
Pagin harinya Jingga menggantikan peran Babanya. Begitu bangun dan membuka mata, Buna Alya langsung pusing dan mual bukan main.
Jingga yang biasa bangun lebih siang jadi ikut terbangun. Dengan sigap Jingga menuntun Ibunya ke kamar mandi dan membantunya.
“Mual banget ya Bun?” tanya Jingga membantu Buna membersihkan bekas muntahanya tanpa jijik.
“Ya beginilah morning sickness Sayang, apalagi usia Buna sudah tidak muda lagi!” jawab Buna Alya.
Jingga kemudian menuntun Bunanya, kembali ke kasur. Jingga juga memberikan minum hangat dari dispenser yang sengaja Baba Ardi sediakan.
“Minum dulu , Bun!” ucap Jingga lembut memberikan segelas air putih hangat.
“Makasih, Sayang!” jawab Buna tersenyum, Buna duduk dan meminum minuman dari putrinya.
“Obatnya muntahnya dimana Bun? Biar Jingga ambilkan?” tawar Jingga pengertian, Jingga tidak tega ibunya menyaksikan keluhan ibunya yang tampak menyiksa.
“Nggak usah diminum ya obat mualnya, Bunda masih tahan kok!” jawab Buna malah menolak. Buna hanya mau minum obat sesuai keluhan kecuali vitamin rutin. Dokter Sp. Og nya sudah memberi pesan begitu. Yang wajib diminum yang vitamin, untuk yang lain sesuai kebutuhan.
“Oke! Apa mau Jingga pijit?” jawab Jingga mengerti dan menawari pijitan ke Bunanya.
“Nggak usah, udah sholat belum? Sana sholat dulu!” ucap Buna lembut, tidak mau merepotkan anaknya.
“Sholat di kamar Buna ya!” jawab Jingga.
“Ya!” jawab Buna mengangguk tersenyum. Jingga tidak mau jauh dari Bunanya. Buna pun ikut sholat.
Jingga kemudian sholat di kamar itu, mereka berdua sholat jamaah tanpa Baba. Setelah sholat mereka kembali duduk.
“Apa waktu hamil Jingga Buna seperti ini?” tanya Jingga kemudian.
Buna Alya tersenyum untuk kesekian kalinya. Tapi tidak bosan untuk dipandang. Senyum Buna selalu meneduhkan dan nyaman dilihat.
“Nggak, Sayang. Kamu anak Buna yang paling mandiri saat di kandungan Buna. Kamu juga satu- satunya anak Buna yang Buna ajak bekerja, Buna ajak liburan. Kamu yang mengikuti banyak perjalanan Buna dan teman- teman Buna!” ujar Buna berapi-api mengenang hamilnya Jingga.
“Oh ya? Buna dulu kerja?” tanya Jingga selama ini tidak banyak bertanya tentang cerita hamil Bunanya.
“Ya! Masih intership sih!"
"Oh, iya Buna pernah cerita. Baba dan Buna juga nikah pas Buna itership kan?" tanya Jingga.
"Huum. Oh ya. Baba juga sayang banget lho sama kamu, hamil kamu Baba paling perhatian dan jarang ninggalin Buna. Pokoknya hamil kamu paling banyak mempunyai cerita! Banyak masalah juga yang Baba dan Buna temuin, kalau pas hamil adik- adikmu, Baba udah mulai sibuk kerja, Buna juga udah stay di rumah asuh kamu, jadi nggak seseru waktu hamil kamu!” lanjut Buna bercerita.
“Oh gitu? Ceritain dong Bun!” rengek Jingga ingin tau.
__ADS_1
“Duh, Buna cerita darimana ya? Terlalu banyak Sayang untuk diceritakan! Nanti anak Buna kalau udah menikah juga tau. Meski semua anak adalah permata yang Buna sayangi, tapi anak pertama selalu punya cerita sendiri, Sayang!”
"Yah Buna!" dengus Jingga kecewa.
"Ya. Soalnya kan Jingga anak pertama. Pengalaman pertama. Nanti kalau ada album foto kamu. Buna ceritain satu-satu. Kamu tau pas lahiran kamu. Baba pingsan, saking senengnya"
"Oh iya?"
"Huum, Baba, terlalu bahagia pas tau kamu perempuan. Soalnya awal Buna hamil Baba ingin kamu perempuan? Katanya biar Baba paling ganteng dan nggak ada saingan!"
“Ish, ternyata Baba emang aneh ya Bun? Apa itu sebabnya Baba posesif ke Jingga?”
