
“Jadi dia ngehamilin anak orang?” tanya Adip mendengar cerita Mang Jojo tentang anak Uwak.
“Iya Dip, kita nggak tega jadinya sama si Bos, tapi kesel juga. Dia nggak bisa ngapa- ngapain. Anak bungsunya ditutut nikahin anak orang. Satunya, tau sendiri kakanya jadi monster hidup gitu kerjaanya makan. Udah gitu, uang toko defisit, kemarin pihak Bang kesini, ada polisi juga. Pusing gue! Bos lagsung kena stroke mikirin itu kayaknya,” keluh Udin curhat.
Di ruang sempit itu 6 orang itu sedang menikmati kopi dan singkong goreng.
Belum Adip cerita tentang musibahnya. Kawanya malah curhat duluan.
Mang Jojo menceritakan kalau Odah sekarang di rumah tapi nggak bisa ngapa- ngapain dan kemarin sore didatangi polisi.
Itulah sebabnya, Yuli, Sarti, Mang Jojo dan Udin sedang kebingungan. Mereka putus asa kerja dengan bos kacau begitu.
Mereka tidak ada yang tahu, kalau Oda itu stroke bukan mikirin masalahnya. Odah stroke karena terbakar iri melihat Adip jadi orang besar.
“Runyam banget sih hidup si Odah itu, karma tuh karma. Pantes dia gitu!” celetuk Jingga.
Jingga sudah memakai jilbab terusan yang dipinjamkan dari Yuli. Dia duduk di dekat Yuli, mendengarkan penjelasan Mang Jojo. Jingga puas banget bisa ngata- ngatain Odah dan dengar orang yang jahatin suaminya menderita.
“Sayang... diam dulu!” celetuk Adip menegur.
Jingga kalau bahas Odah bawaanya emosi. Kalau dibiarin bakalan meletup tidak ada habisnya.
Padahal Adip selalu dingin. Adip lebih memilih diam memikirkan solusinya.
“Iyah..,” jawab Jingga manyun.
Meski baru, kan Jingga istri Adip ingin dilibatkan dan merasa berhak bersuara, tapi Adip selalu punya jalan yang tidak bisa ditebak.
“Makanya aku pengen resign dari sini Dip!” ucap Yuli menimpali.
“Jangan!” cegah Adip tiba- tiba.
“Kenapa? Aku udah nyerah Dip kerja di sini, aku pengen pindah, gaji kita aja nggak naik- naik!” sahut Sarti.
“Aku minta maaf kalau harus ngomong ini, tolong urus dan pertahanin toko ini,” ucap Adip lagi.
Semua yang mendengar langsug terhenyak dan melotot kaget tidak terima. Terutama Jingga.
“Abang jangan gila deh. Temen- temen Abang bener. Ngapain kerja dan merjuangin toko orang jahat kayak Odah itu, temen- temen Abang berhak bahagia. Udah nggak usah didengerin Bang Adip mah suka gitu. Mbak Yuli sama Sarti nanti kerja di restoran aku aja apa di butik, kalau nggak di hotel aku, pilih aja mau dimana?” sahut Jingga lagi dengan enteng dan gayanya. Abis Jingga emosi ke Adip yang terkesan bodoh. Padahal untuk bekerja di Gunawijaya harus ada seleksinya. Tuti dan Sarti, Mang Jojo apalagi kan tidak punya ijazah SMA.
Adip melirik istrinya menghela nafas.
“Sayaang,.. itu restoran, hotel dan butik, milik Baba dan milik saudara- saudaramu! Ada prosedur yang harus diikuti, harus bisa bahasa asing juga kan kalau kerja ikut Baba! Kasian Mba Sartilah. Bingung nanti!” sahut Adip menegur.
“Ya tapi kan Jingga anak Baba Bang. Jingga bisa nego. Daripada Abang. Lebih parah. Ngapain kita peduliin toko Si Odah ini, biarin aja bangkrut!” jawab Jingga lagi masih terbawa sifat kayanya.
“Ini toko Abang!” jawab Adip tegas, memberhentikan celotehan Jingga.
“Gleg!”
Semua terdiam dengan penuturan Adip. Terutama teman- teman Adip, mereka kan belum tahu tentang kenyataan siapa Adip.
