
Buna menarik nafas dalam, menatap putri cantiknya yang dulu kecil mungil dan begitu menggemaskan, kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang merengek, memohon membawa nama cinta seorang pria.
Buna menelan ludahnya dan kemudian tersadar. Dirinya memang sudah tua, putrinya juga sudah dewasa. Buna juga, memang sudah menjadi orang tua. Perjalanan hidup memang akan sampai di masa seperti ini.
Sesaat bayangan masalalu datang. Buna melihat wajah Baba muda pada Jingga.
Wajah Baba muda yang ingin bebas dan tidak bisa ditebak kemana arah jalan dan tujuannya.
Baba muda yang selalu memberi kejutan tak terduga terhadap setiap pilihan dan langkahnya.
Baba yang kelakuanya kadang tidak bisa Buna terima dengan akal normal dan selalu memberikan hadiah di balik perilakunya yang terkadang membuat hati Buna kaku dan jengkel sebelumnya.
“Huuuh...!”
Buna Jingga pun teringat Oma Mirna Nurmalasari. Inikah yang dirasakan Oma Nurma, saat dia mengetahui putrinya bermalam dengan laki- laki bukan mahramnya.
Oma Nurma pasti sangat hancur, kecewa dan sakit. Sama seperti yang Buna dan Baba rasakan tadi. Padahal sebenarnya Oma dibohongi. Buna Alya dulu tak disentuh sedikitpun. Hanya akal-akalan Baba.
Ah tetap saja tidak bisa disamakan.
Oma Nurma dibohongi, oleh si pelaku perbuatan senonoh itu berbekal cctv apartemen.
Sementara Buna, dibuat tercengang dengan foto fitnahan itu ke dunia maya. Namanya tercemar, parahnya Putrinya mengaku tak tahu dan tidak merasakan apapun.
Sakit yang Buna dan Baba rasakan melebihi rasa sakit Oma Nurma dan Oma Rita dulu. Bahkan sekarang yang menimpa Jingga masih menyakiti Oma Nurma dan Oma Rita.
Buna mengatur nafasnya pelan agar emosinya kembali normal dan pikiranya bisa berjalan dengan baik dan benar.
Satu yang pasti, setiap orang mempunyai jalanya sendiri dalam bahagianya. Benar kata Amer, semua harus dihadapi dan ada jalan keluarnya. Buna dan Baba tidak boleh menolak kenyataan, sepahit apapun itu.
Jika dulu Buna, yang Baba sendiri bilang melakukanya padahal kenyataanya tidak, tidak menutup kemungkinan ada keajaiban kan kalau Putrinya juga selamat. Di hati kecil Buna seperti ada angin bisikan lalu menghampiri otak agar Buna berpositif thingking
“Buna ingin bertemu dengan laki- laki bernama Adip itu!” tutur Buna kemudian.
Jingga langsung girang dan mengangkat wajahnya sumringah.
“Bang Adip akan ke sini Buna.. Bang Adip tunggu pekerjaanya selesai, tunggu bulan depan, Bang Adip akan kesini!” jawab Jingga bersemangat.
“Kenapa harus bulan depan?” tanya Buna lagi.
Dulu Baba tak menunggu waktu untuk memperjuangkan Buna.
“Bang Adip kan baru kerja Buna, Bang Adip belum punya uang buat beli tiket!” jawab Jingga jujur dengan wajah polosnya.
“Haaah!” pekik Buna dan Amer.
Amer yang tadinya diam ikut menoleh heran ke Jingga. Amer berfikir Jingga akan menjawab, alasanya karena libur kerja atau nunggu cuti kek atau apa kek. Kenapa Jingga harus beralasan karena Adip tidak punya uang.
Sebagai laki- laki, Amer tidak terima Jingga merendahkan suaminya sendiri di hadapan Bunanya.
“Kamu bilang dia tidak punya uang?” tanya Buna kaget.
“Iyah!” jawab Jingga mengangguk polos.
“Hiishh!” desis Amer gemas.
“Hoooh!” Buna kemudian menghela nafasnya dan menepuk jidatnya.
Melihat respon Buna, Jingga mengernyit.
