Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
47. Perlu Pelajaran.


__ADS_3

Adip terus bekerja tanpa memikirkan Jingga lagi. Sesuai permintaan Amer, Adip hanya menyisakan 7 kucing kesayangan. Puluhan kucing lain siap Adip sulap menjadi uang ratusan juta. 


Itulah sebabnya Adip rela memundurkan jadwal penerbanganya.  Selain harus meyelamatkan kucing- kucing Amer agar mendapatkan perhatian yang baik setelah bersama pengadopsi barunya, uang yang akan Adip terima juga lumayan banyak. 


Setelah pekerjaanya selesai Adip mohon pamit, ke Dokter Gery, Sang Tuan rumah.


“Untuk laporan penjualan dan nama- nama pengadopsinya, saya laporkan ke Non Bunga atau Den Amer, Dok?” tanya Adip ke Dokter Gery.


Meski di sampingnya ada Bunga, Adip menjaga sikap untuk tidak banyak berinteraksi dengan Bunga. Adip cukup sopan dan tidak keganjenan.


“Terserah Kak Adip, ke Bunga boleh ke Kak Amer boleh!” sahut Bunga yang berdiri di belakang Dokter Gery.


Meski Adip bertanyanya pada Dokter Gery, Bunga tidak mau ketinggalan mengobrol dengan Adip. Dokter Gery juga tidak keberatan. Dokter Gery sejak awal jatuh hati ke Adip. Apalagi Dokter Gery tidak punya anak laki-laki laki.


“Oke, baik Non Bunga. Kalau begitu, kami pamit Dok!” ucap Adip sopan. 


“Kok buru- buru? Ngopi- ngopi dulu, capek kan? Ayok! ” tutur Dokter Gery ramah. Dokter Gery mengajak mereka bersantai dan makan dulu.


Adip melirik ke dua rekanya. Meski Adip kenyang, tapi Adip tahu sahabatnya lelah. Adip ingin menyenangkan rekanya dan menghormati Dokter Gery.


“Baik Dok!” jawab Adip menyanggupi. 


Mereka kemudian menuju ke ruang tamu. Bunga berjalan mengikutinya dengan tatapanya tidak lepas dari Adip. Bagi Bunga menatap Adip tak ada jemunya. Adip seperti tokoh kartun Jepang di komik kesayangan Bunga.


Padahal Adip hanya menggunakan kaos oblong berwarna abu, celana ¾  dan sandal jepit merek yang tersebar di pasar tradisioanal harga 10 ribuan. Tapi wajah Adip yang berhidung mancung, rahang yang tegas, kulit yang sawo matang cenderung gelap, dada bidang dan tangan berotot karena banyak bekerja keras, membuatnya sangat macho. Adip terlihat gagah dan laki banget versi Bunga.  


“Silahkan duduk!” ucap Dokter Gery mempersilahkan Adip dan kedua temanya duduk. 


“Ya, Dok!” jawab Adip. 


“Bilang ke Mbak, buatkan minum untuk tamu  kita!” bisik Gery ke Bunga. 


“Ya Pih!” jawab Bunga. Bunga pun masuk ke dalam rumah. 


Adip menatap sekeliling rumah Dokter Gery. Rumahnya sangat megah, dengan sapuan tembok berwarna ****** tulang. Sofa yang diduduki Adip sangat empuk berukirkan kayu jati yang indah. Di atas mereka ada lampu hias yang besar indah dan berkilauan. 


Rumah Dokter Gery, sangat berbeda dengan kontrakan Adip yang satu kamar multifungsi menjadi berbagai ruang. Itu saja teman- teman Adip sering numpang tidur, tambah sempitlah. Belum lagi Adip punya adopsian kucing. Tidak bisa dibandingkan dengan rumah Dokter Gery, apalagi rumah Gunawijaya.


Dokter Gery kemudian membuka obrolan dan menanyakan beberapa banyak hal tentang binatang. Teman- teman Adip ikut andil menjelaskan. Bahwa dokter hewan juga ada banyak spesialisasinya.


Mulai dari spesialis Farmokologi klinik dan anestesiologi veteriner, itu sebabya Adip pernah ikut materi semibar Dokter Gery, meski berbeda Adip ingin membandingkan.


Ada juga Parasitologi Kilinik Veteriner, ilmu bedah dan bedah plastik hewan, kesehatan hewan ternak besar, kecil, ilmu managemen kesehatan unggas, kesehatan akualtur/ ikan, kesehatan binatang liar, obstetri dan ginekologi, dan masih banyak yang lain. 


Dokter Gery hanya mengangguk- angguk saja mendengar penjelasan ketiga veteriner muda di depanya.  


“Ternyata hampir mirip dengan manusia ya!” jawab Dokter Gery, ternyata sama rumitnya baik sebagai Veteriner atau Dokter manusia. 

__ADS_1


“He... lebih hebatan Dokter Gery, Dok!” jawab Adip merendah. 


“Nah kalau  nak Adip, Nak Bagas dan Nak Andi sendiri ambil spesialisasi apa nih?” tanya Dokter Gery. 


“Saya tertarik dengan Pet, hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, Dok!” jawab Bagas dan Andi. Sementara Adip hanya diam.


“Oh, yaya! Lagi ngetrend emang, prospek bagus untuk ke depanya, di kota besar seperti ibukota kita ini, banyak dibutuhkan itu! Sukses ya!” jawab Dokter Gery antusias.


“Iya Dok, aamiin semoga!” jawab Bagas dan Andi.


“Nah kalau Nak Adip? Sama? Mau buka klinik dimana?” tanya Dokter Gery ke Adip karena Adip daritadi memilih diam.