Semntara Jingga baru ngeh. Oh iya, Baba dan Om Dika kan mau mengurus bukti tentang asal usuk harta Uwak. Otomatis sebentar lagi, rumah Uwak, toko dan semuanya akan kembali ke Adip.
“Maksud kamu apa Dip?” tanya Mang Jojo.
“Tolong bantu aku, bertahanlah di sini demi aku. Aku mohon kalian tetap mengelola toko ini. Kalian yang udah paham dan menguasai tentang toko. Kita udah punya pelanggan banyak, sayang kalau harus ditutup dan mulai dari nol lagi.” ucap Adip bijak.
“Nggak,,, nggak jawab dulu, maksud kamu ini tokomu apa?” tanya Udin menimpali.
“Odah bukan Uwakku. Orang kaya yang kamu ceritakan datang bersama mertuaku, dia saudara ayah kandungku, dia Omku. Polisi yang kalian lihat kemarin. Itu bukan karena Uwak kebanyakan hutang. Itu mertuaku yang mau mengusut harta ini. Uang yang Odah nikmati uang jaminan kematian bapakku. Semua ini punya ibuku, ini punyaku!” ucap Adip dengan tegas.
Semua pun terbengong dan tidak menyangka. Syok, bahagia bersyukur semua jadi satu.
Jingga pun tersennyum menang, akhirnya Otak suaminya waras.
Dari kemarin diajak diskusi, selalu tidak ingin bahas harta orang tuanya. Sekarang akhirnya Adip buka suara dan mau memperjuangkan haknya. Jingga pun sangat semangat mendukungnya.
“Kamu nggak lagi kesambet kan?” tanya Udin.
“Aku sadar, ini kenyataanya, kita tunggu aja hasil penyelidikan polisi!” jawab Adip.
“Kok baru cerita sih Dip?” ucap Yuli.
“Aku juga baru tahu. Kalau kalian ingin tahu detailnya tanya aja sama Emak!” jawab Adip lagi.
“Jadi sekarang bos kita kamu?” tanya Sarti dengan wajah sumringah.
“Ya. Kamu Benar... tetaplah kelola toko ini. Jangan pergi! Setelah polisi tetapkan semuanya, kalian pindahlah ke rumah besar ini. Aku titip Emak dan Bapak. Aku harus selelsaikan tugasku. Kita kembangkan toko ini bareng- bareng. Sebagian penghasilanya buat pesantren!” ucap Adip lagi mengutarakan niat baiknya.
Semua yang mendengarnya bahagia sekali.
“Waaah aku kaya ngimpi rasanya denger ini!” celetuk Yuli lalu menepuk- nepuk pipinya.
“Kamu beneran kan Dip?” tanya Mang Jojo lagi.
“Beneran, kalian berdoa, polisi bisa mengusut tuntas tentang harta orang tuaku agar aku bisa ambil lagi!” jawab Adip.
“Siap, Bos! Pasti itu!” jawab Udin semangat.
__ADS_1
“Tapi ngomong- ngomong, surat- surat dn keuangan kan semua dipegang bos!” ucap Mang Jojo.
“Nggak kok, kemarin pas masuk rumah sakit, dipasrahin ke aku!” sahut Yuli si karyawan terlama.
“Siip,” jawab Adip. Mereka beremlat memang pemain inti di perkembangan toko Uwak Odah. Keluarga Uwak Odah tugasnya menghabiskan uangnya dan periksa pekerjaan Yuli.
“Lah terus nasib, Odah dan anak- anaknya gimana?” tanya Mang Jojo.
“Kita tunggu sidang polisi saja. kalau udah beres, ya udah biarin mereka pergi tinggalin rumah ini!” jawab Adip mengeluarkan sisi tegasnya.
“Kayakya mereka nggak punya tempat tinggal selain di sini deh!” sahut Yuli.
“Ya udah, kalian tukeran aja, kalian pindah ke rumah besar. Mereka yang tinggal di bilik!” jawab Jingga. "Kita masih baik kaan kalau begitu?"
Semua pun tersenyum, setuju usul Jingga.
“Aku nggak sabar putusan polisinya datang!” celetuk Sarti.
“Sudah jangan banyak menghayal dulu. Berdoa yang terbaik ya. Aku sama istriku harus nunggui Emak. Kita pergi dulu, yak!” ucap Adip berpamitan.
“Lah emang Mak kenapa?” tanya Yuli.
