
“Kak Tama?” lirih Jingga gelagapan.
“Hai... sayang... kemarilah! Duduk sini!” ucap Tama ramah mengajak Jingga duduk dan menperlakukan Jingga seakan Jingga masih pacarnya.
Dokter Reza kemudian menoleh ke Jingga dan Tama bergantian dengan penuh tanda tanya.
“Kalian saling kenal? Dia kah perempuan yang kamu cari?” tanya Dokter Reza berbisik.
Tama tersenyum mengangguk, sementara Jingga berusaha mundur dan pergi. Jingga jijik dipanggil Sayang oleh Tama.
“Kenapa dia bisa ada di sini? Tidak... ini tidak benar, hoh...!” Jingga buru- buru berjalan menjauh.
Dokter Reza jadi bingung, tadi Jingga memanggilnya malah pergi. Sementara Tama yang melihat Jingga berjalan menjauh segera menyusul dan menghadang langkah Jingga.
“Hei... mau kemana?” tanya Tama meraih tangan Jingga.
“Lepas Kak!” ucap Jingga menepis tangan Tama.
“Kamu kenapa sih? Kenapa melihatku seperti ketakutan gitu? Aku Tama! Pacar kamu!” jawab Tama masih obsesi ke Jingga.
“Kita udah putus Kak!” ucap Jingga memberitahu.
Mendengar kata putus, Tama yang tadi tampak waras dan baik, langsung terdiam. Sudut bibirnya merubah menyeringai dan menatap Jingga dengan tatapan ibliisnya.
Jingga yang sudah mulai mengerti sifat Tama dibalik kekerenanya mengerti. Jingga melihat sekeliling dan menelan ludah. Bahaya jika terus ada di dekat Tama. Jingga harus segera lari atau berteriak.
“Kamu tidak akan bisa putus dariku!” bisik Tama tajam lalu meraih tangan Jingga lagi.
“Kak... lepas, aku akan teriak minta tolong kalau Kak Tama bersikap begini!” ucap Jingga lagi.
“Oke...!” jawab Tama melepaskan tanganya. "Aku nggak akan apa- apain kamu. Tidak bisakah kita bicara baik- baik?" tanya Tama berusaha netral juga agar Jingga tidak ketakutan.
Jingga menghela nafasnya, memperhatikan Tama dengan seksama. Tama memperlihatkan itikad baik, Jingga pun berusaha bersikap biasa saja. Melawan Tama dengan emosi sepertinya tidak benar, apalagi tidak ada yang Jingga kenal di sini.
“Kenapa Kakak ada di sini?” tanya Jingga kemudian.
Tama tersenyum penuh arti lagi kemudian menatap Jingga.
“Kenapa memangnya?”
“Bukankah seharusnya Kak Tama sudah kembali ke Ibukota sejak seminggu lalu? Urusan Kak Tama di sini udah selesai kan?” tanya Jingga terbata.
“Aku masih punya urusan penting di sini, jadi aku menunda kepulanganku!” jawab Tama lagi.
“Oh!” jawab Jingga mengangguk. Jingga mengira urusan Tama ada hubunganya dengan Dokter Reza mereka seperti akrab.
Jingga kemudian mengambil ancang- ancang untuk meninggalkan Tama lagi, tapi begitu Jingga melangkah, Tama pun dengan sigap mengejar Jingga dengan dua langkah lebih cepat.
“Kenapa Kaka mengikutiku? Kakak punya urusan sendiri kan? Silahkan selesaikan urusan Kak Tama dan biarkan aku selesaikan urusanku!” jawab Jingga melihat geram ke Tama.
“Urusanku adalah kamu!” jawab Tama menatap dalam ke Jingga.
“Aku?” tanya Jingga.
“Aku nggak mau kita putus, kembalilah jadi pacarku!” ucap Tama merayu Jingga.
“Kak, kak Tama dengar kan? Aku nggak cinta dengan Kak Tama lagi, Jingga nggak bisa lanjutin hubungan kita, maaf dan juga...!”
“Dan karena kamu dijodohin?” potong Tama ke Jingga.
Jingga diam, sebenarnya Jingga juga malas mengingat itu, alasan Jingga bukan Rendi, Jingga memang tidak bisa hidup dengan orang seperti Tama.
Jingga mulai mengerti. Perasaan Jingga ke Tama dulu adalah karena terdesak oleh cibiran teman- teman Jingga yang mengatai Jingga tidak normal karena sudah kuliah tidak pernah pacaran, Jingga juga dikatai kuper. Saat itu Tamalah orang paling keren di mata Jingga.
Sayangnya setelah jadian, Tama mengeluarkan sifat aslinya, yang arogan posesif dan juga kurang ajar. Jingga menyesal, dengan sangat dan langsung illfeel.
__ADS_1
“Jingga nggak suka Kak Tama, Jingga cinta orang lain, Kak” jawab Jingga jujur, terkesan play girl dan jahat tapi itulah kenyataanya.
Jawaban Jingga yang jujur malah membuat Tama tertawa.
