
“Ya ampun Jingga, kaki kamu kenapa?” tanya Yuri iba melihat Kaki Jingga yang dia kasih kasa dan hypavix. Melihat ada goresan di kakinya Jingga langsung ke poskesdes menutup lukanya agar tak terkena infeksi.
Jingga langsung ke sekolahan, dengan kondisinya yang berantakan, tanpa ke rumah dulu.
“Kok malah manyun?” tanya Yuri.
“Dimana Nita dan Siska?” tanya Jingga kemudian.
“Ngajar!” jawab Yuri.
“Hhhh!” Jingga menghela nafas menahan kesal. Jingga ingin melabrak Nita dan Siska, tapi sadar ini sekolahan Jingga harus tahan amarah.
Jika minggu pertama Jingga tetap diam karena Jingga masih harus beradaptasi dan mencari celah untuk bisa bertahan. Sekarang Jingga sudah punya kekuatan, Jingga bisa melakukan banyak hal, dan Jingga cukup tangguh untuk semua itu, jadi Jingga tidak mau diam lagi.
“Kenapa?” tanya Yuri.
“Katakan padanya, sepulang sekolah aku mau bicara!” jawab Jingga lagi.
“Ya!” jawab Yuri.
Jingga kemudian masuk ke kelasnya, membangun kembali mood baiknya untuk tetap memberikan senyum ramah dan manisnya. Membuang semua sedih, pedih dan marahnya.
Jingga memang harus sering- sering berhadapan dengan orang banyak dan harus pandai bersandiwara untuk bisa menjalankan profesinya. Bersandiwara tetap bahagia meski hatinya sedang terluka jika menghadapi pasien atau muridnya.
Alhamdulillah, semua murid yang rindu belajar sembuh dari hasutan ibu- ibu yang mengatai Jingga tidak baik. Mereka kini semangat belajar lagi. Jingga juga berusaha untuk tidak jijik terhadap murid- muridnua apapun keadaanya.
"Andai, Baba dan Buna tahu. Masih sama- sama di dunia yang sama. Masih di bumi yang sama kita tinggali, ternyata ada banyak orang kelaparan dan bahkan sepatu saja tak punya Buna. Seragam sekolah saja mereka turun temurun dari kakaknya?"
Di sela Jingga menunggu murid- murid mengerjakan tugas. Jingga diam dan memperhatikan muridnya satu persatu- satu. Hatinya kembali terkoyak melihat satu muridnya seragamnya ada yang sobek tapi tetap dipakai. Dari belasan siswanya yang memakai sepatu hanya dua orang.
Jingga rasanya ingin menangis di situ. Tapi sebelum air mata yang menggenang itu tumpah,Jingga sadar dirinya sekarang bertugas sebagai guru yang menginspirasi. Jingga harus tetap memancarkan aura semangat untuk tumbuh pada murid- murid dadakanya itu.
"Aku janji sepulang ke ibukota aku akan lakukan sesuatu!" batin Jingga bertekad.
Anak- anak selesai mengerjakan tugas dari Jingga.Jingga mengajar anak- anak sesuai buku panduan dari Bu Siti. Setelah itu Jingga melanjutkan pelajaranya.
*****
"Hah hahaha Jingga mau nemuin gue? Mau apa dia?" tanya Nita mengejek saat mendengar perkataan Yuri, Jingga ingin bicara.
"Aku juga nggak ngerti. Temui aja!" jawab Yuri.
"Oke..Gue tunggu di rumah!" jawab Nita.
Yuri hanya mengangguk mereka pulang. Sebagai teman sekamar Yuri menghampiri kelas Jingga, tapi ternyata kelasnya sudah sepi.
"Dimana Jingga?" batin Yuri.
Salah seorang murid memberitahu kalau ternyata sedang ikut ke rumah salah satu warga yang mengeluh sakit perut.
__ADS_1
"Oh, dimana rumahnya?" tanya Yuri.
"Rumahnya di dekat pohon di persimpangan jalan ke ladang!" salah satu orang memberitahu.
Yuri kemudian mendatangi rumah sesuai yang ditujukan anak- anak, entah kenapa meski bukan tugasnya Yuri jadi tertarik membantu Jingga.
"Yuri!" pekik Jingga melihat kawanya menyusul.
"Gimana keadaanya?" bisik Yuri nelihat Jingga keluar dari kamar seorang warga dan berpamitan.
"Bahas di rumah aja!" tutur Jingga.
Kemudian Jingga berniat pamit.
"Tunggu Nona!" panggil suami dari si ibu yang akit itu.
"Iya Pak!"
"Berapa kami harus bayar?" tanya Bapak itu.
"Nggak usaj bayar. Pak. Saya hanya membantu! Semoga ibu cepat sembuh. Kalau 3 hari belum sembuh kabari saya dan biar saya periksa lagi!" jawab Jingga ramah.
"Kalau begitu, makan dulu Nona!"
"Terima Kasih Pak. Tapi kami sudah makan!" tolak Jingga halus.
"Ah jangan bohong Nona..Kami tahu Nona baru dari sekolah. Pasti belum makan mari makan dulu!" sambung Tuan Rumah itu.
