
Sekitar sepuluh menit setelah Jingga dan Baba Ardi pergi, Biru terbangun. Biru melihat sekeliling, baba yang tadi memeluknya sudah tidak ada. Biru melihat keluar jendela matahari sudah tinggi. Biru tahu itu artinya sudah siang dan babanya pasti sudah pergi bekerja.
Biru masih kecil, tidak tahu bagaimana perjuangan ibu hamil melalui pagi dan malamnya, tidak tahu Bunanya sudah cukup istirahat atau belum. Menyadari sudah siang, spontan Biru menggoyangkan tubuh Bunanya keras dan menyuruhnya bangun.
“Buna.... bangun, ayo bangun Buna! Iyau bangun juga!” teriak Biru membangunkan saudara kembar dan Bunanya.
Perlahan Buna membuka matanya, meski masih terasa sedikit berat di kepalanya, Buna memaksakan diri tersenyum pada putranya, menyingkap selimut dan bangun dari tidurnya.
“Makasih, Sayang udah bangunin Buna!” tutur Buna Alya lembut, meskipun sebenarnya masih pening tapi dia tahan dan dia paksa untuk bangun. Buna Alya kemudian melihat sekeliling, suaminya sudah tidak ada, jam di dinding juga sudah menunjukan hari sudah siang.
“Iyu mau cekolah Bun!” rengek Biru sangat suka sekolah dan keluar rumah.
“Iyu sama Iyaw sekolah di rumah ya! Kata Baba, kalian homeschooling aja. Ke sekolahnya besok kalau SD aja, oke?” tawar Buna karena Buna sejak hamil merasa cepat lelah dan tidak bisa menunggui putra- putranya.
“Nggak mau! Iyu nggak mau cekolah di lumah, Iyu mau main cama temen- temen Iyu!” jawab Biru menolak rencana Babanya untuk homeschooling.
Mendengar saudara dan Bunanya bercakap- cakap, Hijau ikut bangun. Hijau ternyata juga antusias sekolah lebih dari Biru.
“Buna udih ciang ya?” tanya Hijau polos.
“Iya, Sayang, yuk bangun yuk!”
“Iyaw telat nggak ke sekolahnya?” tanya Hijau panik.
“Haduh...” Buna Alya menghela nafasnya, sepertinya akan sulit menahan mereka tetap di rumah pasti setelah ini mereka berdua kompak minta diantar ke sekolah.
“Ayo buluan kita mandi Iyaw!” ajak Biru segera bangun.
“Sayang, pagi ini kalian mandinya sama Mbak Ida ya...!” tutur Buna ingin istirahat sebentar.
“Nggak mau. Iyu nggak mau sama Mbak!” tolak Biru nakal. Entah kenapa sifat Ardi yang keras kepala menurun pada anak-anaknya membuat Buna Alya sering mengelus dada.
“Kalian nggak kasin sama Buna? Buna sakit nih! Sama Mbak dulu ya? Biar Buna panggilkan Mbak!” rayu Buna lagi agar anak- anaknya mau dirawat pengasuh.
“Nggak, Iyu bisa kok mandi sendili!” tolak Biru malah lebih memilih mandi sendiri daripada sama Pengasuh.
“Iya, Iyaw juga!” jawab Hijau dan mereka berdua reflek turun dari kasur dan mandi berdua.
Sejak lahiran Jingga, Buna Alya memutuskan meninggalkan pekerjaanya. Buna mengasuh anak-anaknya dengan tanganya sendiri. Itu sebabnya, meski Baba Ardi mempekerjakan banyak pengasuh, anak- anak mereka tetap menempel pada Bunanya.
Sebelum Buna Alya menyadari kehamilan ke limanya ini, Buna Alya sering mengajak Iyaw dan Iyu ke panti Gunawijaya. Buna Alya juga mengenalkan sekolah Paud ke mereka. Jadi mereka sudah tau dunia luar dan ketagihan bersosialisasi.
__ADS_1
Sayangnya Buna sekarang hamil lagi, sepertinya akan sulit buat Buna mengimbangi keaktifan putra kembarnya itu. Buna duduk memijit keningnya. Anak- anak Buna sudah terdengar cekikikan di kamar mandi orang tuanya bermain air.
Buna kemudian menelpon Mbak untuk menyiapkan pakaian putra kembarnya dan mengantar ke kamarnya.
“Ini Nyonya pakaian Tuan Muda!” tutur Mbak Mini.
“Mba Mini nggak anter Jingga?” tanya Buna kaget bukan Mbak yang biasa ngasuh si kembar yang datang.
“Nona Jingga bersama Tuan Besar, Nyonya, jadi saya libur,” jawab Mbak Mini.
“Oh, kalau gitu, setelah ini temani saya antar anak- anak ke sekolah ya! Si Kembar minta sekolah, bantu mereka berkemas juga!” tutur Buna Alya meminta bantuan ke pengasuh.
