, kamu kan baru aja kerja, kenapa udah nikahin anak orang? Terus buru- buru. Kamu nggak digrebek hamilin anak orang kan?” tutur Bapak Adip khawatir.
"Nggak Pak?"
"Kamu kok nikah nggak pamit- pamit?" sergah Ibu Adip sembuh sesaknya ganti marah.
“Ceritanya Panjang, Pak!”
“Ya sudah ceritakan!”
“Maaf Pak, ceritanya sambil jalan aja! Mending sekarang Bapak sama Emak siap- siap!” ucap Adip lagi semakin buat bingung orang tuanya.
“Siap- siap gimana? baru pulang kok!”
“Adip belum ke rumah Abah Anwar, Mak! Belum belanja seserahan juga, belum ke tempat Uwak juga. Besok malam emak sama Bapak nginap di hotel! Kita punya hari ini dan besok untuk semua persiapan itu. Di sini jauh dari toko. Kita siap- siap di rumah uwak aja! Nanti Adip ceritakan kok!” ucap Adip lagi.
Uwak Adip adalah pemilik mobil merah, bos Adip tempat Adip bkerja jadi kuli angkut. Rumahnya sudah dekat dengan kota.
“Lha istrimu mana? Kamu nikahin siapa? Kok nggak diajak dan nggak dikenalin, Emak sama Bapak. Kita nginep di hotel siapa yang bayarin? Jangan repotin, Abah Anwar terus kamu ya!” ucap Emak suudzon.
“Nggak, Adip tidak merepotkan Abah kok, Mak. Besok Emak kenal sendiri kok! Maaf Adip belum bisa ajak dia, kan istri Adip juga sedang persiapan!” ucap Adip menjelaskan.
Emak pun setuju. Tidak ada angin tidak ada hujan, mereka pun segera bersiap- siap saat itu juga.
__ADS_1