
"Bug.... ," Tama memukul keras anak buahnya.
"Aaaakh, ampun Tuan," lirih anak buahnya tertunduk lesu.
"Gue bayar lo mahal! Gobloooog!!! Lo bisa kerja nggak sih?" omel Tama lagi menarik kerah anak buahnya yang sudah babak belur.
"Ampun, Tuan Muda!"
"Kalian sengaja? Hah! Mau ngancurin gue? Kalian ngerjain gue? Mana kemampuan kalian!!! Bangsaaat!!!" amuk Tama lagi.
"Saya benar- benar tidak tahu, Tuan Muda! Saya sudah bekerja maksimal, tolong ampuni saya!"
"Buuug!" Tama menendang anak buahnya lagi sekuat tenaga sebagai tempat melampiaskan marahnya.
"Aaaakh," anak buah Tama hanya mengaduh lagi. Tama pun membiarkan orang IT sewaanya itu terkapar.
"Praaang!"
Tidak puas memukul orang Tama menendang semua yang ada di depanya.
"Aaaaaaaakhhhh," Tama berteriak dan mengamuk depresi.
Kini Tama kalangkabut dan kacau. Bahkan Tama tidak lagi berani menampakan wajahnya di kampus.
Semakin hari Ikun semakin mengerjainya dan mempermainkan akun instagramnya, membuka kedoknya sendiri kalau ternyata Tama seorang mahasiswa yang jorook, cabul dan tidak baik, bergaul.
Anggota Bem pun sudah mengeluarkan surat pemberhentian secara tidak hormat si Pak Ketua itu. Pihak kampus juga sudah melayangkan panggilan sidang 2 kali tapi Tama tak kunjung datang.
"Siapa yang berani ngerjain gue dan meretas akun sosmed gue?" gumam Tama sangat pening.
"Ehm...," dehem anak buah Tama yang lain. Tama kemudian melirik.
"Kenapa kamu dehem- dehem?"
"Saya rasa ini dari keluarga Gunawijaya, Tuan!" jawab anak buah Tama.
"Hoooh.... hoooh....," mendengar nama Gunawijaya, Tama mendadak pucat dan hanya bisa bernafas kasar. Tama kira, Jingga anak lugu dan anak orang kaya lurus yang tak bisa berbuat jahil.
Tapi kenyataanya, keluarga Jingga bisa lebih cerdik dan bisa sangat lihai menghancurkan orang tanpa ampun jika disalahi. Tama sekarang kelimpungan sendiri, ibarat kata, Ikun sudah menelanjangi Tama dan membongkar semua kedoknya.
Sesungguhnya dan pada dasarnya, Tama juga bukanlah orang yang benar- benar jahat. Tama pemuda yang seharusnya sama seperti pemuda lain akan tetapi dia dituntut oleh keluarga yang memberikan kehidupan untuknya.
"Aku nggak mau bernasib sama dengan Om Tito dan Tante Lila," gumam Tama menelan ludahnya ketakutan sendiri
"Bagaimana ini?" gumam Tama berfikir lalu terduduk di lantai bersandar pada tembok.
"Tuan muda!" panggil anak buah Tama ke Tama
"Ayo kita ke markas. Jangan sampai ada yang buntuti kita, aku nggak mau dipenjara," ajak Tama ke anak buahnya ingin kabur. Tama benar- benar ketakutan dan depresi.
"Siap Tuan!" jawab anak buah Tama.
****
Di rumah Gunawijaya.
"Alhamdulillah," ucap Buna kini bisa tersenyum menutup teleponnya.
Setelah satu minggu keluarga mereka dilanda kecemasan karena Baba dan Buna tak ada komunikasi, kini Baba menghubungi Buna.
"Gimana Nduk?" tanya Oma Mirna Nurmalasari.
"Ada kabar apa dari Ardi, Nak?" tanya Oma Rita.
Selama seminggu kepergian Baba dan Jingga, Oma Mirna dan Oma Rita berkumpul temani Buna. Semua berdoa Jingga bertemu dengan Babanya dan segera pulang.
"Mas Ardi, Amer, Jingga dan menantu kita sudah dalam perjalanan pulang Bu, Mah. Mas Ardi juga ingin Jingga segera menikah sah. Tapi mungkin mereka abis ini harus LDR, entah mau langsung rsepsi atau tidak,"
"Kenapa?"
"Menantu kita liburnya cuma 1 minggu," tutur Buna.
"Lah... kasian sekali..., terus gimana ini? Kita harus siap- siap berarti?" tanya Oma Rita.
"Mas Ardi sudah atur semua persiapan pernikahanya kok. Katanya semua diurus Pak Reno. Resepsi yang disiapkan untuk Rendi dan Jingga kan sudah rampung!"
