
“Kau mau ajak aku kemana?” tanya Jingga heran mengikuti Adip.
“Ikut saja!” jawab Adip senyum senyum sendiri.
Jingga diam dan menatap aneh ke Adip, katanya mau kasih minuman karena Jingga lelah tapi kenapa justru membuat Jingga semakin lelah dengan berjalan jauh begini.
“Temanmu tadi kemana?” tanya Adip di sela- sela mereka berjalan.
“Teman? Siapa? Yuri?” tanya Jingga ke Adip.
“Aku nggak tau namanya? Yang tadi beramamu," jawqb Adip sambil berjalan melewati semak belukar.
Jingga langsung menatap Adip tidak mengira Adip tidak tahu nama Yuri? Kan kalau bertemu, Adip selalu ramah ke Yuri, Adip juga menyapa meski hanya tersenyum. Apa iya Adip tidak tahu nama Yuri.
“Kau sungguh tidak tahu namanya?” tanya Jingga menanggapi perkataan Adip dengan serius.
Adip yang berjalan di depan Jingga kemudian berhenti dengan ekspresi yang tidak nyaman menoleh ke Jingga.
“Ya. Aku tidak tahu namanya! Kenapa? Aku tidak mungkinkan menghafal semua nama orang yang aku temui! Apa ada yang salah?” tanya Adip biasa saja.
Dheg
Jingga langsung terdiam, seperti ada angin yang mendesir, berputar dan menari menelusup ke relung hati Jingga.
Adip selalu ramah dan terlihat akrab ke Yuri, tapi Adip tidak mengingatnya, bahkan nama Yuri saja Adip tidak tahu. Padahal Yuri, Nita Tari dan yang lain akan sangat percaya diri dan bersemangat menceritakan namanya. Itu artinya Yuri tidak spesial dan penting buat Adip.
“Hei!” panggil Adip membuyarkan lamunan Jingga yang terbengong.
Adip tidak ingat nama Yuri, tapi kemarin Adip ingat, bisa menyebutkan dan tahu nama panjang Jingga. Jingga masih tidak menyangka dan Jingga mengartikanya dengan banyak terkaan.
“Ya!” jawab Jingga tersentak.
“Kenapa tidak jawab? Dimana temanmu tadi?” tanya Adip lagi masih tidak tahu kalau sekarang Jingga sedang menahan jantungnya yang berdegub kencang bahkan mau loncat.
Adip yang tadi masih sempat memarahi Jingga, meremehkanya, dalam waktu singkat jadi terlihat baik. Bahkan ternyata Adip mengingat nama Jingga tapi tak mengingat nama orang lain.
“Oh ya, Yuri tadi mengeluh sakit perut, karena sudah selesai jadi kusuruh dia pulang duluan! Kenapa?” jawab Jingga berusaha mengusir dan menyamarkan rasa gugupnya.
“Oh...!” jawab Adip mengangguk, kini jantung Adip bedegub lebih kencang dari Jingga. Jika Yuri tak ikut, itu artinya Adip akan berduaan dengan Jingga. Di balik bukit yang sedang Adip dan tuju adalah surga rahasia yang anak- anak tunjukan ke Adip. Adip berniat mengajak Jingga melihat itu.
“Kenapa?” tanya Jingga lagi.
Adip menelan ludahnya ragu, apa dia harus melanjutkan perjalananya berduaan dengan Jingga ke tempat indah itu karena Yuri sudah pulang, atau lain kali saja saat ada teman- teman yang lain.
“Kau tadi bilang mau memberiku minuman, kenapa mengajakku kesini? Dimana kita sekarang? Kau mau memberiku minuman apa?” tanya Jingga lagi karena Adip justru berhenti di atas batu undakan menuju ke puncak bukit.
"Sayang sekali kalau temanmu tidak ikut!" jawab Adip.
"Memang kenapa? Kita mau kemana?" tanya Jingga
__ADS_1
“Apa kamu yakin bisa melewati bukit ini? Aku punya minuman yang sangat lezat tapi harus lewati bukit ini!” jawab Adip kemudian menunjuk perbukitan di depanya.
“Memang minuman apa?” tanya Jingga ingin tahu. Di tangan AdiP, Adip membawa sebilah golok kecil.
“Kau yakin tidak mampu melewati bukit ini?” tanya Adip lagi.
Jingga diam menatap jalan setapak dan berundak di depanya itu, lalu Jingga melihat ke belakang, tidak terasa kaki Jingga sudah jauh melangkah, pantas Jingga keringetan lagi.
“Yakin!” jawab Jingga mantap melanjutkan perjalanan.
Jingga semakin tidak ingin dianggap lemah. Apalagi mereka sudah setengah perjalanan, Jingga juga penasaran kemana Adip akan membawanya.
“Oke!” jawab Adip mengangguk.
Adip kembali menghadap ke depan dan kembali menggerakan kakinya melangkah. Setapak demi setapak mereka injak tangga terindah yang alam ciptakan. Setelah melewati padang semak belukar, mereke memasuki celah jalan seperti lorong bebatuan. Sebuah jalan sempit yang kanan kirinya tebing kecil tak beraturan.
Adip berjalan di depan tanpa menoleh ke Jingga apalagi menuntunya. Adip hanya berjalan sesekali memotong beberapa ranting semak yang bisa menghalangi jalanya.
Jingga pun menikmati perjalanan itu. Di sela- sela dinding batu itu juga mengalir air alam yang sangat jernih. Juga menempel dan tumbuh rumput- rumput yanng melahirkan bunga- bunga indah dengan warna warni.
Karena kanan Kiri Jingga batuan indah dan berkelak kelok, jadi tidak panas apalagi batunya begitu besar, seperti tebing tapi kecil.
