Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
161. Buna meradang


__ADS_3

Jika tekad dan cinta sudah berbicara, maka rasa takut, ragu dan kesedihan hilang melebur bersama angin. Tak teraba, tak terlihat lagi dan semua musnah.


Otak Jingga yang tadinya membeku mencari terbuka ide- ide brillian mengambil jalan untuk keluar rumahnya dengan aman.


Sesuai keinginan Buna dan suaminya Adip, Jingga memutuskan mulai hati itu mengenakan hijab. Lebih dari memenuhi keinganan orang tua dan suaminya, ternyata penampilan Jingga menolongnya.


Jingga diam- diam mengenakan gamis sederhana milik Bu Ida yang mengikuti jejak Buna mengenakan hijab.  Jingga juga tidak lupa memakai masker, dengan langkah santai tak ada yang curiga Jingga berhasil melewati pegawai Babanya untuk keluar rumah.


Padahal Jingga berpapasan dengan maid, satpam dan pembersih taman, tapi semua tak ada yang ngeh kalau itu Nona Muda mereka.


Nona Muda yang mengenakan hijab, Nila dan Buna kan tubuhnya lebih pendek dari Jingga. Sementara Jingga sendiri selalu mengenakan pakaian modis dengan rambut berkilau indah bak putri dari ice world.


Jingga juga sudah kembali membawa ponsel yang dipilihkan oleh Ikun, ponsel terbaik yang tidak rusak meski terkena air ataupun tenggelam. 


Pengalaman tersesat di mobil merah bersejarahnya membuat Jinga kini cerdas bagaimana pergi tanpa sopir. Dengan cekatan Jingga langsung mendapatkan kendaraan dan melesat pergi. Tentunya setelah itu mematikan semua sambungan telepon dan akses yang bisa dilacak. 


“Sama aja kan? Aku di rumah Baba tidak memikirkan bahagiaku dan hanya pikirkan bahagianya Baba. Aku tidak durhaka kan? Buna dan Oma semua setuju kataku!” batin Jingga dalam hati kecilnya masih ada rasa bersalah mengingat pesan Adip. 


Adip kan nasehatin Jingga untuk tetap baik ke Baba dan menunggunya dengan tenang. Sayangnya, Jingga tak bisa menghadapi Babanya setenang emosi Adip. Jingga masih mempunyai emosi yang menggebu. Tidak punya jalan keluar menguasai marahnya pada Baba.


***** 


Di Apartemen Rendi. 


“Kamu itu gimana to Le?” tanya Ummi Rendi emosi. 


“Gimana apanya, Ummi?” jawab Rendi tenang.


“Sudah jelas Jingga itu bukan perempuan baik- baik, zinah! Bersetubuh atau tidak bersetubuh, benar atau tidak berita itu, tapi dia bersama laki- laki bukan mahramnya. Tidak bisa menutup auratnya dengan benar, perempuan begitu kok diperistri? Bisa apa dia?” cerca Ummi Rendi melihat Jingga dari kacamatanya yang mempunyai standar perempuan seperti santri- santri suaminya. 


Sejak awal, bertemu Jingga tak menutup auratnya, Ummi Rendi sudah illfeel dan kurang suka. Di matanya Jingga tak memenuhi syarat menjadi anggota keluarga pesantren apalagi bersanding dengan putra tampanya yang berprestasi dan penyayang itu .


“Jingga perempuan baik- baik Ummi. Dia hanya belum mengerti, dia anak muda yang hidup di era sekarang. Rendi percaya sepenuhnya cerita Amer, Rendi juga kenal dengan Adipati. Rendi percaya didikan keluarga Gunawijaya, seperti Nyonya Alya tidak keliru, ingat kata Mas Farid kan? Lihat anak- anak Tuan Ardi yang lain, Jingga juga perempuan baik- baik Umi.” jawab Rendi membela Jingga. 


Hati Rendi kan juga sudah dibutakan oleh pesona kecantikan Jingga yang diturunkan Baba Ardi dan Opa Aryo yang merupakan blasteran dipadukan kecantikan Buna orang pribumi asli. 


“Baik bagaimana? Menutup aurat saja tidak mau, itu berarti dia tidak takut akan perintah Tuhanya, apalagi nanti sama kamu. Dia akan jadi istri pembangkang. Apa bisa dia didik anak- anakmu nanti! Ummi tidak setuju, Ummi tidak suka dengan gadis bernama Jingga itu!” tutur Ummi lagi dengan keras. Pokoknya Jingga sudah cacat di mata Ummi


Fatma hanya menjadi pendengar setia, ibu dan kakaknya itu.


“Tapi ingat Ummi, kita kan sudaah ada perjanjian dengan keluarga Gunawijaya dan Mas Farid. Pesantren kita dulu dibangun semua berkat sumbangan Tuan Ardi. Pesantren kita besar. Kita bisa jadi seperti sekarang berkat bantuan beliau!” jawab Rendi tenang. 


