Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
93. Penyihir jahat


__ADS_3

Jingga termenung sendiran di kamar kecil dengan penerangan lentera dari minyak tanah. Jika di istana Babanya Jingga tinggal memilih hiburan apa yang dia ingin, tempat karaoke ada, bioskop kecil khusus keluarga ada bahkan ruang bar mini di rooftop juga ada, tanpa keluar rumah.


Kini Jingga ditemani tak punya hiburan apapun, teman ngobrol tak punya, ponsel pun tak ada. Jingga hanya berteman dengan suara binatang malam, dan sesekali terdengar lolongan suara anjing hutan.


Jingga diam denga hatinya yang berisik. Masih selalu terngiang di telinga Jingga apa yang dikatakan anak- anak saat Jingga ikut menjadi makmum Adip. Cukup membuat Jingga sakit tapi juga selalu menggelitik keteguhan hati Jingga. 


“Eh ada Nona Bidadari” 


“Dia bukan bidadari,” 


“Huh!” 


“Dia penyihir jahat, kata ibuku!” 


“Kenapa begitu?” 


“Ayahku sakit dan datang padanya, tapi dia mengusir ayahku, padahal katanya dia ibu dokter yang bisa menyembuhkan, kata ibuku dia jahat, karena ayahku tak punya uang! Orang kota seperti itu!” 


“Oh iya?” 


“Iya! Lihat saja! Dia tidak punya teman karena dia penyihir jahat! Dia ke sini hanya untuk kepentinganya sendiri! Dia datang bukan untuk membantu kita seperti bidadari, tapi dia seperti penyihir jahat yang datang mencari kesenanganya sendiri, begitu kaya ibuku!" ucap Yusuf.


Jingga yang baru saja mengucapkan aamiin pada akhir doanya langsung tercabik hatinya mendengar percakapan Adam dan Yusuf.


Heranya Adip yang ada di depan mereka tak membela Jingga. Meski tak membela atau membenarkan Jingga, Jingga berharap seharusnya Adip mengajarkan nilai kebaikan pada anak- anak agar tak terbiasa menggunjing dan meluruskan anggapan anak-anak agar tak mengatainya penyihir jahat. 


Adip malah fokus dengan dzikirnya. Ah entah, hanya pencitraan atau sungguhan dzikir, yang pasti, Jingga sangat yakin kalau dia juga mendengar percakapan anak- anak.


Kenapa Adip diam saja, atau justru itu juga yang ingin Adip tuduhkan ke Jingga. 


"Dasar, dia tak ada bedanya dengan anak- anak?" batin Jingga kesal berharap disapa dan dibela tapi nyatanya diacuhkan.


Karena tidak tahan, Jingga langsung melipat mukenah, meletakan di tempatnya dan berjalan pulang.


Sesampainya di rumah dinas, semua anak- anak tampak aktif membuat materi yang akan mereka sampaikan pada anak- anak kelas mereka. Jingga tak disapa sama sekali, bahkan saat Jingga mengucapkan salam mereka hanya menoleh ke Jingga. 


“Hiks hiks....” 


Jingga meneteskan air mata, merasa benar benar sendirian dan dipojokkan. Faya, Amora dan Joana kan selalu ramah ke Jingga asal Jingga kasih mereka traktiran.


Sekarang semua memperlakukan Jingga bukan apa- apa, tak ada yang segan ke Jingga, tak ada yang sok baik ke Jingga, semua mengacuhkan Jingga. Tak ada yang peduli Jingga anak siapa di situ dan tak ada yang menghormati Jingga, seperti pelayan- pelayananya yang selalu mengukuti maunya.


“Bagaimana mereka akan ngerti, di dunia kesehatan itu ada kode etik dan wewenang, apa aku salah aku melakukan sesuatu sesuai aturan itu? Kenapa semua orang mengataiku jahat?” batin Jingga masih belum mengerti dan merasa dirinya benar.

__ADS_1


Karena tak punya teman, akhirnya Jingga memilih membaringkan tubuhnya dan tidur.


 


**** 


Pagi harinya Jingga bersiap ke sekolah seperti hari sebelumnya. Yuri, Nita, Siska dan Prilly masih diam dan bicara seperlunya ke Jingga, tak ada bosa- basi atau canda tawa. Meski sesak, Jingga mencoba menahan semua itu dengan tegar dan ikut bersikap tak acuh. 


Jingga pun berangkat ke sekolah untuk menunaikan agendanya sebagai peserta ruang inspirasi, yang memberi ruang menanamkan semangat belajar meraih cita- cita bagi anak- anak di desa pinggiran negeri itu. 


Agenda Jingga hari ini selain mengajari anak tentang baca tulis adalah membenahi personal hygiene atau mengajari perawatan kebersihan diri ke anak- anak. Jingga berniat mengajari tatacara menggsok gigi yang baik dan benar. 


Jingga sangat semangat melakukan hal itu. Hari kemarin anak- anak begitu antusias terhadap Jingga. Apalagi saat Jingga memperkenalkan diri kalau dirinya mahasiswa kedokteran atau calon dokter, anak- anak sangat semangat ingin belajar agar bisa menjadi sepertin Jingga. 


“Dheg!” 


Jingga menelan ludahnya setelah sampai di kelas tempat kemarin dia mengajar. 


“Apa aku kepagian? Apa aku salah kelas?” batin Jingga.


