Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
8. Berdebat


__ADS_3

Di ruang tengah mansion keluarga Gunawijaya, suami dan istrinya yang sedang mengandung itu duduk di sofa mahalnya. Buna Alya tampak duduk lemas dengan selang infus di tangan. Buna Alya memilih dirawat di rumah, toh Buna seorang dokter dan putrinya juga mahasiswi dokter.


Dua putra kembar mereka tiduran di karpet dekat mereka. Sementara Baba Ardi tampak gusar memegangi ponselnya. Ponsel Jingga sudah disadap GPSnya oleh Baba Ardi, jadi Baba Ardi tau kalau putri kesayanganya bolos pulang dan membohongi dirinya. 


Baba Ardi kebakaran jenggot saat signal Jingga sempat off dan Jingga tidak bisa dihubungi, apalagi sampai jam segini juga belum pulang.


Sifat Baba Ardi yang kelewat posesif dan paranoih kambuh, jangankan ke Jingga putrinya yang dia anggap masih kecil, ke Bunanya yang sudah tua saja masih tetap sama. 


“Ini tidak bisa dibiarkan Sayang, Jingga sudah mulai tidak patuh. Baba harus segera bertindak!” tutur Baba Ardi ke Buna dengan gusar.


Buna Alya yang dilenganya terpasang infus untuk menyuplai kekuatan dirinya yang sedang hiperemesis menghela nafasnya menahan sabar. Suami dan anaknya benar- benar sama sifatnya dan sama susah dikasih pengertian. 


“Mas, dengerin Lian, Mas itu berlebihan memperlakukan Jingga begitu, kasian Jingga! Emang Mas bertindak apa?” tutur Buna Alya menasehati suaminya. 


Mendengar kata berlebihan Baba Ardi bukan koreksi diri tapi tidak terima. 


“Kok berlebihan Sayang? Berlebihan gimana?” tanya Baba Ardi tidak terima.


“Mas, anak kita sudah besar dan dewasa, latian percaya sama Jingga. Yakin Jingga baik-baik aja Mas, toh dia udah balas. Udah ya, tunggu dia pulang, kita tanya baik-baik!" tutur Buna lagi menenangkan suaminya, tapi Baba Ardi tetap tidak tenang.


"Nggak, Mas kecewa ke Jingga, Jingga udah lawan Babanya sekarang!"


"Maas, Jingga berhak menentukaan hidupnya sendiri. Dia juga baru sekali ini pulan telat. Mungkin Jingga beneran ada perlu, tolong jangan terlalu mengekangnya. Dengarkan dia dulu, baru kita putuskan dia salah atau benar. Mas aja dulu nggak suka kan diatur Mama Rita. Mas sekarang bukan hanya mengatur Jingga, tapi Mas udah mencampuri Jingga, mengekangnya dan merebut kekebabasanya, ya Jingga proteslah! Ini tidak baik untuk Baba dan Jingga”


“Sayang, Mas hanya mengupayakan yang terbaik buat Jingga, anak kita itu cantik, pergaulan jaman sekarang mengerikan. Mas nggak mau Jingga kenapa- kenapa atau salah jalan! Baba hanya ingin menjaganya dan melindunginya itu kan kewajiban Baba sebagai ayahnya!” jawab Baba Jingga merasa benar. 


“Mas... cara menjaga Jingga bukan seperti itu, dengan Mas melarang Jingga  melakukan banyak hal, menempatkan pengawal selalu mengawasinya, itu jelas merampas kebebasanya, wajar kalau Jingga protes dan melawan!” tutur Buna lagi ingin menyadarkan suaminya.


“Haish..., kamu kenapa nggak ngerti juga sih?” gerutu Baba malah emosi ke istrinya. 


“Baba yang nggak pernah ngerti dan mau dengerin Buna!” jawab Buna juga ikut emosi dan gemesh dengan kelakuan suaminya. 


Mereka berdua kemudian saling diam, saling menahan nafas yang menderu, mempertahankan pendapat masing- masing, masih sama- sama merasa benar dengan prinsipnya.


Sementara Biru dan Hijau tampak asik menyusu dan memegang hape masing- masing bermain game tidak peduli Baba dan Buna mereka berseteru.

__ADS_1


Buna Alya ingin menjaga putrinya dengan kepercayaan, mengambil hatinya dan membiarkan anaknya menyadari sendiri menjaga dirinya dan terbuka pada orang tuanya. Saat putrinya sudah terbuka padanya, Buna Alya bisa menjaga putrinya hanya lewat pesan.


Buna Alya yakin jika putrinya dididik dengan baik dan diarahkan pemikiranya agar mempunyai prinsip hidup yang kuat, tanpa orang tuanya bersusah payah menjadi satpamnya, Jingga akan aman. Jingga akan berada di jalan yang benar. 


Berbeda dengan Baba Ardi, otaknya travelling kemana- mana. Ardi menyadari putrinya mewarisi sifatnya pembangkang. Memakai hijabnya saja tidak mau.


Ardi yang lama tinggal di luar Negeri, bertemu dengan banyak orang dari kawan bisnisnya, hafal sekali wajah metropolitan, bahkan banyak teman- temanya, di belakang istrinya bergonta ganti teman tidur. Baba Ardi sangat takut, Jingga terperdaya oleh laki- laki semacam itu. 


Jingga juga mewarisi wajah dan tubuh Baba Ardi, sangat cantik dan bertubuh proporsional, bahkan dibanding Nila adiknya yang sesama perempuan mereka mempunyai wajah yang berbeda. Nila tidak terlalu mencolok seperti Jingga, Nila hanya manis, imut dan kecil, seperti Bunanya.  