“Iya daritadi kamu ditanyaain kalian kenapa belum jawab? Ada musibah apa?” tanya Mang Jojo. Adip datang langsunh nyari baju mandi terus ajak minta kopi belum semlat cerita udah Mang Jojo dulu yang curhat.
“Rumah Emak kebakaran!” jawab Adip memberitahu
“Hah!” semua tercengang mendengar penuturan Adip.
“Lebih tepatnya dibakar!” sahut Jingga.
“Dibakar gimana?” tanya Udin.
“Ya ada yang sengaja jahat k kita. disengaja. Ada dirigen bensin juga!" jawab Jingga.
"Tega banget. Siapa yang lakuin itu?" tanya Sarti.
“Apa mungkin Wak Odah?”
“Mungkin,” jawab Jingga.
“Udah nggak usah nebak- nebak, kita pasrahin polisi, percaya ketemu. Udah ya. Sekarang aku harus berangkat, harus tungguin Emak. Kasian Bapak sendiri,” jawab Adip lagi menyudahi obrolanya.
“Berarti kalian bilang mau tunggu Emak. Emak di rumah saki?” sahut Yuli jadi menebak.
“Iyah!” jawab Jingga.
“Astaghfirulloh...,” Sarti dan yang lain jadi berubah sedih lagi.
“Iyah...” sambung Udin.
“Toko gimana?” tanya Adip.
“Emang mau tutup,, hari ini Wak Odah kan akan nikahkan anaknya itu! Males gue, terus bapak kan harus ke kantor polisi,” jawab Udin memberitahu.
“Iyah... males kondangan ke nikahan yang udah bunting duluan. Jenguk Emak aja!” jawab Yuli menimpali.
“Ya udah oke. Oya m makaan bungkus ya Yul! Terus minta tolong bawain baju buat bapak!”
"Siap!"
"Hehe...satulagi!"
"Apa?"
"Pinjam uang dong!" ucap Adip lirih dan melirik Jingga malu.
“Pinjam berapa?” jawab Udin.
“100 ribu aja!” jawab Adip.
“Duh calon bos ngutang!” sindir Yuli bercanda.
“Ya kan lagi kena musibah, dompetju kebakar.” jawab Adip membela diri.
“Ya .. gua siap- siap dulu. Ke rumah sakit bareng!” jawab Udin menyanggupi.
Jingga yang melihatnya jadi manyun, rasanya aneh lihat orang pinjam uang. Seratus ribu lagi. Suami Jingga lagi yang utang. Jadi ingat dulu kan?
“Tuh kan Bang... kita itu hidup butuh uang. Abang nggak usah gengsi- gensi lagi. Jadi pinjam ke temen segala kan? Jingga telpon Baba aja Bang,” bisik Jingga merayu suaminya yang dari semalam Jingga suruh kabarin Babanya tapi selalu nolak. Pasti Baba akan permudah semuanya kalau tau.
“Hhhh,” Adip menghela nafasnya. Menunggu teman- temanya pergi bersiap.
“Kok gak dijawab?” tanya Jingga.
Setelah semua masuk bersiap-siap Adip pun menatap istrinya lembut.
“Sayang... pinjam ke temen nggak ada salahnya, yang penting kita tanggung jawab dan langsung balikin, itu memacu kita buat segera balikin. Kalau ke Baba, pasti Baba nggak mau kita ganti, nanti kita nggak ada semangat usaha!” ucap Adip menasehati.
“Hmmm... tapi Abang abis ini kita beneran nggak punya uang sepeserpun!” jawab Jingga lagi.
__ADS_1
“Ada,” jawab Adip.
“Ada darimana? Tas kita aja kebakar?”
“Nanti kamu tahu!”
“Abang iih! Pokoknya Jingga mau telepon baba!”
“Ya kalaupun telepon emang mau telepon pakai apa? Nanti malah bikin orang rumah panik mikirin kamu, kalau tau kita kebakaran. Ponsel aja kita nggak megang kan? Udah kita ke rumah sakit, balikin motor polisi, selesein dulu urusan Emak, abis ini kita ke Ibukota bareng. Kita beli hp. Kita pulang ke Baba, jadi Baba, Buna dan Oma nggak nggak khawatir!” jawab Adip lagi ternyata berfikirnya lebih matang.
“Abang mau beli hape pakai uang siapa? Kita nggak punya uang Bang!” ucap Jingga berfikir logis.