Jingga melihat ke sekeliling, kelas lain anak- anak sudah ramai. Baik guru tetap atau teman- teman Jingga sudah masuk kelas melakukan aktivitasnya, tapi tak seorang murid di kelas Jingga menampakan batang hidungnya. 


“Hhhhh!” Jingga menghela nafasnya halus dengan hati yang merasa mulai tidak nyaman. 


“Anak- anak mungkin sedang dalam perjalanan!” batin Jingga. 


Sambil menunggu anak-anak datang Jingga membolak balik lembar demi lembar buku panduan mengajar dari bu Siti. Jingga membacanya sampai tuntas dan tak terasa sudah 3 jam Jingga duduk di situ. 


“Hoooooh!” Jingga menelan ludahnya getir, nafas Jingga begitu lemah. Jingga menatap kosong ke pintu kayu yang menganga terbuka. Tidak ada satupun langkah kaki yang Jingga lihat, suara sambutan anak- anak pun tak ada. 


“Mereka tidak datang!” batin Jingga sangat ngilu menyadari kenyataan itu. 


Jingga kemudian menutup bukunya dan mengemasi barangnya. Jingga yakin hari itu memang anak- anak tak ingin diajari Jingga. Pasti mereka semua sama seperti Adam dan Yusuf, menganggap Jingga penyihir jahat dari kota. 


“Kenapa rasanya begitu berat? Apa sungguh aku jahat? Apa aku kembali saja? Kenapa semua orang membenciku?” batin Jingga berjalan tanpa arah meninggalkan sekolah. 


Jingga melangkahkan kakinya tanpa tujuan, hanya menyusuri jalan yang dia temui. Saat menemui ibu- ibu yang sedang mengolah hasil perkebunan singkong mereka, Ibu- ibu itupun diam tidak membalas anggukan kepala Jingga padahal Jingga sudah tersenyum. 


Jingga semakin sakit dibuatnya. Keadaan Jingga di situ benar- benar membuatnya sesak. Sudah semua barang- barang Jingga hilang, tidak bisa menghubungi siapapun, Jingga juga tidak punya teman. 


Jingga memang bebas bergerak tanpa ada yang mengawasi, tapi ini ternyata lebih sakit saat Jingga benar- benar merasakan kesendirian yang menyiksa. Bahkan Jingga seperti terpenjara dalam dunia yang tidak dia mengerti. 


“Barangkali tasku mengambang!” batin Jingga berfikir irasional. Jingga kemudian berjalan ke arah dermaga sungai tempatnya kemarin hampir meregang nyawa. 

__ADS_1


Saat Jingga berjalan ke sungai, Jingga melewati rumah ayah Yusuf yang kemarin mau berobat ke Jingga. 


“Terima kasih Nak, Dokter, Terimah kasih!” 


Sayup- sayur Jingga mendengar suara di balik tembok kayu di pinggir jalan itu. 


“Pak Dokter?” gumam Jingga berfikir, Jingga kemudian tersenyum lega. Di sini ada dokter lain itu berarti dia sudah melakukan hal yang benar, tidak melakukan hal di luar kewenanganya, karena dia tak punya STR. 


Jingga kemudian penasaran dan mengintip dari balik celah  lantai kayu panggung rumah Yusuf. 


“Saya bukan Dokter Pak, saya veteriner, saya dokternya hewan!” jawab si orang yang memberi ayah Yusuf obat. 


“Hoh!” Jingga terbengong menutup mulutnya mengetahu kenyataan Adip berani memberikan pengobatan ke manusia, dia kan tidak ada kewenangan melakukan itu. 


Terdengar Adip memberikan konseling seperti layaknya dokter manusiaa. Setelah itu Adip berpamitan, Jingga kemudian mengekori Adip dari kejauhan, Adip berganti kerumah pasien yang satunya, bahkan Adip, berani melakukan pemberian injeksi, entah injeksi apa itu. 


“Wahhh, nggak bener ini? Dia mall praktek!” batin Jingga mengatai Adip. 


Tangan Jingga reflek merogoh sakunya ingin memfoto Adip, tapi saat tangan Jingga sampai di saku, sakunya kosong. 


“Oh iya, ponselku kan hilang dan hanyut!” batin Jingga lemas.


Masih di tempat dia mengintip Adip, Jingga akhirnya bersandar di tiang rumah panggug itu tak berdaya. Kakinya dia selonjorkan merasa seperti tulang- tulangnya mau lepas. 


“Dunia apa ini? Dia kan dokter hewan? Kenapa mengobati manusia? Tau apa dia?” batin Jingga melamun dan meikirkan banyak hal. “Kan yang dokter manusia itu aku? Batin Jingga lagi menunduk lama. 


Setelah beberapa menit Jingga menunduk di situ, tiba-tiba terlihat dua septu menapak di depanya berpijak ke tanah. Mata Jingga kemudian menyusuri sepatu itu dari bawah ke atas sampai tepat mata Jingga terhenti pada mata yang sama- sama mengawasinya dengan tatapan tajamnya. 


“Hai nenek sihir!” sapa si pemilik sepatu itu. 


“Ehm.. ehm...!” Jingga kemudian berdehem salah tingkah sangat malu ketahuan menguntit. 


****


Mkasih udah setia baca. Author sayang kalian semua kakak pembaca.


Oh iya. Meski nupek author belum ramai, tapi ijin tetep ikut promo ya.


Karena kita kan saling bantu, semoga Kakak2 pembaca mengerti dan berkenan.


Kalau mampir ke karya temen author tinggalin jejak baik juga ya, bawa nama Jingga. Hehehe.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2