
“Huuuft!”
Jingga langsung menjatuhkan badan di kasur empuknya, dipandanginya satu persatu setiap ornamen dan hiasan di kamar kesayanganya. Serba lucu mahal dan menarik. Berbeda berkali- kali lipat dengan kamar di pulau P.
Entah kenapa, meski dulu tempat itu tempat favoritnya, sekarang semua terasa hambar, seperti asing tak bernuansa.
Di otak Jingga kini terhubung ke Adip, tempat ternyamanya sekarang adalah pundak Adip.
Jingga sudah kenal bagaimana hangat dan tenangnya rengkuhan tangan kekar Adip dan dada bidang Adip menjadi tempatnya bersandar.
Bagi Jingga seperti apapun tempatnya yang penting ada Adip, di situlah Jingga betah. Jingga bisa merasakan detak jantungnya memacu sehat, merasakan aliran semangat dan jiwanya hidup.
Bahkan Jingga tak lagi rindu pada sahabat- sahabatnya seperti Amora dan Faya.
Menemukan satu teman hidup seperti Adip, Jingga merasa sepruh hidupnya sudah terpenuhi dan lengkap.
“Bagaimana kalau Baba marah? Ya Baba pasti marah!” batin Jingga mulai membayangkan Babanya.
Jingga kemudian memeluk guling berbentuk boneka yang ada di sampingnya.
“Usaha aja dulu! Berhasil atau tidaknya terserah Alloh kan? Aku harus cerita ke Baba. Aku istri Adip. Cuma Bang Adip yang aku mau, titik!” batin Jingga melepaskan dirinya dari memeluk guling.
Jingga pun berdiri, menyapa kembali ruangan yabg lantainya berkilauan dan wangi, tempatnya memanjakan diri, berbaring dengan air hangat dan aroma terapi, membiarkan sabun- sabun mahal membuang kotoran dan sel- sel kulit mati, meremajakan kulitnya yang selama dua minggu ini kering dan gersang karena perubahan alam.
Berbeda sekali dengan tempat mandi Jingga di pulau P. Berdindingkan pepohonan tanpa atas, jangankan berbaring di bathub dengan sabun yang wangi, Jingga mandi masih harus tetap memakai pakaian basahan.
*****
“Cup... cup... cup...”
Di balkon istana 3 lantai yang menghadap ke taman bunga yang indah, Buna Alya yang rambutnya masih sedikit basah dan bau sampo, berdiri masih dengan dress rumahan yang sedikit terbuka.
Buna berdiri di balkon menyambut mentari yang mulai menampakan dirinya. Mentari yang menyapa hangat semua makhluk dengan sinar kekuninganya, membuat bunga- bunga indah tampak berseri berlomba menunjukan keelokanya.
Baba Ardi berdiri di belakangnya, menelusupkan kedua tanganya, memeluk Buna dari belakang, dengan lembut dan hangat menciumi Buna. Kemesraan Baba dan Buna memang tak pernah lekang, usia tak menghalangi mereka untuk selalu hangat dan saling mencinta.
“Terima kasih Sayang, kamu sudah jadi istri hebat dan ibu hebat untukku dan anak- anakku!” tutur Baba sweet, memuji Buna.
“Hemm... Jingga katanya datang jam berapa Ba? Jangan- jangan udah pulang?” tanya Buna mendongakan kepala mendengar suaminya membahas anak- anak. Buna dari malam masih belum keluar kamar.
Jika Baba habis pergi jauh dan lama, Baba memang meminta waktu berdua lebih lama, tidak liburan keluar atau piknik, cukup di kamar tapi tidak boleh diganggu.
Anak- anak mereka pun diasuh maid atau kakak- kakaknya. Meski hanya di dalam kamar, karena kamarnya luas bagus dan banyak hiasan cukup menggantikan suasana berlibur. Nilai plusnya di rumah Buna masih tetap bisa memantau anak- anaknya.
“Harusnya sih udah sampai, barangkali mampir minum atau mampir istirahat, biarlah Baba percaya sama Rendi!” jawab Baba Ardi cuek.
__ADS_1
“Buna pengen nyambut mereka, Ba... kita keluar yuk!” ajak Buna ke Baba keluar tidak sabar bertemu putrinya.
“Sebentar, Sayang. Kamu kalau keluar pasti mengabaikanku, aku masih kangen kamu. Anak- anak kita udah gede kok!” tutur Baba menolak ke inginan Buna keluar kamar cepat- cepat.
Kalau masalah Iya dan Iyu, asal ada Nila, Buna tenang, tapi kan Buna rindu anak sulungnya yang amat manja dan keras kepala itu.
“Buna kangen Jingga, Ba...! Yuk keluar yuk!” ajak Buna lagi.
“Seebentar, sekali lagi ya... siang nanti Baba akan sibuk, kemungkinan besok akan sibuk lagi!” jawab Baba malah minta Buna kembali naik ke ranjanggnya.
“Ba... semalam kan udah, Baba udah tua lho!” tegur Buna merasa tenaganya sudah tak sehebat dulu, apalagi kehamilanya baru mulai masuk masa nyaman.
