Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
229. Parah


__ADS_3

Tolong skip yang belum berpasangan, atau sedang puasa.


Untuk kedua kalinya, Jingga bersama Adip naik motor. Jika saat pertama sebagai penumpang dan tukang ojek online, didahului dengan bertengkar di pagi hari.


Kini di malam dini hari malah yang gelap dan sepi, tanpa jaket dan dengan motor polisi pula. Yang pasti statusnya juga sudah berganti status suami dan istri.


Jika dulu Jingga memaki helm Adip, ogah- ogahan dan Jijik karena bekas orang banyak.


Kini sebaliknya, Jingga suka sekalil mencium bau tubuh Adip. Dengan gerakan cepat, Jingga menelusupkan kedua tanganya melingkar ke tubuh Adip. Merapatkan tubuh sintallnya ke punggung kekar, keras dan sehat Adip.


Jingga sangat suka tubuh suaminya yang kuat dan sehat itu. Bukan karena gym atau makan bergizi seperti Amer dan Ikun atau Babanya. Tubuh Adip yang Jingga tahu, karena dia orang lapangan, tertempa sinar matahari dan bersahabat dengan alam.


Terbukti di malam yang dingin ini, Adip relakan pakaian hangatnya untuk Jingga. Adip hanya kaos dalaam tanpa lengan tetap bertahan. Terlebih tanganya yang terkena sayat. Adip tetap mampu mengendarai motor polisi itu. Membuat Adip terlihat semakin gagah.


Sungguh membuat semua sakit yang Jingga bawa hilang. Berganti desiran hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Seperti aliran listrik membuat Jingga bergetar dan membawa Jingga ke dunia indah yang tidak pernah Jingga rasa.


Bahkan tak ada rasa geli ataupun risih tatkala kedua bulatan menonjol yang ada di depan tubuh Jingga menempel di punggung Adip.


Tak peduli hal itu membangkunkan tongkat di bawah sana. Keduanya malah menikmatinya, itung- itung menciptakan suasana panas di tengah angin malam yang dingin.


"Abaang...," bisik Adip ke Jingga.


"Ya Sayang... kenapa?"


"Dia berdiri lagi ya?" tanya Jingga saat tanganya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras di bawah sana.


"Iyah... abis dingin.... jangan pegang- pegang nanti Bang Adip nggak bisa nahan!" jawab Adip sambil terus menarik gasnya.


Sayangnya Jingga yang sudah kenalan sama si dia, mulai akrab dan menyukainya, malah jadi favoritnya. Jingga jadi nakal ingin pegang mainanya, meski masih berbalut pakaian Adip.


"Sayaaang... jangan pegang!" tegur Adip lagi.


Bukan menjauhkan tanganya, Jingga malah menekanya. Lalu iseng memasukan tanganya.


"Perasaan sebelumnya suruh aku pegang- pegang," jawab Jingga malah semakin kencang megangnya setelah tanganya sampai di dalam.


"Sayang... ini di jalan! Bahaya!" tegur Adip.


Tangan Adip yang satu kan dijahit susah juga dibawa naik motor, malah dibuat nggak fokus.


"Biar nggak dingin, Bang!" jawab Jingga lagi.


"Nakal kamu yaa...," jawab Adip lagi. Adip sebenarnya suka, tapi akal sehatnya masih mendominasi. Mereka dalam perjalanan di atas motor. Memang jalanan lengang, tapi kan tetap saja. Jalanan.


"Bang Adip yang ajarin kaan? Suka kaan?" jawab Jingga malah tertawa.


Adip sampai menggelengkan kepalanya. Senang sih, tapi sungguh Adip speechless dan tidak menyangka Jingga senakal ini. Mungkin setelah Jingga merasakan kehebatan si dia Jingga jadi begini.


Padahal Adip kira, pasca kejadian menangis di hotel itu, Jingga akan menjauhinya. Adip kira sakitnya Jingga sembuhnya lama. Adip lihay sendiri cairan berwarna merah menetes di atas sprai bahkan tertinggal di ujung tongkatnya. Sampai Adip takut harus berpuasa sampai keberangkatanya.


Ternyata kebalikanya. Setelah kenal, Jingga semakin berani di depan. Bahkan seperti sekarang, tidak pandang tempat dan waktu.

__ADS_1


"Tapi ini di jalan! Pamali!" jawab Adip lagi


"Malam ini, Bang. Jingga dingiin! Nggak ada yang liat" jawab Jingga malah semakin nekad, memeluk erat dan cengkeram tanganya makin kuat, entah lah setan apa yang merasuki Jingga.


"Ssssttt,"


Adip langsung menyalakan sent kiri dan minggir berhenti di tepi jalan. Jingga pun kaget dan tersentak menarik tanganya.


"Kenapa berhenti Bang? Ini rumah Uwak?" tanya Jingga melihat sekeliling. "Belakang sawah, Bang!" ucap Jingga tanpa rasa bersalah mereka berada di jalan yang kanan kirinya sawah dan kebon.


Mereka berhenti di dekat gubuk bambu dan kayu tanpa pintu, akan tetapi dindingnya lumayan tinggi, tertutup bagian bawah sampai setinggi dada. Di situ tempat warga menjual kopi dan gorengan di pinggir jalan. Biasa tempat petani berteduh saat panen.


