
"Hiks... hiks...!"
Jingga menangis di pojokan ruang tunggu rumah sakit. Jingga benar- benar tidak menyangka perjuanganya mencari sekutu dan dukungan yang bisa mematahkan emosi Baba malah berujung masalah baru.
Jingga lupa, Oma kan sejak Opa Aryo meninggal sakit- sakitan. Bahkan Oma pernah kena sakit depresi sampai harus ikut Amer dan Ikun agar tidak teringat Opa.
Oma baru pulang ke istananya setelah Amer dan Ikun berhasil membawa Oma berobat rutin. Oma tidak boleh berfikir spaneng dan tegang.Oma harus selalu tenang dan bahagia.
Jingga pun jadi ketakutan, begitu Oma sesak nafas ternyata obatnya habis. Ikun dan Amer yang mendengar Jingga berteriak langsung bangun dan membawa Oma ke rumah sakit Opa Nando.
Mereka tidak mengabari Baba dan Bunanya. Yang ada di otak Ikun dan Amer yang penting segera selamatkan Oma.
"Udah sih nggak usah nangis terus!" tutur Amer kesal ke Jingga. Amer tahu, Oma drop karena ulah Jingga. Harusnya, Oma tidak boleh tahu dan biar terima beres saja.
"Hiks... Aku nyesel cerita ke Oma! Maafin aku!" tutur Jingga matanya sembab.
Jingga merasa sangat sial dan serba salah hidupnya, sudah hidupnya diatur terus, jatuh cinta harus terpisah dan terhalang restu, sekarang Jingga akan disalahkan, pasti begitu fikirnya.
"Ya udah sih, udah terlanjur kan, nggak ada gunanya nangis, tinggal berdoa Oma baik- baik aja. Siapin juga respon Baba!" jawab Amer lagi.
Jingga terdiam menelan ludahnya.
"Kak Jingga sama Kak Amer sebenarnya bahas apa? Kalian ada apa sih? Kenapa Oma drop?" tanya Ikun penasaran.
Jingga semakin terdiam, kalau Jingga cerita ke Ikun, apa Ikun akan mendukungnya atau sama menyalahkan Jingga.
"Nggak apa- apa!" jawab Jingga malah memilih sembunyi dulu menunggu Oma sadar.
"Haishhh... pusing Ikun! Kalian aneh!" jawab Ikun kesal kedua saudaranya main rahasia- rahasian.
"Udah nggak usah kepo, telepon Baba dan Buna, beritahu Oma di rumah sakit!" jawab Amer menyuruh Ikun. Ponsel Amer lupa dibawa, sekarang yang megang ponsel kan Ikun.
"Oh ya.. ya... lupa. Tapi kan Nila pasti udah kasih tahu!" jawab Ikun.
"Ya nggak apa- apa yang penting kabarin biar kita nggak disalahin!" jawab Amer lagi.
Ikun kemudian menelpon Babanya. Benar saja, setelah keluar kamar, Baba dan Buna dibuat kaget setengah mati. Niatnya menyambut bahagia Amer dan Jingga, taunya Jingga dan Amer udah pulanh subuh- subuh, dan lebih parahnya lagi ketiga anaknya malah ke rumah sakit.
Baba dan Buna pun langsung menuju ke rumah sakit. Nila, Iya dan Iyu yang tadi ditinggal, sekarang ikut diboyong dibawa ke rumah sakit. Untung rumah sakit milil Opa tiri mereka, jadi Iya dan Iyu lolos masuk ke rumah sakit lewat pintu khusus. Kalau di rumah sakit pemerintah atau swasta lain kan anak kecil dilarang masuk.
"Baba udah di depan rumah sakit kok!" jawab Baba ke Ikun
__ADS_1
"Ya Ba....!" jawab Ikun menutup telepon.
Amer kemudian kembali duduk.
"Gimana?" tanya Amer.
"Baba udah sampai kok!" jawab Ikun
Mendengar cerita Ikun, Baba udah sampai di rumah sakit, dada Jingga bergemuruh. Suhu tubuhnya pun meningkat dan tensinya naik.
Di otak Jingga mulai datang berbagai spekulasi. Pasti Jingga akan disidang dan ditanyai kenapa Oma sakit. Kalau Jingga cerita pasti Jingga semakin membuat marah.
"Waah bisa kacau kalau ada perang besar di rumah sakit," batin Jingga berfikir.
"Aku ceritanya besok saja nunggu Oma sadar. Semoga Oma mendukungku dan tidak marah. Bagaimana kalau marah?" batin Jingga terus memilin jarinya sendiri ketakutan.
Meski Jingga berada bersama dua saudara kembarnya. Jingga merasa sendirian,terpojok, seperti tersangka yang siap menerima putusan hukuman. Padahal kan Jingga tidak salah.
