
Adip rupanya keluar lift di lantai lima, sementara Jingga di lantai 6 tempat wawancara dan tes tulis. Tanpa berpamitan atau bosa basi Adip meninggalkan Jingga begitu saja. Adip benar-benar cuek dan galak ke Jingga.
"Siapa sih dia sebenarnya? Ada ya orang cuek dan galak ke dia. Iih amit amit deh!" batin Jingga membatin dan bergidik melihat Adip pergi.
Pintu lift kembali menutup, secara otomatis lift berjalan naik ke atas tempat tujuan Jingga. Dan tidak menunggu lama Jingga sampai. Ternyata teman sekelas Jingga ada yang ikut juga. Dia adalah Tari dan Uti.
Jingga kaget mengenali wajah itu, terlebih Tari dan Uti dia jauh lebih kaget melihat Jingga. Di kelas Jingga dan mereka hampir tak pernah bertutur sapa, Jingga kan selalu bersama gengnya, Joana, Amora dan Faya.
"Jingga!" pekik Tari. Yang benar saja anak sultan seperti Jingga mau ikut acara begituan.
Kalau Tari dan Uti mah jelas mereka anggota tim mapala. Acara ruang inspirasi menjadi agenda kesukaan dan tantangan untuk mereka. Lah kalau Jingga apa motifnya. Boro-bori mau hidup di tempat terpencil yang nanti akan makan seketemunya, makan di kaki lima aja Jingga bergidik.
"Hai, kalian teman sekelasku kan?" tanya Jingga terkesan sombong, terhadap teman sekelas sampai bertanya. Tapi Jingga memang sungguh tidak hafal dengan teman sekelasnya karena lingkaran pertemanan Jingga sangat terbatas.
"Iya kita teman sekelas kamu!" jawab Tari sedikit canggung.
"Kamu ikut seleksi ruang inspirasi?" tanya Uti ke Jingga.
"Iyah!" jawab Jingga nyengir.
"Yakin?" tanya Uti lagi
"Yakin!" jawab Jingga mantap.
"Oh, oke semoga lulus seleksi ya!" ucap Tari baik.
"Iyah, semoga kalian juga ya! Aku seneng banget loh kalau ada temanya!" jawab Jingga polos dan ramah.
Tari dan Uti mengangguk dan sedikit heran. Selama ini mereka melihat dan menganggap Jingga itu sombong.
"Emang kamu mau temenan sama kita?" tanya Uti jujur.
"Mau dong! Kenapa nggak?" jawab Jingga.
"He... syukurlah!" jawab Uti.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa motivasi kamu ikut Ruang Inspirasi Jing?" tanya Tari.
"He.. buat kerjain tugas laporan pengabdian!" jawab Jingga beralasan menyembunyikan alasan sebenarnya.
"Tugas pengabdian? Bokap lo kan Sultan, punya yayasan juga. Lo kan bisa bayar orang buat laporan itu atau buat pengabdian dari yayasan orang tua lo, ngapain lo ikut ruang inspirasi?" tanya Uti.
"Ya nggak apa-apa. Kan nggak seterusnya aku harus manfaatin apa yang orang tuaku punya dong. Aku juga mau pengalaman di tempat lain!" jawab Jingga cerdas.
"Oh. Iya juga sih. Gue kira lo anti dengan kegiatan seperti ini. Gue nggak nyangka aja lo tertarik dengan beginian!" jawab Uti lagi.
"Iya nggak nyangka juga lo mau nyapa dan temenan sama kita!" imbuh Tari.
Jingga kemudian tersenyum menanggapi temanya itu. Tapi Jingga merasa dirinya memang hanya selalu ngobrol dengan ketiga sahabat sosialitanya.
"Maaf ya, kalau selama ini aku kurang bersosialisasi dengan kalian. Tapi aku nggak gitu-gitu amat kok! Aku mau temanan sama siapa aja. Dan aku juga pengen eksplor diri gue juga. Bantu gue ya!" jawab Jingga ramah.
"Iya. Kita belajar bareng-bareng ya!" jawab Tari.
"Iya, kalau acara beginian prinsip paling penting kebersamaan dan oengertian Jing Kalau lo nanti ketrima lo harus adaptasi di lingkungan tanpa memandang kasta!" sambung Uti memberitahu.
