
Masih di atas kasur dan dibalik selimut Adip, dua insan yang diikat dalam tali pernikahan itu masih bergumul, saling membelitkan kaki, sehingga kulit bertemu dengan kulit. Jingga tidur menyamping sambil bercerita. Adip pun demikian sehingga mereka saling berhadapan.
“Jadi kamu sedih karena dianggap miskin sama temen- temenmu?” tanya Adip.
Dengan bibir mecucu dan ekspresi manjanya, Jingga mengangguk.
“Ck... kasian banget istri Bang Adip, sini peluk dulu!” tutur Adip merengkuh Jingga agar meluapkan emosinya.
Kali ini Adip memeluk dengan memberi ketenangan bukan naafsu belaka. Jingga pun berlindung di dada Adip. Rasanya nyaman sekali menghirup aroma tubuh Adip itu, bersandar dalam rengkuhan Adip yang hangat, dadanya yang berotor dan kulitnya yang menggelap dan menambah kegagahanya.
“Bang Adip besok ke kampusmu!” tutur Adip lembut.
“Ha?” pekik Jingga kaget dan menjauhkan pelukanya untuk menatap wajah suaminya.
“Iya!”
“Antar Jingga?”
“Bukan!”
“Terus ngapain?”
“Kan pelatihanya di kampus kamu!”
“Oh... kirain apaan?” jawab Jingga sedikit manyun.
“Kok cemberut?” tanya Adip melihat istrinya cemberut.
Jingga tahu setampan apapun Adip yang sedang menjadi bahan gunjingan teman- temanya adalah kekayaan Adip dan status Jingga yang terjun bebas.
Betul memang, kita harus menjadi tuli terhadap hal- hal yang merugikan, dan fokus terhadap tujuan dan cita- cita. Akan tetapi Jingga manusia biasa yang mempunyai emosi. Jingga ingin sekali- kali memberikan pelajaran dan tamparan bagi mereka agar lebih pandai menjaga mulutnya. tapi ba bagaimana caranya.
Jingga berfikir, Jika meminta Adip membawa mobil Baba pasti Adip menolak. Jingga hanya diam manyunn berharap malah Adip tidak usah nongol di depan teman- temanya agar tak semakin dinyinyiri.
“Bang Adip di gedung apa pelatihanya?” tanya Jingga lesu.
“Di auditorium lantai 3, gedung A. Itu satu gedung dengan fakultasmu kan? Kita berangkat bareng yah? Biar Bang Adip temui mereka.” Jawab Adip.
“Hoh?” pekik Jingga kaget. Tumben Adip tidak mengeluarkan jurus nasehat ala motivator.
“Bang Adip penasaran siapa yang bikin istri Bang Adip nangis,” tutur Adip.
“Nggak usah- nggak usah! Jingga sedih dan nangis karena Jingga merasa sendirian, kalau ada Bang Adip, nggak. Jingga biasa aja!” jawab Jingga lagi.
“Yakin?” tanya Adip.
“Yakin!” jawab Jingga
“Oke!” jawab Adip.
Jingga pun kembali memeluk suaminya. Rasanya sepanjang waktu mereka ingin terus seperti itu. Dunia terasa indah, rasa sedih, marah apalagi hanya karena digunjing, semua terbang tak terasa. Yang Ada hati Jingga berbunga, tenang nyaman. Rasanya waktu ingin di setel terus di masa itu.
“Mandi yuk!” tutur Adip membelai rambut Jingga yang masih bersandar di dadanya.
“Jingga masih kangen Bang, sebentar lagi!” jawab Jingga malah mengeratkan pelukanya bahkan kakinya diangkat untuk mengapit tubuh Adip dan tanpa sengaja malah menyenggol melewati si dia yang baru tertidur.
“Jangan digeencet itunya!” tutur Adip paha Jingga di atas itu.
__ADS_1
“Hehe...,” Jingga malah nyengir, “Udah tidur kan dia?” tanya Jingga.
“Kalau dibangunin sih mau bangun lagi, tuh udah mulai bangun!” jawab Adip merasa ada yang mulai berdenyut bangun.
“Iiiishh, katanya capek?” tanya Jingga kaget.
“Terserah kamu sih, kalau kamu mau sok aja, gantian Abang yang pasrah!” jawab Adip.
Jingga manyun berfikir. Daripada bermain di waktu yang tidak fit dan hanya buat nanggung, Jingga memilih di jeda nanti malam.
“Mandi aja deh, sambung nanti yah!” jawab Jingga.
“Oke... ikut, Abang yuk!” ajak Adip.
“Kemana?” tanya Jingga.
“Hayuk mandi makanya!” jawab Adip.
Mereka kemudian bangun dan mandi bersama, saling menyabuni dan menggsok satu sama lain. Apalagi di rumah Adip hanya berdua, mereka bebas melakukan apapun. Setelah sholat ashar mereka pun pergi.
“Kamu udah pinter naik motor, Sayang?” tanya Adip berjalan ke arah motor.
“Baru dua kali!”
“Mbak Vera kemana sih, kok kamu sendiri?”
“Ibunya sakit, tadinya Jingga udah dheg- dhegan mau minta temani Mbak Nia lho Bang buat tidur di sini, ternyata Bang Adip pulang. Alloh Maha baik!” tutur Jingga girang.
