Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
39. Pak Rendi tahu


__ADS_3

"Siang, Kek, Nek!" sapa Adip ramah. Adip tanpa canggung


"Siang, cah Bagus!" jawab Oma Nurma ibu Tiri Dokter Gery.


"Apa ini Dokter hewan yang kamu ceritakan Ger?" tanya Opa Nando, ayah Dokter Gery.


"Iya Kek, Nek, saya Dokter hewan, tapi baru lulus!" jawab Adip merendah.


"Nenek sudah menunggu, pusing nenek banyak banget kucing begitu! Ayo ikut Nenek!" sambut Oma Nurma ramah dan bahagia.


Bahkan Oma Nurma langsung menepuk tangan Adip hangat. Adip juga ikut menyambut hangat


Adip kemudian ikut ke halaman belakang rumah Pak Menteri itu. Adip, syok dan kaget. Itu seperti peternakan kucing. Di sebuah kandang bertingkat ada sekitar 50 kucing dengan berbagai macam warna dan jenis.


Adip menelan ludahnya kaget.


"Ini kucing siapa Nek?" tanya Adip keheranan.


"Itu kucing cucu saya!" jawab Oma Nurma.


"Kucing Bunga?" tanya Adip.


"Bukan!"


"Terus? Bukanya anak Dokter Gery, Bunga aja?" tanya Adip lagi.


"Cucu dari anak perempuan saya yang kuliah di luar negeri!" tutur Oma Nurma lagi.


"Siapa Nek?" tanya Adip kepo.


"Kamu pernah kenal keluarga Gunawijaya?" tanya Dokter Gery ikut menimpali.


"Gunawijaya? Sepertinya saya pernah dengar, yang orang kaya itu Dok?" tanya Adip polos.


"Ya, dia adik kami?" jawab Gery.


"Adik?"


"Aku dan Istriku menikah, Gery anakku dan Nyonya Alya Gunwijaya anak istriku. Ini kucing-kucing anaknya Ardi!" jawab Dokter Nando menjelaskan.


"Oh. Ya. Jadi Dokter Gery dan Istri Tuan Ardi bersaudara karena Nenek dan Kakek?"


"Iya betul!"


"Terus apa hubunganya sama kucing- kucing ini?" tanya Adip.


"Saya pusing Nak Adip. Ini sebenarnya peliharaan anak kembar adik saya, namanya Amer dan Ikun! Tapi dia harus menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Selain si kembar itu, di rumah mereka tidak ada yang suka kucing. Yang suka kucing itu, Bunga anakku. Makanya dititipin di sini! Tapi masalahnya mereka selalu beranak dan banyak. Kucing yanh tadinya cuma 8 jadi sebanuyak ini. Pusing saya!" tutur Gery panjang kali lebar kali tingg curhat.


"Ya, benar kata anakkku. Kucingnya cepat sekali berkembang biak. Nenek bingung liatnya!" sahut Nenek Nurma.

__ADS_1


"Oh yayaya?" jawab Adip engangguk anggymunk tansa mengerti.


"Tolong periksa semua kucing kami, vaksin mereka atau apa? Kasih tau apa yang harus dilakukan dan buatkan catatan ya!" tutur Dokter Gery memberitahu.


Adip menelan ludahnya lagi. Adip kan mau pulang kampung bukan mah mengurus kucing.


"Mohon maaf Dok. Ini kan banyak ya! Karena saya dokter baru, saya butuh banyak waktu memeriksanya!" ucap Adip mau menerangkan belum selesai sudah dipotong.


"Nggak apa-apa lama. Kamu bisa kesini tiap hari Cah Bagus. Nanti oma masakin kamh makanan paling enak!" sahut Oma Nurma.


Adip garuk-garuk kepala.


"Iya Nek. Tapi 3 hari lagi, saya harus terbang ke pulau P!" jawab Adip memberikan alasan.


Bukan hanya Nek Nurm yang kaget, Dokter gery dan Dokter Nando ikut kaget juga mendengar nama pulau P.


"Jauh sekali Cah Bagus? Mau apa kamu ke pulau P?" tanya Nek Nurma.


"Saya mau bekerja di sana. Kebetulan kampung ayah saya di sana!" jawab Adip memberitahu.


"Lho Nenek kira kamu sama nenek asalnya sama. Logat baahasamu medhok. Ternyata kamu asli orang P?" tanya Nenek lagi.


"Ayah orang P, ibu saya orang J, Nek! Jadi campuran gitu!" jawab Adip lagi.


