
Mendengar berita dari asisten rumah tangganya kalau di bawah Oma Rita tiba dan ada tamu. Jingga dan Buna segera keluar turun dengan wajah semangat dan bahagia.
Akan tetapi berbeda halnya dengan satu orang saudara mereka di bawah sana. Bunga menekuk wajahnya terus selama memasuki rumah Baba. Bahkan meski ada Nila sahabat karib sekaligus saudaranya itu.
“Omaaa!” panggil Jingga bahagia mereka kemudian berpelukan.
“Oma sehat?” tanya Jingga.
“Sehat, Sayang. Rumah baik- baik saja kan? Dimana Baba kalian?” tanya Oma mengira anak dan cucunya bertegkar.
Buna dan Jingga yang mengira Baba sungguh membatalkan perjodohan kompak menjawab.
“Everything is oke. Oma!”
Oma pun tersenyum.
“Jadi, benar, kamu sudah menikah dengan anak tampan itu di pulau Panoraman?” tanya Oma Mirna.
“Oma...” lirih Bunga kesal degan pertanyaan Oma Mirna.
Buna dan Jingga malah salah fokus ke Oma.
“Oma kenal Bang Adip?” tanya Jingga.
“Kak Jingga amnesia apa gimana sih? Kan udah bilang, tentu saja kami semua kenal!” jawab Bunga ketus.
“Ehm!” Buna berdehem, kenapa Bunga ketus, bahkan wajahnya memerah dan terlihat kesal.
“Oh iya yah?” jawab Jingga justru berbinar.
“Jadi berita itu benar, Kak?” tanya Bunga lagi.
__ADS_1
Lalu semua menoleh ke Bunga. Semua kan sepakat, setelah dijelaskan oleh Amer duduk perkarnya, di depan Oma Rita tidak boleh membahas hal- hal buruk.
“Berita apa?” tanya Oma Rita.
“Berita Jingga menikah, Oma. Pokoknya Oma nanti harus ketemu sama suami Jingga. Dia baik banget!” jawab Jingga lagi.
“Kak Jingga kok bisa nikah tanpa Om Ardi? Pernikahan Kak Jingga berarti belum sah kan?” celetuk Bunga lagi.
Jingga dan Buna benar- benar dibuat curiga dan hanya menelan ludahnya heran. Kenapa Bunga terus bersikap menyebalkan.
Sementara, Nila, Oma Rita, Oma Mirna dan Opa Nando hanya menyimak.
“Nanti kita nikah lagi di sini!” jawab Jingga.
“Kapan?” tana Bunga lagi.
“Jingga kan baru pulang, Oma juga baru pulang, bahas Jingganya nanti lagi ya!” potong Buna tidak ingin membuat suasana tidak nyaman.
Nila masih setia membawa kursi roda Oma.
Semua mengangguk. Opa Nando dan Oma Mirna juga tahu diri kebiasaan saat berkunjung ke rumah besan lebih suka ke halaman belakan tepi kolam.
Sekarang tinggal Jingga dan Bunga yang berjalan belakangan.
“Kak Jingga Bunga mau ngomong!” ucap Bunga.
“Ya kenapa?” tanya Jingga.
“Kakak beneran tidur sama Bang Adip?” tanya Bunga tidak memakai kiasan dan langsung pada intinya.
“Kakak beneran digerebek dan dinikahkan paksa dengan pernikahan adat?” tanya Bung masih lancar.
__ADS_1
“Pernikahan kakak nggak sah kan?”
“Bunga...!” lirih Jingga merasa tertohok dan sedih, kenapa tatapan Bunga seperti sangat kesal.
“Kak Jingga jahat. Aku benci Kak Jingga! Kakak sudah baik dijodohkan dengan dokter dan dosen setampan dan sebaik Pak Rendi, kakak bilang suka sama Tama, kenapa Kaka juga rebut Bang Adip dan rayu Bang Adip?” tanya Bunga lagi, dan kali ini mata Bunga berkaca- kaca.
“Bunga...” lirih Jingga lagi tidak percaya Bunga mengatakan kata- kata benci dan menuduh Jingga merayu Adip, tapi memang iya.
"Bunga tuh suka Bang Adip.Kenapa kak Jingga rayu dia. Kurang apa Pak Rendi?"
“Bunga...Ini tidak seperti yang kamu pikir!” lirih Jingga lagi.
“Aku benci Kak Jingga, aku benci, Kak Jingga munafik, Kak Jingga play girl. Kak Jingga nyebelin!” ucap Bunga lagi sekarang benar- benar menangis.
“Bunga...tidak seperti itu!” lirih Jingga maju ingin memeluk Bunga, tapi Bunga melempar tangan Jingga menolak.
“Jangan sentuh aku, aku tidak mau punya saudara jahat seperti kamu!” ucap Bunga sambil menangis kemudian berlari pergi.
“Hikss.... ada apalagi ini?” lirih Jingga menangis membiarkan Bunga pergi.
“Bunga suka Bang Adip juga?” gumam Jingga berfikir.
Tanpa Jingga tahu, saat Jingga dan Bunga beradu kata dab bertengkar Amer dan Baba sampai dan mendengar.
“Benar kan? Baba sepemikiran dengan Bunga. Lihat kakakmu, Jingga dan Adip kalau bersatu akan mengecewakan banyak orang! Merusak semuanya” tutur Baba ke Amer.
“Tapi Ba... semua persoalan ini hanya tinggal diluruskan duduk masalahnya. semua akan selesai kalau kita pertemukan Bang Adip, Kak Rendi dan si Tama itu! Kak Jingga cintanya sama Bang Adip Ba...” jawab Amer.
“Sudah kamu diam saja!” ucap Baba mengejar Bunga.
Amer kemudian menggelengkan kepalanya kesal.
__ADS_1
“Baba gimana sih? Bukanya selesaikan masalah!” gumam Amer lalu mendekat ke Jingga.