Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
179. 1 bulan Kelamaan.


__ADS_3

“Jinggaa,” panggil Baba ke Jingga yang tampak berjalan di dekat Adip dan tanganya menggandeng tangan Adip, tidak mau lepas. 


Adip dan Jingga berhenti menoleh. 


“Ya, Ba!” jawab Jingga manis. 


“Mundur! Sini!” tegur Baba menyuruh Jingga menjauh. 


Jingga langsung mengkerucutkan bibirnya. Sementara Adip jadi berdehem kikuk. Melirik ke tangan Jingga yang menggandeng sikunya. 


“Ehm...lepas, ikuti Babamu,” bisik Adip menasehati dan tidak nyaman.


Pokoknya Adip mah ikhlas- ikhlas dan selow aja. Buat Adip bisa melihat Jingga lagi, lihat senyumnya yang membuat mabuk sampai melayang ke langit ke tujuh udah bersyukur. Lain-lan sabar.


“Kenapa memangnya Ba? Ada apa?” tanya Jingga tidak terima. 


Babanya ganggu saja, kaya nggak pernah muda. Padahal selama ngopi di atas bukit, Baba sudah merebut tempat duduk Adip dan membuat Jingga berjauhan.


Baba terus mengajak Adip ngobrol tidak memberikan kesempatan Jingga berduaan dengan Adip sedetikpun. 


“Baba mau ada perlu dengan Adipati, tuh, bantu Amer bawa tas Baba!” jawab Baba beralasan.


“Ishhh..” desis Jingga. “Jingga juga udah berat bawa tas Jingga sendiri Ba,” jawab Jingga ngeles lalu melirik ke belakang. 


“Perasaan Amer nggak bawa aapa- apa semua di bawa Pak Nur dan Pak Dino, bahkan sepatu Baba aja dibawa Pak Nur,” cibir Jingga ke Babanya. 


Baba kan hanya beralasan.


Sepatu Baba kotor terkena tanah pegunungan dan membuat susah jalan, jadi Baba malah memilih nyeker. Apesnya Pak Nur yang disuruh bawa sepatu mahal Baba, lagian Baba ke gunung pakai sepatu. 


“Sudah jangan protes, temani Amer. Nur kasihkan sepatuku ke Jingga!” perintah Baba seenaknya melimpahkan tugas Pak Nur ke Jingga. 


“Baba..,” pekik Jingga, malas banget nenteng sepatu Baba yang Bau karena berhari- hari dipakai terus. “Nggak mau!” jawab Jingga. 


“Mau Baba nikahin kalian nggak?” jawab Baba sekarang punya senjata andalan mengancam.


“Hemmm...” jawab Jingga melengos. 


Adip tersenyum menahan tawa. “Biar Saya yang bawakan Ba,” celetuk Adip tidak tega pada Jingga dan menawarkan dirim


“No.. Biar Jingga yang bawa!” jawab Baba menolak. Entah apa motivasi Baba memberi tugas ke Jingga.


Setelah bernegosiasi tawar menawar, meski dengan muka cemberut Jingga kalah akhirnya menerima. 


Jingga dan Amer berjalan paling akhir, Adip dan Baba paling di depan, di tengah Pak Nur dan Pak Dino.


Pak Nur bahagia sekali bisa melenggang dengan tangan kosong, sementara Jingga terus mencibir, tapi demi masa depan cerah tetap dilalui. 


Tidak pernah ditebak dan diduga oleh siapapun isi pikiran Baba, ternyata di depan Baba sungguhan ingin ngobrol penting dengan Adip.


Rupanya di sepanjang jalan menuju ke aula desa tempat Adip dan Jingga menikah dadakan, Baba bertanya banyak tentang desa- desa yang di lalui Adip.


Dari mana mereka mendapatkan makanan? Sumber daya alam dan potensi masing- masing desa yang berbeda- beda. Akses ke kota, lalu Adip ngapain aja, tugasnya gimana? Pokoknya semua ditanyakan, semua yang Adip tahu sampai bingung jawabnya.


“Ada berapa perahu yang beroperasi tiap harinya? Kira- kira butuh berapa kapal untuk mempermudah transportasi di sini agar orang luar tidak kesusahan saat ke sini?” tanya Baba Adip. 


“Gleg,” Adip menelan ludahnya sambil melirik mertuanya itu. 


“Ngapain tanya- tanya kapal segala? Mau beliin kapal apa?” pikir Adip dalam hati. Otaknya tidak sampai dan belum tahu kekayaan mertuanya.


“Persisnya, Saya tidak tahu, Ba! tapi saya bisa antar Baba ke kenalan saya di kota,” jawab Adip. 