"Siap. Eh kalian kok kaya udah pengalaman, udah pernah ikut ini sebelumnya?" tanya Jingga.
"Oh gitu! Naik gunung tuh asik ya?" tanya Jingga.
"Asik banget, apalagi acara pengandian macam ini pasti seru. Dan yang paling gue betah dan tertarik dengan acara beginian adalah, karena mentor kita, Kak Adipati! Dia juga jebolan anak gunung. Kita tau agenda ini dari dia." tutur Uti.
"Kak Adipati?" tanya Jingga.
"Iya. Dia sebenarnya mahasiswa Kedokteran Hewan lho. Lulus tahun ini sih. Tapi dia aktif di kegiatan sosial gitu. Dulu dia Bem univeristas, tapi udah pensiun. Dia juga yang ikut rapat-rapat perwakilan mahasiswa ajuin proposal ke kementrian buat kasih ide genda ruang inspirasi macam ini. Keren kan dia?" sahut Tari menceritakan Adipati.
"Aku baru denger lho ada komunitas macam itu. Kalian kenal dimana?"
"Forum mahasiswa di organisasi anak gunung!" jawab Uti.
"Oh. Aku nggak pernah ikut begituan jadi nggak tahu!" ucap Jingga lagi.
__ADS_1
Jingga benar-benar tidak menyangka kehidupan kampus dan mahasiswa begitu luas. Jingga memang kurang pergaulan. Taunya Jingga hanya kuliah ya duduk mendengarkan ceramah ngerjain tugas dan ujian.
Semua kegiatan Jingga juga diawasi. Mana tau Jingga komunitas-komunitas begitu. Jingga kemudian ikut mendengarka saja.
"Nanti kamu akan tau Jing. Pasti kamu suka. Dia ganteng tau, ya meskipun dia berasal dari daerah dan katanta anak orang nggak punya, tapi karena keaktifanya dia jadi deket sama Dekan dan Pak Menteri, makanya acaranya ini di acc dan didukung pemerintah!" sahut Tari lagi.
"Oh gitu, keren ya dia! Semester berapa emang?" tanya Jingga.
"Kan udah aku bilag . Dia anak kedokteran hewan. Dia wisuda tahun ini. Ini kegiatan terakhirnya sebelum dia pensiun jadi mahasiswa! Katanya mau pulang kampung. Makanya aku ikut. Aku ngefans berat ke dia!" jawab Uti lagi.
"Oh gitu. Aku jadi penasaran. Seperti apa sih? Kak Adipati itu?" ucap Jingga.
"Nanti deh kamu tau! Pokoknya dia baik ganteng. Suami idaman banget sih menurutku. Dia ramah dan humble tapi susah didekati hatinya" jawab Tari.
"Laki-laki kayak dia pasti sih seleranya juga yang punya kualitas sama! Nggak kaya Lo!" sahut Utii.
"Ya gue kan juga keren, Tii, gue cantik gue mahasiswa kedokteran umum juga. Gini- gini gue juga cumlaude. Panted dong gue deketin dia!" jawab Tari.
"Menurutku sih Kak Adipati cocoknya sama yang ukhti ukhti gitu. Hafidzoh mungkin! Nggak kaya Lo, sukanya ngegibah!" timpal Uti lagi.
Jingga yang baru dekat dengan Uti Dan Tari mendengarnya tersenyum.
"Emang sekeren apa sih Kak Adipati itu? Kok kalian malah ributin dia?" tanya Jingga.
"Ntat deh ya!" jawab Tari.
Tidak lama tim panitia dari ruang inspirasi yang terdiri dari beberapa mahasiswa, relawan dan pegawai yang bekerja di bidang pendidikan datang.
Acara seleksi kemudian dimulai. Setelah mengucapkan salam perkenalan dilanjut sedikit intermeso hiburan agar semangat. Lalu pembacaan tata tertib ujian, para panitia kemudian mengedarkan soal-soal ujian.
Jingga dan teman-temanya pun menerima soal Masing-masing. Mereka kemudian menjawab semua pertanyaan dengan teliti. Suasana hening.
*****
Kakak semua sekali lagi semua yang ada di nupel itu halu.
__ADS_1
Mengenai semua program kehidupan dan regulasi juga hanya ada di nupel.
Maka dari itu di nupel ini nggak author sebutin nama tempat.