Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Jingga pamit


__ADS_3

Karena konsep awal dan niatnya hanya mengikat dan menghalalkan hubungan, setelah berbincang dan acara makan, semua pun kembali ke rumah masing- masing sekarng tinggal keluarga inti.


Nila pun bersiap- siap mempacking berangkat ke pondok.


"Kakak bantu ya Dhek!" tutur Jingga mendekat.


Mbak Ida dan Nila menoleh, ini pertama kalinya Jingga peduli terhadap pekerjaan rumah tangga. Biasanya biat Mbak Ida dan Mbak Yati yang mengurus.


"Udah mau selesai kok. Kak!" jawab Nila.


Pondok pesantren orang tua Rendi termasuk pondok yang disiplin dan menerapkan kesederhanaan. Elektabilitasnya juga diakui. Kualitasnya juga baik.


Santri baik dari kalangan menengah, atau kalangan atas dilarang membawa barang- barang berharga. Pakaian secukupnya, uang juga secukupnya. Ponsel dilarang dibawa selain saat tidur. Tidur pun ada jam bangunya.


Jadi Nila tidak banyak membawa barang banyak. Secukupnya saja.


"Oh... kalau di Pesantren boleh dijenguk nggak sih?" tanya Jingga.


"Nila belum tahu pasti tata tertib di pesantrennya Abahnya Kak Rendi, Kak. Tapi denger- denger di sana kita punya kompensasi dua hari satu bulan. Tapi kan Nila nanti dua harinya pulang ke rumah Ummi," tutur Nila.


"Oh iya, yah!" jawab Jingga


"Kakak jenguk Nila di rumah Ummi," jawab Nila lagi.


Ya jadi meski Nila menantu sang Empunya pondok, Nila tetap diperlakukan seperti santri lain Akan tetapi saat libur madrasah Nila pulang ke rumah mertuanya alias rama kyainya.


Itu berarti Baba dan Buna pun harus siap melepas Nila. Nila paham ketika sudah mebimah keluarha suaminya lebih utama.


"Ya udah kamu hati- hati ya. Pokoknya kalau kangen Kaka telpon aja!" jawab Jingga.

__ADS_1


Nila mengangguk.


"Ya udah Kakak juga mau siap- siap!" jawab Jingga.


"Lhoh Non mau siap- siap kemana?" tanya Bu Ida.


"Antar Nila!" jawab Jingga


Semua pun mengangguk


Tidak berapa lama, Buna mengetuk kamar Nila. Rombongan Abah dan Umi Rendi sudah bersiap menunggu Nila.


"Nila berangkat ya Kak," tutur Nila ke Jingga.


Jingga pun memeluk adiknye erat.


"Kakak baik- baik ya. Semoga kuliah Kakak cepat selesai!"


"Iyah. Kamu juga. Pokoknya harus fokus ngajinya. Khatamkan programmu. Pokoknya ketemu Kaka, Nila sudah jadi adik kakak yang keren!" bisik Jingga.


"Nila titip Oma sama adik- adik ya Kak," bisik Nila lagi.


Jingga pun mengangguk.


Mereka semua kemudian mengantar Nila sampai ke mobil Abahnya Rendi.


Setelah berpelukan dan pamit dengan Jingga kakaknya. Kini berganti Nila memeluk Buna dan Oma. Jika Buna sejak memuttuskan melepas Nila masuk pesantren di luar sudah tabah dan kuat.Buna sudah ikhlas sejak Nila masuk SMP.


Buna tidak menangis seperti Jingga.Tak ada kekhawatiran sedikitpun. Yang menangis khawatir dan merasa kehilangan hanya Jingga.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum...," tutur Nila pamit.


"Waalaikum salam," jawab semuanya.


"Nila sayang Kakak!" bisik Nila yang paling akhir setelah cium iya dan iyu.


Jingga hanya meneteskan air matanya lagi dan melepas adiknya pergi. Pesantren Abahnya Rendi lebih jauh dari kampung ayah Adip. Letaknya juga di pelosok.


Jingga sadar betul, Jingga akan susah ketemu Nila lagi. Jingfa takut sekali Nila disakiti tapi tidak ada yang menolongnya.


"Sudah jangan nangis... orang masih satu pulau ini kok!" bisik Buna ke Jingga.


"Kamu, Baba perhatiin kok jadi sensitif dan cengeng sih Ngga?" ceplos Baba malah ngatain Jingga


"Baba apaan sih?" jawab Jingga


"Adikmu mau sekolah kok nangis?" jawab Baba.


"Ya kan Jingga kangen sama Nila, Ba!" jawab Jingga


"Kangen tinggal jenguk!" jawab Baba enteng.


"Hemm...," jawab Jingga masuk dlberdehem lalu meninggalkan orang tuanya.


Jingga masuk mengambil tas ranselnya.


"Lhoh kamu kok bawa tasa gede juga?" tanya Buna.


"Jingga mau pulang ke rumah Jingga, Ba!" pamit Jingga pulanh ke rumah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2