
"Hamil di usia Nyonya sekarang sangatlah riskan dab harus ekstra hati- hati. Saya Salut karena Nyonya Alya tetaplah sehat! Lanjutkan hal baik yang sudah Nyonya lakukan!" ucap Dokter yang memeriksa Bunda Alya.
"Terima kasih Dokter!" jawab Buna ramah.
"Bayi kami sehat kan Dok?" tanya Baba Ardi.
"Insya Alloh sehat Tuan! Ada yang mau ditanyakan lagi?" jawab Dokter.
"Tidak terima kasih!"
Baba Ardi dan Buna kemudian pamit undur diri dari ruang pemeriksaan kandungan itu. Baba masih tetap sama seperti dulu, sangat menjaga Buna. Hari ini jadwal dokter pagi dikhususkan hanya untuk Buna, pasien lain mundur di jam siang sehibgga tidak ada pasien lain.
Pengawal Baba dan Buna pun mengikuti mereka sampai ke pintu khusus di rumah sakit dokter Gery itu. Di tempat itu sopir pun sudah siap membukakan pintu mobil.
"Hati- hati, Sayang!" tutur Baba melindungi kepala Buna saat menunduk hendak duduk ke mobil.
"Iya Ba. Nggak usah berlebihan!" jawab Buna sudah duduk dengan baik.
"Ke kafe danau Pak!" ucap Baba Ardi.
Pak Arlan pun melajukan mobil Tuanya ke kafe danau. Masih seperti saat kehamilan Jingga, Baba Ardi begitu menantikan pertumbuhan besar janinya di perus istri tercinta, tidak ada beda di setiap kehamilan Buna.
"Sehat- sehat putri bontot Baba!" bisik Baba mengelus perut Buna yang masih belum terlihat jelas menonjol.
"Bener ya Ba. Ini bontot. Abis ini Buna KB tubektomi?" jawab Buna.
"Hem.... jangan KB. Baba aja yang atur!" jawab Baba Ardi.
"Hemmm. Kalau Jingga menikah, itu artinya kemungkinan Buna dan Jingga bisa hamil barenga Ba!" tutur Buna kemudian menatap sedih ke suaminya. Seakan Buna meminta suaminya memikirkan ulang rencananya.
"Rendi akan menunda sampai Jingga lulus!" jawab Baba.
"Kalau mereka sudah menikah, kita nggak berhak ikut campur dan menyuruh- nyuruh Ba!"
__ADS_1
"Tapi kan Jingga tetap, anak Baba!"
"Tuh , kan? Baba perlu berobat deh biar sembyg dari sakit posesifnya Baba! Baba jangan jadi ayah yang dzolim. Nggak boleh mencampuri urusan rumah tangga anak. Mengatur Jingga sedemikian rupa sehingga saja menurtu Buna Baba melanggar hak asasi anak lho Ba!" jawab Buna lagi.
"Baba melanggar gimaba? Baba hanya ingin yang terbaik untuk Jingga!"
"Buna takut, Jingga nggak bisa cinta ke Rendi. Kasian Nak Rendi lho. Dia pria yang baik!"
"Jingga akan jatuh cinta ke Rendi nanti. Percaya Baba. Bun! Apa hal yang nggak akan buat Jingga jatuh cinta, Rendi tampan mapan sholeh, baik lagi!" jawab Baba percaya diri.
"Hemm, ya! Aamiin, semoga begitu!" jawab Buna
"Cup cup cup!"Baba pun menciumi puncak kepala Buna.
Baba merasa dirinya sudah melakukan, Hal yang paling tepat untuk keluarganya, untuk istri dan anak- anaknya. Padahal pemikiran manusia tidak akan seratus persen benar karena hanya Tuhan yang Maha Benar.
Mereka pun sampai di kafe danau. Para karyawan pun langsung menyambut hangat dan hormat owner tempat mereka bekerja itu.
Kafe Danau Baba Ardi pun berkembang pesat, bukan hanya menjadi kafe dan Resto, tapi semua tanah di sekitar Danau Baba Ardi beli. Baba jadikan objek wisata yang terdapat berbagai wahana seperti speed boad. Lalu dibangun juga bungalow bungalow yang indah berjajar di tepi danau sebagai tempat menginap.