"Oh yayaya. Nenek paham. Terus gimana inj nasib kucing-kucing cucu saya? Kemarin ada mati 3?" tanya Nenek Nurma lagi.


"Karyawan saya. Saya sewa 3 orang untuk rawat ini semua!" jawab Dokter Gery.


"Kalau gitu bis panggilkan Dok. Saya akan ajari mereka. Saya mungkin akan memeriksa acak khusus yang sakit aja ya Dok!" ucap Adip sopan


"Yaya, silahkan, silahkan. Akan aku panghilkan pekerjaku!" ucap Gery.


Adip kemudian mengajari anak buah Dokter Gery dengan jelas. Adip memeriksa beberapa anak kucing yang sakit, meski belum selesai semua, tapi Nek Nurma, Kakek Nando dan Doktee Gery sangat lega.


Meski jalan-nya sudah susah dan dibantu tongkat Nek Nurma menggenapi ucapanya. Nek Nurma membuatkan makanan enak untuk Adip. Dengan tangan keriputnya, Nek Nurma masih bisa membuatkan ayam ungkep dan sambel krosak.


"Enak banget Nek sambalnya resepnya apa Nek?" tanya Adip.


"Istriku kan memang guru masak dan jago, Cah Bagus!" jawab Dokter Nando.


"Ah kamu ini biasa aja, ini masakan paling mudah dibuatnya!" jawab Nek Nurma tersipu.


Dokter Nando dan Nek Nurma meski sudah kakek Nenek masih sering rayu merayu dan mesra. Adip pun sangat suka melihatnya.


"Oh iya Nek? Kalau gitu ajari saya Nek!"


"Emang kamu bisa masak?"


"Bisa Nek!"

__ADS_1


"Rumahmu dimana?"


"Saya di sini kos Nek!" jawab Adip.


Sebelum pulang Adip, Bunga dan Kakek Nenek itu bercengkerama hangat. Sementara Dokter Gery sudah pergi karena urusan pekerjaan sejak Adip selesai bekerja. Adip kemudian pulang diantar sopir Dokter Gery, ke kafe dimana motor Adip ditinggal.


"Keluarha Gunawijaya? Amer Ikun? Ah ada ada saja?" gumam Adip selama perjalanan ke Kafe.


*****


Flashback waktu sebelumnya.


"Bug!"


Jingga langsung menutup pintu kencang setelah masuk ke mobil Pak Rendi.


"Kok duduknua di belakang? Sampingku kosong kok!" tegur Pak Rendi.


Pak Rendi kan mengendarai mobilnya sendiri. Jadi Pak Rendi mau Jingga menemninya di depan. Eh Jingga malah duduk di belakang.


"Nggak mau! Saya mau di sini!" jawab Jingga ketus.


"Saya bukan sopir kamu! Pindah nggak!" jawab Pak Rendi.


"Nggak. Saya nggak mau!" jawab Jingga melawan.


"Oke, fine, nggak masalah kamu nggak mematuhiku, saya tinggal lapor ke Babamu, dan!"


Pak Rendi selalu mengancam Jingga dengan aduan, tapi belum sempat dijawab sudah langsung dipotong.


"Pak! Nyebelin banget sih. Apa- apa aduin apa-apa aduin. Kan bener, bapak itu sopir saya. Salh siapa bapak menyanggupi perintah Baba saya antar jemput saya. Kalau bapak nggak mau. Ya udah saya turun nih!" jawab Jingga berani.


"Oke, silahkan turun dan silahkan pergi. Saya tetap akan lapor ke Babamu, bahwa anaknya hari ini mengelabuhi Bunanya. Dia juga berkencan dengan mahasiswa laki-laki di kantin kampus!" ucap Pak Rendi lagi di luar dugaan Jingga.


"What? Anda tau saya berkencan di kantin?" tanya Jingga kaget.


"Kira-kira apa ya respon babamu kalau tau putrinya diam-diam pacaran dengan seniornha dan ketemuan di kantin!" ucap Pak Rendi lagi mendominasi.


"Pak!" pekik Jingga merasa Pak Rendi menyebalkan. Ternyata Pak Rendi beneran jadi mata-mata Babanya. Hidup Jingga di kampus pun kembali terasa semakin sesak.


"Keluarlah dan pindah ke sampingku!" ucap Pak Rendi memberi perintah tanpa mau ditolak.


Jingga kemudian kalah dan patun. Jingga keluar dan duduk di samping Pak Rendi.


****


Author minta maaf ya udah ingkar janji, tapi insya Alloh author usahaain unk tetap lnjutin cerita ini sampai end kok. Semoga bisa rutin Uo dan double ya...


Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2