Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
142. Pulang


__ADS_3

Sesuai dengan keinginan Baba, Rendi yang pulang dari tugas, penuh dengan cinta dan kerinduan, melesat dari rumahnya dan melaju ke bandara, menjemput Amer dan Jingga. Bahkan Rendi datang 1 jam sebelum jadwal yang diperkirakan, tepatnya subuh- subuh.


Dengan setia, dan persiapan datang dengan dandan ganteng maksimal Rendi menunggu Jingga dan Amer turun dari pesawat.


"Alhamdulillah..." ucap Amer dan Jingga sambil meregangkan tangan.


Barang- barang Amer langsung dibawa pengawal.


"Mobil Baba dimana Mer?" tanya Jingga.


"Yang jemput kita Kak Rendi, Kak?" jawab Amer.


"Wuo!" pekik Jingga kesal langsung manyun.


Ponsel Jingga kan hanyut jadi sejak di pulau Panorama Jingga tak memegang ponsel. Semua komunikasi dan koordinasi dihandle Amer. Jingga tidak tahu apapun.


"Baba yang menyuruhnya!" jawab Amer.


"Kenapa kamu mau?" tanya Jingga.


"Baba yang suruh Kak!"


"Ish... nggak! Ngapaih sih Baba ngrepotin orang? Baba udah nggak mau urusin Kakak lagi? Kenapa nggak suruh Ikun atau orang rumah?" omel Jingga.


"Ya Amer mana tahu. Tanya Babalah!"


"Oke kalau Baba nggak mau urusin Kakak lagi, Kakak nggak usah pulang sekalian! Kakak mau balik aja! Sana kamu pulang sendiri!" tutur Jingga emosi.


"Kaak, nggak usah chieldiest gitu lah!" tegur Amer dewasa


"What? Kamu ngatain kakak kekanakan?" tanya Jingga lagi tidak terima.


"Baba dan Kak Rendi belum tahu tentang Kakak dan Bang Adip. Hargai dulu kemauan Baba. Mungkin Baba ingin Kak Rendi dan Kak Jingga dekat, okelah kakak bisa nolak Kak Rendi nanti.Tapi kita pulang dulu. Nanti kakak jelaskan baik- baik ke Baba! Kakak juga mau visum kan?" tutur Amer menasehati.


Jingga diam cemberut, sebagai perempuan yang lebih banyak berfikir mengutamakan rasa dan emosi Jingga masih kesal. Kenapa Babanya selalu melibatkan Rendi dalam setiap hal.


"Ayo!" ajak Amer ke Jingga yang behenti dan berdiri terpaku.


Jingga masih cemberut.


"Ayolah! Malulah Kak kalau kakak ada acara ngambek begitu!"


"Kakak males ketemu Pak Rendi! Kakak juga bingung ngejelasinya!" jawab Jingga cemberut.


"Udahlah pikir nanti, kalian sama- sama dewasa kan? Kita selesaikan ini baik- baik! Oke?" tutur Amer lagi.


Meski Amer lebih muda, sebagai anak laki- laki Amer lebih bisa berfikir dengan tenang.

__ADS_1


Jingga pun mengikuti Amer menghampiri Rendi yang terlihat duduk di sebuah bangku.


Jingga masih dengan muka cemberutnya, wajahnya gelap, tak ada senyum sama sekali.


Buat Jingga, sampai kapanpun Pak Rendi adalah orang asing dalam keluarganya. Buat Jingga juga Rendi bodoh. Tidak seharusnya Rendi datang di hidupnya dan kenapa harus mau diberi janji manis sekaligus palsu oleh Babanya.


Sementara Rendi berdiri dengan wajah berbinar. Seakan asanya terkumpul, seperti mau pecah dan keluar bintang- bintang. Setelah dua minggu lebih dia bisa melihat wajah cantik Jingga. Sayangnya Jingga sekarang lebih tomboy dan jerwatan.


Sore kemarin Baba Ardi juga meminta pernikahan mereka dipercepat, minggu ini lamaran dan minggu depan akad. Rendi sangat bersemangat.


"Alhamdulillah kalian sudah sampai? Apa kabar? Sehat?" tanya Rendi ramah menyapa Amer dan Jingga.


"Alhamdulillah sehat Kak!" jawab Amer menyambut uluran jabat tangan Rendi ramah juga.


Sementara Jingga masih terus cemberut dan menunduk. Rendi yang sudah mengamati Jingga sejak masuk ke kampus pun hanya tersenyum kecil, dia tahu watak manja mahasiswi cantiknya ini. Rendi pun tak sakit hati sama sekali terhadap sikap Jingga.


"Kalian sudah sholat subuh?" tanya Rendi.


