
"Aaaaahhhh....," lenguh Adip di ujung permainanya.
Seketika tubuhnya mengejang, dia pun menajamkan benda pusakanya di dalam, sudah tidak peduli tentang hamil atau tidak. Adip mau pergi dia tidak mau menyiakan kesempatan
Dan sejurus kemudian ambruk dan merebahkan badanya di samping Jingga.
Jingga pun melotot pasrah.
"Udah Bang?" tanya Jingga dengan raut kecewa.
Adip yang masih ngos- ngosan dan mengatur nafas kemudian mengelap keringat di keningnya. Lalu miring menghadap Jingga.
"Iyah, ya kamu tahu kan udah keluar?" jawab Adip.
"Ooh...," jawab Jingga lemah lali bangun dengan posisi masih tanpa pakaian. Jingga berusaha mencari tissu, untuk membersihkan liaangnya yang sekarang beceek akibat muntahan lahar Adip.
Jingga tampak kecewa. Kali ini Adip sangat cepat, padahal Jingga barus saja sedang nikmat- nikmatnyaa setelah Adip susah payang memancing gaairahnya..
"Kamu kok sedih?" tanya Adip peka. "Kecepetan ya?" tanya Adip ikutan murung.
Iya Adip sadar, entah kenapa tak sehebat sebelumnya.
"Iyah nggak apa- apa kok," jawab Jingga pasrah.
Meskipun dalam hati Jingga tidak terima, rasanya sangat tidak nyaman. Kecewa malu dongkol tidak fair dan aah tidak bisa jelaskan. Tapi Jingga tidak bisa protes, laki- laki kan kalau sudah tidur dan mengejang memang harus diistirahatkan. Mau memuaskan sendiri dengan cara lain, Jingga nggak mau, kata Adip dosa.
Jingga jadi hanya menelan sendiri kesalnya
"Maaf ya. Kamu belum kliimaks ya?" tanya Adip pengertian
"Nggak apa- apa," jawab Jingga lagi..
"Nanti malam lagi deh. Kita tidur dulu ya!" jawab Adip lago berniat ingin bahagiakan istrinya.
Ya. Bagi Adip dan Jingga, melakukan hubungan suami istri tidak hanya sekedar memenuhi hawa naapsu, akan tetapi sebuah kesepakatan cinta. Saling memberi dan menerima, sebuah aktivitas yang keduanya sama- sama menjadi kebutuha keduanya.
Baik Adip dan Jingga keduanya melakukan dengan persetujuan, kesepakatan, saling mengerti dan tidak ingin menyakiti salah satu, tapi membahagiakan keduanya.
"Nggak usah maksa Bang. Jingga nggak apa- apa kok. Jingga tahu, mungkin Bang Adip kelelahan, dari kemarin kita kaya gitu terus. Malam ini kita istirahat aja!" jawab Jingga tenang berusaha mengerti.
Jingga mengerti bukan karena dia ingin, tapi dari sini Jingga jadi tahu bagaimana pengorbanan Adip di awal- awal. Jingga jadi tahu, demi orang yang disayang, kita memang tidak boleh mementingkan keinginan pribadi, tapi harus ada yang mengalah dan berkorban agar keduanya sama- sama rido dan nanti mencapai bahagia bersama.
"Tapi besok siang kita berangkat ke kampung Ayah Abang. Kamu nggak apa- apa kan?"
"Ya nggak apa- apa, emang kenapa?" jawab Jingga.
Adip mengangguk, kemudian bangun ikut duduk lalu Adip mendekat dan memeluk Jingga dari belakang.
Adip memeluk Jingga tanpa berkata-kata.
Entah kenapa, pelukan Adip kali ini terasa beda untuk Jingga, sesaat seperti ada yang menyusup ke hatinya dan membuat ngilu.
__ADS_1
Jingga kemudian menyambutnta. Dielusnya kedua telapak tangan Adip yang bertumpuk di atas perut polosnya.
"Abang kenapa?" tanya Jingga
"Makasih ya!" jawab Adip.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya, kamu bidadari terindah yang Tuhan kirim buat Abang. Bang Adip nggak ngerti harus bersyukur dengan cara apa yang sebanding dengan pemberian indah ini," tutur Adip lembut.
Jingga tersenyum meski Adip tak melihatnya. Jingga ingin jawab, kalau Jingga anugerahNya. Jingga ingin meminta Adip tinggal, tapi kalau pembahasan Adip sudah bawa Tuhan pasti permintaan Jingga akan dibantah.
"Abang berlebihan deh!" jawab Jingga mengusir sedih di hatinya.