"Syukurlah jadi tidak sia- sia. Ya sudah berarti kita juga harus sambut dan siapkan pernikahan Jingga dong!" sahut Oma Rita.
__ADS_1
"Ya benar. Ini mepet sekali waktunya, Oma tak telpon Mira dan Gery?" sahut Oma Mirna.
Oma Rita, Oma Mirna dan Bunapun mengadakan rapat dadakan membahas acara resepsi Jingga. Hal itu tidak luput dari perhatian Nila.
"Kak Jingga jadinya menikah dengan siapa Buna?" celetuk Nila ikut nimbrung.
"Dengan Adipati, Sayang," jawab Oma Mirna.
"Bagaimana dengan Pak Rendi dan keluarganya?" tanya Nila lagi.
Semua kemudian diam menatap Nila. Suasana yang tadi ceria kembali hening. Ketiga ibu di rumah itu saling pandang. Nila yang pendiam tidak bisa ditebak, hanya Nila yang memikirkan Rendi dan keluarganya.
"Nila Sayang. Ini urusan orang tua. Sudah ada yang urus. Nila nggak usah khawatirkan apapun ya. Sudah sana kamu main aja. Temani adik- adik ya!" ucap Buna tersenyum ke Nila menengahi.
"Nila sudah besar Bun... Nila sudah akhil baligh," jawab Nila lagi membantah.
"Nilaaa...," jawab Buna tertegun.
Selama ini Nila anak paling pendiam dan kalem, sungguh saat Nila menjawab perkataan Ibunya itu seperti keajaiban dan membuat semua tercengang.
"Maaf, Buna, tapi Nila memang bukan anak kecil lagi kan?" jawab Nila.
"Nilaaa...," panggil kedua Oma mereka ikut kaget.
"Nila serius dengan apa yang Nila katakan tempo hari Oma, Buna," jawab Nila lagi.
Semua pun terhenyak. Mereka mengira saran dan usul Nila saat sebelum Baba pergi hanya perkataan emosional dari Nila yang sangat sayang Baba dan keluarganya. Mereka tak ada yang menganggap serius. Tapi sekarang Nila mengulanginya.
"Ehm....," Buna pun berdehem gemetaran. Buna tidak pernah menyangka putrinya berfikir sangat jauh.
"Maaf Sayang. Tunggu Baba kamu pulang yaaa," jawab Buna tidak mampu memutuskan dan tiba- tiba kepalanya pening.
"Ya, Buna..., Nila ikut persiapin nikahanya kakak boleh kan?"
"Boleh dong. Sinii," jawab Buna lagi.
Buna menatap wajah putrinya itu dengan tatapan getir. Buna tidak bisa berfikir apa jadinya kalau ucapan dan permintaan Nila benar- benar terjadi. Kenapa Nila sampai berfikir begitu.
Buna jadi merasa bersalah, apa Buna pilih kasih ke Jingga sampai Nila berfikir terlalu dewasa di usia muda sampai meminta sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat. Nila dan Jingga benar- benar berkebalikan.
Jika Jingga tua tapi berfikir kekanakan. Nila anak- anak tapi berfikir matang dan dewasa.
****
Dengan langkah berat, mulut mengatup sempurna dan mata tertuju ke depan tak menoleh ke samping kanan kiri, Jingga menyeret kakinya mengikuti langkah Amer.
Mungkin saking fokusnya, kalau di belakangnya ada banteng ngamuk sekalipun Jingga tak peduli. Jika sudah ambek kan Jingga memang menutup diri dari apapun.
"Tasnya Nona," sambut pengawal meminta membawakan tas pakaian Jingga agar dibawakan ke bagasi pesawat.
Jingga masih menunduk tak mau melihat pengawalnya menterahkan tasnya malas. Jingga malah berhenti, menoleh ke belakang, berharap ada yang berlari mengejarnya.
"Jahat banget si kamu? Pernikahan kita itu mainan apa gimana sih? Katanya pernikahan kita sah, tapi kenapa kamu biarin aku pergi gitu aja? Bang Adip jahat!" gumam Jingga melihat ke arah bandara dengan tatapan nanar.
Di depanya tangga pesawat Baba sudah melambai siap dinaiki.
"Kak! Ayo!" ajak Amer ke Jingga yang berhenti.
Jingga tidak menjawab dan hanya berjalan menunduk ikut Amer. Mata Jingga sudah berkaca- kaca lagi dan air matanya hampir jatuh.
Di otak Jingga datang banyak bayangan buruk Adip centil centil di kelilingi perempuan-perempuan lagi. Otak Jingga didatangi banyak pertanyaan kapan Jingga ketemu Adip lagi. Jingga kan juga belum sempat beritahu Adip sekarang sudah pegang hp.
