Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
200. Sukurrriiin.


__ADS_3

Atas nama persaudaraan dan setia kawan, Mang Jojo, Udin, Sarti dan Yuli ikut Adip dan orang tuanya, meski tanpa seijin Uwak Bos.


"Tapi kasian lho, kalau mereka dipecat Dip," tutur Bapak ke Adip berbisik sambil membawa sasrahan ke mobil merah.


Bapak kan dulu mantan karyawan Uwak Bos. Bapak tahu bagaimana watak Uwak Bos.


"Hhhh...," Adip menghela nafasnya.


Adip mau bilang, kalau mereka kehilangan pekerjaan, Adip bisa carikan pekerjaan di Gunawijaya grup. Bisa jadi karyawan hotel, bisa jadi pegawai restoran, bisa jadi karyawan pabrik, bisa jadi karyawan butik, dan lain sebagainya. Bisa jadi pengusaha juga. Usaha Baba kan banyak.


Akan tetapi Adip tak ingin terlalu mengandalkan orang tua mertua. Adip kemudian bertanya pada teman- temanya.


"Kalian yakin ikut gue tanpa ijin Uwak? Kalau Uwak marah dan kalian dipecat gimana?" tanya Adip.


"Siaplah. Emang bisa bos tanpa Yuli? Paling Bos kalang kabut yang tahu laporan keuangan dan keluar masuk barang kan semuanya Kan Yuli," jawab Udin percaya diri.


"Aku juga udah bosen kok megang laporan toko. Aku pengen merantau kayak kamu Dip!" jawab Yuli malah ternyata ingin resign.


"Iyah, udah kamu tenang aja. Masa sahabat kita nikah kita nggak datang. Udah gas lanjut. Nggak usah pikirn Wak Bos!" jawab Mang Jojo lagi


"Oke... makasih ya. Kalian emang ma best friend," ucap Adip ramah ke teman kerja kulinya.


Meski mereka berbeda pendidikan dan latar belakang, tapi mereka sungguh sayang Adip sepenuh hati. Adip pun tak membedakan mereka, padahal jika di kampus dan di organisasi teman- teman Adip orang kaya.


Uwak mempertahankan gengsinya tidak mau ikut. Istri uwak sangat benci Adip yang wisuda cepat, meski dia dzolimi agar Adip putus kuliah, Adip tetap bertahan malah berprestasi dan lebih mandiri.


Adip pun benar-benar menggunakan mobil merah kesayanganya, yang populer di jamanya tapi di era sekarang jadi antik.


Apalagi bunyi engket- engketnya saat digas. Mobilnya bentuknya panjang seperti mobil angkutan kota. Jadi muatnya banyak tapi ramping ke depan jadi lewat jalan sempit bisa. Adip juga bisa angkut 6 orang plus sasrahan yang banyak. Sasrahan Adip banyak meski budgetnya sedikit karena Yuli memilih barang-barang murah.


Adip sampai detik ini dari kemarin tak komunikasi dengan Jingga. Kan katanya dipingit. Adip juga tidak tahu kalau semalam keluarga Baba sudah membersihkan namanya.


Termasuk mengumumkan kalau Jingga dan Adip mau menikah. Bahkan Baba perbolehkan wartawan meliput. Teman- teman Adip di luar sana jadi pada tahu dan ingin mempersiapkan kado untuk Adip, meski tak diundang.


Sebenarnya bukan watak Buna banget menikah meriah dan dipublikasikan. Adip dan Jingga juga tidak tahu menahu. Buna ingin pernikahan yang hikmad dan sakral.


Bukan Baba mau cari sponsor atau wah. Baba kan banyak uang jadi mudah kalau hanya mengadakan pesta kecil begitu.


Tapi Baba geram dengan orang yang sengaja memancing emosi Baba dan jelek- jelekin Putrinya. Baba ingin sekalian tunjukan kalau Putrinya bahagia. Baba tetap berdiri kokoh meski diserang.


Itu sebabnya Baba kekeh adakan resepsi, bagaimanapun caranya? Meski Pak Dino dan karyawan lain pontang panting mau pingsan, saking lelahnya.


Baba tidak tahu, akibat ulahnya ada banyak hati yang tersakiti. Termasuk Bunga, Vivi, Tari, Salwa belum yang tidak diketahui, dan yang paling sakit adalah Rendi. Baba lupa jaga hati Rendi yang sudah Baba PHP in.