"Kenapa Buna?" tanya Jingga polos.
"Untuk membeli tiket saja dia tidak punya uang?" tanya Buna lagi.
"Bang Adip kerja Bun!" celetuk Amer langsung ditahan Buna.
__ADS_1
"Diam kamu. Jawab pertanyaan Buna, Jingga!" tutur Buna
"He... tiket pesawat dari Pulau P ke sini kan memang mahal Buna. Bang Adip kerja baru sebulan juga belum. Bang Adip belum gajian dan belum libur!" jawab Jingga sangat apa adanya.
"Memang berapa gajinya?"
"Ishh Bunaa... jangan tanya gaji Buna. Yang penting Bang Adip dapat uang halal dan bekerja keras. Jalan yang dia tempuh juga terpuji!" jawab Jingga kali ini berbicara normal selayaknua usianya.
Tapi hal itu membuat Buna menelan ludah tidak percaya, Jingga yang bahkan hanya ikat rambutnya saja minta dibelikan Oma dari luar negeri merek mahal setara gaji Adip bilang seperti itu.
"Dia seorang veteriner dan menjadi pegawai kontrak kan?" tanya Buna mengulang. Buna bisa menebak gaji calon menantunya itu. Gaji satu bulan untuk makan Jingga di restoran sehari 3 aja bisa kurang.
"Iya Buna!"
"Kamu yakin akan menikah denganya dan hidup denganya?" tanya Buna lagi.
"Sangat yakin Buna. Jingga cinta Bang Adip. Jingga yakin Bang Adip yang terbaik untuk Jingga Buna!"
"Kamu tau gaji pegawai pemerintah sepertinya berapa?"
"He... tau Buna!"
"Benar kamu yakin?"
"Benar Buna. Jingga yakin Buna! Hidup sederhana di desa ternyata sangat menyenangkan Buna. Bahkan Jingga bisa masak tanpa memakai kompor. Jingga juga bisa mengambil air tanpa pompa air. Itu sangat menyenangkan Buna!" jawab Jingga lagi berapi- api.
Glek... Buna pun terhenyak dengan pernyataan Jingga. Buna diam sesaat.
“Amer, ambilkan Buna minum lagi, ambilkan Buna obat juga!” tutur Buna.
“Jingga aja yang ambilkan!” jawab Jingga berdiri semangat membantu Bunanya.
“Nggak! Kamu duduk dan tetap di sini! Amer ambilkan!” tutur Buna ke kedua anaknya.
Saat Amer mengambil air, Buna mendekat ke Jingga dan menatap Jingga intens. Jingga jadi merinding meski Buna ibunya sendiri bersikap begitu.
“Buna mau tanya! Jawab Jujur” tutur Buna lirih.
“Iyah!” jawab Jingga mengangguk.
“Saat kamu sadar, apa ************ anak Buna sakit?” tanya Buna hati- hati.
“Tidak!” jawab Jingga cepat dan menggelengkan kepanya.
“Apa setelahnya ada rasa perih dan susah berjalan?” tanya Buna lagi.
“Tidak Buna!” jawab Jingga lagi.
"Apa setelahnya kencingmu seperti tertahan?"
"Tidak sama sekali!"
“Ehm... apa kam pernah coba masukin jari kamu memeriksa Vaaginamu?” tanya Buna.
“Buna apaan sih?” jawab Jingga sewot.
“Jawab pertanyaa Buna!”
“Jingga normal Buna, buat apa Jingga melakukan itu? Tidak ada Jingga melkukan hal jorok dan aneh begitu!” jawab Jingga tegas.
“Anak Buna jujur kan?”
“Jujur Buna!"
"Bersama Adip, apa kamu pernah?"
__ADS_1
"Berhubungan Badan maksud Buna?" jawab Jingga malah balik bertanya.
Buna mengangguk. "Jujur pada Buna!"
"Jingga pernah ciuman!" jawab Jingga percaya diri dan polos sehingga membuat Bunanya melotot.