"Beneran, makasih ya, udah kasih bahagia ke Bang Adip..Makasih udah terima Bang Adip,"
"Kenapa Bang Adip tiba- tiba melow begini sih? Udah ah. Bersih- bersih yuk!" ajak Jingga bangun.
Sebenarnya mengingat mereka tinggal sehari lagi bersama, Jingga ingin menangis tidak rela. Makanya Jingga menghindari hal- hal yang berbau melowm
"Ya!" jawab Adip mengangguk
Karena di rumah Jingga kamar mandi di dalam, ada water hiternya juga, mereka pun langsung mandi junub, setelah di hotel malu- malu jaim, di rumah emak tidak memadai, di kamar kemarin siang buru- buru. Malam ini mereka kesampaian mandi bersama dengan hikmat.
Tak ada haasrat yang lain. Mandi sungguh-sungguh, saling membersihkan, saling mengosok dan bekerja sama serta saling tawa menggoda menggelitik.
"Udah ah. Udah malam," potong Adip setelah tidak berasa 30 menit mereka bercanda di dalam.
Adip juga meraih handuknya dan mereka keluar bersama
"Uminya Pak Rendi udah pulang belum ya. Banh Adip pikir- pikir kita nggak sopan tadi belum temuin mereka. Kita sapa mereka yuk!" ajak Adip ke Jingga.
Jingga mendadak diam
Saat tadi mereka datang, mereka memang berdiam diri di mobil beradu argumen dulu sampai Baba mengajak orng tua Pak Rendi masuk. Setelah mereka masuk, Adip dan Jingga masuk ke rumah lewat pintu berbeda. Adip dan Jingga memang belum bertemu denhan umi Rendi yang pernah memandang sebelah mata Jingga.
"Kok diam?" tanya Adip.
"Jingga malas, Bang!" jawab Jingga.
"Kenapa? Katanya Ikhlas?" jawab Adip.
Jingga menelan ludahnya
"Jingga nggak suka sama Uminya Pak Rendi!" jawab Jingga jujur.
"Eeh kok gitu? Kenapa?" tanya Adip.
"Waktu pertama kita ketemu, dia itu kek lecehin Jingga yang nggak pakai hijab."
Adip tertawa mendengarnya
__ADS_1
"Kok ketawa?" tanya Jingga tersinggung.
"Pantas?"
"Pantas apa?"
"Ya pantas mereka lebih getol ke Nila."
"Tapi kan Nila masih anak kecil! Nggak ada yanh lain apa?"
"Jangan bahas lagi!"
"Pokoknya aku malas ketemu. Sebel aku!"
"Nggak boleh gitu. Mereka akan jadi besan kita!"
"Tapi kenapa harus gitu?"
"Ya Wajarlah, Sayang. Namanya juga bu Nyai, pasti ekspektasinya punya mantu yang alim kek Nila gitu. Liat kamu yang dulu pasti beliau khawatirlah!"
"Emanf aku dulu gimana?"
"Masa nggak tahu sih?"
"Perasaan biasa aja!"
"Kata siapa? Abang aja sepanjang malam kebayang kamu terus sejak kamu ikut mobil merah kamu!" jawab Adip merayu.
"Hoh.. iya kah?" tanya Jingga
"Iya...,"
"Lebay banget!"
"Sayang dengerin. Laki- laki itu fitrahny Alloh kasih syaahwat, dan di otaknya hassratnua lebih banyak. Hanya dengan wajah kamu saja, klau kamu tak pandai, kamu bisa memikat banuak laki- laki. Apalagi kalau kamu tak menjada auratmu. Menurutmu biasa, tapi bagi Banh Adio dan laki- laki lain itu beda. Apalagi yang gak bisa kendalikan hawa naaapsu,"
"Itu sebabnya Baba sangat khawatir ke kamu. Itu sebabnya juga Alloh perintahkan kita buat jaga aurat perempuan. Nah itu juga yang dijhawatirkan Uminya Pak Rendi. Pasti mereka berfikir, masa calon Umminya santri- santri pakaianya kayak kamu!".
"Hemm....," jawab Jingga mendengus.
"Mungkin Nila memang yang terbaik untuk Pak Rendi," imbuh Adip lagi.
Jingga masih tak berkomentar dan memilih pakaian tidur.
"Kita turun ya. Kita temui mereka. Mereka calon keluarga kita lho!" bisik Adip ajak hal baik ke Jingga
Meski cemberut Jingga mengangguk.
Mereka kemudian turun dan menuju ke ruang tamu. Sayanhnua ternyata tamunya baru saja pulang.
Baba dan Buna juga sudah ke kamar.
__ADS_1
"Ya udah kita tidur aja!" jawab Adip.