“Adaaa. Sayang!” jawab Adip lembut.
“Jangan bilang abang pinjam lagi!”
“Enggak”
“Terus uang darimana?” tanya Jingga tidak percaya.
“Udah nggak usah berisik, yang penting halal, nanti kamu tahu!” jawab Adip lagi.
Entah apa yang masih Adip simpan dari Jingga, meskipun Adip tak memegang uang sepeserpun itu, tampak sangat tenang.
Pagi itu tanpa memberitahu Odah dan keluarganya, Adip dan keempat temanya beserta istrinya ke rumah sakit.
Emak sudah sadar, tapi masih tergantung dengan banyak alat- alat. Luka kulit Emak juga sudah ditangani, tapi butuh dirawat lagi.
Setelah memastikan semua diurus dengan baik. Adip pun pamitan.
“Pak..., Adip dan Jingga harus urus beberapa hal dulu. Besok Adip balik lagi!” ucap Adip.
“Ya...hati- hati. Tapi terus gimana? Kamu bisa lebih lama kan berangkat ke pulau Panoramanya lagi? Kamu masih balik ke sini kan?” tanya Bapak khaawatir di saat diinya kena musibah Adip harus pergi. Bapak masih butuh Adip.
“Bapak nggak usah khawatir masalah itu. Pokoknya Bapak di sini temani, Emak. selepas Emak dirawat, nanti Bapak udah ada tempat tinggal kok!” jawab Adip lagi menenangkan.
Bapak hanya diam mengangguk.
“Percaya Adip, anak Bapak ini bisa diandalakan!” turur Adip lagi.
“Ya udah hati- hati ya!” jawab Bapak.
Adip dan jingga kemudian salaman pamit ke Bapak dan yang lain.
“Titip Emak sama Bapak ya!” ucap Adip ke Mang Jojo.
“Iya, siap bos!”
“Nanti aku telpon kalau udah pegang hp!” jawab Adip lagi.
Semua pun mengangguk.
Adip kemudian menggenggam Jingga menariknya untuk berangkat ke Ibukota.
Adip tidak naik motor polisi lagi apalagi mobil. Adip ajak Jingga naik bus dengan modal uang seratus ribu hasil dia pinjam itu.
Tidak ada satupun orang yang tahu siapa Jingga. Mereka berdua hanya terlihat seperti pasangan muda yang serasi dan saling menyayangi.
“Maafin Abang ya Yang...naik bus dulu nggak apa- apa kan?” tanya Adip ke Jingga yang duduk manis menggandeng Adip di halte bus.
“Yang penting sama Bang Adip!” jawab Jingga mantap.
Adip tersenyum dan mengusap kepala Jingga.
“Makasih Yah!” jawab Adip.
"Iyah!" jawab Jingga.
Lalu Adip membalikan pandanganya ke depan lagi.
Jingga menatap Adip mencoba menebak isi kepalanya suaminya.
Adip tampak diam, tapi dari sorot matanya jelas tergambar dia sedang memikirkan banyak hal. Jingga penasaran bagaimana cara Adip menyelesaikan masalahnya.
Apa iya Adip tetap tega ninggalin Jingga dan semua PR masalahnya, lalu berangkat ke Pulau Panorama. Lalu bagaimana kehidupan mereka.
Tidak lama bus yang dinanti Adip datang. Dengan penuh perhatian dan telaten Adip menggandeng Jingga, mempersilahkan Jingga masuk. Lalu memilihkan tempat duduk yang bisa berjajar bedua.
Jingga merasa nyaman dan dilindungi suaminya. Meski pengalaman baru, Jingga pun patuh dan nurut.
“Kalau capek tidur Sayang!” ucap Adip menepuk bahunya.
Jingga mengangguk dan mengikuti Adip. Jingga memang ngantuk. Semalam kan abis ehemm ehemm, kena musibah, langsung ke rumah sakit, eheem- eheem lagi lanjut ke rumah Yuli.
Jingga juga mulai merasa badanya tidak enak. Tidak sampai 5 menit Jingga tertidur menyandar suaminya.
Sekitar 2 jam perjalanan Adip dan Jingga sampai di Ibukota.
“Kok nggak ke rumah Baba Bang?” tanya Jingga saat turun.
__ADS_1
“Kita kerumah kita dulu, Sayang!” jawab Adip.
“Rumah Kita?”