
"Helmnya dipakai ya Bu!" ucap Adib sopan dan santun ke pelanggan ibu- ibu paruh baya sambil memberikan helm.
"Makasih ya Nak!" jawab ibu itu menerima helmnya.
"Dianter sesuai aplikasi kan Bu?" tanya Adip lagi.
"Iya. Helm-nya wangi banget Nak!" tutur ibu itu jujur saat mengangkat helmya.
Adip langsung mengernyitkan mata. Tadi pagi abis dihina- hina Jingga bau. Sekarang dipuji wangi.
"Masa sih Bu?" tanya Adip.
"Iya. Nih kalau nggak percaya!" ucap ibu itu memberikan helm dikira Ibu itu bohong.
"Iya Bu, percaya percaya. Hehe, bercanda. Itu biar pelanggan saya nyaman dan suka Bu!" ucap Adib lagi.
Adip baru ingat, mungkin itu wangi rambut Jingga yang tertinggal. Jingga kan rutin perawatan rambut.
"Ya ya. Besok saya pesan kamu lagi deh!" ucap Ibu itu.
"Ya, Bu. Ayok siap Bu!" jawab Adip mengajak ibu itu naik. Ibu itu mengikuti Adip.
Adip pun mengantarkan ibu itu sesuai tujuan. Setelah melewati jalanan yang terik dan diterpa angin, Adip sampai sesuai pesanan.
"Namamu siapa Nak?" tanya Ibu itu.
"Sesuai profil di aplikasi Bu!" jawab Adip.
"Yang pesankan itu teman ibu. Ibu nggak bisa pesan online!" jawab Ibu itu jujur tidak tahu aplikasi dan nama Adip.
"Nama saya Adipati, teman-teman panggil saya Adip Bu!" jawab Adip.
"Oh. Nak Adip udah punya pacar belum?" tanya Ibu itu.
"Hehehe!" Adip malah nyengir.
Kalau dihitung, ini adalah pelanggan ibu-ibu yang keseratus selama dua tahun Adip jadi tukang ojek online. Adip sampai hafal, ibu ini pasti mau jodohin Adip dengan anaknya. Karena Adip sudah hafal, Adip pun berbohong.
"Sudah Bu!" jawab Adip.
"Baru pacar kan?"
"He...memangnya kenapa Bu?" tanya Adip lagi.
"Ibu mau punya mantu kaya kamu. Udah ganteng, pekerja keras, sopan lagi. Anak ibu baru lulus kuliah lho. Ibu punya toko beras, tak kenalin sama anak saya mau?" ucap ibu itu persis seperti perkiraan Adip.
"Makasih Bu. Makasih, saya udah punya calon. Hehe!"
"Ya ampun, selain ganteng kamu juga setia juga. Pasti beruntung perempuan yang jadi istrimu nanti!" ucap Ibu itu tulus.
__ADS_1
"Ya, Bu terima kasih!"
"Bener nggak mau tak kenalin? Kalau mau ayo mampir!"
"Bener Bu. Saya ada orderan lagi! Terima kasih!" jawab Adip menghindar.
"Ya sudah hati- hati ya! Terima kasih sudah antar ibu!"
"Ya Bu. Ingat kasih bintang lima ya Bu, minta tolong ke putrinya suruh kasih bintang 5!"
"Ya!" jawab Ibu itu.
Mereka kemudian bertransaksi, dan setelah selesai urusanya Adip bersiap melanjutkan pekerjaanya. Adip memang sepopuler itu sebagai tukang ojek. Banyak pelanggan Adip yang terpesona oleh paras dan kesopanan Adip.
Belum jadi Adip menyalakan mesin motor, ponsel Adip berbunyi.
"Dokter Gery!" gumam Adip melihat nama kontak yang tertera di ponsel Adip.
Adip pun segera mengangkat panggilan teleponya itu. Dokter Gery adalah seorang Dokter anestesi yang merangkap menjadi seorang menteri kesehatan. Tidak ada hubunganya dengan Adip sih. Adip kan seorang Veteriner yang bekerja di bawah naungan, Kementerian pelestarian lingkungan hidup atau kementerian pertanian dan peternakan, bukan kementerian kesehatan.
"Halo, Dok. Selamat Siang!" sapa Adip tetap mengangkat telepon.
Meski Dokter Gery tidak ada sangkut paut dengan Adip. Adip tetap menjalin silaturrahim dengan siapapun, apalagi orang penting seperti Dokter Gery.
Adip berkenalan dengan Dokter Gery di sebuah seminar anestesi. Meski belum mengambil sesialisasi Dokter hewan kelompok apa, tapi Adip gemar menuntut ilmu setiap ada kesempatan. Adip juga tidak ragu mempelajari sesuatu di luar spesialisasi dirinya.