Saat Jingga masih kecil, Baba Ardi bersama Pak Dhe Farid memang berkunjung ke daerah lebih tepatnya ke desa tempat tinggal Rendi. Dulu Rendi masih kuliah. 


Baba Ardi, merasa prihatin melihat pesantren milik Abahnya Rendi banyak kerusakan di berbagai tempat dan santrinya seperti tak terurus.


Santri yang menimba ilmu di situ juga bukan dari orang- orang kaya. Melihat antusias santri- santri yang semangat, Baba terketuk membangunkan pesantren lebih baik dengan berbagai fasilitas. 


Baba juga memberikan sumbangan uang untuk kesejahteraan para ustad.


Awalnya Baba Ardi murni kemanusian, ingin membuat santri- santri Abahbya Rendi bisa menuntut ilmu dengan tebang dan bahagia.


Akan tetapi satu waktu, kebetulan saat itu Rendi yang sedang libur kuliah, ikut membantu mengajari santri ayahnya.


Baba Ardi yang melihat Gus tampan itu terkesan. Ditambah saat tahu, Rendi seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan tambahan di luar negeri. Baba semakin jatuh hati dan ingin mempunyai menantu seperti Rendi. 


Ummi Rendi kemudian terdiam mendengar ucapan Rendi. Mereka memang berhutang pada keluarga Gunawijaya. 


“Tapi kan putri Tuan Ardi tidak hanya Jingga!” celetuk Ummi Rendi dengan ekspresi dingin dan menyebalkan itu. 

__ADS_1


“What?” pekik Fatma dan Rendi ikut kaget. 


“Maksud Ummi adik Jingga?” tanya Fatma. 


“Dia terlihat manis dan patuh!” jawab Ummi Rendi lirih.


“Umii... Rendi mohon, berfikirlah dengan benar, Dhek Nila itu baru mau SMA. Dia masih sangat kecil dan belum waktunya menikah! Kita jangan jadi orang yang lancang dan tidak tahu terima kasih! Abah akan marah lho sama Ummi,” tutur Rendi memberitahu ibunya. 


Ummi Rendi hanya diam, sementara Fatma setuju dengan perkataan Rendi. 


**** 


Di rumah Gunawijaya. 


“Keren kamu Kun!” puji Amer ke Ikun setelah Ikun beritahu pekerjaanya. 


Amer bukan mengejar Jingga tapi masuk ke kamar sauadara kembarnya dan membahas Tama. Amer juga cerita tentang keputusan Babanya.


“Baba dan Kak Jingga harus tahu ini. Aku sedang lacak profil Pria bernama Adipati itu!” jawab Ikun. 


“Siip, ayo bantu Kak Jingga biar Baba setuju!” jawab Amer. 


“Iya pasti. Aku mau ke kamar Kak Jingga dulu, Oma katanya udah pulang?” 


“Iya, ada Opa Nando dan Oma Mirna juga!” jawab Amer. 


Ikun yang sangat doyan di kamar dan di depan komputer itu memang belum menemui Omanya. Ikun kemudian keluar menyapa Opa Omanya satu persatu kemudian ke kamar Jingga dengan semangat berapi- api. 


“Kak Jingga!” panggil Ikun semangat. 


Sayangnya kamar Jinga lengang kosong. Satu hal yang membuat Ikun terhenyak. Lemari Jingga terbuka, beberapa baju berserakan di lantai, tapi koper tidak ada. Rupanya Jingga pergi memilih baju- bajunya yang panjang, dress- dress seksinya dia tinggal.


Ikun melirik ke meja rias, alat make up dan perawatan wajah Jingga tidak ada. Tas Jingga yang kemarin tergeletak di lemari pakaian juga tidak ada. 


“Jangan- jangan Kak Jingga kabur!” gumam Ikun segera bangun dari jongkoknya. 


Ikun langsung berlari keluar dan memberitahu Amer. 


Tepat sekali saat Ikun mencari Amer, keluarganya sedang berkumpul di ruang santai. Ada Baba yang berhasil menenangkan Bunga. Baba terlihat seperti biasa mesra pada Buna.


Ada Opa dan Oma Nando, Bunga juga Nila dan  Buna. Oma Rita sudah tidur lagi di kamar. Semua masih tampak tenang karena Baba belum beritahu Buna, kalau perjodohan tetap berlanjut. 


“Wong di rumah, jalan mbok yo sek hati- hati, Le.. jangan tergesa- gesa gitu!” tutur Oma Mirna menasehati Ikun yang berjalan setengah berlari.


“Oma...! Kak Amer dimana?” tanya Ikun. 


“Di kamar, ada apa to? Oma sama Opa mau pamit pulang yo?” jawab Oma Mirna ternyata mau pamitan setelah memastikan semua baik- baik saja dan justru punya kabar gembira cucunya mau menikahm


“Ya Omma!” jawab Ikun.