Mencintai dan dicintai adalah hak semua insan. Kenapa bagi Jingga terlalu rumit dan menyakitkan. Jingga kan juga berhak bahagia bersama pasangan pilihanya. Yang lalui hidup Jingga kan Jingga sendiri.
Jingga pun terdiam kaku dan pucat di pojokan.
Tidak selang lama, suara celptehan Iya dan Iyu terdengar diiringi nasehat dari Buna dan Nila untuk jangan berisik di rumah sakit. Dari ujung lorong pun mulai nampak rombongan keluarga besar itu. Baba berjalan tegap di depan mengendong Hijau, Biru digendong Nila, Buna berjalan di belakang ditemani pengasuh dan pengawal.
"Apa yang terjadi? Oma baik- baik saja?" tanya Baba tanpa bosa basi.
"Masih diperiksa Ba!" jawab Amer.
Berbeda dengan Baba, Buna mendekat ke Jingga dan mengulurkan tangan memeluk Jingga.
"Sayang... kalian tiba jam berapa? Maafin Buna ya lama turun!" tanya Buna lembut.
"Huuuuhhh" Jingga pun mengendurkan nafasnya.
Seperti menemukan oase di tengah gurun, dan seperti mendapatkan celah di tengah sesak. Ibu memang tempat berpulang yang paling indah. Jingga pun menyambut pelukan Bunanya, meski belum bercerita, Jingga menyandarkan beban mentalnya di tubuh hangat yang lebih kecil dari tubuhnya. Jingga memang mewarisi gen Baba yang tubuhnya tinggi bak model.
"Bunaaa...!" lirih Jingga akhirnya tangisnya pecah dalam pelukan Buna.
Buna mengelus pundak Jingga lembut.
"Oma akan baik- baik saja? Mungkin Oma terlalu rindue dan terkejut karena kepulanganmu. Santai saja yaa.. Oma pasti baik- baik saja!" tutur Buna pelan dan memberikan afirmasi positif.
__ADS_1
Jingga menelan ludahnya mengangguk saja. Meski begitu, Jingga tetap dheg- dhegan dan hanya bisa melirik Baba. Buna kan belum tahu penyebab Oma syok. Bagaimana kalau nanti Oma sadar dan cerita, atau kalau Jingga cerita penyebabnya? Atau kalau Oma keblablasan.
"Iya Buna!" jawab Jingga memilih menyembunyikan cemasnya dan menunggu Oma sadar.
"Ehm!" Baba yang sebenarnya dulu marah dan kecewa ke Jingga karena Jingga pergi tanpa ijin hanya berdehem.
"Salim sama Baba!" bisik Buna.
"Assalamu' alaikum Ba!" tutur Jingga menunduk mwndekat ke Baba dan meraih tangan Babanya.
Meski dengan ekspresi dingin, Baba tetap mengijinkan Jingga mencium tanganga. Bahkan Baba memeluk Jingga kemudian.
"Lain kali jangan pergi tanpa ijin Baba! Hmm!" tutur Baba sambil memeluk Jingga.
Jingga hanya diam. Amer juga masih tetap tutup mulut dan jaga kondisi.
"Maafin Jingga, Ba!" jawab Jingga memilih jadi anak manis dulu. Pokoknya harus pastikan Oma masih hidup dan baik-baik saja.
Baba dan Buna positif thingking dan tidak menyalahkan juga sudah anugerah buat Jingga yang sudah overthingking.
Keluarga itu pun kemudian duduk tenang. Baba berjalan menghampiri dokter jaga yang bertanggung jawab.
"Semoga Oma sadar sehat dan mendukungku!" batin Jingga dalam diamnya dan menahan dheg- dheganya.
Iya yang tadi digendong Baba, sekarang ingin bermanja- manja dengan Jingga. Ketegangan Jingga pun berkurang karena harus meladeni Iya.
****
"Tadi gue lihat Jingga Tam!" tutur teman Tama lewat telepon, dia sedang menjenguk temanya di rumah sakit.
"Coba foto! Dia kan pulang harusnya masih semingguan lagi!" jawab Tama.
"Suer. Bareng adik kembarnya!" jawab teman Tama lagi.
"Oke! Thanks" jawab Tama memgangguk mengerti. Berarti kedatangan Amer waktu itu adalah menjemput Jingga.
"Yuhu!" jawab teman Tama mematikan ponsel.
Tama kemudian tersenyum simpul.
"Okey Baby. This is time, for game to begin!" batin Tama tersenyum licik.
__ADS_1
Lalu Tama memberi kabar ke anteknya.
"Silahkan Up fotonya!" ketik Tama ke temanya.