Kalau Adip di rumah, ada Mbak Vera malah nggak nyaman. Adip dan Jingga lebih suka berduaan.
“Makanya kita harus selalu bersyukur dan positif thingking, maka Alloh kasih skenario yang terbaik. Nggak terlalu sedih menghadapi sesuatu hal.” Jawab Adip keluar lagi mode pakar motivatornya.
“Tapi Alloh berjanji akan tambah nikmat bagi orang yang sabar dan bersyukur, Sayang!” jawab Adip mengambil motornya.
“Ya...,” jawab Jingga ikut naik dikira mau naikk motor.
“Kok naik? Turun, motornya mau Bang Adip masukin!”
“Lha kok masukin?” tanya Jingga.
“Kita nggak naik motor, Sayang!” jawab Adip.
“Terus naik apa?” tanya Jingga bingung.
“Jalan kaki!” jawab Adip.
Jingga terdiam memicingkan matanya dan berfikir. “Jalan kaki emang kemana?”
“Kita mau kemana sih, Bang?” tanya Jingga.
“Ada deh.” Jawab Adip.
Benar saja, Adip memasukan motornya dan mengunci rumah, lalu mereka jalan kaki menyusuri jalan komplek dan melewati pabrik Adip. Adip menggandeng tangan Jingga mesra sehingga tetangga tetangga Adip menyapa ramah dan iri.
Komplek rumah Adip kan dekat dengan sungai yang sudah dinaturalisasi yang airnya jernih. Sambil jalan mereka menikmati suara arus sungai.
Ternyata Adip ajak Jingga masuk ke pedagang sate langanan Adip.
__ADS_1
“Bang Adip lapar ya?” tanya Jingga.
“Sini jual sate kelinci, biar nanti malam kamu seneng?” bisik Adip ke Jingga dengan kerlingan matanya.
“Hoh?” pekik Jingga kaget.
Ya kata orang, daging kelinci bisa menambaah vitaalitas pria. Adip berniat seperti itu.
“Enak kok, santai saja!” jawab Adip.
Jingga pun mengangguk.
Setelah pesan tak lama pesanan datang, awalnya Jingga jijik, tapi karena Adip yang ajarin akhirnya Jingga mau makan dan habis. Selesai makan mereka pun tak lansung pulang, tapi seseorang mengantar mobil merah kesayangan Adip yang sekarang sudah dimodif.
“Jadi cakep Bang!” tutur Jingga kaget.
Sekarang catnya jadi mengkilap, masih dengan warna yanga sama, tapi dalamnya ternyata diganti semua. Bagian tengah oleh Baba dibiarkan tanpa bangku, melainkan plong seperti kasur ada bantal dan gulingnya. Akan tetapi bagian atasnya ada AC_nya ada televisinya, ada lemarinya juga. Bahkan bisa nonton film dan juga untuk makan.
“Kamu suka?”
“Suka!”
“Tapi jangan dibawa ke kampus yah!” tutur Adip.
“Lhah kok gitu?”
“Kita bawa mobil ini untuk camping dan travelling, Sayang! Kalau ke kampus pakai mobil Abang yang satunya!”
“Mobil Abang yang satunya?” pekik Jingga kaget.
Adip mengangguk.
“Bang Adip punya mobil lagi?” tanYA Jingga.
“Iyah.. kemarin Om Dika bilang malam ini sampai! Itu mobil dari Utinya Bang Adip!” jawab Adip lagi.
“Hoh yaaa...” jawab Jingga ingat.
Suaminya kan sebenarnya juga cucu orang kaya.
“Lets drive yuk, kita cobain mobil antik inih!” ajak Adip ke Jingga.
Jingga pu tersenyum mengangguk.
Pelatihan masih hari besok, malam ini Adip mau pacaran berduaan dengan mobil merah yang sudah dimodifikasi Baba. Bahkan Adip ingin setelah bertemu dengan Om Dika yang janjian malam ini mau nemuin Adip. Adip ingin touring ke jenguk Emak pakai mobil ini, Adip lalu ingin ke atas bukit dan menginap di mobil sambil liat matahari terbit. Tentunya bisa menikmati sensasi tidur di dalam mobil yang didesain indah.
“Ke rumah Baba dulu ya!” tutur Adip.
“Oke!” jawab Jingga.
Sesampainya di rumah Baba, semuanya pun kaget Adip datang. Ternyata di sana juga ada Rendi. Rendi sepertinya baru tahu kalau Jingga dan Adip punya rumah sendiri.
“Mobil Kakak keren, Iya ikut ya!”
“Iyu juga ikut!” celetuk si kembar girang saat lihat mobil unik kakaknya.
Mendengar celotehan adik- adik dan melihat mereka berlari Adip dan Jingga yang tadi di jalan sudah merencanakan banyak hal saling pandang.
__ADS_1
“Duh... !” keluh Adip mengusap tengkuknya.
Niatnya kan Cuma mau say heloo sebagai tanda hormat abis itu tancap gas pergi. Bahaya ini kalau si krucil pada betah dan malah ikut tidur di mobil travelingnya Jingga.