“Jingga... Jingga... !” Tama malah bergumam menertawai Jingga, tentu saja membuat Jingga kesal.
“Kamu nggak akan jatuh ke cinta ke orang lain selain gue? Di sini nggak da orang tua mu atau dosen bangkotan itu, ayolah, nggak usah takut!” ucap Tama masih percaya diri.
Mana mungkin Jingga jatuh cinta ke orang lain hanya dalam waktu 2 minggu, kalaupun iya, Tama tidak terima karena merasa di khianati dan dipermainkan.
“Kak, please, oke!Jingga minta maaf sebelumnya, tapi Jingga jujur, Jingga salah mengartikan perasaan Jingga. Jingga tidak punya perasaan apapun lagi dengan Kak Tama, Jingga nggak bisa menjalin hubungan dengan Kak Tama, kita nggak cocok, kita beda prinsip dan beda arah, jadi tolong, biarin Jingga lewat, biarin Jingga urus kehidupan Jingga sendiri. Dan permisi!” ucap Jingga mengusir Tama.
“Tapi aku mau kamu tetap jadi pacarku!” ucap Tama lagi ngotot.
“Kak! Jingga nggak bisa! Jingga mencintai orang lain!” jawab Jingga tegas.
“Siapa laki- laki itu?” tanya Tama matanya mulai memerah dipenuhi amarah dan cemburu.
“Bukan urusan Kak Tama. Jingga mohon, pulanglah dan jangan ganggu Jingga lagi, maaf!” ucap Jingga melewati Tama.
Tama berhenti dan terdiam, tapi Tama terus memperhatikan Jingga.
Jingga berjalan cepat mencari ojek menuju ke pasar dan pusat perbelanjaan di kota itu. Niat Jingga mewawancarai dokter Reza dan mencari tahu Adip batal.
Jingga mau cepat berbelanja kebutuhan, setelah itu kembali ke desa. Jingga tidak mau Tama terus membuntutinya dan menghantuinya. Jingga benar- benar merasa takut dengan watak Tama yang asli.
Sungguh pelajaran yang berharga untuk Jingga. Menentukan pilihan tanpa pikir panjang hanya melihat tampang dan kedudukan. Jingga tidak mengira, memutus hubungan ternyata tak sesimple membalik telapak tangan. Terlibat hubungan dengan Tama ternyata kesalahan besar.
Sayangnya, Tama tidak bodoh. Tama tahu jika terus membuntuti dan memaksa Jingga di siang bolong dan tempat umum berbahaya. Tama kemudian mendekati Dokter Reza.
Bukan Jingga yang mewawancarai Dokter Reza, tapi Tama yang mewawancarai Dokter Reza. Kebetulan dokter Reza adalah senior Tama. Mereka berdua bahkan berkawan dekat, karena sepupu Tama adalah tunangan dokter Reza.
“Kok pergi?” tanya Dokter Reza.
“Iya, dia tadi mencarimu? Apa kau mengenalnya?” tanya Tama.
“Oh!”
“Jadi dia perempuan yang kamu cari?”
“Iya! Beritahu aku dimana dia tinggal? Sedang apa dia di sini?” tanya Tama mulai mengorek.
“Dia tinggal di desa hilir yang kosong tenaga kesehatan, jadi dia bertugas sebagai kader membantu deteksi dini kalau ada masyarakat yang sakit!” jawab Dokter Reza menceritakan.
“Kosong tenaga kesehatan? Wuah? Apa dia juga praktek?” tanya Tama.
“Sepertinya begitu, dia tampak bekerja keras, dia ke sini mengantar pasien!” jawa dokter Reza.
“Wuah tidak bisa dipercaya, pantas dia sekarang begitu terlihat berani! Dia banyak berubah!” gumam Tama mencebik.
Jingga yang Tama lihat memang berbeda dari Jingga sebelumnya. Rambut Jingga yang di kampus sering digerai, bahkan dicurly atau dibuat keriting gantung di salon dan berbau wangi. Hari ini rambut Jingga diikat asal ke atas seperti ekor kuda, tali rambutnya juga karet gelang biasa.
Jingga yang saat di kampus memakai dress mahal dan terlihat anggun kini hanya memakai kemeja longgar dan celana jeans panjang, sandalnya pun bukan lagi heels atau sepatu cat bermerek. Melainkan sandal gunung biasa, itupun jepit.
“Kalian masih pacaran atau gimana sih? Kenapa dia terlihat menghindar darimu? Siapa dia?” tanya Dokter Reza lagi.
“Dia tambang emas yang harus digali!” jawab Tama menyeringai dengan bahasa kiasan.
“Tambang emas? Waaah kamu? Hati- hati anak orang lho!” jawab Dokter Reza sedikit paham.
“Beri aku alamat tempat Jingga tinggal, dan bagaimana cara aku ke sana?” tanya Tama mau nekat.
“Yakin kamu mau kesana? Kata perawat di sini, desa hilir itu jauh, di sana tidak ada signal, cakupan listrik belum ada, penerangan di sana masih memakai lentera, listrik dinyalakan memakai solar dan hanya di tempat tertentu!” ucap dokter Reza memberitahu.
