
"Ehm....," Adip pun berdehem minta diperhatikan Jingga. Adip berdiri di depan pintu seperti orang hilang. Jingga malah masih melamun.
Adip pun menatap Jingga kesal.
"Ehmm..," dehem Adip lebih keras. Jingga masih tak mengajaknya masuk. Adip pun jadi kesal.
"Abang mau balik ya. Untuk besok pagi, kamu udah siap kan?" tanya Adip kemudian sambil membawa emosi masih dari pintu.
"Hoh!" pekik Jingga masih tidak nyambung.
Jingga masih syok, hati Jingga sangat ngilu dan tidak ikhlas jika Nila harus bersuamikan Pak Rendi yang notabenya tua. Masa iya dosen Jingga jadi adik Jingga.
Adip tambah jengkel, sudah tidak ikut musyawarah, tidak tanya bagaimana besok acaranya? Suaminya datang dicueki.
"Ya udahlah Abang, pulang dulu!" ucap Adip berbalik arah kesal ke Jingga.
"Kok pulang? Tunggu!" Ucap Jingga baru sadar Adip marah. Adip tetap berjalan menjauh ke arah tangga.
Jingga pun mengejar Adip, berlari dan menghadangnya.
"Kok pulang? Abang ke sini mau lihat kamar kita kan? Bang Adip kan belum istirahat! Ayok!" ucap Jingga sekarang kumat lagi centilnya.
"Ehm!" dehem Adip kesal hanya melirik Jingga membuang pandangan.
__ADS_1
Jingga kemudian menarik tangan Adip dan menggandengnya lalu mengajaknya berbalik.
Adip pun melirik tanganya lagi dan menatap Jingga.
"He....," Jingga melebarkan senyumnya.
"Ayoook!" ucap Jingga centil masuk ke kamar.
"Hemmm," gumam Adip. Kesalnya Adip pun mulai luntur melihat wajah centil Jingga.
"Emang penting ya, aku istirahat atau enggak?" sindir Adip.
"Hiiiishh, kok ngomongnya gitu?"
"Ya habis daritadi nggak jelas. Yang mau nikah siapa sih sebenarnya?" ucap Adip lagi.
"Gleg!" Adip mendadak gemetaran.
Adip terpaksa masuk ke kamar besar Jingga dan mendadak tertegun setelah sampai di dalam apalagi Jingga menutup pintunya. Mereka sekarang berdua di kamar Jingga yang luas itu.
"Ehm...ini kamarmu?" tanya Adip ke Jingga berjalan sambil melihat- lihat dan tiba- tiba Adip mulai ada hawa panas datang.
"Huum!" jawab Jingga mengangguk, dan malah membuka jilbabnya.
__ADS_1
"Ehm... ehm...," dehem Adip mulai oleng.
"Kenapa? Ini kamar kita, sini duduk!" ajak Jingga lalu berjalan ke kasurnya dan mengajak Adip duduk.
Adip masih berdiri, rasanya masih tidak Adip sangka, hidupnya akan di hadapkan dengan ujian Tuhan berupa titipan perempuan secantik Jingga lengkap dengan segala kemewahanya.
"Sini duduk!" ucap Jingga.
Adip pun duduk berhadapan dengan Jingga. Adip diam.
"Maaf aku nggak ikut musyawarah, aku percaya Babaku dan kamu menentukan yang terbaik, hemm," ucap Jingga tersenyum dewasa.
Jika sedang begitu Jingga terlihat begitu mempesona dan anggun. Dinginya ac pun ikut menghanyutkan pikiran Adip. Adip tersihir dengan kecantikan istrinya itu.
Tangan Adip pun terulur dan membelai rambut Jingga yang jatuh terurai dan dia selipkan di kuping Jingga, Adip kemudian membelai pipi Jingga lembut.
"Terima kasih kamu percaya padaku!" ucap Adip.
Jingga tersipu diperlakukan seperti itu, seperti ada aliran listrik yang mengalir.
"Cup" Jingga tidak menjawab dan malah mendahului mengecup Bibir Adip sekilas dan kemudian tersenyum
"Aku percaya padamu sejak awal," ucap Jingga
__ADS_1
Jelas saja Adip terpancing, tidak menjawab Adip pun maju dan membalas mendaratkan bibirnya ke Jingga, kali ini Adip tidak hanya mengecup, tapi menikmati kedua bibir Jingga yang tampak ranum dan manis.
"