Adip tersenyum. 


“Saya tertarik dengan spesialis ikan, unggas kalau nggak hewan liar Dok!” jawab Adip di luar dugaan Dokter Gery.


“Lah kok?” 


“Iya, itu sebabnya saya ingin menimba ilmu, pengalaman dan bekerja di pulau P,” jawab Adip mantap. 


“Tapi bagaimana untuk masa depanya? Apa bekerja seperti itu menghasilkan uang? prosepeknya apa?” tanya Dokter Gery rasional.


“Karena saya cinta mereka! Masa depan saya masa depan mereka. Prosepek saya, menjaga habitat mereka tetap ada dan melindungi ekositem mereka,” jawab Adip santai terkesan idealis dan tidak masuk akal, tapi memang itu yang ada di otak Adip.


“Tapi kelak kamu akan hidup menua, menikah, punya anak dan butuh uang untuk menghidupi anak dan istrimu? Kamu butuh uang dan tempat tinggal!” tutur Dokter Gery mengajak Adip berfikir rasional. 


“Oh ya ya, bagus bagus! Semoga niatmu tidak goyah Nak! Dan kamu temukan istri yang seperti itu” jawab Dokter Gery. 


Dokter Gery kira, Adip juga seperti Bagas, mau menekuni ke hewan peliharaan. Gery memang salut ke Adip. Gery tidak segan ingin memberi modal ke Adip jika ingin membuka klinik hewan kucing atau anjing. Mendengar Adip ingin berkelana, Gery jadi mundur. Niatnya menjadikan menantu jadi gugur.


Tidak lama, Asisten rumah tangga Gery datang membawa kopi hangat dan camilan. Adip yang tadi tanganya menyentuh kucing, berpamitan ingin masuk ke kamar mandi. Buang air dan mencuci tangan. 


“Mohon maaf Dok, numpang ke kamar mandi?” ucap Adip. 


“Oh ya. Di sebelah situ, ini ke kanan lurus, nanti dekat dengan taman sebelum kolam renang!” tutur Dokter Gery memberitahu. 


"Baik Dok!"


***** 


Di dalam rumah. 


Jingga dan Dokter Mira tampak bersantai menonton drama korea. Mereka bersandar di sofabed yang panjang dan empuk, sambil nyemil coklat. Bunga kemudian datang bergabung. 


“Udah diangkut, Sayang? Kucingnya?” tanya Dokter Mira. 


“Udah Mih, Mamih sama Kak Jingga, makan apa? Bagi Dong!” 

__ADS_1


“Cuci tangan dulu ih, jorok, abis pegang- pegang kucing!” jawab Jingga sangat anti dengan kucing. Padahal kan kucing Bunga kucing piaraan yang terawat, tetap saja Jingga tidak suka.


“Ish, Kak Jingga nih. Ya bentar!” jawab Jingga manyun.


Setelah cuci tangan Bunga bergabung dengan mami dan sepupunya. 


“Tamunya udah pulang, Sayang?” tanya Dokter Mira. 


“Masih, lagi di depan, ngopi sama Papih!” jawab Bunga. 


“Oh! Tinggal berapa kucingnya?” tanya Dokter Mira. 


“7 doang Mih!” jawab Bunga cemberut. 


“Kenapa nggak semua aja dijual sih?” tanya Jingga menyahut. 


“Iya , Sayang! Semua aja!” sahut Dokter Mira. 


“Kak Jingga dan Mamih ih, orang Bunga sedih juga, tinggal segitu, biarin mereka jadi teman Bunga!” jawab Bunga. Bunga kan sama seperti Amer, Ikun dan Nila, sayang bintang.


"Hemmm ya!" jawab Dokter Mira.


Mereka bertiga kemudian mengobrol membahas yang lain.


Tanpa mereka tahu, tamu mereka berjalan ke kamar mandi berjalan di belakang mereka dan mendengar percakapan mereka. Bahkan Adip melihat wajah Jingga. 


“Gadis itu rupanya?” batin Adip menggulung lidahnya tersenyum sinis.


“Pantas dia bego dan belagu, rupanya dia anak Sultan Gunawijaya?” batin Adip berjalan kembali ke Dokter Gery. 


Adip dan teman- temanya, kemudian menghabiskan kopinya, setelah itu berpamitan. 


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit hewan teman Adip. Adip memeriksa ponselnya. Adip menanyakan ke rekan panitia ruang isnpirasi.


Saat bertemu di kampus tempo hari, Jingga kan menuju ke lantai aula kampus. Adip sangat yakin agenda di aula hari itu adalah seleksi peserta Ruang Inspirasi 90% kemungkina Jingga datang untuk ikut seleksi.  


“Gue minta identitas peserta pendaftar ruang inspirasi dong!” ucap Adip ke temannya melalui pesan whastap.


Sebenarnya itu file penting dan rahasia, tapi karena Adip dulu penggagas kegiatan itu, dengan cepat mereka mengirim daftar peserta. 


“Benar ternyata dia ikut! Untuk apa anak mama seperti dia ikut?” batin Adip memikirkan Jingga.


Adip memeriksa hasil tes Jingga. Untuk tes intelegensi umum wawasan kebangsaan. Jingga mendapat nilai serastus, tapi di kepribadin, Jingga mepet di bawah standar. Nilai Jingga tinggi, tapi tidak masuk seleksi karena ada bagian yang kurang. 


“Kayaknya dia perlu dikasih pelajaran!” batin Adip tersenyum. 


Kemudian Adip meminta ke panitia. Karena nilai Jingga tinggi, meski di kepribadian kurang, Jingga tetap diloloskan saja. 

__ADS_1


 


__ADS_2