Yuri kemudian menatap makanan itu dengan wajah berbinar - binar. Berteman dengan Jingga sungguh membawa hoki. Tak masalah tak ada nasi yang oenting ada lobster daripada sama mie instan terus.
Sementara Jingga yang terbiasa makan enak, tampak elegan dan tenang tapi tetap bersyukur dan menyambut ramah ke si Tuan Rumah. Mereka pun menyantap makanan itu.
Sepulangnya bapak itu juga membawakan umbi tanah dan buah pisang untuk Jingga dibawa pulang.
"Terima kasih Pak!" jawab Jingga terharu.
Bapak itu pun sangat bahagia bisa memberi Jingga oleh- oleh.
"Seneng banget ya Ngga jadi Lo!" tutur Yuri.
"Iyah. Aku sangat bahagia. Aku juga bersyukur Yuri!" jawab Jingga
Tapi sungguh dalam hati Jingga ini amazing. Jingga sangat bahagia saat ada orang lain mengatakan terimakasih padanya dan menyunggingkan senyum bahagia.
Selama ini Jingga selalu acuh pada orang selain keluarga nya. Bahkan pada pelayanua Jingga jarang berinteraksi.
Jingga juga hampir tak pernah menerima pemberian barang apalagi makanan dari orang lain. Di sini Jingga merasakan namanya ketulusan dan diberi. Jingga benar- benar merasa sangat bahagia.
Dan di setiap kebahagiaan itu, Jingga selalu mengingat Adip. Jingga melakukan dan menemukan semua itu karena Adip yang memberi contoh padanya. Adip juga yang menyadarkan dan memberitahu.
__ADS_1
"Keren kamu Ngga!" sambung Yuri memuji.
"Tapi sebenarnya aku takut!" ucap Jingga kemudian.
"Takut kenapa, ini pertama kalinya aku terjun ke pasien. Ilmuku belum banyak, penegakan diagnosaku belum mantap!" sambung Jingga.
"Lantas?"
"Istri bapak tadi aku masih bingung, itu ISK atau Apendik (usus buntu). Aku masih butuh jam terbang tinggi untuk bisa membedakan. Aku tanya kencingnya normal sih, tapi mau kusebut apendik aku takut salah!" tutur Jingga bercerita sambil jalan.
"Aku nggak mudeng Ngga!" jawab Yuri jujur.
"Intinya, jika diagnosa dugaanku benar ibu itu harus dibawa ke kota Yuri, dia harus dioperasi!" jawab Jingga lagi.
"Wuah? Ngeri amat?"
"Nah itu makanya aku beri dia obat untuk 3 hari kalau tidak sembuh kita harus antar dia ke kota!" jawab Jingga lagi.
"Semoga dia sembuh deh!"
"Aamiin! Semoga dugaanku salah ya. Soalnya dia harus diperikaa darah dan di rontgen dulu juga!" jawab Jingga lagi.
"Pernah dengar kata- kata itu, semoga sembuh dengan obat kamu!" jawab Yuri.
"Iya!"jawab Jingga mengangguk. Padahal dalam hati Jingga kalau pun haruas rujuk ke kota, Jingga siap menemani.
Mereka sampai di rumah. Nita dan Siska sudah duduk menunggu Jingga dengan angkuhnya. Mereka juga menatap sinis ka pisang yang dibawa Yuri. Ingin minta tapi gengsi.
"Lo katanya nyari gue ada apa?" tanya Nita ke Jingga dengan berani mengira Jingga masih penakut.
"Iya!" jawab Jingga dengan nada beraninya.
"Ya udah ngomong!"
"Apa sih maksud kamu, nyuruh- nyuruh Bang Adip jauhin aku? Kamu tau apa sih tentang hidupku! Kenapa kamu jelek- jelekin aku ke dia?" tanya Jingga menggebu, dia sudah sangat sedih dan kesal karena bahagianya diusik
"Lo kan emang jelek! Kecentilan lagi. Gue cuma sampaiin fakta kok!" jawab Nita malah semakin berani mengatai Jingg.
"Eh kurang ajar kamu ya!" bentak Jingga maju hendak mendorong Nita.
"Wuah! Kamu berani ke gue?" tanya Nita.
"Apa alasan aku harus takut ke kamu? Bang Adip mau dekat aku atau siapapun kamu nggak berhak larang- larang dia! Ngerti!" ucap Jingga balas mengancam dan menghardik Nita.
Yuri dan Prilly hanya jadi penggemar, Siska yang naksir Adip kemudian ikut nimbrung.
"Kamu bener- bener ya Ngga! Nggak tau diri banget! Kamu kan udah sama Dokter Rendi, kenapa masih harus dekati orang lain dan kecentilan ke orang!" sahut Siska ke Jingga.
"Aku nggak pernah kecentilan! Dan kalian nggak tahu apapun tentang hidupku jadi jangan ikut campur!" jawab Jingga masih menantang.
__ADS_1
Melihat Jingga yang tidak takut sama sekali dan malah mengancam, Siska gemash memudian maju dan menarik rambut Jingga. Jingga kemudian tidak terima mereka terlibat pertengkaran sengit.
"Jingga, Siska stop! Ingat kalian dimana?" lerai Yuri dan Prilly