“Oke kenalkan Baba pada mereka!” 


“Siap, Ba... tapi memangnya, Baba mau berapa hari di sini? Kapan kita ke kota?” tanya Adip. 


“Kok tanya aku? Aku yang tanya ke kamu!” jawab Baba lagi. 


Adip semakin bingung, lah Baba kan datang- datang sendiri, berarti kan Baba pulang sendiri, kenapa Adip yang tentukan. 


“Tanya,, saya Ba?” jawab Adip terbata.


“Lah iya to?” 


“Ehm... maksudnya gimana?” tanya Adip masih bingung. Kenapa Adip yang tentukan.


“Aku ke sini itu jemput kamu, kamu kapan bisa libur dan selesaikan urusanmu? Udah siap belum menikah dengan Jingga. Katanya minta dinikahkan?” 


“Ehem... ehem...,” Adip sampai tersedak dan sepert disambar petir. Benar Adip seperti Pangeran dijemput Tuan besar. Mimpi apa Adip.


Baba benar- benar tidak bisa ditebak dari kemarin terlihat mengerjai Adip, sekarang berubah.


Adip garuk – garuk kepala lagi tidak nyaman. Bagaimana bisa Adip memikirkan cuti salam waktu dekat dan ke kota untuk menikah.

__ADS_1


Adip pikir mereka ke kepala desa, ke aula dan guru Tua mau menegaskan status, jika memang harus sama Baba mereka akan menikah secara adat lagi tapi Baba yang jadi walinya. 


“Menikah di kota? Cuti? Maaf saya belum terfikirkan, saya kira cukup di sini jadi saya tidak perlu libur,” jawab Adip.


Baba berhenti dan berdecak mendengar jawaban Adip. Lalu menatap Adip dengan tatapan menelisik lagi. 


Yang di belakang sampai ikut berhenti, Jingga jadi panik. “Adaapalagi, Baba dan Adip,” 


“Ehm...maaf Ba, apa jawaban saya salah?” tanya Adip mendadak dheg- dhegan, Baba memasang wajah galak soalnya.


Baba melirik ke sekeliling, rupanya ada gubuk kecil.


“Kalian jalan dulu, Baba mau ngobrol 4 mata dengan anak ini!" turur Baba kemudian memberi perintan.


Adip hanya diam dan ikuti saja alur Baba. Yang panik justru Jingga.


“Baba mau apakan Bang Adip?” tanya Jingga kahwatir, suaminya diapa- apakan Baba, digigit mungkin. 


“Kamu ini? Kamu pikit Babamu apa? Dia lebih muda dari Baba, harusnya sebagai anak kamu khawatirkan Babamu yang sudah tua berjalan sejauh ini! Bukan dia! Anak durhaka!” jawab Baba sangat cemburu ke Jingga.


“Lah Baba, ngapain berhenti segala, aulanya sudah dekat Ba,bentar lagi sampai!” jawab Jingga. 


“Kaki Baba ngilu, minta dipijit sebentar, sana kalian duluan, nanti Baba nyusul!” jawab Baba ternyata inin istirahat.


“Huuuft,” Adip pun menghela nafasnya, semua memang capek, dan ingin segera sampai, apa ini malah disuruh pijat Baba lagi. "Hadeh, Baba," batin Adip.


“Ya udah, Jingga juga mau istirahat Ba!” jawab Jingga ngelles. 


“Nggak! Kalian jalan dulu, gubuk ini sempit kalau kalian berhenti semuanya. Cukup Baba dan Adip yanf istirahat. Kalian jalan!” jawab Baba ingin menguasai gubuk itu dan mengusasi Adip.


Amer pun berdecak melihat Babanya. "Suka- suka Babalah," batin Amer.


Lalu Amer mengajak dan merayu Jingga lebih nyaman istirahat di aula. Jingga ikut Amer. Tapi tetap saja Jingga suudzon ke Baba.


Jingga berjalan dengan tatapan khawatir, Adip mau diapain Babanya. Dari pagi, Adip sudah disandera Baba. Dasar Baba, suami anaknya masih juga diposesifin.


Kini Adip berdua dengan Baba. Adip jadi heran, Baba penuh teka- teki. Kan tadi abis ngobrol tentang nikah, tiba- tiba minta pijit. Apa ini?


“Pijit kaki dan pundakku!” tutur baba bersiap dipijat.


“Ya, Ba! Mau kaki dulu, apa pundak dulu, Ba?” 


“Terserah!” 


“Ya Ba!” 


Seperti malam sebelumnya, di dalam pijitan itu, Baba mempunya misi, mengorek tentang hati dan jati diri Adip. 