“Siap Nyonya!” jawab Mbak Mini .
Bersama Mbak Mini Buna Alya mendandani Si Kembar, Buna Alya juga siap- siap sendiri. Disopiri Mbak Fitri, si pelayan setianya Buna Alya mereka pergi ke yayasan sekolah ternama di kotanya itu. Saat di lampu merah, mereka berhenti.
Pandangan Buna jatuh pada anak muda yang sedang memberi makan kucing liar di bawah pohon. Anak muda itu tampak tampan meski hanya dengan penampilan biasa.
“Mulia sekali pemuda itu?” gumam Buna Alya tesenyum. Mbak Mini yang memangku biru mendengarnya dan ikut menoleh ke pemuda itu.
Mbak Mini kemudian memperhatikan dengan seksama wajah pria itu.
“Heh.. apa kamu bilang Mbak?” tanya Buna ke Mbak Mini.
“Nyonya sedang memperhatikan pemuda yang bertopi itu kan?” tanya Mbak Mini.
“Iya... jarang lho ada orang yang peduli dengan binatang liar begitu?” tutur Buna.
“Iya, dia juga tadi pagi ada di taman kota Nyonya, kaya lagi ngegalangin kegiatan peduli lingkungan untuk pisahin sampah- sampah di taman!”
“Oh gitu? Saya jadi ingin kenal denganya,” tutur Buna Alya.
“Nyonya mau menghampirinya?” tanya Mbak Mini.
Buna diam menoleh lagi ternyata pemuda itu sudah pergi dan lampu merah sudah berganti hijau.
“Besok kalau dia di sini lagi”
“Dia sering kok Nyonya, di lampu merah sini!” ucap Mbak Mini lagi.
“Iya, aku juga sudah tiga kali ini melihatnya. Saya ingin rekrut dia untuk ngajar di panti!” ujar Buna Alya.
__ADS_1
“Dia sepertinya masih kuliah kaya Non Jingga, Nyonya!” sambung Mbak Mini menerka.
“Sepertinya iya, tapi kuliah dimana? Apa bisa dan mau ya dia gabung dengan panti kita?” ujar Buna lagi.
“Dicoba kenalan dulu Nyonya! Siapa tahu mau!” ucap Mbak Mini memberi saran.
“Besok deh semoga ketemu lagi!” jawab Buna Alya.
“Iya, kalau nggak, besok pagi- pagi ke taman kota aja, Nyonya!” ucap Mbak Mini memberi saran.
“Boleh deh!”
“Hehehe, tadi pagi aja Non Jingga sampai telat pulag ikut dengerin pemuda itu, Nyonya!” ucap Mbak Mini keceplosan bercerita.
Sebenarnya Jingga menunggu pemuda itu mau melabrak dan meminta uang kembalian, tapi Mbak Mini melihatnya Jingga memperhatikan pemuda itu dengan tatapan kagum.
“Oh iya?” tanya Buna Alya.
“Iya Nyonya!” jawab Mbak Mini bersemangat.
Buna Alya kemudian tersenyum sendiri. Buna yakin dia laki- laki yang baik.
“Sepertinya menyenangkan kalau bisa mengenal pemuda itu, apalagi kalau anak- anak Buna berperangai sepertinya?” batin Buna membayangnkan Jingga tertular seperti pemuda itu.
Tapi tiba- tiba lamunan Buna buyar, sekarang kan suaminya lagi mau kenalin Jingga dan pilihan Baba Ardi, apa responya ya?
Apa Jingga menyukainya? Apa Jingga menolaknya. Baba Ardi sendiri belum kasih lihat ke Buna seperti apa wajah calon yang dipilih Baba Ardi itu.
Buna Alya kemudian mengambil ponsel berniat menanyai suami tentang perkembangan anak dan calon menantu pilihan Baba Ardi.
“Siip, Bun, mereka saling kenal. Baba sekarang nggak khawatir lagi, akan ada yang jaga Jingga,” jawab Baba Ardi mengirimkan pesan balasan.
“Jingga nggak nolak dan setuju Ba?” tanya Buna merasa curiga dengan suaminya.
“Mereka sekarang sedang sarapan bersamaa, Baba tinggalin mereka, Baba mau meeting, udah dulu, Buna Sayang, I love you Bun!” balas Baba lagi dengan emot bahagia.
Buna Alya mengernyitkan matanya, dan mengirim pesan lagi.
“Baba langsung percaya biarin Jingga berduaan dengan laki-laki itu?” taya Buna tidak terima suaminya seenaknya saja.
“Dia calon suami Jingga, Bun, Baba percaya kok. Udah dulu ya! Meeting udah dimulai!” jawab Baba lagi mengakhirir percakapan.
__ADS_1