“Tidak masalah apapun itu, beritahu aku!”
__ADS_1
“Aku sendiri belum pernah ke sana. Kau bisa tanya pada pasien yang dibawa Jingga!” jawab Dokter Reza memberitahu.
“Oke! Antar aku bertemu denganya!” jawab Tama meminta.
“Dia ada di ruang rawat kamar melati tiga, siang nanti dia akan dirujuk ke rumah sakit kota harus dioperasi, spertinya belum berangkat rujuk!” jawab Dokter Reza.
“Bolehkan aku menemuinya?”
“Di sini tak seketat di kota kok, kau bisa temui suaminya perkenalkan saja kau temanku!” jawab Dokter Reza memberi jalan.
Tama pun tidak menyiakan kesempatan dan segera menemui suami ibu Maysa.
****
Jingga sendiri nekad mengeluarkan seluruh keberanianya, berbelanja seorang diri mencari barang yang dituliskan Nita. Sebenarnya itu pertama kalinya juga di hidup Jingga, belanja sendirian bukan di mall.
Beruntung di pasar ternyata banyak penjual dari pendatang bukan masyarakat asli pulau P. Jadi Jingga mudah berkomunikasi, sesama perantauan pun lebih pengertian dan membantu Jingga.
“Terima kasih Bu!” ucap Jingga saat pedangang memberitahu toko temlat tujuan Jingga selanjutnya.
“Tinggal sikat gigi, pasta gigi dan sabun mandi, sabun cuci tangan dan shampo?” pikir Jingga dalam hati mengingat keinginanya memberi anak- anak fasilitas menjaga kebersihan.
Di desa T, memang rata- rata orang mandi tak menggunakan sabun atau shampo. Mereka susah mendapatkanya, mereka mandi di sungai menggosoknya dengan batu dan minyak ramuan dari tumbuhan atau bebungaan. Meski ada yang menggunakan sabun, tapi hanya orang- orang tertentu yang mempunyai akses ke kota.
“Yuri... makasih pinjaman uangmu, aku janji sesampainya di rumahh nanti, akan kuganti berkali kali- lipat!” batin Jingga tersenyum, Jingga berbelanja memberikan kenang- kenangan untuk muridnya menggunakan uang Yuri.
“Huft...” Jingga melihat sekeliling takut Tama mengikutinya.
Jingga bersyukur Tama tak mengikutinya.
“Dia pulang kan?” batin Jingga memasukan barang belanjaanya. Jingga merasa urusan dengan Tama aman.
Setelah semua terbeli, dengan membawa 3 kresek besar belanjaan, Jingga buru- buru pergi.
Sesekali Jingga beristirahat mengelap keringatnya. Semenjak di desa, Jingga terbiasa bekerja keras, bahkan semua jarinya sudah pernah kapalan dan sembuh.
“Makan dulu kali yak!” batin Jingga bahagia membau aroma masakan yang mirip di kota, Jingga melihat penjual bakso dan mie ayam.
"Di sini ada Bakso juga?" gumam Jingga. Saat Buna hamil Jingga, Buna suka sekali Bakso, sekarang pun menurun, meski seringnya Buna buat bakso sendiri kalau di rumah.
Jingga juga sudah dua minggu tidak minum es, di warung itu pasti ada es kan?
Jingga pun segera menghampiri warung itu, selama di desa Jingga selalu makan ikan- ikanan, terutama ikan kuah kuning dan bubur dari tepung. Sekali-kali Jingga mau makan bakso dan juga es.
Setelah kenyang Jingga segera menuju ke dermaga. Begitu ada perahu, Jingga langsung naik dan duduk tenang di depan sendiri, menunggu penumpang yang lain.
Jingga fokus memperhatikan arus sungai dan menikmati aliranya.
Satu persatu penumpang ke desa naik, dua dari penumpang satu desa dengan Jingga, meteka juga menyapa Jingga.
Dua yang lain penumpang dari desa tetangga, bisa ditebak nanti akan berhenti di beberapa titik. Jingga menyimpulkan dari mendengar obrolan mereka.
“Semoga lewat desa Tari lagi!” gumam Jingga berharap.
Penumpang perahu tinggal satu lagi, karena sudah lama menunggu tukang perahu mau berangkat saja. Saat tukang perahu melepas ikatan, datang seorang laki- laki bersepatu dan berpenampilan rapi.
“Masih muat angkut saya Pak?” tanya pria itu dengan sangat santun.
“Muat... mau desa mana?” tanya tukang perahu.
“Desa T!”
“Oh ya silahkan!” jawab Tukang Perahu mempersilahkan penumpang naik.
Mendengar kata desa T, Jingga yang tadinya melihat ke air, apalagi Jingga merasa kenal dengan suara itu, Jingga langsung menoleh.
__ADS_1
“Kak Tama?” pekik Jingga panik.
Tama tersenyum smirk. Jingga gelagapan mau bangun tapi mesin perahu sudah dinyalakan.