“Ya, mungkin begitu?”
“Hemmm! Baiklah. Jingga hargai mau Baba dan usaha buat Jingga ikuti, asal itu baik buat Jingga Bun, tapi Jingga belum mau nikah Bun! Please Bun, bilang ke Baba, jangan jodohin Jingga Bun!” rengek Jingga lagi ingat Babanya.
Buna Alya diam dan melirik ke Jingga. Bunanya juga tidak setuju suaminya jodohin anaknya padahal mereka juga tidak dijodohkan.
“Apa laki- laki yang Baba kenalkan ke Jingga buruk?” tanya Buna Alya ingin menganalisa dulu sebelum menjawab.
“Nggak buruk sih Bun! Bisa dibilang dia dosen terganteng di kampus, tapi!” jawab Jingga jujur dan obyektif memuji dosenya, tapi buat Jingga, Tama lebih muda, keren dan bikin Jingga berdebar- debar.
“Tapi apa? Nah itu ? Kamu bilang dia ganteng, berarti Baba nggak salah pilih dong!” jawab Buna malah salah tangkap, dan ingin memancing reaksi Jingga.
“Hmmm” Buna cuma berdehem.
“Bun, bantu gagalin Bun!” rengek Jingga lagi.
“Pria posesif kaya Baba romantis lho Nak!” jawab Buna malah menggoda Jingga.
“Ih Buna! Buna dukung Baba ya? Kesel deh Buna nggak ngertiin Jingga!” dengus Jingga kesal.
Buna Alya kembali tersenyum melihat anaknya merajuk.
“Kenalah dulu, Sayang! Buna akaan bicarakan dengan Baba pelan- pelan. Jingga sambil berdoa, kalau memang dosen itu bukan jodoh Jingga, semoga dijauhkan ditunjukan jalan menjauh. Kalau emang iya jodoh Jingga, jangankan Buna, siapapun nggak ada yang misahin, Nak!” ucap Buna pelan.
“Ih Buna gitu deh!” jawab Jingga masih ngambek, menurut Jingga jawaban Bunanya terlalu klise. Meski mungkin benar tapi kan nasib kita juga kita bisa pilih dan perjuangkan.
“Lah terus Buna harus gimana? Ayahmu juga ingin kalian kenal dulu kan?” tanya Buna lagi.
“Pokoknya nggak titik!” jawab Jingga ngambek.
“Ya ya, nanti Buna ngomong ke Baba!” jawab Bunanya menghibur Jingga.
__ADS_1
Jingga kemudian tersenyum dan memeluk Bunanya.
“Makasih Bun!”
“Tapi ingat pesan Buna, akur sama Baba, tunjukin ke Baba kalau anak Buna anak baik dan bisa dipercaya!”
“Ya Bun! Tapi tergantung juga, kalau aturan Baba kejam, Jingga nggak mau!” jawab Jingga masih bernegosiasi.
“Hmmmm.” Buna berdehem lagi, anaknya yang satu ini memang beda.
“Hehe!” Jingga malah nyengir.
“Ya udah sana mandi, panggilkan Mbak, buat bantu Buna mandikan si kembar!”
“Emang mereka mau mandi sama Mbak?”
“Emang Kak Jingga mau bantu Buna?” tanya Buna balik. Jingga diam dan berfikir dia kan hari ini ada janjian seleksi tim Ruang Inspirasi, Jingga nggak mau telat. Siang juga Jingga ada ujian.
“He... hari ini biar Mbak Tuti dan Mbak Rini aja deh!” jawab Jingga.
“Ya, mereka tau Babanya nggak di rumah dan Bunanya sakit, mereka akan patuh kok!”
“Ya udah Jingga balik ke kamar Jingga ya Bun!”
“Ya!” jawab Buna tersenyum.
Jingga segera ke kamarnya untuk bersiap- siap beraktivitas. Sementara Bunanya mendapatkan telepon video dari suaminya.
Buna kemudian mengobrol dengan Baba. Baba juga kini bersama Nila, anak perempuan keduanya.
“Nila kangen Buna!” ucap Nila nan jauh di sana.
“Buna juga kangen banget, Sayang. Udah sembuh sakitnya?”
“Udah Bun. Seminggu lagi Nila dapat sertifikat kelulusan. Abis itu Nila pulang Bun!”
“Seminggu lagi?”
“Iya Bun... sabar ya Bun, Baba sama Nila dulu!”
“Ya... baik- baik di sana ya! Buna tunggu anak dan suami Buna di rumah!”
“Ya Bun!”
__ADS_1