Bungalow- bungalow Baba Ardi pun selalu pwnuh dengan pengunjung. Rata- rata dari mereka pasangan pasutri usia matang yang menghabsikan waktu menenangkan diri, melihat ke air danau yang damai tanpa arus dan ombak dari atas bukit. Airnya yang jernih bahkan terlihat indah akan pantulan pepohonan di sekitarnya membuat warnanya hijau.
Objek wisata keluarga Gunawijaya itu sangat cocok dijadikan tujuan orang- orang untuk healing meninggalkan kesibukan mereka. Tempatnya juga cukup dekant dengan kota dan tidak begitu macet.
"Sudah lama menunggu, Pak Kyai?" sapa Ardi ke calon besanya yang merupakan pemilik pondok pesantren besar di kotanya.
"Belum, Tuan. Bagaimana periksanya hari ini? Sehat semuanya?" tanya Ayah Rendi.
"Alhamdulillah sehat, mari mari silahkan duduk!" tutur Baba mempersilahkan merek duduk lesehan di sebuah gazebo asri menghadap ke danau.
"Tempat yang sungguh indah, tidak menyangka di dekat kota ada tempat seindah ini Tuan..Masya Alloh tabarakallah." ujar Ayah Rendi.
Baba kemudian mengangguk tersenyum. Semua ini adalah hasil campur tangan saudara Rendi yaitu Om Farid yany sekarang sibuk mengurusi universitasnya, berkat tangan dingin dan otak encer Om Farid yang diaduk bersama Otak Baba yang sedikit kental menjadi adonan pemikiran yang pas.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini semua juga berkat kerja keras Farid, Kyai!" jawab Baba menghormati besanya.
"Ah kalau begini jangan panggil Kyai. Saya jadi tidak enak!" jawab Ayah Rendi yang bernama Kyai Ammar.
"Oh ya.. ya.. baiklah Pak Amar. Oh mana ini Nak Rendi?" tanya Baba Ardi.
"10 menit lagi akan sampai.Baru saja dia menelfon harus menyelesaikan kelas ngajarnya dulu!" jawab Ayah Rendi.
"Kalau begitu sambil menunggu, cicipi dulu makanan hidangan dari kami!" tutur Baba Ardi.
"Pesankan Bun!" bisik Baba mengkode istrinya.
Buna pun tanggap lalu mundur mengkode anak buahnya untuk mengimhidangkan beberapa menu andalan.
Mereka pun menyajikan menu gurameh bakar dengan sambal khas warisan Oma Nurma. Sambal krosak yang gurihnya tiada tara. Lalu minumanya disajikan minuman dawet hitam yang juga warisan dari Oma Nurma yang semua bahanya alami, mulai dari pemanisnua dari gula merah alami yang dibeli dari oengrajin di kampung tempat sahabat Buna Dokter Dinda. Pewarnanya juga pewarna alami, hitam arang yang dibuat manual.
Menu itu jadi kesukaan para tamu bungalow yang rata- rata pengusaha dan pejabat dari berbagai tempat. Meski menu sederhana tapi menwarkan cita rasa yang luar biasa.
Selain itu ada pepes ikan danau, lalu dessertnya ada sup buah, dan juga salah buah. Tidak lupa juga ada buah durian yang dibekukan. Untuk camilanya sendiri, Buna menghidangkan aneka makanan sederhana yang dia dapatkan resep saat berlibur ke daerah, mendoan kesukaan dirinya.
Untuk makanan western juga bisa dipesan hanya melalui pintu yang berbeda. Mengingat usia Ayah Rendi yang sudah tua. Mereka pun lebih memyukai menu daerah itu.
Tepat setelah menu terhidangkan, Rendi datang.
"Assalamu'alaikum," Sapa Pak Rendi datang.
"Waalaikum salam wr wr" jawab Baba Buna dan kedua orang tua Rendi.
"Maaf terlambat!" ucap Rendi sopan.
"Nggak apa- apa belum terlambat. Menyelesaiakan tanggung jawab lebih penting dari urusan pribadi. Kebetulan makananya sudah siap.Ayo makan bersama!" jawab Baba Ardi ramah menyambut calon mantu kesayanganya.
Mereka kemudian menyantap makanan untuk membicarakan hari pernikahan.
__ADS_1