"Belum Kak!" jawab Amer.


"Selagi matahari belum muncul. Ayo kuantar ke mushola. Sholat dulu!" tutur Rendi lagi dengan sangat sopan.


Amer mengangguk.


"Ya Kak!" jawab Amer.


Entahlah Amer tidak mengerti kenapa Jingga lebih memilih Adip dan membenci Rendi yang notabenya sudah jelas direstui Babanya. Sementara Adip masa depanya tidak jelas.


Mereka bertiga kemudian ke mushola. Pengawal mereka juga menyusul. Rendi yang sudah sholat lebih dulu memilih memesankan minuman hangat untuk calon adik dan istrinya itu.


Setelah selesai sholat Rendi pun memberikan makanan kecil dan minuman hangat itu ke Amer dan Jingga.


"Minum dulu. Berjam- jam di pesawat pasti lelah kan?" tutur Rendi baik.


"Aku ingin cepat pulang! Aku nggak mau minum!" jawab Jingga ketus.


Amer langsung menyenggol Jingga memberi peringatan. Amer tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rendi dan respon Baba Ardi jika sudah mendengar cerita Jingga. Amer jadi sungkan duluan dan ingin menjaga perasaan Rendi, kenapa Jingga tidak berfikir ke situ. Seharusnya sebelum nanti menyakitinya sekarang berbuat baiklah ke Rendi.


"Iya Kak. Terima kasih.Amer memang haus!" jawab Amer ingin menghargai Rendi.


"Dengar kan? Adikmu haus. Tenang saja setelah ini aku antarkan kalian langsung ke rumah!" jawab Rendi sangat sabar ke Jingga.


Jingga diam, tapi tetap tidak menyentuh minuman dari Rendi. Sementara Amer menghabiskan minumanya.


Setelah minuman Amer habis sesuai dengan janji Rendi. Mereka langsung menuju ke Istana Baba Ardi.


Nila, Ikun dan si kembar nakal menyambut mereka dengan suka cita. Jingga pun langsung berpelukan dengan Nila. Adik perempuan satu'- satunya yang sangat dia rindu.

__ADS_1


Rendi pun berdiri tersenyum melihat itu.


"Baba dan Buna mana?" tanya Jingga.


"Baba juga baru pulang kemarin, mungkin masih istirahat. Pintu kamarnya masih ditutup!" jawab Ikun. Pintu kamar orang tua mereka memang masih tertutup rapat, padahal anak- anaknya sudah berlalu lalang dan berteriak sesuka hati.


"Oh...!" jawab Amer dan Jingga mengerti.


"Kak gendong!" rengek Biru ke Amer, sementara Iya, menempel ke Jingga.


Amer mengangkat adik kecilnya dengan penuh sayang dan menciuminya gemas. Kemudian menoleh ke Rendi yang sudah mengantarnya.


"Ayo Kak. Masuk dulu!" ajak Amer sopan ke Rendi.


"Baba sama Buna sepertinya masih istirahat. Aku juga harua bekerja. Kalian juga mau istirahat kan? Saya pulang dulu aja!" jawab Rendi.


"Oh oke. Makasih ya Kak!" jawab Amer.


Sementara Jingga yang sudah bersama Hijau tidak peduli.


Rendi pun berpamitan pada Amer dan Ikun.Amer pun merasa perlu membertitahu Jingga.


"Kak jaga perasaan orang dong! Jangan keterlaluan dan jutek begitu ke Kak Rendi! Kakak bisa kan bersikap baik sedikit?" tegur Amer ke Jingga sambil berjalan masuk.


"Kamu nggak usah sok! Labih baik aku begini daripada aku harus baik dan kasih harapan palsu ke dia!" jawab Jingga tegas dan marah.


Ikun dan Nila yang tidak tahu apa- apa melongo mendengar Amer dan Jingga bersitegang.


"Ini ada apa sih?" tanya Ikun.


"Kakak mau istirahat, kalau Baba sudah bangun, beritahu Kakak!" jawab Jingga ketus lalu menurunkan Hijau dari gendonganya.


Adik- adik Jingga terdiam melihat kakaknya jutek dan galak. Jingga tidak peduli dan naik ke kamarnya.


Amer pun hanya menunduk dan menghela nafasnya.


"Kak Jingga kenapa sih Kak?" tanya Nila.


"Biar Kak Jingga yang jelasin ya! Nanti kalian tahu sendiri" jawab Amer, entah apa yang akan terjadi jika Baba nanti keluar kamar.


****


Minal aidzin wal Faidzin


Selamat hari raya idul fitri buat Kakak pembaca semua.


Mohon maaf lahir batin ya.

__ADS_1


Makasih udah mau baca kehaluanku


__ADS_2