
Berbeda dua jam dari tempat Jingga berada. Di sebuah meja makan panjang dan mengkilat dengan berbagai menu makanan tersedia, dua orang tua beserta 5 putra putrinya menyantap sarapan bersama.
“Iya... iyuu... makan yang bener!” tutur Baba sedikit membentak, memperingati kedua balita kembarnya yang terlihat bermanja pada Kak Nila dan Bunanya.
Mendengar suara Babanya yang sedikit galak Iya dan Iyu langsung diam.
“Kalian sudah besar, sebentar lagi ada adik bayi, biasakan makan sendiri, biar Kak Nila dan Buna makan sendiri!” tutur Baba lagi.
Sebenarnya baik Buna atau Nila tidak keberatan menyuapi Iya dan Iyu, tapi mendengar Baba sedang ingin mendidik putra- putranya, Buna memilih diam dan membiarkan suaminya mendidik anaknya tanpa ikut campur. Begitulah Buna menjaga wibawa suaminya di depan anak- anaknya.
“Maafkan kami Baba!” jawab Iya dan Iyu.
“Baba maafkan. Makan yang benar, dan habiskan segera!” tutur Baba lagi.
Semua anak- anak Baba dan istrinya mematuhi Baba. Ruang makan itu kembali hening semua makan dengan lahap, dan tidak ada yang boleh bangun sebelum Baba selesai. Baba memang sedisiplin itu, anggota keluarganya pun tak ada yang berani melawan kecuali Jingga.
Jingga satu- satunya anak yang suatu hari pernah nekad meninggalkan Babanya karena kesal ke Baba, itu juga Babanya langsung menegur Buna untuk memperingatinya.
Hari ini, Jingga tidak ada di situ, kalau ada pasti ikut menimpali. Sebenarnya sifat Jingga hampir mengikuti Baba, ingin mendominasi dan suka melawan, tapi karena didikan Buna dan perempuan masih ada watak watak cengeng dan takut.
Tidak butuh waktu lama, Baba mengakhiri makanya.
“Nila, Ikun Amer!” panggil Baba memanggil tiga anaknya.
“Ya Ba!” jawab semua anak- anak.
“Ikut Baba, kalian harus kenal dengan calon kakak ipar kalian!” tutur Baba lagi.
“Siap Ba!” jawab Amer dan Ikun sangat semangat. Sementara Nila mengangguk tersenyum, karena Nila sudah sempat melihatnya meski hanya sekilas.
Baba dan Rendi mengatur temu bersama. Baba ingin mengenalkan Rendi dengan adik- adik Jingga sekaligus agar Rendi memberitahu apa nama kabupaten, desa dan kecamatan tempat Jingga berada. Lusa dengan pesawat pribadi Baba Ardi, Amer akan berangkat ke pualu P.
Sementara Buna memilih tidak ikut campur, seperti biasanya, beserta pengasuhnya, Buna menghabiskan waktu paginya mengantar anak- anak ke sekolah.
Sambil menunggu waktu sekolah anak- anak selesai, Buna datang ke panti, berkeliling yayasan panti asuhan yatim piatu kepunyaan Gunawijaya yang sekarang menjadi milik Buna. Itulah kebiasaanya.
Terkadang Buna ikut menemani anak- anak panti belajar dan mengaji. Terkadang juga Buna, memeriksa laporan karyawanya. Yang pasti jika jenuh di rumah Buna menghabiskan waktu di Panti.
Anak asuh Buna dulu, yang sangat dekat denganya yang bernama Vivi sekarang sudah menjadi gadis cantik, berhijab, smart. Vivi juga sedang menempuh pendidikan dokter spesialis saraf dan hampir selesai.
Vivi tidak jarang menemui Buna Alya yang dia anggap sebagai ibunya. Apapun masalah Vivi Bunalah sebagai penasehatnya. Seperti anak ke Ibunya.
Hari ini, Buna juga berencana menemui Vivi yang sedang libur dari prakteknya.
“Assalamu’alaikum Buna!” sapa gadis cantik dan berhijab itu menghampiri Buna yang sedang duduk di gazebo panti sambil membaca buku dan mengelus perutnya yang mulai terlihat membesar.