Baba tidak memperdulikan kata Buna malah mengangkat istri kecilnya dan mengajaknya kembali ke kamar.
****
Jingga yang sudah cantik dan kembali wangi duduk di taman tengah menghadap ke kolam berkumpul bersama adik- adiknya.
Keringat Jingga keluar, dengan jarinya bergerak bebas mengetuk meja kaca.
Riuh cerewetnya Biru dan Hijau yang main air bersama Amer dan Ikun tak mengusiknya, bahkan Nila yang berulang kali menawarkan sarapan tak dia hiraukan.
Jingga sedang mempersiapkan rangkaian kata memberitahu Babanya, Jingga sudah menikah, meski terpaksa dan hanya mengikuti adat, tapi Jingga ingin pernikahan itu berlanjut nyata.
Amer benar- benar mau cuci tangan dan hanya akan cerita setelah Jingga cerita. Kalau emosi Baba baik baru Amer yang maju. Jika Baba murka, Amer mau ambil posisi aman, Amer sejahat itu memang.
“Ck...!” decak Jingga kesal. “Apa aku ketuk kamar Buna aja ya?” batin Jingga lagi.
“Jingga sayang...”
Terdengar suara lembut dan lemah dari dalam, Jingga pun menoleh ke sumber suara.
Seorang perempuan tua dengan rambut yang memutih sempurna merekahkan senyum hangat ke Jingga. Yang turun menyambut Jingga duluan justru Oma Rita, bukan Buna dan Baba.
“Omaaa...!” teriak Jingga bangun dan segera memeluk Oma tersayangnya.
“Cucu Oma sudah pulang!” tutur Oma memnciumi kening Jingga. “Kamu hitaman, jerawatan juga!” ceplos Oma spontan.
“Oma ih... tapi tetep cantik kan?” jawab Jingga tersenyum.
“Cucu Oma kan selalu cantik!” jawab Oma lagi.
“Biar saya yang dorong Mbak!” tutur Jingga ingin mengambil alih suster.
“Baik, Non!” jawab suster Oma.
__ADS_1
“Oma Jingga mau cerita!” tutur Jingga ke Oma.
“Ayo! Oma juga ingin dengar semua pengalaman serumu!” jawab Oma.
“Tapi Jingga pengen ngobrol berdua Oma, kita ke ruang tengah aja ya... kalau di luar nanti diganggu Iya sama Iyu!” tutur Jingga merayu Oma.
“Oke!” jawab Oma Rita tersenyum.
Buat Oma Rita, Jingga memang cucu tersayangnya, Jingga anak pertama Baba dan Buna yang sangat Oma nantikan dulu.
Sebelum mendiang Opa Aryo berpulang, Oma dan Opa lebih mendominasi merawat Jingga ketimbang Baba dan Buna.
Semua mau Jingga Oma turuti, itulah kenapa dalam waktu dekat Buna hamil lagi dan sifat Jingga jauh dari Buna.
Baba dan Buna dulu dibuat enak sama Oma karena anaknya lebih sering dibawa Oma.
Kini Oma dan Jingga berada di ruang tengah berdua.
“Oma...!” panggil Jingga.
“Hem...”
“Jingga nggak bisa turutin kata Baba untuk menikah dengan pria pilihan Baba!” tutur Jingga memulai.
“Kenapa, Sayang? Karena kamu tidak cinta?” tanya Oma menebak, Jingga seperti Baba dulu, sok menolak dijodohkan nyatanya malah udah ambil start duluan dengan orang yang sama.
Jingga menggeleng.
“Dengarkan Oma!” lanjut Oma sok tahu lagi. "Kalau udah jodoh, cinta nanti datang karena terbiasa. Oma sudah bertemu dengan Nak Rendi, dia laki- laki yang baik. Oma yakin kalian akan bahagia dan saling mencintai suatu saat nanti. Babamu contohnya. Dulu Baba nolak dijodohin sama Bunamu, nyatanya sekarang anaknya mau tujuh!" tutur Oma panjang.
Jingga hanya menghela nafasnya karena itu cerita yang sudah sangat Jingga hafal.
"Jingga sudah menikah dengan orang lain, Oma!" ceplos gemas dan tidak sabar memberitahu.
Seketika itu Oma Rita melotot dan tidak percaya.
"Jingga cinta orang lain Oma. Di pulau P kemarin kita menikah. Jingga cinta dia, Jingga tidak mau nikah sama Pak Rendi!" tutur Jingga lagi.
Jingga sangat berharap Omanya mengerti.
Akan tetapi Oma Jingga tidak berkata-kata dan justru memegangi dadanya.
"Jingga..." lirih Oma nafasnya mulai sesak dan Jingga panik.
"Oma... oma baik- baik saja kan?"tanya Jingga panik mendekat dan berlutut ke Oma yang terduduk lemas dan nafasnya berat.
__ADS_1
"Ambilkan obat Oma!" lirih Oma... menunjuk ke laci tempat obat.
Jingga pun berlari panik mencari obat, sayangnya tidak ada, Jingga kemudian berteriak minta tolong ke anggota keluarga lain untuk menolong Oma.