“Apa kau sungguh mencintai putriku dan siap jadi imamnya?” tanya Baba lagi. 


“Bukankah itu pertanyaan yang sudah Baba lontarkan? Apa perlu saya menjawab lagi? Kalau Baba lupa, saya jawab pakai kertas saja gimana Ba? biar Baba ingat dan tidak tanya lagi,” jawab Adip halus malah secara tidak langsung menyindir Baba pelupa. 


Baba pun menggerakan kakinya kesal. 


“Kamu! Kamu mengataiku pelupa?” 


“Bukan begitu Ba. Ya kan baru tadi malam saya jawab Ba, takutnta besok ditanya lagi!” jawab Adip lagi santai mengajak bercanda.


“Aku serius. Ya sudah lupakan itu! Aku sudah mendengar cerita tentang pernikahanmu dan putriku. Aku dengar kamu yang menolongnya, ceritakan bagaimana kondisi Jingga saat itu!” tutur Baba kali ini serius. 


Gleg 


Adip menelan ludahnya lagi. Masa iya Adip harus cerita kalau Adip temukan Jingga tanpa sehelai benang pun pada ayahnya. 


“Ceritakan detail!” tutur Baba memberi perintah. 


Akhirnya Adip menceritakan semuanya detail sambil memijit.


Tiba- tiba  baba menarik kakinya yang dipijat lalu duduk bersila dan mentap Adip serius. 


“Putriku begitu cantik dan aku yakin kamu pasti terpesona. Kau sungguh tidak melakukan apapun pada putriku malam itu?” tanya Baba. 


Adip menunduk, mengambil nafas dan menatap Baba tenang. 


“Demi Alloh, Saya akui, Jingga adalah perempuan tercantik yang pernah saya lihat dan temui. Bohong kalau saya tidak tergoda dan tidak ingin memilikinya. Itu sebabnya, saya di sini bersama Baba. Tapi sungguh saya tidak melakukan apapun. Yang saya rasakan saat itu. Hati saya terkoyak sakit, saat perempuan yang saya cintai diperlakukan seperti itu oleh orang lain,” jawab Adip jujur.


“Tapi kan saat itu mereka sudah pergi dan hanya ada kamu dan putriku? Kau bebas melakukan apapun tanpa ada orang yang tahu sebelum kamu menolongnya! Sungguh kau tidak menyentuh putriku?” jawab Baba ngetes lagi.


“Baba ingin jawaban real atau jawaban versi hati saya?” tanya Adip malah ngeles Baba lagi.


Baba mendelik, menantunya ini sungguh berani.


“Dua duanya!” 

__ADS_1


“Jawaban hati saya, saya lebih takut akan Tuhan saya daripada nafsu saya, Ba! Jingga terlalu baik untuk dijahati, bagaimana mungkin saya bahagia dan mendapat kesenangan jika saya berlaku tidak senonoh, pada orang yang saya cintai dalam keadaan tidak sadar. Sewajarnya laki- laki melindungi dan menjaga orang yang kita cinta, bukan menodai dengan cara hina!"


"Kalaupun saya ingin melakukan itu, saya ingin melukakanya dengan jalan terhormat, dengan bahagia dan kesadaran! Kelak menghasilkan keturunan yang berakhlak,” jawab Adip tenang.


“Kamu pandai berkata- kata!” jawab Baba ngeles lagi sok menghina padahal dalam hati bersorak bersyukur dan mengagumi Adip. 


“Dan pada kenyataan realnya, jangan kan sempat ngapa- ngapain, Ba. Warga datang dan mengusung kami ke bukit pinang, yang dijadikan tempat hukuman itu Ba!” lanjut Adip lagi bercerita.


Baba menghela nafasnya lega.


“Ya aku percaya! Aku sudah dengar semuanya! Setelah menikah itu, apa yang kamu lakukan terhadap putriku di bukit, kudengar kalian bermalsm? Sungguh kau tidak pernah menggaulinya?” tanya Baba lagi benar- benar suudzon.


“Sungguh! Tidak ada, kami hanya masak, makan dan lalu sama- sama tidur.” 


“Apa jaminan dan taruhanya?” 


“Langit bumi seisinya jadi saksinya Ba. Baba juga bisa tanya Jingga!” jawab Adi jengah dicurigai.


“Kenapa kamu tidak melakukan itu? Padahal kan kalian sudah menikah katanya? Bagaimana kamu bisa tahan putriku kan sangat cantik!” jawab Baba lagi wawancara terus. 


Ya kali Adip kaya Baba yang nggak bisa menolak Buna. Baba kira Adip sudah meracuni Jingga dengan banyak hal buruk sampak terkintttil- kintill ke Adip.


