
“Bug... Bug...,”
Adip berlari sekencangnya mengejar para pria berbaju hitam dan melemparkan bogeman. Adip bertarung dengan mereka pria.
Mereka ada 6 orang. Adip dikeroyok.
Mungkin karena Adip habis mengerahkan tenaganya untuk menunaikan kewajibanya sebagai suami, memberikan nafkah batin ke Jingga, bahkan belum genap sehari sudah dua kali. Adip tak berhasil menangkap salah satu di antara mereka.
Sebenarnya mengingat satu banding 6, Adip sudah cukup hebat tidak tumbang. Apalagi mereka membawa benda tajam.
Adip terkena sayatan pisaunya mengenai lenganya dan telapak tanganya saat menangkis si penjahat hampir menusuk bagian perutnya.
Adip pun tak berhasil menangkap karena terdengar suara motor bapak mendekat mereka langsung kabur.
Adip membungkukan badan mengatur nafas sambil menatap lurus ke plat nomer motor yang melaju kencang. Platnya berbeda dari kota Adip tinggal.
Rumah Emak termasuk rumah paling atas di teras siring komplek desa itu. Jaraknya rumah dengan rumah juga lumayan jauh terhalang kebun dan pekarangan. Seberang rumah Adip sepasang pasutri yang sudah berumur anaknya merantau.
Jam 22.30 malam juga sudah sangat dingin dan sepi. Tetangga Adip pun tidak tahu, rumah Emak dijahati orang.
“Bremm... breem...., nguuungg,” ketiga motor itu pergi berpapasan dengan motor Bapak.
Begitu sampai rumah dan lihat apa yang terjadi, Bapak langsung syok dan teriak sekencangnya minta tolong.
Suara motor mereka yang berisik dan teriakan Bapak membuat tetangga Adip keluar.
Semua pun kaget meliah asap dan kobaran api di rumah tetangganya itu. Bapak juga heran siapa mereka.
“Ya Alloh, Astaghfirulloh, Mak Asiih, Pak Dull....., toloong tooloong, kebakaran!” tetangga Adip pun langsung berteriak dan memanggil tetangga yang lain.
Mereka berlari ke arah rumah Emak sampai melewatkan Adip yang tengah menahan sakit akibat luka sayat benda tajam itu. Semua berkumpul dan saling berkoordinasi membantu Bapak
“Astaghfirulloh..., Emak, Jingga,” Adip pun teringat istri dan ibunya.
Ketika Adip berbalik badan. Api cepat melahap rumah kayu Bapak dan Emak yang Asri itu. Tidak Adip sangak api sudah mengepung rumah padahal tadi masih di depan.
Sementara para warga terlihat panik dan bingung. Mereka berlari mencari selang dan ember air ke rumah masing masing, tapi Api rupanya jauh lebih cepat berkobar... apalagi bekas disiram bensin.
“Astaghfirulloh...Emaak...,” Adip berjalan pelan menahan sakit dan air matanya mengalir. "Emaak...,"
“Emaaak... di dalam!” teriak Adip sekencangnya.
Warga pun baru ngeh adip di luar.
“Hoh... bodoh...kenapa aku tadi malah ngejar penjahatnya, Emaaak...? Jingga... ? Jingga kemanaa?” Adip merasa kalut dan mengacak kepalanua frustasi. Adip semakin panik saat Api terlihat menjalar ke belakang.
“Emaaak... Jinggaaaa...” teriak Adip panik berjalan tertatih ke arah rumah. "Jinggaaa... Jingga istrku dimana?" Adip kalap menyadari susah untuk menjangkau halaman belakang.
“Adip!” pekik Bapak dan yang lain melihat Adip berdarah- darah berusaha menerobos api.
“Emaak di dalam... Jinggaa Jinngaa istriiku..., Emak di dalam Pak!” racau Adip berteriak panik sambil menangis.
Semua menahan Adip agar jangan mendekat. “Bahaya Dip..., bahaya.. kita tunggu pertolongan”
“Istriku... dimana? Emak harus diselamatkan Pak! Emak gimana?” ronta Adip keras marah dan putus asa.
Akan tetapi warga menahan Adip sekuat mungkin.
Warga pun berpencar ada yang menghubungi kepala desa, dan Pak Rt, serta memanggil petugas damkar.
