Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
31. Ke Siapa?


__ADS_3

Seperti masyrakat lain tanpa ada beda, Jingga berdiri di halte bus dan menunggu. Beruntung Jingga tidak menunggu terlalu lama, jadi kakinya tidak keburu ngilu.


Itupun, meski baru 15 menit menunggu, bus arah kampus mereka datang. Jingga sudah mulai keringetan dan menatap sayu ke teman- temanya.  Jingga mau mengeluh dan menyerah untuk pesen taksi online saja, bahkan Jinga hampir menangis tidak betah di keramaian.


Jingga  menatap Uti dan Tari di sampingnya, mereka tampak asik bermain hp. Tidak ada penderitaan di wajah mereka. Tari dan Uti tampak menikmati waktu menunggunya itu. Jingga kemudian menahan sedihnya. Tari dan Uti saja biasa saja, berarti Jingga juga tidak boleh mengeluh.


Jingga menoleh ke belakang ingin duduk, tapi bangkunya penuh. Di bangku halte, duduk nenek- nenek dan dua laki- laki yang memperhatikan Jingga dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jingga jadi bergidik ngeri dan memilih tetap berdiri. 


“Hah...akhirnya.” gumam Jingga setelah duduk di kursi dalam bus. 


Jingga memilih bangku kosong, karena Jingga pikir Jingga akan duduk nyaman jika sendirian. Sementara Tari dan Uti duduk di depan Jingga berdua. 


Jingga menoleh ke kanan dan ke kiri, penumpang tampak biasa, tidak ada yang aneh. Beberapa penumpang berpakaian seragam, mungkin mereka karyawan yang baru pulang kerja. 


“Nyaman juga!” batin Jingga memberikan kesan pertama.


Bus yang Jingga naiki memang bus kota dengan fasilitas AC dan kebersihan yang terjaga. 


Jingga kemudian mengambil ponselnya yang daritadi dia matikan. Sekarang kan Jingga sudah bukan di kampus tempat dia seleksi, jadi aman jejaknya.


Saat Jingga membuka ponsel, ada ribuan pesan yang belum terbaca. Baik pesan dari grup keluarga, grup kelas dan beberapa pesan pribadi. 


Pesan pribadi yang paling banyak adalah dari Tama, selanjutnya dari Pak Rendi, setelahnya dari Bunda Alya, lalu Baba Ardi yang terakhir teman- teman Jingga. 


“Aih Kak Tama kirim pesan apa sih sampai 50 pesan begini?” batin Jingga tidak menyangka.


Pesan dari grup Jingga abaikan. Jingga memilih membaca pesan dari Tama dulu.


"Sayang Kakak jemput ya!"


"Sayang boleh nggak?"


"Sayang Kakak tadi liat kamu di lampu merah!"


“Sayang, ingat kamu pacar aku. Kamu dimana? Siapa cowok yang boncengin kamu tadi?” 


“Sayang bales. Kamu dimana?”


“Jingga, Sayang. Katakan kamu dimana? Kak Tama jemput ya!” 


“Sayang kok kamu nggak bales?”


“Sayang bales pesan Kakak!” 


“Apa maksud kamu? Kamu nolak jalan bareng sama aku terus kamu jalan bareng cowok lain!” 

__ADS_1


“Sayang bales, angkat telponku!”


“Sayang jangan buat Kak Tama gila!” 


“Jam 1 Kak Tama tunggu di kantin!” 


“Sayang” 


“Sayaaaaaaang bales!” 


“Sayang kamu tau kan kamu pacarku, bales dong!” 


“Kamu selingkuh? Kamu mau mainin aku?” 


“Bales kamu dimana? Siapa laki- laki yang boncengin kamu!”


“Aku lihat kamu di perempatan dekat kampus!” 


“Sayang bales kamu dimana? Kak Tama susul kamu ya!” 


“Sayang!”


"Jadi gini kamu berani selingkuhin Kakak? Kita baru jadian lho!"


"Kakak nggak sangka lho!"


Tama mengirim pesan ke Jingga dengan posesif, emosi dan membabi buta mengulang perkataan yang sama. Jingga mengernyitkan matanya.


Tama adalah pacar pertama Jingga, jadi Jingga tidak cukup pengalaman bagaimana bersikap dan menghadapi pacar yang posesif atau sedang cemburu. Jingga juga merasa belum perlu memberitahu setiap kegiatanya pada Tama. 


“Duh... gimana ini? Kok Kak Tama nuduh aku selingkuh sih?” gumam Jingga panik. 


Lalu Jingga membuka pesan dari Pak Rendi. Jingga lebih tercengang, bahkan bola mata Jingga membulat sempurna dan mulut Jingga menyatu dalam garis lurus, lalu monyong sempurna. Betapa tidak, isi pesan Pak Rendi adalah pesan ancaman. 


Seperti detektif dan penyelidik Pak Rendi mengirim bukti-bukti. Pertama screenshootan Baba Ardi berisi pesan amanah untuk antar jemput Jingga dan berhak menghukum Jingga jika di kampus Jingga melanggar aturan Baba. 


Pak Rendi juga mengirim foto jadwal ujian kelas Jingga lengkap dengan daftar dosen penguji dan materi yang diujikan. Yang lebih parah lagi, Pak Rendi mengirim foto Buna dan kedua adik kembarnya, yang artinya Pak Rendi sudah sampai di rumah Jingga. Itu artinya kebohongan Jingga ketahuan. 


