Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Abaang.


__ADS_3

"Pamit ya Bun," tutur Adip ke Buna mencium tanganya.


Entah keenapa meski berkebalan singkat dan menjadi menantu baru beberapa hari, Jingga istrinya yang biasa cengeng tampak tegar, Buna malah mewek nangis.


"Hati-hati Nak. Selesaikan tugas dan tanggunh jawabmu. Jangan khawatirkan Jingga ya. Jingga sama Buna dan Baba aman," tutur Buna.


"Iya Buna,"


"Kalau ada orang jahat jangan diladeni yah. Jauhi aja. Obat- obatan udaj lengkap kan? Pokoknya kalau sakit langsung ke kota.Yah kabari Buna dan Baba biar kita jenguk. Janhan lupa makan, jaga kesehatan. Hati- hati!" Buna memberi wejangan Adip banyak sekali seakan Adip anak kandunhnua sendiri dan pikiranya banyak sekali.


Adip jadi terharu. Adip kan dewasa dan tangguh. Tidak ada orang jahat di sana,yanh ada Adip begitu dihormati dan dipatuhi..


"Iya Buna. Insya Alloh Adip jaga diri,"


"Salam buat Om Dika dan Tante Dinda yah. Maaf Buna dan Jingga belum bisa ke makam bapakmu," tutur Oma menimpali.


"Iyah Oma... nggak apa- apa!"


"Ardi... pokoknya cepat selesaikan proyeknya. Permudah akses ke tempat Adip ngabdi yah.Oma juga ingin sampai kesana," tutur Oma di luar dugaan Jingga dan Adip.


"Ya...," jawab Baba malas.


Adip dan Jingga saling pandang dan tersenyum


"Yakin Oma ingin kesana?"


"Iyah, Oma lihat di hape Alya, bagus banget Oma jadi semangat mau fisioterapi lagu biar bisa jalan-jalan kesana," jawab Oma.


Adip dan Jingga kembali tersenyum


"Siiip Oma.Pokoknya Oma rutin minum obatnya bajagua terus ya Oma.Nanyi Adip ajak keliling jalan- jalan!" jawab Adip.


Semua pun tersenyum.


Kini semua sudah tidak ada yang memberatkan Adip pergi malah mendukunh niat Adip. Apalagi Baba dan Anak buaj ikut dan mulai menindak lanjuti mimpi dan rencananya.


Baba mau mulai menemui beberapa pemimpin daerah dan pemilik daerah incaran Baba.


"Titip Jingga ya Bun.. Oma," tutur Adip yang terakhir.


"Ya!" jawab semuanya.


Semua pun berangkat. Jingga sudah memakai jaket jeans tebal yang senada dengan yang Adip kenakan.


Rendi daritadi hanya menjadi penonton dan pendengar.


"Susah pakainya Bang?" tutur Jingga manja tidak bisa memasukan kancing helm.


"Hemmm,"jawab Adip lalu memakaikan helm ke Jingga, tepat di depan Rendi.


Rendi diam berusaha tidak meligat akan tetapi Jingga bisa lihat rahangnya mengeras.


"Makasig Sayang," ucap Jingga keras setelah berhasil pakai helm

__ADS_1


Meski berneda kendaraan, Baba mau Adip tetap di depan mobil Baba, beriringan. Baba mau tetap awasi Adip dan Jingga.


"Udah?" tanya Adip.


"Udah. Yuk!" jawab Jingga tersenyum manja.


Adip naik ke motor nmaxnya hasil jerih payahnya sendiri. Jingga pun langsung naik dan memeluk erat Adip.


Karena Adip di depan Jingga mau tidak mau Rendi juga melihat adegan live mesranya Jingga dan Adip di motor.


Jingga peganganya meletakan tangan di bahu Adip bukan dipinhgang. Terlihat beberapa kali Jingga menepuk bercanda lalu memeluk pinggang. Entah apa yang mereka obrolkan.


Baba yang sudah tua di mobip memejamkan matanya, apalagi semalam meluapkan tenaganya untuk meminta bekal dari Buna. Jadi sekarang lemas.


Tanoa Baba tahu, Rendi matanya merah dan mengepalkan tanganya.


"Lihat saja nanti seberapa tahan kalian berpisah?" batin Rendi.


****


Jingga dan Adip.


Sebenarnya Jingga masih menaruh banyak curiga ke Rendi dan ingin curhat je Adip. Tapi Jingga sekarang mulai tahu, suaminya tidak sehatusnya dia buat was- was dan khawatir. Jadi Jingga tidak cerita.