“Jingga mana? Opa kan sama Oma kangen Jingga kok malah nggak ada?” tanya Opa Nando. Meski bukan Kakek kandung, Opa Nando memang sayang Jingga. 


“Itu dia Opa...Ikun lagi cari Kak Jingga!” jawab Ikun. 


“Gleg” 


Semua terdiam dengan tatapan penuh tanda tanya. 


“Cari gimana?” tanya Buna langsung panik. 

__ADS_1


Ikun melirik ke Babanya, hanya Amer dan Ikun yang sudah tahu, kalau Babanya masih belum setuju Jingga dengan Adipati. 


Buna yang peka terhadap anak- anaknya ikut menatap ke suami kerasnya yang duduk di sampingnya. 


“Sepertinya Kak Jingga kabur!” jawab Ikun. 


“Apa? Ngawur kamu!” pekik Oma dan Opa. 


“Nggak usah ngarang dan bikin panik kamu, Kun. Buat apa Jingga kabur? Jingga baik- baik saja kok sama Buna tadi!” jawab Buna masih berpositif thingking. Pagi ini suasana rumah semua kondusif.


“Tapi Bun!” 


“Iya... wong dia juga lagi semangat dan bahagia!” sahut Oma Mirna lagi. "Nggak usah bercanda!"


Jika Buna, Oma dan Opa berpositif thingking, berbeda dengan Bunga dan Baba yang mulai didatangi dan dibisiki rasa bersalah serta takut. Mereka berdua memilih diam mengusir gundahnya.  


“Makanya Ikun mau tanya Kak Amer, tadi yang terakhir Jingga bersama Kak Amer! Ikun mau tanya... soalnya Kak Jingga nggak ada di kamar, berantakan juga kamarnya” jawab Ikun memberitahu. 


Mendengar Jingga terakhir bersama Amer,  Baba semakin  panik. 


Akan tetapi Oma dan Opa tetap menyikapinya dengan santai dan tak ada kecurigaan, karena memang tadi Jingga sangat happy. 


“Buat mainan Iya sama Iyu paling, udah biasa to?. Jingga udah gede, baru pulang, masak kabur- kaburan. Rumah ini kan besar, paling lagi mainan. Wes yo... Oma sama Opa mau pulang, yok Bunga... kita pulang!” jawab Oma Mirna tetap positif thingking.


Selain Ikun jadi tenang kembali dan mempersilahkan Oma pulang.


Hanya Ikun yang tetap berfikir buruk. Ikun pun terus perhatikan bababnya yang menggandeng  Buna mesra dengan tatapan tanda tanya. 


“Iya dan Iyu, bukanya masih tidur Bun?” celetuk Ikun. 


Buna dan Baba terdiam. 


“Kamu kenapa to? Bahas nggak penting gitu?” jawab Buna.


“Bun Ikin serous. Coba deh dicek kamar Kak Jingga, menurut Ikun kamar Kak Jingga berantakan bukan karena Iya dan Iyu, mereka kan masih tidur!” ucap Ikun lagi.


“Nggak usah aneh- aneh kamu! Jangan bikin masalah!” jawab Baba mengusir rasa bersalahnya sendiri.


“Coba tanya seisi rumah, Kak Jingga ada nggak? Pasti nggak ada!” jawab Ikun lagi yakin kakaknya pergi. 


“Hhhh...” Buna mulai ikut merasa ada yang janggal. “Oke Buna cek!” jawab Buna akhirnya memutuskan percaya.


Buna kemudian memeriksa kamar Jingga, sementara Ikun mendatangi Amer, dan Baba mengusap rambutnya kasar sambil mengulum lidahnya kembali duduk.


“Amer...” gumam Baba bisa menebak apa yang sudah terjadi. 


“Ada apalagi ini Ba?” tanya Nila yang paling tenang tetapi diam- diam memperhatikan.


“Sudah kamu tenang aja, nggak ada apa- apa. Kakakmu suka sekali bikin masalah! Pusing Baba. Kenapa susah sekali menyenangkan hati Baba dan patuh sama Baba.” jawab Baba curhat ke Nila.


Nila terdiam mengangguk sambil berfikir.


Baba malah duduk dan membuka ponselnya. 


Tidak berselang lama Buna, Ikun dan Amer kembali dengan wajah paniknya. Sementara Nila si pendiam hanya menjadi pemerhati dan penonton manis. 


Amer dan Ikun langsung cek cctv dan telpon seisi rumah. Memamg tidak ada yang menunjukan keberadaan Jingga. Sementara Buna mengobrak abrik kamar Jingga memastikan.


“Apa yang terjadi? Ceritakan pada Buna. Buna temukan surat ini!” ucap Buna wajahnya mulai meradang dan berkacang pinggang di depan suami dan ketiga anaknya yang sudah remaja. 

__ADS_1


__ADS_2