Saat seminar itu, Adip yang mempunyai jurusan pendidikan paling melenceng dari peserta lain, tapi Adip tetap antusias dan paling aktif bertanya. Dokter Gery jadi tertarik dengan mahasiswa seperti Adip. Adip merasa terhormat saat acara selesai dipanggil Sang Pengisi acara.
"Iya Dok, benar saya sendiri. Suatu kehormatan Dokter Gery menelpon saya . Ada yang bisa saya bantu Dok?" jawab Adip.
"Kok kamu tahu ini aku?"
"Saya simpan nomer Dokter waktu itu." jawab Adip
"Oh iya!"
"Mohon maaf, ada perlu apa ya Dok?"
"Aku dengar kamu udah lulus dari pendidikanmu?" tanya Dokter Gery.
"Ya benar Dok. Alhamdulillah saya sudah lulus!" jawab Adip.
"Bisa kita bertemu?" tanya Dokter Gery.
"Em. Ketemu?" tanya Adip sedikit kaget.
"Iya? Kamu tidak sibuk kan?"
"Ehm!" Adip berdehem, orderan ojeknya memang sedang kosong, rencana Adip mau berkemas persiapan ke daerah tempat dia akan mengabdikan dirinya.
__ADS_1
"Bagaimana? Ada waktu?" tanya Dokter Gery lagi
"Ya Dok, saya tidak sibuk, saya ada waktu!"
"Oke, kapan saya bisa bertemu?" tanya Dokter Gery lagi.
"Sekarang saya free Dok. Tapi kalau boleh tau, dalam rangka apa ya Dok?" tanya Adip lagi penasaran. Ditelpon Dokter Gery seperti mendapatkan bintang jatuh.
"Nanti kita bahas kalau ketemu ya!" tutur Dokter Gery.
"Baik Dok!"
"Kalau begitu datanglah ke kafe Serenity sekarang ya!"
"Iya Dok. Siap, kebetulan saya ada di daerah situ. Saya meluncur ke sana!"
"Siip tunggu ya!"
"Ya Dok!" jawab Adip sopan.
Entah apa yang akan disampaikan Pak Menteri kesehatan itu, dengan gemetaran Adip menutup ponselnya. Adip kan anak jalanan yang tidak ada koneksi dengan orang atas. Ditelpon Pak Menteri Adip jadi gugup.
Makan di kafe Serenity yang terkenal makananya mahalpun Adip belum pernah. Sebagai mahasiswa perantau dari daerah dan kuliah mengandalkan beasiswa, makan di warung lamongan pinggir jalan dengan menu
bebek goreng saja itu sudah termasuk mewah.
Adip sesekali makan makanan mewah jika ada acara mewakili organisasinya bersama dosen atau event dan itupun selalu gratisan. Kalau untuk perayaan tertentu bersama kawanya atau memakai uang pribadi, Adip lebih suka bakar-bakar ikan sendiri ramai-ramai.
"Stay cool Dip. Dia manusia biasa kok! Ayo temui dia! Lets go!" batin Adip menangkan dirinya. Adip pun segera melajukan motornya sesuai dengan tempat yang diminta Dokter Gery.
Adip kan selalu meyakinkan dirinya, jangan pernah kagum pada manusia selain Rosulnya. Semua manusia sama saja di hadapan Tuhan, semua tergantung akhlak dan budi pekertinya. Tidak ada istilah kasta buat Adip, meski pada kenyataanya Adip nerveos ditelpon Dokter Gery.
****
Menit demi menit berlalu. Satu persatu soal berhasil Jingga kerjakan. Seperti sebelumnya, Jingga menjadi tumpuan teman-temanya menjawab soal ujian. Padahal hari ini Jingga sedikit ngawur karena kepalanya pusing, bahkan jika biasanya Jingga meneliti jawabnya hari ini tidak.
Jingga memutuskan untuk mengerjakan soal jawabanya cepat. Jingga ingin menemui Tama sebelum jam yang diminta. Setelah selesai menemui Tama baru menemui Pak Rendi.
"Tak!" Jingga meletakan ballpointnya di meja dengan keras.
Jingga bangun dan mengumpulkan lembar jawabanyaa.
"Sudah selesai Jingg?" tanya Pengawas.
"Sudah Bu!" jawab Jingga tegas.
"Sudah diteliti?"
"Sudah!" jawab Jingga lagi.
__ADS_1
Pengawas mengangguk dan mempersilahkan Jingga pergi. Jingga kemudian segera bergegas keluar. Dihubunginga ponsel Tama dan diajaknya bertemu di kantin sekarang.