"Bang Adip mang nggak mungkin ngelakuin itu!" tutur Tita di ruang sekre BEM kampus nonton konferensi pers Baba.


Baba merekam pernyataan ketua suku saat berkunjung dan memfoto banyak bukti tentang kejahatan Tama.


Sekarang publik pun fokus menjadikan Tama jadi tersangka apalagi pihak kampus. Didukung kerjaan Ikun. Belum dihajar, Tama udah keba mental.


"Bang Adip benar- benar tepatin kata- katanya. Dia nemuin partner berkembang biak," ucap Rangga tersenyum.


Saat Adip pamitan pensiun, kan Adip bilang mau pindah ke desa. Adip pengen memperpanjang umur perjuanganya lewat daerah. Hidup membangun desa dan berkembang biak alias menikah dan bereproduksi di desa. Punya banyak anak dan sukses dari desa.


"Eh, tapi kan kalau nggak salah, istri Bang Adip anak fakultas kedokteran Universitas Indah, dia ikut kelas Inspirasi kan? Dia belum lulus," sahut Radit kepoin identitas Jingga di daftar peserta kelas inspirasi.


"Wah LDR dong mereka nanti," ucap Tita.


"Kasian Bang Adip,"


Saat mereka bergosip, ponsel mereka berbunyi secara bersamaan. Mereka pun langsung membukanya.


"Bang Adip undang kita!" tutur mereka kompak kegirangan.


Mereka kemudian tersenyum dan saling pandang.


"Fiks, eksekusi Kita siapin kado dan dresscodnya yuk!" ajak teman- teman Adip kompak. Tanpa diundang mereka sedang rundingan persiapin kado gokil untuk Adip.


Mereka pun langsung cuss cari kado untuk Abang senior kesayangan mereka.


*****


Di jalan.


“Mohon maaf mengganggu perjalanan anda, Saudara, boleh liat SIM dan STNKnya?” 


Karena mobil Adip bagian bawahnya sudah berkarat tampak lusuh dan kacanya juga sebagian bolong, bahkan spion satunya lepas, di perempatan dekat pos polisi Adip kena tilangan. 


“Duh...,” semua penumpang pun menelan ludahya sambil memalingkan wajahnya dari polisi. 

__ADS_1


Adip hanya bisa mengulum lidahnya. Apes.


Adip memang punya SIM, Adip juga pegang STNKnya.


STNKnya masih atas namanya Letnan Indra Hardiatna Wirajaya, itu sebabnya Adip simpan baik stnknys. Itu semua memory dan kenangan tentang orang tuanya, tapi sayangnya si merah ini mati pajak. 


Adip lupa jalan ke hotel melewati banyak pos polisi. Biasanya kan Adip hanya memakainya untuk angkut- angkut beras dan hasil tani ke desa- desa.


Adip juga lewat jalan tikus jika ke kota, makanya waktu itu Jingga dibawa muter- muter dikerjai Adip sampai hilang signal. 


“Ehm... maaf Pak, saya darurat, Pak! Bisa dipercepat periksanya?” ucap Adip menyorkan stnk dan simnya.


Bagian tahun pembayaran pajak oleh Adip dilipat- lipat agar pak Polisi tidak melihat. 


Tapi Pak Polisi ternyata tetap jeli, karena bentukan fisik mobil Adip yang sebagian sudah berkarat meski mesinya masih bagus, cukup menyita perhatian. Adip pun ketahuan kalau mobilnya mati pajak. 


“Maaf saudara Adipati,” panggil Pak Polisi memanggil nama Adip sesuai di SIM. 


“Ya Pak,” jawab Adip. 


“Sebaiknya anda tinggalkan mobil anda, karena berdasar tahun produksi mobil ini dan tahun pembaharuan pajaknya, mobil anda sepertinya tak layak pakai, ini bisa berbahaya selama di jalan. Anda perlu uji kelayskan dulu. Mobil anda juga sudah mati pajak lama sekali,” ucap Pak Polisi memberitahu. (*Note: aturan ini aturan hayal, yak, sumpah aku belum baca banyak tentang undang2 kelayakan kendaraan, cukup tilang atau tidak boleh jalan, jadi ini aturan di negeri hayal,”  


“Gleg!” kena deh Adip. 


“Tapi ini mobil mesinya bandel, Pak. Saya merawatnya dengan baik,” jawab Adip beralasan. 


