
Matahari datang dari ufuk timur dengan cantiknya, memancarkan sinar hangat dan keramahan khusus di pagi hari ke seluruh penjuru alam.
Suara kicauan burung yang beraneka ragam dan bersahut- sahutan tidak lagi menjadi penganggu untuk Jingga. Justru nyanyian alam itu menjadi senandung lagu merdu yang mengiringi aktivitasnya, menjadi melodi yang membuatnya semangat menikmati hari yang indah.
Apalagi hati Jingga sedang berkembang. Seperti daun di penghujung kemarau, mulai bersemi saat hujan menyapanya perlahan dari hari ke hari.
Jingga sangat semangat, bangun di petang hari, menimba air dengan kedua tangan halus yang kini mulai kasar. Tanpa shower atau air hangat apalagi aroma therapi seperti di rumah Baba Ardi. Jingga membiarkan air alam yang begitu segar membasahi setiap inci tubuhnya tanpa terlewat.
Sesuai pesan Adip tempo hari, Jingga hari ini akan kembali menuntaskan program ruang inspirasinya, menjadi guru amatir, mengenalkan huruf dan bagaimana anak- anak mengenal profesinya. Mengajak putra putri negeri menggerakan tangan dan anganya untuk merajut mimpi.
“Pagi banget, Ngga?” tanya Yuri karena Jingga sudah wangi dan rapih di pagi hari.
Pagi ini Jingga mengenakan kemeja bunga- bunga dengan corak hitam, pink dan putih lalu mengenakan rok span di bawah lutut warna putih. Rambut panjangnya dia cepol seperti ekor kuda, leher jenjangnya terpampang menawarkan keanggunan.
“Aku akan berangkat ke sekolah lagi!” jawab Jingga.
“Iya, kemarin kulihat memang beberapa anak sudah mau berangkat lagi, semangat ya Kaka! Bu Siti juga menanyakanmu!” jawab Yuri menyemangati.
“Maafin aku yang masih chieldiest ya! Harusnya aku tetap berangkat apapun yang terjadi!” jawab Jingga malu mengingat aksi bolosnya kemarin- kemarin. Gara- gara dikatai penyihir Jingga sakit hati dan pundung.
“Kita juga minta maaf tidak memahamimu Kakak!” jawab Yuri lagi.
“Oke, hari ini aku semangat lagi!” jawab Jingga tersenyum ceria hingga wajahnya tampak berseri- seri.
“Ya tapi nggak sepagi ini juga kali Kak!” jawab Yuri mencibir, sekarang kan belum ada jam 6, Siska dan yang lain saja masih sibuk di dapur.
“Emang kenapa?” tanya Jingga.
“Ya belum ada murid lah di sekolah. Mau ngapain sepagi ini? Hemmm aku tau!” jawab Yuri mencibir lagi sambil senyum- senyum.
“Tau apa?” tanya Jingga mendadak pucat.
“Kakak mau ketemuan lagi ya sama Bang Adip? Hehe!” goda Yuri lagi.
“Hissh ngarang kamu!” jawab Jingga melempar sisirnya.
“Terus?”
“Aku mau ke poskesdes dan mau jengukin Bu Martha. Aku juga mau mandikan bayinya!” jawab Jingga kemudian mengkerucutkan bibirnya. Orang Jingga lagi semangat bekerja.
__ADS_1
“Wahh, kaka bisa mandikan bayi?” tanya Yuri antusias.
“Bisa dong! Aku punya 5 adik, aku yang membantu merawat adik- adikku, babaku dan Bunaku sangat posesif ke anak- anaknya, lebih banyak aku yang merawat adiku daripada baby sister kami!” jawab Jingga lagi. Iya dan Iyu sejak kecil memang dirawat tangan Jingga.
“Pasti menyenangkan! Aku ikut Kak! Boleh ya!” ucap Yuri.
“Boleh, tapi kan kamu belum mandi?”
“Nggak apa- apa, Yuri udah cuci muka kok! Pakai parfum bentar!” jawab Yuri nyengir. Nggak masalah bagi Yuri tidak mandi kan mereka di desa, tidak ada cowok tampan juga, hehe. Berbeda dengan Jingga yang ingin menunjukan performanya sebagai dokter yang cantik, bersih dan wangi.
Mereka kemudian pamit ke Prilly dan yang lain untuk ke rumah Bu Martha.
Sepanjang perjalanan Jingga bertemu dengan warga, baik beberapa petani yang pagi- pagi sudah bersiap ke ladang, beberapa juga ibu- ibu sedang menyapu halaman, mereka semua membalas sapaan Jingga.