"Tapi itu sangat sebentar Buna. Tidak seperti di drama kore itu. Bahkan Bang Adip selalu menghindar dari Jingga. Bang Adip katanya memganggap pernikahan kami belum sempurna karena belum ada Baba. Sungguh Buna Bang Adip jaga Jingga. Kalau pun terhadap Tama.Jingga tidak ada rasa apapun!" tutur Jingga panjang kali lebar kali tinggi.
“Huuuft!” Buna mengangguk dan menghela nafasnya panjang. Ada sedikit kelegaan di hati Buna.
Di saat yang bersamaan, terdengar suara Ikun mendekat bersama riuh suara Iya dan Iyu.
“Kamu masuklah dan istirahat ke kamar. Buna harus bahas ini dengan Baba. Jangan bicara apapun pada Baba kalau kamu tidak mau Baba marah! Termasuk tentang Adip.” tutur Buna ke Jingga.
Jingga mengangguk patuh.
"Iya Buna!" jawab Jingga bangun dan pergi ke kamar.
Di saat yang bersamaan, di belakang Ikun, Iya dan Iyu, Amer juga datang membawa air putih dan obat Buna.
“Bunaaa!” panggil Iya dan Iyu kompak mengulurkan tangan, keduanya sama- sama ingin memeluk Buna.
“Uluuh uluuuh, Sayangnya Buna udah bangun semua rupanya, sini peluk Buna!” jawab Buna membalas mengulurkan tangan ke Iya dan Iyu.
Apapaun keadaan hati Buna, terhadap kedua anak balitanya, Buna selalu menampakan muka tenang dan bahagianya. Buna mau anak- anaknya tumbub sehat dan bahagia.
Ikun menurunkan Iya dan Iyu yang sudah berat, mereka berdua berlari menghambur ke Buna dan menciumi pipi Buna.
“Acem!” tutur Buna membalas mencium Iya dan Iyu bergantian.
"Hahaha hehehe!" Iya dan Iyu hanya membalas Buna dengan gelak tawa.
“Ini obatnya Buna!” tutur Amer meletakan air putih dan obat.
“Terima kasih Nak!” jawab Buna.
Kini dua pasang putra kembarnya versi besar dan kecil, berkumpul.
“Iya dan Iyu, duduk sendiri ya! Buna mau minum obat!”
“Iya!”
Ikun meski laki- laki dengan telaten membukakan bungkus obat Buna dan memberikannya pada Buna. Keempat anak Buna diam memperhatikan Buna dan menunggu Buna minum.
“Kalian berdua, temani Nila di rumah sakit jaga Oma!” ucap Buna kemudian.
“Ya Bun!” jawab Amer tanpa tanya atau membantah.
“Bun... tapi Baba dan Kak Jingga bagaimana? Buna baik- baik saja?” tanya Ikun merasa protes.Tadi kan Ikun ke kamar setelah mengantar Pak Dino.Jadi belum tahu kalau kakaknya sekarang sedang kasmaran.
“Seperti yang kalian lihat, Buna baik- baik saja. Buna akan bicara pada Baba. Baba pasti bisa selesaikan masalah ini kok. Tugas kalian berdua temani Oma dan Nila, kalau Budhe Mira dan Pak Dhe Gery datang, tugas Amer jelaskan ke mereka apa adanya ya!” tutur Buna lagi.
“Ya Bun!” jawab Amer.
Buna sekarang mengerti duduk permasalahanya. Sekarang PR nya adalah membahas masalah Jingga ke Baba dengan sangat hati- hati.
Setelah itu bertemu dengan keluarga Rendi.
Kalau masalah Tama.Buna yakin, Baba akan cepat menangani. Apalagi jika Pak Dino dan Baba sendiri yang turun tangan, dalam sehari tertangani.
Masalah fitnah dan nama baik sebenarnya Baba sangat hafal dan khatam.
Yang membuat berat adalah tatkala Baba dan Buna membayangkan Jingga benar- benar diperkosaa atau melakukan tindak asusila. Itu lebih berat dari apapun, bahkan tidak sebanding dengan kehilangan proyek bernilai trilyunan.
Tapi sekarang Buna mengerti. Pengalaman Buna di masalalu membuat Buna punya keyakinan dan positif thingking yang lain. Entahlah dengan Baba, apa sama seperti Buna atau tidak.
__ADS_1