Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Terbang.


__ADS_3

Untung bandara privat, dan tidak banyak orang, jadi tidak malu- malu amat, meski tetap saja ada beberapa pegawai yang ikut menonton dan malu sendiri.


"Haiissshh... apa itu Jingga anakku? Kapan dia bisa seberani dan senekad itu?" batin Baba langsung memalingkan mukanya


Baba malu sendiri liat anaknya ciiuman bibir dan terlihat sangat agresif.


Padahal Baba juga dulu tidak jauh berbeda, hanya saja Baba kan cowok masih pilih- pilih tempat lagi. Buna juga sering mengingatkan. Nah Jingga sama sekali tak malu. Bahkan mendahului Adip, tanpa diminta berjintut dan mengalungkan kedua tanganya ke leher Adip, merapatkan tubuhnya dan melahap habis bibir Adip.


Pikiran Baba pun melayang kemana-mana. Kalau di muka umum anaknya seliiar itu, bagaimana kelakuan anaknya di ruangan tertutup dan sepi. Kapan Baba mengajari Jingga kok tiba-.tiba Jingga sepandai itu.


"Apa ini artinya sebentar lagi aku akan punya cucu, astagah setua itukah aku?" batin Baba lagi kembali menoleh ke Adip dan Jingga ternyata belum usai.


Baba jadi heran sendiri, Adip yanh terlihat dingin dan polos panda juga mengendalikan Jingga. Baba memilih meninggalkan Adip dan Jinhga dan berjalan ke depan.


Setelah Jinhga terlihat tersengal barulah Adip melepaskan Jingga. Jingga pun menarik tanganya dan berdiri normal tanpa berjinjit.


Mereka kemudian saling tatap dan berpegangan tangan.


"Waktu berlalu cepat dan tak akan lama Sayang.Percayalah kita akan segera berkumpul kembali," ucap Adip.


"Iyah...,"jawab Jingga.

__ADS_1


"Belajar tekun, target lulus tepat waktu. Oke?"


"Oke!"


"Belajar mandiri dan dewasa.Ikut Tari dan uti berkegiatan, kamu akan dibuat sibuk dan tidak terasa nanti kita bertemu lagi," lanjut Adip lagi.


"Iya Bang!"


"Saat ada bulan,keluarlah. Yakin di waktu yanh sama, di bawah bulan yanh sama meski berbeda tempat, Abang juga sedang menatap di bawajnua. Biar rindu kita bertemu di situ," ucap Adip lagi.


"Iiesshh tumben Abang puitis. Iklim di ibukota dan di Pulau P kan beda," jawab Jingga manyun tak mempan di gombali. Kangen mah kangen aja.


Adip pun tertawa, Adip kan ingin perpisahan dengan istrinya sweet kaya di film- film, tetap saja setelan Jingga bawel.


"Iyaaahh...," jawab Jingga.


"Cup," untuk yang terkahir, Adip mengecup kepala Jingga.


"Abang berangkat. Assalamu' alaikum," tutur Adip


"Walaiakum salam. Ingat ya Bang. Nggak boleh pakai baju bagus, nggak boleg deket-deket cewek, nggak boleg pakai parfum, nggak boleh nolong cewek yang belum bikah!" ucap Jinhga bawel..

__ADS_1


"Ya!" jawab Adip tersneyum dan memencet hidunh Jinhga lalu berlari menyusul Baba..


Jingga masih bediri di tempatnya sampai melihat Adip baik ke pesawat dan sampai pesawatnya pintunta tertutup.


Jingga sama sekali enggan menoleh ke belakang dimana ada Rendi dan Vera.


Rendi yang awalnya menegang dan mengeratkan rahangnya dia tersenyum simpul saat mendengat deru pesawat naik


"Ayo pulang Non!" ajak Vera mendekat.


"Tunggu dulu aku masih ingin di sini!" ucap Jingga.


Jingga masih enggan menoleh ke belakang. Jingga malas sekali liat wajah Rendu.


Vera jadi bingung.


"Iya Non, tapi pesawatnya udah terbang Non. Mau apalagi?" tanya Vera.


Jingga tidak menjawab tiba- tiba Jingga mencari kursi dan duduk. Di situlah saat semua orang pergi Jingga menangis sejadi-jadinya.


****

__ADS_1


Maap singkat banget... Semoga entar malam apa besok bisa banyak yaak.


__ADS_2