“Hughs... huugss...em.. Em.. Emaak Pak.! Emaak Jingga... Jinggaaa...” Lirih Adip terduduk lemas..tak kuasa menahan panik dan sedih ingat Emak dan istrinya tidak ada.
****
Di dalam rumah.
Jingga yang tadi habis ehem ehem dengan Adip mengeluh dingin.
Utungnya mendengar Istrinya mengeluh dingin, Adip beri sweater bulu tebal Adip dari lemari.
Memang kedodoran tapi cukup menghangatkan mengingat tubuj Adip lebih besar dari Jingga.
Saat Jingga menenggelamkan diri ke bak air, air yang terserap cukup banyak, kini berganti jadi basah dan berat. Jingga membawa 4 handuk dewasa yang sudah bawah juga.
“Hooh... hoooh..., bismillah, tolong aku ya Alloh” dengan nafas yang memburu. Jingga mengumpulkan tekad menerobos masuk.
Pengalaman di Pulau Panorama dan penyatuan cintanya dengan Adip membuat Jingga banyak berubah dan berani. Jingga ingat ajarin Adip, lakukan sesuatu atau kita akan menyesal karena tidak melakukan apapun.
Hasil pasrahkan saja sama Alloh.
__ADS_1
“Emak.. emak harus selamat!” lirih Jingga nekad masuk ke rumah Emak.
Dari 4 handuk itu, satu untuk menyelimuti bagian atas tubuh Jingga, 3 yang lain untuk memadamkan api yang ada di depanya.
“Maak...,” panggil Jingga cepat melompat menghindari kayu yag terjatuh sudah membawa api.
Jingga memilih jalan yang tak ada apinya. Meski kanan kiri Jingga api seperti mengejar dan menghimpitnya. Jingga bergerak cepat dengan nafas memburu dan gemetaran.
“Emaaak!” panggil Jingga lagi.
Dengan sigap tidak peduli apapun, handuk basahnya terus Jingga sapukan dan pukulkan ke kanan dan ke kiiri agar Jingga punya jalan menerobos masuk.
“Uhuuk... Uhuuuk...,” terdengar Emak terbatuk sesak sudah di kepung Api.
Dinding rumah yang bukan pemanen, ditambah kabel listrik yang aktif membuat api cepat menyebar terutama rumah bagian depan, tepatnya tempat Emak tidur.
“Emaak,” teriak Jingga berusaha mendekat ke emak. Emak terlihat kebingubgan dan memegang dadanya.
Emak sudah sangat sesak nafas akibat mengirup asap yang banyak, terutama asap dari ledakan televisi. Perlahan Emak terlihat terkulai lemas.
Jingga segera berlari mendekat ke Emak. Api rupanya sudah mendekat dan merembet ke rambut dan pakaian Emak.
Jingga langsung syok dan gemetaran. Tubuh Jingga yang tadinya menggigil dingin juga mulai hangat.
Dengan mengusir semua takut yang ada, yang ada nekat, semua juga ilmu hilang. Jingga hanya berfikir spontan.
Tidak peduli menyakiti Emak atau tidak, Emak masih hidup atau tidak. Jingga hanya berfikir harus segera keluar.
Dipukulkan handuk basahnya ke api yang mendekat ke Emak. Mati sesaat.
Tapi api dari belakang terlihat hendak berkobar mendekeat lagi. Jingga seperti bertarung melawan api, bertaruh dengan waktu.
Baju Jingga pun mulai terasa panas. Kalau lama mungkin air yang terserap di sweater dan handuknya akan kalah dengan api yang besar, bisa jadi air mendidik yang menempel.
Jadi Jingga bekerja cepat, dililitkanya handuk basah ke tubung Emak. Jingga memeluknya dan mengait tangan Emak. Sekuat tenaga Jingga menerobos apapun yang ada di depanya menyeret Emak keluar sekuat mungkin.
“Tolooongg.....,” teriaak Jingga sekencangnya mengeluarkan tenanganya sekuat mungkin menerbos api menuju pintu keluar terdekat.
Semua yang di luar tercengang. Terutama Adip dan Bapak.
Semua pun mendekat ke Jingga dan membantu Jingga menjauh dari api.
Begitu keluar dari api Jingga langsung tergeletak lemas dan melepaskan Emak.