Sebagai ayah dan laki- laki, Baba Ardi menyadari putrinya itu banyak mempunyai nilai plus, laki- laki yang melihatnya bisa tersihir dengan kemolekan tubuh Jingga yang tinggi dan berisi. Jingga juga banyak memakai pakaian modern seperti teman- temanya, meski selalu dikoreksi dulu oleh Babanya. 


Baba Ardi memperlakukan Jingga sebagai kepunyaanya yang sangat dia jaga. Baba Ardi sangat takut jika ada laki- laki yang berani menyentuh putrinya apalagi meyakiti dan merusaknya. 


Setelah sama- sama saling diam beberapa menit, Buna Alya kembali membuka suara. 


“Pokoknya, kalau Kak Jingga sampai rumah, jangan langsung marahi dia Ba, biar Buna yang tanya dan kasih pengertian ke Kak Jinngga,” tutur Buna Alya lagi.


“Nggak! Baba harus kasih dia pelajaran dia sudah berani melawan Baba, disuruh pulang jaga adik- adiknya malah mengelabuhi sopir dan pergi tanpa ijin!” jawab Baba Ardi tetap tidak mau mendengar nasehat Buna.


“Maaas!” pekik Buna gemesh.


“Maaas!!” pekik Buna Alya lagi berusaha membuat suaminya segera menyadari kekeliruanya.


“Kenapa kamu selalu membelanya? Mas nggak mau menyesal Sayang, kalau Jingga kenapa- kenapa gimana? Dia salah udah bohongin Mas sebagai ayahnya. Mas harus hukum dia!” 


“Lian juga tahu Mas, Jingga salah. Tapi cara membuat dia menyadari kesalahanya bukan hukuman. Jingga udah dewasa, yang ada dia bisa kabur! Kita perlu bicara dari hati ke hati!” 


“Mas akan segera jodohkan Jingga dengan orang yang tepat biar ada yang menjaganya dan dia bisa patuh!” ceplos Baba Ardi frustasi mengeluarkan unek-uneknya.


Mendengar putrinya yang menurut Buna Alya masih muda dan butuh senang- senang, Buna Alya langsung melotot dan emosinya naik ke ubun- ubun. 


“Dijodohkan Mas?” 


“Iya!” jawab Baba Ardi mantap.

__ADS_1


“Nggak! Lian nggak setuju!” jawab Buna Alya tidak kalah tegas.


“Lhoh kenapa?” 


“Mas... jangan jadi orang tua yang dzolim sama anak Mas!” 


“Kok dzolim sih Yang? Mas mengupayakan yang tebaik untuk hidup anak kita!” 


“Nggak Mas, umur Jingga masih dua puluh tahun, itu aja masih kurang 1 bulan lagi, dia masih masanya proses dari remaja ke dewasa, belum matang. Belum waktunya menikah, apalagi djodohkan! Kita bahkan tidak pernah tahu bagaiamana perasaan anak kita, apa selama ini dia punya pacar atau tidak? Inginya apa? Mas nggak boleh begini!” Buna Alya pun menentang pendapat suamiya dengan tegas. 


“Mas nggak yakin Jingga bisa nemuin laki- laki yang tepat!” 


“Astaghfirulloh Mas, Jingga itu berhak menentukan hidupnya sendiri, dia sendiri yang akan jalanin, tolong Mas jangan keterlaluan! Biarkan Jingga menentukan arah hidupnya sendiri!” 


“Mas juga akan membiarkan Jingga memilih sendiri, tapi siapa orangnya Baba yang akan tentukan” 


“Itu sama aja Mas!  Pokoknya Lian nggak setuju. Kalau Mas maksa, Lian juga marah. Lian akan pergi ke rumah ibu aja bawa anak-anak. Kalau begini cara Bab memperlakukan anak-anak, Buna nggak suka!” tutur Buna Alya akhirnya mengeluarkan senjatanya.


Meski sudah tua, jika bertengkar dan berdebat ternyata orang tua Jingga juga masih memakai jurus ancam- ancaman. 


“Lhoh kok gitu? Dosa kamu keluar rumah tanpa ijinku, apalagi ke rumah Om Nando” jawab Baba Ardi.


Baba Ardi tidak mau malu pada mertuanya dan kakak ipar tirinya kalau ketahuan udah tua masih uring- uringan. 


“Ya Mas juga salah, jangan kekang Jingga, Jingga masih kuliah jangan dijodoh- jodohin, kasih kepercayaan ke Jingga, biar Buna yang atasi ini!” tutur Buna lagi masih kekeh dengan pendapatnya. 


Suami istri itu masih saja bertengkar dan beradu pendapat, padahal biasanya mereka selalu romntis.


“Itu Kak Jingga!” celetuk Biru, meski Hijau dan Biru diam, mereka berdua paham ibu bapaknya sedang memperdebatkan kakak mereka. 


Baba Ardi dan Buna Alya kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Biru. Di belakang mereka berdiri putrinya, menenteng paper bag kado untuk Faya sambil meneteskan air matanya. Jingga mendengar perdebatan Baba dan Bunanya tentang dirinya yang akan dijodohkan. 


Jingga langsung berlari ke kamarnya tanpa menyapa baba dan bunanya seperti biasanya. Baba dan buna Alya saling pandang. 


“Biar Buna yang tangani, Baba diam di sini!” ucap Buna Alya dengan tatapan mengancam.

__ADS_1


“Tapi Buna bawa infus di tangan!” 


“Nggak masalah, Buna Dokter!” jawab Buna Alya marah. 


__ADS_2