"Amer please!" celetuk Jingga menghentikan langkahnya.
"Apalagi?" jawab Amer malas.
"Aku mau pamitan sama Bang Adip. Antar aku dulu ke kantornya! Please!" pinta Jingga kali ini air matanya jatuh lagi.
Amer benar- benar kelewatan.
"Nggak usah. Kantor Bang Adip jauh. Baba pasti marah nanti malah Kakak nggak boleh ketemu lagi. Ayok!" jawab Amer.
Baba dan Pak Dino sudah tidak menjadi satpam Jingga lagi dan sibuk sendiri. Mungkin Baba sudab tidak sabar ingin bertemu Buna.
"Meer. Kakak belum pamitan sama suami Kakak!" pinta Jingga lagi. Jingga ingin kabur dan lari tapi pengawal Baba berjejer pasti Jingga akan tertangkap.
"Besok bisa ke sini lagi Kaak. Sekarang pulang dulu. Selesein masalah Kakak!" jawab Amer menarik tangan Jingga naik.
__ADS_1
Jingga tak bisa menawar lagi dan berjalan malas menunduk naik ke pesawat ikuti tangan Amer. Sampai Jingga masuk.
"Hebat banget sih jalan sambil nunduk nggak nabrak!" tutur seseorang menyindir Jingga di dalam pesawat saat Jingga hendak duduk.
Jingga kenal suara itu. Jingga langsung menoleh ke sumber suara.
"Bang Adip! Hoh." pekik Jingga Adip sudah duduk di bangku dekatnya. Jingga benar- benar dibuat melotot dan kaget.
"Mau pulang kok cemberut gitu? Senyum dong!" ucap Adip lagi.
Jingga tak menghiraukan Bang Adip dan langsung menoleh ke Amer dengan menggigit bibirnya gemas sangat.
"Ameeer!!" teriak Jingga di pesawat sampai Pak Dino dan yang lain ikut menoleh. Untung pesawat pribadi.
Amer malah cekikikan dan berjalan memasang headset tak peduli dan mencari tempat tidur favoritnya.
"Iih nyebelin banget sih!"
Jingga langsung berlari dan memukul Amer sekuatnya, dengan kepalan tanganya.
"Bug!" pukul Jingga.
"Aaauh!" pekik Amer. "Apaan sih Kak?" jawab Amer menoleh ke Kakaknya yang memasang tanduk.
"Kamu ngerjain Kakak?" teriak Jingga.
"Siapa yang ngerjain? Iiih. Sana duduk di tempat Kakak! Jangan ganggu aku!" jawab Amer lagi.
"Dasaar kamu!"
"Udah sana balik, tuh Bang Adipnya nggak pergi pergi. Ditali sana biar nggak kabur!" gurau Amer nakal.
"Iiih," cibir Jingga.
Jingga jadi tersipu malu ke Amer sudah nangis- nangis.
Sambil menahan muka memerahnya Jingga kembali ke tempat duduknya di dekat Adip. Adip pun cengengesan karena Amer sudah kasih tahu Adip Jingga nangis- nangis. Adip juga intip Jingga dari kaca pesawat.
"Ehmm...," dehem Adip ke Jingga.
"Bang Adip ngapain di sini? Katanya mo kerja? Kok di sini?" tanya Jingga dengan muka tengsinnya.
Sebenarnya Jingga sangat bahagia tapi tengsin dan kesal karena sudah dikerjai.
"Nggak boleh ya Abang di sini? Abang nggak boleh ikut ke Ibukota?" tanya Adip meledek.
"Ya kan katanya Bang Adip pergi kerja? Bang Adip kan katanya suka di sini sama cewek- cewek."
"Ya udah kalau nggak boleh ikut, pumpung belum berangkat. Bang Adip turun nih!"
"Ih ya jangan. Sini aja! Jawabnya kok gitu?" jawab Jingga tersenyum menarik tangan Adip tetap duduk di dekatnya.
"Dasar!" cibir Adip memencet hidung Jingga. "Terus Bang Adip harus jawab apa?"
"Ya jawab yang mesra. Bang Adip nggak bisa kalau gak.aku apa gimana gitu?" jawab Jingga ingin dirayu.
"Dasar kamu!"
"Bang Adip beneran mau pulang ke rumahku?"
"Lah Baba emang belum kasih tau?" jawab Adip.
"Kasih tahu apa?" tanya Jingga.
"Hemmmm!"
"Kasih tahu apa?"
"Hemmm"
"Baaang!"
............
******
Author di Instagram nemu cuplikan ini. Cocok nggak jadi visual Adip Jingga?
__ADS_1
Hehehehe.