Sekarant waktunya puas- puasin mesra sama Adio.


"Kamu kok tiba-tiba penhen naik motor sih Yang?" tanyq Adip..


"Hehehe ternyata naik motor sama suami lebih menyenangkan. Jingga bisa peluk Abang begini?"jawab Jingga mengeratkan pelukanya dan tanganya nakal centil.merambat ke bawah.


"Hehe... iya iya nggak!" jawab Jingga.


"Pokoknya jadi yah. Abis ini pulang ke rumah kita. Boleh ke rumah baba sesekali," tutur Adip lagi di motor.


"Iya Bang, tapi setelah urusan Nila selesai ya." jawab Jingga mantap.


Rendi belum tahu kalau setelah nikah Jingga tinggal beda rumah ma Nila.


"Ya!" jawab Adip. "Selma Abang pergi latihan masak ya. Pokoknya Abang pulang harus pinter masak. Itu PR dari Abang...!"


"Iyaa..," jawab Jingga lagi.


Pokoknya di sepanjang jalan mereka terus ngobrol dan berpelukan. Tidak terasa merema sudah sampai di Bandara.


Karena pesawat pribadi semua sudah ready. Bahkan karyawan Baba sudah menunggu. Baba tadi rapat, rapat untuk bahas cita- citanya bangun tempat widata dan ingin beli kapal dan peswat di pulau Panorama.


Adip pun pamitan pada Pak Rendi, begitu juga Jingga.


"I Love You," bisik Adip memeluk Jingga dan mengecup kening Jingga


Alhirnya air mata Jingga pecah.


"Kalau kangen Jingga, peluk boneka yanh Jingga taruh di koper yah!"

__ADS_1


"Boneka?" tanya Adip.


Jingga mengangguk.


"Di situ juga ada selimut. Pojoknya Abang harus pakai semua iti biar serasa melik Jingga," ucap Jingga lagi


Adip berpikir sejenak. Adip hanya bawa satu koper kecil. Isinya harusnya baju Adip aja, kok ada bonela ma selimut.


"Di situ dimaba Yang?" tanya adip.


"Semua di koper Abang"


"Inih?"


"Iyah!"


"Lah baju Abang dimana?"


"Hehe...," jawab Jingga nyengir.


"Kok ketawa?"


"Semua Jingga ambil biar kalau Jingga kangen Jingga peluk baju Abang," jawab jingga tanpa rasa salah.


Padahal kan baju Adip sedikit, di pulau Panotama tinggal baju dekil dan jelek. Yangbagus iti yanh ada di koper.


"Astaghfirulloh, di pulau Abang hanya ada 3 baju itu aja jelek- jelek yanh. Baju Abang,banh Adip taruh di situ,"


"Heheh nggak apa- apa. Kan Bang adip biasa cuci kering pakai. Di sana nggak usah bagus- bagus bajunya. Yany dekil aja gantengnya sama aku aja," jawab Jingga.


Adip pun hanya mendengus iya iya aja..Dasar Jingga.


Adip pun pamit dan berangkat.


Jingga melirik ke Rendi, Jingga kaget ternyata Rendi tepat di sampingnya tanpa jarak dan tersenyum smirk, bahkan tanganya mau bergerak menyentil tangan Jingga. Jingga langsunh tarik tanhanya.


"Jaga ya Pak!" pekik Jingga.


"Apa kamu nggak kesepian ditinhgal suami. Yakin dia setia?" ucap Rendi.


Jingga tidak menjawab hanya mengeratkan rahangnya.


Jingga langsung menoleh mebcari Vera ternyata sedang ke kamar mandi. Tahu posisinya tidak aman Jinffa teriak.


"Abaaang," teriak Jingga berlari tidak tahu malu.


Bahkan orang di sekitar ikut menoleh. Rendi jika tidak menyangka. Baba dan Adip juga karyawanya ikut heran..


Jingfa berlari kencang langsung peluk Adip.


"Sayang," pekik Adip.


Tidak banyak berkata, Jingga menghadap Adip, sedikit berjinjit, tanpa malu langsung melahap bibir Adip agresif. Sangat bernaafsu penuh dengan cinta dan kekuatan.

__ADS_1


Tentu saja Adip melupakan semua malu dan membalasnya.


"Gleg," Rendi langsung mengepalkan tanganya.


__ADS_2