“Wa’alaikum salam, putriku!” jawab Buna ramah.
Meski Buna sudah dianugerahi banyak Putra dan putri, terhadap anak- anak panti yang dirawatnya dulu sebelum menikah, Buna tetap menyayangi dengan hatinya.
__ADS_1
Anak- anak asuh Buna pun menyayangi Buna sebagai orang tua dan sangat hormat ke putra – dan putri kandungnya.
“Buna sehat?” tanya Vivi lembut. Mereka berpelukan melepas rindu.
“Sehat, Sayang. Duduklah!” ucap Buna mengajak Vivi duduk.
“Vivi ikut senang mendengar Buna hamil lagi, Vivi bawakan salad buah dan asinan rambutan, semoga Buna suka ya!” tutur Vivi mengeluarkan bingkisan yang dia bawa.
“Terima kasih, Sayang! Buna suka sekali. Alhamdulillah Alloh kasih rejeki tak terkira, semoga Buna dan Baba bisa jaga tanggung jawab sebagai orang tua dengan baik ya!” jawab Buna senang dan membuka salad buah kesukaanya itu.
"Aamiin!" jawab Vivi.
Buna langsung memakan salad dengan lahap. Isinya anggur, strawbery, buah naga mangga dan apel. Buna dari dulu sangat suka buah- buahan.
“Bun...” panggil Vivi kemudian, dia sudah merasa sangat dekat dengan Bunda Alya.
“Ya..., ada apa?”
“Ada yang mengkhitbah Vivi!”
“Alhamdulillah, Sayang... Buna sangat senang mendengarnya. Siapakah dia?” jawab Buna bahagia.
“Dia teman kuliah Vivi, namanya Dimas! Dia sekarang ambil spesialis saraf, kita bareng dalam satu rumah sakit” jawab Vivi lagi.
"Bagaimana akhlaknya?"
“Ya sudah, jika dia pria yang baik, seiman, terima saja! Kamu memang sudah seharusnya menikah, Sayang! Apalagi yang kamu tunggu!” jawab Buna lagi dengan semangat. Usia Vivi sekarang kan sudah 26 tahun lebih.
“Tapi, di hati Vivi ada orang lain, Buna!” jawab Vivi lagi lirih.
“Lhoh!” jawab Buna kemudian dengan ekspresi penasaran.
“Vivi jatuh cinta dengan teman organisasi Vivi!” jawab Vivi kemudian dengan muka layunya.
“Kalian berpacaran?”
“Tidak, dia sangat menjaga diri dari hubungan seperti itu! Tapi dia sangat baik Bun. Kita dekat dan sering bermusyawarah. Vivi merasa dialah orang Vivi harapkan!" jawab Vivi menceritakan laki- laki idamanya.
"Memang Dimas bukan?"
"Dimas orang tuanya dokter juga Bun. Mereka orang terpandang, Vivi takut Vivi dipandang sebelah mata, Vivi kan hanya anak panti, tapi jika teman organisasi Vivi dia seperti Vivi! Dia orang biasa!” tutur Vivi lagi.
“Hemmmm!” Buna menghela nafasya pelan meletakan salad buahnya dan menatap Vivi intens.
“Apa teman organisasimu siap menikah dan masih sendiri? Sedekat apa kalian? Apa dia tahu perasaanmu?”
“Vivi tidak tahu, tapi seharusnya dia mengerti perasaan Vivi. Karena Vivi banyak memberi perhatian ke dia, Bun!”
"Lhoh ya nggak bisa gitu. Perasaan itu harus diutarakan. Belum tentu dia paham!"
__ADS_1
"Tapi Vivi perempuan Bun!"
“Coba kamu ungkapkan perasaanmu, tidak ada salahnya kok, perempuan mengaja menikah lebih dulu, sampaikan baik- baik atau lewat perentara yang kalian tuakan. Kalau memang dia mempunyai perasaan yang sama denganmu, menikahlah dan tolak laaran teman spesialismu itu!” tutur Buna memberitahu.
“Dia lebih muda dariku, Buna. Dia baru selesai kuliah, dia sebatang kara.” lanjut Vivi lagi.
“Waduh. Dia sudah bekerja?”