Tak Jingga rasa telapak kakinya terkena api satu aman, satu melepuh, baru terasa perih perih sekarang.
“Sayaaang... sayang.. kamu selamat?” peluk Adip erat.
Tak peduli darahnya masih menetes, Adip menciumi kening dan puncak kepala Jingga. Tidak peduli juga baju yang Jingga kenakan basah tapi airnya bau asap dan sudah berubah hangat. Baju Adip juga ikutan basah.
Begitu nafasnya terasa longgar bukanya menjawab suaminya Jingga langsung menoleh ke Emak.
“Emaaak! Emak Bang!” teriak Jingga menoleh ke bapak dan yang lain yang menggotong Emak.
Adip ikut menoleh. Emak tak sadarkan diri.
Tidak peduli banyak orang, Jingga segera melepas sweaternya yang berat berisi air. Bahkan Jingga tak menghiraukan perih di kakinya, Jingga berlari menuju ke arah Emak.
“Emaaaak, Maaak.. dengar Jingga Maak” panggil Jingga panik dan cek respon nyeri Emak.
Emak tak merespon. Penampakan Emak sudah sangat memprihatinkan. Rambut Emak sebagian sudah terbakar berantakan bagian wajahnya melepuh dan gosong. Baju atasnya juga sebagian terbakar, justru kaki yang sehat.
Jingga menangis gugup dan bingung.
"Bagaimana ini? Tuhaan tolong aku?" Jingga terus memilin jari jemarinya panik dan memutar otaknya.
“Emak harus selamat!” batin Jingga mulutnya sampa gemetaran.
Perjuanganya menerobos api tidak boleh sia- sia. Jingga mau tetap punya mertua sebaik Emak. Jingga ingin anaknya punya nenek yang komplit seperti dirinya.
Jingga pun memeriksa nafas Emak. Tidak ada nafasnya. Keringat Jingga pun keluar jantung Jingga semakin keras berdegun.
Tapi Jinga periksa nadinya masih ada. Jingga lihat bagian atas tubuh Emak terkena luka bakar. Otak Jingga pun terus berputar.
“Airway burn? Ya emak mengalami gangguan nafas akibat asap terlalu banyak? Trakeostomy.” gumam Jingga lirih dan gemetaran, air matanya menetes.
“Hooh bagaimana ini? Trakeostomy? Aku belum pernah melakukanya? Apa aku bisa? Emak harus hidup? Bagaimana aku tak ada alat!” Jingga terus gemetaran sangat dokus sampai Adip bertanga tak dia dengar.
Otak Jingga dipaksa berfikir cepat.
__ADS_1
“Ballpoint... Ya pulpeeen!” teriak Jingga tiba- tiba..
Yang mendengarnya bingung dan bengongm
“Ballpoin cepaat! Beri aku ballpoint! Jangan lama!” teriak Jingga lagi.
Adip hanya menelan ludahnya bingung tapi mengikuti mau Jingga. Kebetulan Pak Rt baru pulang dari kantor desa, bawa ballpoint. Dan menyerahnkan ke Jingga. Semua orang tercekat dan melihat Jingga.
“Panggil ambulan cepat...!” teriak Jingga lagi. Sambil membuka isi pulpenya.
Jingga lalu meraba-raba leher Emak. Jingga dan meraba sekitarnya mengingat materi anatomi yang dia ingat.
Tidak peduli langkahnya sesuai SOP atau tidak, berhasil atau tidak, Jingga nekat akan melubangi saluran pernafasan Emak dan membuat selang penghubung demi menyelamatkan nyawa Emak.
Jika tidak melakukan segera, taruhannya adalah nyawa Emak. Pilihanya membiarkan emak meninggal begitu saja atau melakukan setidaknya ada harapan Emak hidup.
Adip dan Pak Rt beserta bapak dibuat bengong tindakan Jingga, sementara yang lain berusaha memadamkan api di rumah Emak.
“Berhasil,” gumam Jingga girang.. Dada Emak mengembang. “Berhasiil....berhassiil..Bang,” seru Jingga menangis menatap ke suaminya. Jingga tersenyum sambil menangis melihat Emak bernafas kembali.
Adip kemudian mendekat dan kembali memeluk Jingga.
"Kamu hebat Sayang. Hebat!" bisik Adip menghujani Jingga dengan kecupan cintanya.
Jingga pun menangis haru dan menahan dingin.