“Merawat baik bagaimana? Cat nya saja udah pada mengelupas dan berkarat begini? Ini mobil *****i seri keluaran tahun 1987, pajaknya saja mati sejak tahub 1996,” tutur Polisi menyebutkan keteledoran Adip yang amat sangat parah. 


Adip mengulum lidahnya mencari ide alasan. Adip kena salah telak.


“Tapi sungguh, Pak, ini mobilnya masih bagus. Anda boleh tilang sim saya, tapi ijinkan saya tetap lanjutkan perjalanan, Pak!” tutur Adip masih merayu. 


“Ini jalan raya, Bang, memakai kendaraan tak layak pakai, tidak hanya membahayakan diri anda tapi orang lain dan orang banyak. Anda perlu periksa kelayakan kendaraan Anda. Sebaiknya kendaraan anda saya tahan!” ucap Pak Polisi lagi.


Adip menelan ludahnya sangat pusing. Bagaimana perjalananya kalau ditahan.


“Pak, sungguh! Mobil saya, remnya masih berfungsi dengan baik begitu juga yang lain, hanya bentukan body luar saja, nanti saya lengkapi Pak. Saya memang suka barang antik dan aneh begini,” jawab Adip lagi beralasan memohon agar tak ditahan.


“Kalau memang suka dan sayang, kenapa pajak motornya sampai menunggak puluhan tahun begini tidak dibayar? Parah ini!” skak polisi lagi. 


Adip pun terdiam tidak bisa berkutik. Selama bertahun - tahun aman dari tilangan meski mati pajak. Giliran mau nikah kena tilang. Semua penumpang mobil pun sudah manyun, mendengus kesal, merasa apes. 


“Pak... saya mohon, Pak, silahkan tilang saya, saya janji saya akan perbaiki mobil saya termasuk urusan pajak dan STNK, tapi hari ini ijinkan saya tetap jalan, saya akan jalan pelan sekali Pak. Saya bawa rombongan soalnya. Kasian Pak, ini urgent sekali Pak!” tutur Adip lagi terus merayu polisi. 


Akan tetapi polisi tetap tegas, mereka meminta Adip menepi.


Pak Polisi kemudian menyuruh semua penumpang turun dan polisi melakukan pemeriksaan kelayakan kendaraan apa boleh digunakan di jalan raya atau tidak. 


Mereka jadi terdampar kaya orang hilang, karena tempat tunggu penuh. Di saat yang bersamaan rupanya Iya dan Iyu sedang iseng mainan ponsel Jingga dan melakukan panggilan video ke Adip. 


“Hai... Biru.. Haii Hijau..” sapa Adip mau pedekate ke kedua adik kembarnya. 


Iya dan Iyu kan belum suka ke Adip, jadi mereka malah pada manyun tapi tetap menyalakan video dan melototin gambar di belakang Adip. Sialnya di saat yang bersamaan, Polisi datang memanggil Adip dan Iya dan Iyu melihatnya. 


“He is police, there is Policy,” tutur Iyu


“Suami Kakak ditangkap Police...,” teriak Iya. 


“Uhuuuk,” orang – orang rumah yang sedang mempersiapkan pengajian, langsung salah fokus mendengar teriakan Iya, sampai Oma Mirna terbatuk. 


“Biruuu... Hijau, apa yang kamu lakukan?” pekik Jingga langsung merebut ponselnya, melihat Iya dan Iyu nakal kok bisa teleponan dengan Adip.


Begitu dipanggil polisi Adip gagal fokus tak mematikan sambungan videonya. Adip hanya membaliknya sehingga arah kamera malah menyala ke arah polisi dan terengar percakapanya. 


Jingga langsung melotot dan menyimak. 


“Astaga Abangggg,” pekik Jingga gemas dengar percakapan Adip diceramahi polisi tentang mobilnya, “Haisssh, dasarrr bawel dibilangin,” pekik Jingga menggigit bibirnya. 


Saat Jingga hendak mematikan ponsel ternyata Buna dan Oma sudah mengintip di belakang. 


“Bunaa... Oma?” pekik Jingga langsung mematikan sambungan telepon karena malu. 


“Adip kenapa? Ditilang?” tanya Buna tahu nguping. 


Jingga manyun karena malu dan kesal. 


"Kok ada polisi?" tanya Buna lagi.