Tidak berasa lorong yang tejepit bebatuan mereka lewati. Awan cantik dan langit biru kembali melambaikan tangan menyapa mereka diiringi ayunan warna hijau yang menebarkan kesejukan.
“Wuaah, masya Alloh... indahnya!” gumam Jingga terhenti begitu perjalanan melewati jalan setapak mengarungi jalan bukit berdinding batu itu selesai.
Jingga langsung menarik nafas panjang dan menghempaskanya kasar. Di balik bukit batu itu ternyata terbentang lautan yang indah.
Bahkan di bawah batu pijakan Jingga dan Adi, terdapat undagan tanah yang masih ditumbuhi pepohonan buah- buahan.
Air di bawah bukit itu juga sangat jernih, batu- batuanya nampak dengan jelas seperti tak ada batas. Ikan yang masih alamai dan cantik pun menari- nari indah mengajak Jingga segera turun dan berenang.
“Ayo turun!” ajak Adip
Jingga masih termangu melihat keindahan alam bak surga dan dunia lain itu. Keindahan yang tidak pernah Jingga bayangkan sebelumnya. Jingga kemudian menatap ke Adip berkaca- kaca.
“Kau tau dari mana ada tempat seindah ini?” tanya Jingga.
“Kau suka?” tanya Adip pelan dan penuh perhatian.
“Emem!” jawab Jingga mengangguk tersenyum dan terharu, perasaan Jingga tak bisa diungkapkan.
“Di sini memang indah karena kita bisa melihat lautan lebih luas, tapi panas, di bawah lebih indah! Ayo ke bawah!” ajak turun dari atas tebing itu.
Jingga mengangguk. Mereka kemudian turun melewati jalan setapak di pinggir tebing lagi. sambil berjalan Adip memetik buah dari pepohonan yang tumbuh di lahan terasiring.
“Hati- hati!” pekik Jingga saat melihat Adip berdiri di tepi tebing berpegangan dan merambat ke sebuah pohon yang dahanya menjulur berhubungan dengan pohon yang lain.
Adip berjalan bertumpu pada dahan pohon randu yang indah dan besar itu, dahan itu seperti tangan yang terlentang sebagai jembatan mendekat ke ujung pohon kelapa. Lalu Adip meraih buah kelapa yang condong ke dahan pohon randu di atasnya itu.
__ADS_1
Jingga melihatnya ngeri, tapi Adip rupanya sudah profesional. Meski sebenarnya pohon kelapa itu tinggi, pohon itu tumbuh dari tanah yang lebih rendah dari tempat Jingga dan Adip, jadi Adip tinggal berpegangan sedikit bisa memetik kelapa muda.
"Hoh!" Jingga bernafas ngos- ngosan dan memegang dadanya ngeri, bagaiman kalau Adip jatuh?
“Tangkap!” ucap Adip satu tangan berpegangan pada pohon randu satu tangan memegang kelapa kecil, Adip berhasil memetik kelapa itu. Kelapa di gunung kecil- kecil tapi isi airnnya sangat manis.
Aidp melemparnya ke Jingga. Jingga pun menangkapnya.
Adip memetik 4 buah kelapa. Sehingga mereka menuruni jalan sambil membawa kelapa. Sesampainya di bawah ternyata masih ada pepohonan buah alam yang tidak pernah Jingga temui. Ada arbei liar, jambu air kecil merah liar, dan juga nanas yang menempel pada lereng bukit
Adip pun memetinya untuk Jingga. Jingga menerima dan membawanya.
“Duduklah!” ucap Adip menyuruh Jingga duduk di sebuah batu di bawah pohon besar menghadap ke laut.
Batu itu tampak besar lapang dan bersih, seperti sebuah meja, ternyata itu batu pijakan anak- anak situ.
Jingga mengangguk dan mengikuti kata Adip. Sementara Adip mengayunkan kapaknya memapras ujung kelapa itu dan memberinya lubang.
“Minumlah, ini sangat segar!” ucap Adiip memberikan kelapa muda yang berhasil dia petik,
“Minum ini?” tanya Jingga tak mengerti.
Mereka tak ada pipet air atau gelas, bagaimana Jingga minumnya?
“Iya, ini sangat segar, apa kau tidak tahu, ini buah kelapa, air kelapa muda sangat bagus untuk kesehatan!” jawab Adip.
“Aku tau itu, tapi bagaimana minumnya? Di sini tidak ada gelas ataupun pipet!” jawab Jingga polos.
Adip tesenyum mendengarnya.
“Lihat aku!” jawab Adip.
Adip kemudian memperagakan, minum air kelapa dari buahnya. Dengan mengarahkan lubang kecil di ujung kelapa ke mulutnya, lalu kita mengalirkannya ke mulut kita.
Jingga menelan ludahnya melihat cara itu.
“Ayo cobalah!” jawab Adip.
Jinga mengangguk dan mencobanya meski ragu.
“Uhuk uhuk..!” awal Jingga mencoba Jingga tersedak, tapi Jingga tidak menyerah dan mencobanya lagi.
Sampai akhirna Jingga bisa meminum air kelapa dari buahnya.
“Glek glek...!” Jingga akhirna bisa melakukan itu dan Jingga tersenyum puas bisa melakukanya.
“Bagaimana segarkan?” tanya Adip menoleh ke Jingga.
“Iya sangat segar, aku mau lagi!” jawab Jingga tidak tahu malu,
__ADS_1
Adip tersenyum mengangguk. Sayangnya pipi Jingga kini kotor terkena sabut kelapa, tapi Jingga tak menghiraukan itu.
“Tunggu aku petikan lagi!” jawab Adip.