Meski Emak masih tak sadarkan diri, setidaknya Emak kembali bernafas dan denyut jantungnya masih teraba. Setidaknya Emak selamat sampai ambulan rumah sakit datang.
Tidak lama terdengar mobil damkar datang lalu disusul mobil ambulan. Cukup susah mengingat jalan ke rumah Emak sempit.
Bwrtarung dengan waktu Api yang menang. Rumah emak sudah habis dilahap Api.
Akan tetapi meski pertolongan terlambat. Adip dan Jingga tidak kecewa. Terserah terhadap rumah dan segala isinya yang penting Emak selamat dan akan mendapatkan perawatan yang tepat.
Adip, dan Jingga terus saling menggenggam dan memeluk mengikhlaskan semua apa yang ada di dalam rumah emak dilahap Api.
Sementara Bapak memangku Emak sembari terus berdoa Emak selamat. Begitu ambulan tiba. Pertama yang dibawa Emak dan didampingi Bapak.
Meski Adip dan Jingga sama- sama terluka, tapi mereka memilih ikut mobil polisi.
Malam itupun Jingga tidak bisa berkata apapun. Bulan madu yang selalu dia impikan, pernikahan indah yang penuh dengan tawa ternyata tak semudah itu dia dapatkan.
Pernikahan membuatnya menggerti, hidup tak selalu seperti yang dia inginkan. Apa yang Jingga temui membuka pikiran Jingga bahwa di dunia ini juga banyak hal yang menyakitkan dan jahat. Ada banyak juga hal yang membahagiakan dan menyentuh hati seperti kebaikan Emak yang dari sikapnya Jingga merasa disayangi.
Polisi pun mengantar Jingga dan Adip ke ugd rumah sakit. Jingga baru tahu kalau suaminya terkena luka sayat. Adip juga baru me,ihat kalau kaki mulus istrinya melepuh dan berdarah terkena api. Sementara Emak dan Bapak langsung ditangani dan masuk ruang operasi.
“Perih banget yah? Kamu baik- baik aja kan?” tanya Adip panik melihat kaki indah istrinya menganga sobek kena api.
Jingga tersenyum, padahal lengan Adip dan telapak tanganya dijahit.
“Abang sendiri gimana? Pasti sakit banget yah?” tana Jingga menyentuh tangan Adip yang tertutup perban.
“Enggak, abang biasa kok luka kecil aja ini? Abang khawatir sama kamu, berapa lama sembuhnya luka bakar seperti itu? Rasanya gimana? panas perih atau gimana? abang kipasin yah?” serbu Adip dengan perhatianya.
“Udah dikasih salep Bang, udah kerasa dingin kok!”
“Beneran? Itu nggak ditutup perban nggak apa- apa?” tanya Adip lagi.
“Ikut prosedur doker aja, dokter kan udah punya patokan sebaiknya gimana,”
Tangan Adip kemudian terulur membelai lembut pipi Jingga.
“Kamu hebat banget Sayang. Makasih udah selametin Emak Abang, maafin Bang Adip yah, harusnya sekarang kamu tidur di kasur yang empuk, malah di rumah sakit begini?”
“Nggak apa- apa Bang, Jingga Cuma pengen sama Bang Adip terus, Jingga nggak prlu kasur empuk, nggak perlu bulan madu kemana- mana, yang penting sama Bang Adip,” jawab Jingga dengan mata sembabnya.
Jingga semakin takut ditinggal Adip dan LDR sama Adip. Adip hnya tersenyum, bibirnya kelu untuk menjawab. Adip hanya bisa mendekatkan wajahnya dan mencium puncak kepala Jingga.
Di saat yang bersamaan, polis datang.
“Ehm.. maaf Akang Teteh, mengganggu waktunya, apa perawatanya sudah selesai, bisa ikut kami ke kantor polisi?”
Adip dan Jingga mengangguk.
“Tinggal nunggu Obat Pak,” jawab Adip.
Mendengar jawaban Adip, Pak polisi malah menawarkan mengambilkan obat Adip dan Jingga.
Dengan bergandengan tangan sambil memapah satu sama lain karena kaki Jingga sakit, Adip dan Jingga mengikuti polisi. Tidak rela aurat Jingga dilihat orang banyak. Adip melepas sweaternya untuk Jingga.
__ADS_1