"Tau!"

__ADS_1


“Ya. Buna tanya, tadi Buna dengar dia ditilang kenapa?" tanya Jingga lagi. 


“Bunaa...” pertahanan Jingga akhirnya jebol dan Jingga berteriak manyun, gemas.


“Kenapa?” tanya Buna heran. Jingga udah menikah suka teriak- teriak manja.


“Ini karena Buna,"


"Kok Buna?"


"Bang Adip ditilang gegara bawa mobil rongsok itu! Kan Buna yang nyuruh, jadi gini nih. Repot!” ucap Jingga kesal. 


Sesisi rumah yang sedang siapin pengajian termasuk para art Jingga langsung menoleh ke Jingga. 


“Masa sih? Sampai ditilang? Emang serongsok apa?” tanya Buna. 


“Tau ahhh... rongsok pokoknya Bun. Naik itu kaya lagi ngesdisko. Goyang- goyant dan banyak bunyi,” keluh Jingga ingat pertama ketemu Adip.


"Kamu pernah naik?"


"Pernah lah!" 


“Ya sudah ditelpon lagi suamimu, kasian lho!” ucap Buna menyuruh Jingga menelpon Adip.


“Nggak! kesel Jingga,” ucap Jingga manyun lagi. Adip cinta banget ma tu mobil butut.  


“Iih nggak boleh begitu, sama suami, kasian!” tutur Buna menasehati.


Lalu mengambil ponsel Jingga. Buna ngalah yang menelpon Adip. Buna perhatian dengan mantu pertamanya.


****


Rupanya setelah polisi memeriksa mesin mobil Adip, Adip aman, tetap boleh membawa, tapi suruh pasang spion yang rusak dulu.


Adip juga tetap ditilang karena mobilnya mati pajak. 


Saat Buna menelpon pas Adip sudah di mobil. 


“Assalamu’alaikum Buna....” jawab Adip malu dikiranya Jingga ternyata Ibunya. 


“Kamu kenapa Nak? Kenapa di kantor polisi? Perlu bantuan tidak?” tanya Buna menawarkan bantuan dengan ramah. 


Adip jadi tersipu. 


“He...nggak Bun.. nggak apa-apa, tadi ada tilangan,” jawab Adip malu- malu. 


“Sukuuurrriiin,” teriak Jingga di belakang Buna dengan nada kesal. Wajahnya nongol tiba' tiba.


“Jingga,” pekik Buna memberi peringatan. Buna malu kadang kelakuan Jingga suka tidak elegan.


Adip pun ditelepon hanya bisa menggigit bibir bawahnya kesal, “Dasar istri durhaka, suaminya kena sial malah disukurin,” batin Adip. 


“Terus gimana? Udah beres? Perlu bantuan nggak? Pak Sandi tadi pulang memang katanya kamu pergi dengan keluargamu? Kok malah ditilang?” tanya Buna lagi penuh kasih sayang ke mantunya. 


“Udah teratasi kok, Bun. Ini mau lanjut perjalanan,” jawab Adip rasanya malu sekali ditelpon mertua perempuannya di saat apes. 


“Oke... hati- hati di jalan ya,” tutur Buna. 


Jingga di belakang Buna masih terus bernyanyi mengejek Adip, “Sukurin sukurin, salah siapa nggak nurut, musnahin aja Pak polisi mobil nyebelin,” cerocos Jingga kaya Iya Iyu. 


Buna mematikan teleponya dan menatap putrinya, sambil menggelengkan kepalanya.


“Hhhh udah jadi penganten sama suaminya begini,” ejek Buna. 


“Ya abisan, Bang Adip mah? Udah bener sama Pak Sandi, malah disuruh pulang, itu mobilnya beneran butut Buna.” tuturJingga l memberitahu penuh penekanan.


“Tapi kok masih Adip pakai sih?” 


“Ya nggak tahu, mantu Buna tuh aneh, disuruh pakai mobil bagus juga! Pilih mobil rongsok!” 


“Ya mantu Buna suami kamu. Kan kamu yang pilih dia, berarti kamu yang aneh!” jawab Buna dan Jingga malah ejek- ejekan. 


****


Bodo amat ceritaku random. Hahaha tulis terus pokoknyaa.


He...


#Dasar author nggak jelas.

__ADS_1


Makasih udah baca. Loooope semuanya.


__ADS_2