Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
46. Hilang Respect


__ADS_3

Malam itu Si Kembar tidur bersama Oma Opanya. Bunda Alya tidur bersama Bunga dan Jingga. Seharusnya Buna tidur sendiri, tapi Jingga tidak tega kalau pagi- pagi Buna morning sickness sendirian.


Itulah sebabnya saat mendengar Nila akan pulang, Omanya akan tinggal sementara, Jingga sangat bahagia dan lega sekali. Perasaan bersalah Jingga meninggalkan ibunya berkurang. 


Jingga merasa semua hal baik berpihak padanya. Jingga ingin lari dan pergi dari penjara Babanya sendiri. Dan alam seperti merestuinya. 


Adzan subuh terdengar dari salah satu pegawai Baba Ardi. Karena istana Gunawijaya di pagar tinggi dan jauh dari pemukiman. Baba Ardi memang membuat tempat sholat sendiri, khusus keluarga Gunawijaya dan karyawanya. Oma Nurma dan Opa Nando terbangun dan bergabung dengan karyawan untuk jamaah. 


Di kamar Buna. Alarm dari tubuh Buna pun menyala, perut Buna terasa mual dan mendorongnya ke kamar mandi. 


Jingga mendengar pergerakan ibunya pun langsung sigap membantu. Jingga sampai hafal bagaimana menangani ibu hamil di pagi hari. Memapahnya ke kamar mandi, memijat pundak dan kepalanya, memberikan obat, dan menyiapkan minuman hangat. 


Bunga yang masih baru menetas mau melangkah menjadi gadis dewasa terbengong melihat adegan itu. 


“Kasian Buna!” batin Bunga. “Kak Jingga keren” batin Bunga.


Karena melihat cekatanya Jingga, entah kenapa di otak Bunga jadi muncul bayangan- bayangan menjadi dokter. Ada bayangan putus- putus di hari tua Papi Maminya nanti, pasti mereka juga butuh Bunga. Kalau Bunga jadi Dokter, Bunga juga jadi akan bisa obatin Mami Papinya.


Setelah ditangani Jingga, kini Buna mendingan lagi. Mereka kemudian sholat subuh di kamar.


“Buna udah baikan Sayang!” ucap Buna lembut saat Jingga mendekatinya lagi.


“Beneran udah nggak pusing dan mual lagi?” tanya Jingga. 


“Nggak! Sana kalian mandi dan siap- siap. Panggil Mba, untuk bantu mandiin Iya dan Iyu ya, bangunkan mereka. Kasian Oma Opa kalau harus urus mereka!” tutur Buna. 


“Ya Bun!” jawab Bunga dan Jingga bersamaan. 


Jingga dan Bunga melakukan apa yang diperintahkan Bunanya. Setelah memastikan Hijau dan Biru diurus dengan baik, mereka mandi dan bersiap-siap. Setelah itu mereka sarapan bersama.


Pagi ini, Jingga berencana menyanggupi permintaan Bunga. Karena Oma dan Opa akan menetap sementara waktu di rumah Buna, Bunga jadi harus pulang sendiri bersama sopir, itu sebabnya Jingga jadi kasian dan mau menemaninya. 


“Kenapa Bunga nggak ikut Oma Opa, nginep lama sih di sini?” tanya Jingga di jalan.


“Kasian Papi dan Mami, Kak! Lagian kan Bunga mau urus kucing- kucing Kak Amer, hari ini rencananya Veteriner Ganteng itu mau ambilin kucing- kucing Kak Amer dan mau anter ke pembelinya, Bunga mau ucapin salam perpisahan!” jawab Bunga bercerita. 


“Hmmm yaya. Kak Jingga tapi nggak suka kucing Bunga!” ucap Jingga. 


“Ya udah Kak Jingga nggak usah ke kandang, tunggu aja di dalam!” jawab Bunga. 


"Oke!"


“Tapi emang, Kak Jingga nggak penasaran buat ketemu sama Veteriner ganteng itu? Orangnya baik lho Kak!” tanya Bunga. 