Tidak seperti sebelumnya yang menatap Jingga sinis dari ujung kepala sampai ujung kaki, kini mereka tersenyum ramah.
Jingga sangat bahagia mendapat perlakuan itu. Jingga yang selama ini acuh terjebak dalam dunianya sendiri.
Jingga yang beberapa hari merasakan dicibir kini mulai merasakan rasanya membuka diri, rasa menerima hangatnya sapaan dan beramah tamah, ternyata sangat menyenangkan.
Selama di jalan Jingga juga celingak celinguk mengedarkan pandangan berharap ada Adip. Sayangnya Jingga tak menemukan batang hidungnya, rumah Adip kan di pinggir sungai.
Baik Bu Martha, suaminya ataupun Maria menyambut hangat Jingga. Tetangga terdekat Bu Martha juga ikut menjenguk dan melihat apa yang Jingga lakukan.
Selama ini mereka tidak berani memandikan bayi sebelum umur 7 hari, tapi hari ini mereka menyaksikan, Jingga dengan luwesnya memandikan bayi umur satu hari itu.
Semua jadi senang dan semakin menyambut baik Jingga. Setelah mengurus bayinya, Jingga juga memeriksa Bu Martha, memastikan, tidak ada tanda bahaya pada Bu Martha. Tentunya sebelum melakukan itu semua, Jingga baca buku lebih dulu, mengingat Jingga masih mahasiswa dan tenaga kesehatan amatir sekaligus ilegal.
Jingga menganut ilmu Adip, mau jadi pembunuh atau penyelamat. Jika tidak menyelamatkan, mau jadi pembunuh terhormat atau jadi pembunuh pecundang? Jingga memillih mencoba melakukan apa yang dia bisa.
Tetangga Bu Martha yang melihat Jingga memeriksa Bu Martha kemudian datang dan bertanya.
“Nona Dokter, anak saya mengelluh sakit perut, apa Bu Dokter bisa mengobati?” tanya tetangga Bu Martha.
Jingga kemudian tersenyum.
“Coba saya periksa dulu. Ayo datang ke poskesdes!” jawab Jingga.
“Nona Dokter sarapan dulu!” sahut suami Bu Martha.
__ADS_1
Yuri yang mendampingi Jingga mengangguk tersenyum.
Di desa saat ada kelahiran bayi mereka akan masak enak. Suami Bu Martha seorang pemburu handal, mereka memasak burung hasil buruan dan ayam hutan. Tidak ketinggalan ikan segar yang dimasak alami dengan bakar api kayu.
Mereka pun menerima tawaran makanan itu sebelum ke poskesdes. Mereka tau kalau di rumah Nita dan Siska tak memasaka selengkap itu.
Setelah sarapan Jingga kemudian mulai mau memberi bantuan ke warga yang sakit tapi tidak mau di rumah melainkan di gubuk poskesdes.
Saat Jingga mengobati tetangga Bu Martha tetangga lain melihat.
Mereka yang melihatnya jadi meyebarkan berita itu dengan cepat. Saat Jingga hendak keluar dan menutup pintu warga lain datang lagi. Jingga pun mengundurkan langkah dan kembali menerima pasien.
****
Pagi itu Adip bersiap menuju ke kota. Dia ingat perkataan Jingga kemarin yang mau menyusun daftar barang yang ingin dia titip dibelikan Adip di kota.
Adip juga sudah wangi dan rapih dengan penampilan casualnya. Adip berniat menemui Jingga dan menanyakanya ke rumah.
“Bang Adip?” sapa Siska dengan ramah melihat Adip datang.
“Hai!” jawab Adip kikuk. Adip kan ingin bertemu Jingga.
“Kebetulan Bang, masakan Siska udah mateng, yuk sarapan!” ajak Siska ramah.
Adip berfikir jika masuk ke rumah dinas mahasiswa putri akan bertemu Jingga di dalam. Adip kemudian mengangguk.
“Beneran nih?”
“Iya Kak! Mari!”jawab Sisak semangat.
“Makasih ya!” jawab Adip.
Adip kemudian naik ke tangga rumah panggung itu dan masuk ke ruang tamu. Siska dengan cekatan masuk ke dapur dan segera menyiapkan sarapan untuk Adip.
Adip celingak celinguk mencari dan menunggu Jingga keluar. Sayangnya yang keluar justru Prilly dan Nita.
****
Kaka Aku abis ini mau promo lagi,kalau mau komen ttg Jingga di episode ini aja yaa. Hihi
__ADS_1