“Karena, saya tahu. Pernikahan kami tidak berjalan sebagaimana mestinya, saya kasian ke Jingga, Jingga berhak menikah dengan layak dan kami bisa dapatkan malam pertama yang lebih berharga. Selain itu saya tahu Baba yang berhak menikahkan kami,"


"Yakin begitu?"


"Benar, Ba! Selain itu, meski agama membolehkan saya menikahi Jingga apapun yang terjadi denganya malam itu, saya ingin memastikan"


"Setidaknya satu bulan atau dua bulan lagi, apakah Jingga hamil atau tidak?"


"Saya tidak tahu apa yang sudah Tama lakukan pada Jingga, dan jika benar Jingga hamil, jadi agar kedepanya tidak rancu siapa ayah anak yang dikandung Jingga. Saya ingin menikahi Jingga untuk menjaganya!”  jawab Adip lagi panjang.


Gleg 


Kali ini Baba yang dibuat terdiam, tidak mengira Adip yang masih muda dan gejolaknya seharusnya masih menyala- nyala berfikir sejauh itu. Pandai sekali Adip menahan jagoanya.


“Kalau benar putriku hamil, dan mengandung anak orang lain? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Baba ngetes.


“Aku akan menunggunya, sampai di lahiran. saya akan tetap menikahi Jingga lagi dengan layak dan jadikan itu anakku, tapi tetap akan kuberitahu siapa ayah biologisnya! Selama waktu itu, saya aman tetap tahan diri!” jawab Adip lagi. 


“Jadi kalau kamu menikah sekarang, kamu juga tidak akan melakukan “itu" juga?” 


“Iya Ba, saya berjanji akan jaga itu dulu, sampai jelas Jingga tidak hamil anak orang lain!” jawab Adip.


“Ah masa?” tanya Baba terus ngeles.


“Insya Alloh saya berjanji! Ba!” 


“Lalu bagaimana dengan permintaan kalian, kenapa Jingga ngebet minta nikah?" tanya Baba mengingat ancaman Jingga.


Adip tersenyum simpul. Kan itu yang berkata Jingga bukan Adip.


“Saya juga tidak tahu kenapa Jingga berkata begitu, Ba! tanyakan saja sama Jingga!” jawab Adip ketawa.


“Yakin bukan kamu yang ajarin putriku begitu?” tanya Baba malu.


Baba kira Adip sudah banyak ajari Jingga hal mesumm, ternyata Jingga sendiri yang ingin, entah siapa yang ajari Jingga, padahal Jingga selama ini terlihat polos.


“Kapan saja mengajarinya Ba? Saya minta Jingga menunggu saya satu bulan lagi. Saya akan datang ke ibukota lamar Jingga baik- baik. Saya juga akan ajak ayah angkat saya. Saya juga ingin Jingga selesaikan kuliah dulu, kalaupun menikah, saya tetap akan tinggal di sini selesaikan tugas saya. Dan biarkan Jingga lanjut kuliah!” jawab Adip lagi.


“Hemmm, apa kau sudah diskusikan dengan Jingga?” 


“Belum Ba? Mana sempat, kan baru bertemu Jingga tadi pagi?” jawab Adip.


“Yaya. Terus ini, kita mau apa nih ke aula desa dan ke rumah guru Tua, yang kalian ceritakan itu?” 


Adip tersenyum lagi. 


“Biar Jingga lega dengar penjelasan tetua di sini bagaimana hubungan kami, kalaupun saya disuruh menikah lagi, ya saya siap- siap saja!”  jawab Adip.


“Ya sudah ayo lanjutkan perjalanan, aku banyak pertanyaan pada tetua adat di sini!” 


“Ya Ba!” 


“Satu lagi. Urus ijin liburmu! 1 minggu atau dua minggu!!” 


“Hah” jawab Adip bengong.


“Kalian nikah di Ibukota saja, jangan di sini lagi! Jangan nunggu satu bulan, kelamaan! Kalau yang kamu khawatirkan masalah siapa ayah biologis anak Jingga jika hamil, jaman sekarang sudah canggih ada banyak alah kesehatan, kamu tidak perlu bingung dan khawatir! Besok kita tes! Aku sudah siapkan semuanya!” jawab Baba dengan tatapan datarnya tidak mau menoleh ke Adip. 


Baba bangun dari duduknya. 


Adip masih syok dengan perkataan Baba terdiam, apa ini maksudnya? 

__ADS_1


Kali ini malah Baba yang ingin segera menikahkan Adip dan Jingga secara sah. 


__ADS_2