“Sok weh, buat kamu aja, Kak Jingga nggak tertarik, buat kenal dia! Kak Jingga udah punya pacar!” jawab Jingga percaya diri.


“Hoh ya? Yang dosen kemarin sore itu ya? Jadi Kak Jingga beneran mau nikah?” tanya Bunga polos dan antusias mendengar kakak sepupunya punya pacar.


“Hush bukan, Kak Jingga nggak suka sama dosen itu!” jawab Jingga menyanggah.

__ADS_1


“Terus?” tanya Bunga. ‘


“Tapi kamu jangan kasih tau ke siapapun ya!” 


“Ya!” 


“Janji!” 


“Janji Kak!” 


“Kak Jingga , pacaran sama kakak tingkat, Kakak! Namanya Kak Tama, bentar lagi dia mau jadi dokter muda!” tutur Jingga curhat ke sepupunya. 


“Wah, Kak Jingga ternyata diam- diam ya,” 


“Kenapa emangnya?“


“Bunga kira, kak Jingga anak Buna, yang nurut dan nggak pacaran, eh Kak Jingga malah punya pacar sekaligus punya calon pasangan dari Baba!” ucap Bunga lagi polos mengomentari Jingga.


“Ih kamu inih. Anak Buna itu kan Nila, dia anak Baba dan Buna yang patuh. Kak Jingga nggak bisa, makanya bantuin Kaka ya biar kaka bisa berhasil menghindar dari perjodohan Baba!” ucap Jingga lagi dengan bodohnya bercerita dan meminta bantuan ke anak baru lulus SMA yang masih polos. 


“Kak, kata Bunga dosen yang kemarin sore itu ganteng lho Kak! Baba juga pasti kan milihin Kak Jingga nggak asal, kenapa Kak Jingga nolak sih, apa yang namnya Kak Tama itu lebih ganteng?” tanya Bunga polos. 


“Ganteng sih relatif ya? Ganteng semua. Tapi? Ah pokoknya Kak Jingga nggak mau sama dosen itu!” jawab Jingga lagi. 


“Kalau Bunga jadi Kak Jingga, Bunga sih mau- mau aja kalau punya suami kek dia! Udah ganteng dosen lagi.” ucap Bunga lagi. 


“Kamu mah semua dibilang ganteng, Veteriner dibilang ganteng, dosen gila dibilang ganteng. Kak Jingga belum siap nikah! Pokoknya Kak Jingga nggak mau dijodohin!” jawab Jingga lagi. 


"Bantuin makanya!"


"Bunga nggak tahu gimana cara lawan Baba Ardi, Kak! Cuma Oma dan Buna deh yang berani ke Baba. Kak Jingga minta bantuan ke mereka aja!” ucap Bunga jujur. 


“Hemm!” Jingga pun manyun cerita dengan Bunga tidak ada penyelesaianya. 


Mobil mereka pun sampai di rumah besar Dokter Gery. Benar saja, Adip dan rekanya sudah sampai di rumah dokter Gery. Mereka tampak berjalan menuju ke kandang. Bunga pun menampakan ekspresi bahagia melihatnya. 


Untuk gadis muda yang baru puber dan jomblo seperti Bunga, semua laki- laki tampan terlihat menyenangkan untuk dijadikan teman.


Sayangnya Bunga juga sama polosnya dengan Jingga, mereka tidak cukup ahli dan berpengalaman dalam pacaran. Mereka hanya sebatas suka saja melihat pria tampan.  Jika didekati mereka sama-sama mlempem.


“Itu Kak, mereka. Veteriner yang Bunga ceritain!” tutur Bunga menunjuk Adip yang berjalan sambil mengobrol dengan Dokter Gery. 


Jingga melihat sekilas dari dalam mobil yang berjalan lambat karena mau berhenti. Sayangnya Adip berjalan menjauh, memasuki kandang, jadi Jingga tidak melihat wajahnya. 


“Tinggi! Badanya bagus kalau dari belakang!” ucap Jingga komentar tubuhnya reflek.