“Setahu Vivi dia memang sudah bekerja dari awal. Dia kuliah dengan beasiswa Bun, dia dari daerah. Dia juga dulu dari pesantren, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya dia meninggalkan pesantren dan bekerja sambil kuliah!”
“Wah hebat dong! Kerja apa dia?”
“Kerja apa aja! Itulah yang membuat Vivi jatuh hati, dia sangat pekerja keras Bun. Vivi ingin suami seperti itu!” jawab Vivi lagi mengutarakan keinginanya.
“Hhhh… dimana dia sekarang?” tanya Buna lagi.
“Sudah dua bulan ini kami tidak pernah bertemu!”
“Berdoa dan istikhoroh, belum tentu yang kamu ingini itu baik untuk kamu, dan yang tidak kamu senangi itu buruk untuk kamu!"
"Kalau secara materi Dimas sepertinya lebih bagus untuk kamu! Tapi kalau sebagai sesosok suami, mungkin teman organisasimu akan lebih membuatmu bahagia, karena Buna bias menebak dia pria yang baik!”
“Iya Bun!”
“Tapi setelah itu semua, satu hal yang harus kamu ingat. Perempuan itu, nomer satu adalah kepastian. Jika orang yang kamu cinta itu tidak siap menikah dan tidak mencintai kamu, menurut Buna, ikhlaskan, lupakan dia dan terimalah pinangan temanmu!” tutur Buna menasehati.
“Tapi Vivi tidak bisa melupakan teman organisasi Vivi ini Bun. Vivi takut dalam pernikahan Vivi, Vivi tidak mencintai suami Vivi dan justru menyakitinya!”
“Aih kamu! Tidak boleh mendahului takdir. Cinta itu Alloh yang berikan, Alloh yang Maha membolak balikan manusia dan berkuasa menempatkan cinta. Kamu kan belum menikah dan belum melaluinya. Cinta itu bisa datang karena terbiasa!” tutur Buna terus menasehati.
“Tapi sungguh Buna, ini pertama kali Vivi jatuh cinta dan menemui laki- laki sebaik dia. Dia begitu humble dan sederhana. Dia bisa melakukan apa saja di segala bidang. Dia tidak berlebihan, dia bergaul dengan siapa saja, dia juga tampan dan yang lebih Vivi kagum, meski dia tak memperlihatkannya pada orang lain, dia ternyata seorang hafids Bun! Vivi pernah mendengarkanya tanpa sengaja. Saat ada acara bakti social di tempat bencana, kita menginap kamping di tenda. Di saat semua orang tidur, dia tidak tidur, dia duduk menjauh dari teman- temanya, tanpa memegang ponsel dan mushaf, ternyata dia sedang murajaah Bun. Padahal dalam kehidupan keseharianya dia tidak pernah memperlihatkanya, dia tidak pernah sok memberi hadist atau menggurui orang, tapi ternyata dia seorang hafids!” tutur Vivi lagi masih terus menceritakan sesosok idola dalam diamnya.
Buna tertegun mendengar cerita anak angkatnya itu.
“Sepertinya dia memang laki- laki yang sangat istimewa, Buna jadi penasaran ingin bertemu denganya. Eh tapi sayang, sebaik apapun kualitas orang itu. Jika Alloh belum menghendaki dia jadi jodoh kita, itu berarti bukan yang terbaik untuk kita. Tetap istikhorohlah, siapa yang terbaik untuk kamu. Lagian kan kamu juga belum tahu bagaimana perasaan laki- laki itu ke kamu. Siapa tahu dia sudah ada calon yang lain? Kamu nanti sakit hati lagi. Istikhoroh ya!” tutur Buna lagi memberi nasehat dengan rasional.
“Ya Buna!” jawab Vivi menelan ludahnya kecewa.
“Dimana laki- laki itu berada sekarang?”
“Vivi belum tahu, Buna. Kita biasanya berinteraksi di grup komunitas. Sudah seminggu lebih dia tidak pernah nongol!” jawab Vivi.
“Hmmmm!” jawab Buna berdehem.
Kasihan sekali Buna memandang Vivi, memendam cinta dalam diam memang tidak menyenangkan.
"Buna hanya bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Berdoa, istikhoroh ya!" tutur Buna lagi.
"Ya Bun!"
__ADS_1