Pak Rendi juga memberikan pilihan ke Jingga. Memilih dilaporkan Babanya karena berbohong pada Bunanya atau memilih menemui Pak Rendi untuk makan siang bersama. 


“Temui saya diparkiran jam 1 siang, atau terserah babamu, kira-kira apa ya hukumanya? Apa ya yang akan Babamu lakukan? Mungkin saya disuruh daftarin berkas pernikahan kita ke KUA!” 


Itu pesan terakhir dari Pak Rendi singkat padat dan jelas. 


“Oh my God. Help me please... help!” batin Jingga menghela nafasnya. Yang benar saja Jingga akan dinikahkan dalam waktu dekat.

__ADS_1


Jingga benar- benar ingin berteriak dan mencabik- cabik apapun yang ada di dekatnya. Sayangnya Jingga hanya memegang ponsel dan tidak ada yang bisa dirobek- robek. Jadi Jingga hanya memendam kesal sendiri.


Jingga kemudian membuka pesan lagi yang selanjutnya dari Baba Ardi dan Buna Alya. 


“Jingga putri Baba tersayang, Baba percaya Rendi pria yang baik. Mulai sekarang Baba percayakan Jingga pada Rendi. Mulai hari ini putri Baba diantar jemput Rendi ya! Sekalian biar putri Baba mengenal Rendi. Baba berharap putri Baba bisa nyaman dan berjodoh dengan Nak Rendi. I Love You, Sayang!”


Jingga kembali manyun dan menelan ludahnya. Pesan apa ini? I love you apaan? Baba tidak pernah percaya Jingga. Baba juga tidak mau dengarkan Jingga. 


Selanjutnya Jingga membuka pesan dari Bunanya. 


“Sayang... tadi ada yang jemput kamu. Katanya dia dosen kamu? Ganteng lho Nak. Dia yang diceritain Baba kan?” 


“Buna seneng liatnya, dia sopan dan santun, sepertinya dia laki- laki yang baik. Baba nggak salah pilih sepertinya Sayang!” 


Jingga langsung menutup ponselnya kesal. 


“Ih kenapa Buna malah dukung Baba sih?” gumam Jingga frustasi, sepertinya tidak ada yang bisa menyelamatkan Jingga dari perjodohanya dengan Rendi. 


Aura Jingga yang tadi merasa nyaman karena dinginya AC kini berubah menjadi gelisah dan panas. Beberapa menit setelah ini Jigga padahal di hadapkan dengan ujian akhir semester. Otak Jingga justru dipenuhi kebingungan.


Tama dan Rendi meminta Jingga bertemu di waktu yang sama. Satu akibatnya putua, satu akibatnya dinikahkan dalam waktu dekat. Semua butuh solusi.


Jingga langsung lemas dan bingung. Jangankan berpengalaman mengatur kencan dengan dua cowok, pengalaman meluluhkan cowok yang marah saja Jingga tidak tahu bagaiaman caranya. Bahkan Jingga tidak sadar kalau sekarang dia sedang memancing amarah Tama. Jingga membaca pesan Tama tapi tidak membalasnya. Tentu saja Tama semakin negatif thingking.


“Aku harus gimana? Aku harus temuin siapa? Ah bagaimana ini?” Jingga menggigit bibirnya bingung. 


Jingga yang polos benar- benar tidak tahu dan tidak menyangka kalau ternyata menjalin hubungan yang namanya pacaran itu ribet. Ternyata pacaran tak seindah yang Jingga bayangkan.


Jingga juga merasa sakit hati dengan perkataan Tama. Jelas- jelas laki- laki yang boceng Jingga memakai helm dan jaket ada logo perusahaan ojek online, kok Jingga dikira selingkuh. Jingga merasa harga diri dan kehormatanya diragukan oleh Tama. 


“Ah kepalaku jadi pusing kan?” gumam Jingga lagi. 


“Aku nggak bisa selesaikan ini sendiri, aku cerita ke siapa ya? Masa ke Buna? Nanti Buna jadi tahu lagi aku punya pacar? Ah Buna juga pasti cerita ke Baba! Ah bagaimana ini?” batin Jingga lagi di bus.


Untung Jingga duduk sendirian jadi tidak ada yang memperhatikan wajah Jingga yang bermuram durja. 


“Apa aku cerita ke Amora dan Joana ya?” batin Jingga ingat sahabatnya. 


Jingga membuka ponselnya lagi membuka pesan Joana dan Amora. 


“Jing... gue nggak belajar nih, semalem gue ke acara temen gue, ntar contekin ya!” tulis Amora. 


“Aku juga, selesai ujian aku traktir deh. Bokap gue buka kafe baru di mall K lo wajib dateng ya!” imbuh Joana. 


Jingga menghela nafasnya, sepertinya bercerita dan meminta tolong ke Joana dan Amora bukan solusi. Jingga kemudian menatap ke dua teman di depanya. 

__ADS_1


“Apa gue cerita ke Tari dan Uti ya? Tapi aku baru berteman dengan mereka? Oh My God aku benar- benar bingung? Aku harus temui siapa? Aku juga harus minta pendapat siapa?” 


__ADS_2