“Yuk turun yuk Kak, kasih salam perpisahan ke kucing Kak Amer yang mau dijual!” ajak Bunga turun. 


“Enggak Ah! Kan udah Kak Jingga bilang, Kak Jingga nggak suka!”jawab Jingga menolak. 

__ADS_1


“Kok gitu? Bentaran doang, Kak!” rayu Bunga lagi.


“Kak Jingga nggak suka kucing, Kak Jingga mau temuin Tante Mira aja!” jawab Jingga memilih masuk. 


Bunga pun manyun.


"Ya udah!"


"Daah. Kaka masuk ya!"


Jingga memang berbeda dari Nila ataupun Amer. Jingga sedikit angkuh, cuek, selalu ingin protes dan tidak suka kucing. Tidak seperti Amer, Ikun dan Nila yang penurut, ramah dan suka kucing. 


Jingga cenderung menuruni sifat Baba. Tapi dibalim itu Jingga tetap punya sifat baik yang menurun dari ibunya. Jingga juga penyayang.


Bunga berjalan sendirian ke kandang. Adip terlihat mulai memanggil dan memindahkan kucing- kucing Amer. Bunga menyapa papinya dan tamunya dengan ceria. 


“Morning Papi!” sapa Bunga berlari ke Papinya memeluk dan bermanja. 


“Anak Papi udah pulang? Morning , Sayang!” jawab Dokter Geri mengusap rambut Bunga tanda sayang dan menciumnya. 


Adip dan temanya menganghukan kepalaa sebagai salam hormat ke anak Pak Menteri. Bunga yang sudah 17 tahun terlihat manja sih bersikap begitu dengan ayahnya, Adip jadi agak risih melihatnya. Tapi Adip mencoba paham orang kaya mah begitu. Tidak seperti Adip yang terbiasa hidup sendiri. 


“Pagi Kak Adip!” sapa Bunga ramah. 


“Pagi Non Bunga!” jawab Adip ramah. 


“Kamu kesini sama siapa?” tanya Dokter Gery. 


“Samaa Kak Jingga!” jawab Bunga. 


Adip yang sedang memegang kucing sedikit melirik ke Bunga mendengar nama Jingga. Ah tapi Adip kan tidak terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting, orang bernama Jingga banyak. Adip pun melanjutkan aktivitasnya. 


“Lhoh manaa Kak Jingga?” tanya Dokter Gery. 


“Kak Jingga nggak mau ke sini, katanya nggak suka kucing!” jawab Jingga. 


“Gimana sih? Kan dia kakaknya Amer, nggak mau liat perpisahan sama kucing adeknya! Panggil ke sini aja!” tutur Dokter Gery lagi. 


“Bunga udah ajak tapi Kak Jingga nggak mau Pih!” jawab Bunga. 


“Bilang Papi yang manggil!” jawab Dokter Gery. 


“Ya!” jawab 


“Tidak apa- apa Dok, jangan dipaksa, saya sudah komunikasi dengan den Amer kok. Menyukai binatang itu dari hati, kalau hatinya tidak suka, dipaksa seperti apa tidak akan suka. Biarkan saja! Mungkin non Jingga itu hatinya keras!” sahut Adip menyela dengan berani. 


Saat mendengar Amer menitipkan kucing, ke sepupunya padahal di rumah Amer ada banyak orang dan pembantu. Adip sedikit merasa jengkel dan berfikir buruk terhadap keluarga Amer.


Adip mengira orang- orang yang tidak sayang binatang itu hatinya keras, angkuh dan tidak peduli alam. Ditambah tega- teganya menitipkan ke orang lain, harusnya kan hewan peliharaan itu seperti keluarga. Apalagi kucing itu hewan kesayangan rosul. 

__ADS_1


Lebih parahnya lagi mendengar cerita Bunga, perempuan yang bernama Jingga itu ada di sini tapi tidak menemuinya. Bagi Adip itu sangat tidak terpuji. Adip langsung hilang respect ke perempuan bernama Jingga itu. 


__ADS_2