Tapi malam ini sepertinya tidak jualan karena terlihat bangkunya ditata di atas meja berbalik, gelap tapi beratap dan terlindungi.


"Ouuuuuhh..," Adip melenguh panjang dan matanya sudah merah terbakar gaairah. Adip langsung membuka helmnya dan berbalik menoleh ke Jingga.


"Bang Adip kenapa?" tanya Jingga dengan bodohnya. Kan Jingga yang buat Adip begitu. Tidak sadar dia membangunkan harimau tidur.


"Tanggung jawab!" sentak Adip dengan suara maskulinya.


"Tanggung jawab apa?"


"Kan Bang Adip udah bilang, jangan dipegang! Jadi gini? Bang Adip nggak bisa nyetir lagi!"


Jingga terdiam.


"Maksudnya gantian Jingga yang di depan? Jingga nggak oernah naik motor. Apalagi motor cowok begini?" jawab Jingga polos..


"Terus apa?"


"Bang Adip nggak tahan, Yang! Sebentar yah! Gara- gara kamu pegang- pegang. Berkedut terus nih. Udah di ujung!" ucap Adip dengan jujurnya.


"Hoh!" pekik Jingga sekarang malah jadi gelagapan. Suaminya minta haknya di pinggir jalan.


"Ini di jalan Bang!" jawab Jingga menoleh ke sekeliling, gelap, dingin tapi sepi. Ngeri.


"Salah kamu sendiri!" jawab Adip lagi. "Ayo turun!" paksa Adip lagi.


"Bang... di rumah aja! Masa mau di sini? Kalau ada yang grebeg gimana?" tanya Jingga lagi ragu sekali. Mereka kan beradab, bukan abg yang nyolong- nyolong.


"Rumah mana? Kita di sini nggak punya rumah!" jawab Adip.


"Bang yang benar aja!" jawab Jingga ragu.


Sayangnya Adip masuk ke gubug mengambil bangku dan menurunkanya di samping meja sebelah dalam,menata dan membersihkanya.


"Baang....," panggil Jingga masih tidak menyangka.


Kalau ada yang lewat? Ada satpol pp atau semacamnya kan malu.


Tidak mengindahkan Jingga, Adip menarik Jingga masuk.

__ADS_1


"Nggak bisa ditahan Bang? Bang Adip kan pandai menahan? Jangan yah!" tawar Jingga lagi.


Bukanya menjawab, Adip malah menurunkan pakaian bawahnya, tidak sepenuhnya lepas, tapi sudah membuka dari lutut ke atas.


"Abang!" pekik Jingga menelan ludahnya kaget dan tidak menyangka suaminya senekat itu.


"Nggak ada yang lihat. Ini jam 2 malam. Cepat!" jawab Adip sambil mendessah.


Jingga kebingungan, tapi kasian Adip.


"Udah di ujung, sebentar doang paling. Nggak ada yang lihat. Kan kita suami istri!" jawab Adip lagi merayu.


Bercampur rasa khawatir, takut, was-was, malu, dingin udara malam sekaligus panas membara dari dalam tubuhnya, Jingga perlahan menurunkan pakaian bawahnya juga.


"Kaya tadi juga enak Yang!" bisik Adip ingin melakukanya dengan gaya duduk.


Jingga secara otodidak paham maksud Adip. Menempatkan dirinya menyesuaikan tempat. Naik dan duduk di pangkuan Adip dengan penyatuan tubuh mereka. Di dalam gubuk itu mereka pun melakukan pergulaatan hebat.


Bilangnya sebentar, tapi sensasi malu, was- was dan tempat yang ekstreme justru ternyata meningkatkan energi mereka sehingga menambah cita rasa berbeda.


Truk-truk besar memang ada yang lewat. Melihat motor yang Adip pakai motor polisi, meski terparkir di pinggir jalan, di tempat gelappun tak ada yang peduli dan berani mengusik.


Bahkan meski itu yang ketiga kalinya di hari itu, di gubug itu malah Adip paling lama bertahan. Apalagi dengan posisinya yang Adip duduk. Jika di rumah berlangsung beberapa puluh menit, ini hampir satu jam.


"Ooohh...," lenguhh Adip dan Jingga bersamaan. Sekitar jam 3 dini hari mereka sampai di puncak perguulatan hebat mereka.


Jingga pun bangun dan menurunkan tubuhnya dari posisinya yang duduk di pangkuan Adip menghadapnya, melepas penyatuan mereka.


Mereka pun segera merapihkan busana mereka lalu duduk beristirahat sebentar.


"Kita parah nggak sih Bang?" tanya Jingga masih sempat berfikir mereka parah.


"Parah!" jawab Adip enteng.


"Iiih! Tau gitu dilakuin? Jingga jadi rasa bersalah nih."


"Ya udah sih. Ini kan tempat tertutup, kita juga udah halal kan? Daripada bggak bisa tarik gas. Udah santai aja!" jawab Adip dengan cueknya. Padahal dalam hati kalau diingat Adip juga malu. Tapi kan tadi berbeda.


"Tapi tadi ada yang liat nggak? Kalau tadi ada yang rekam gimana?" tanya Jingga lagi otaknya travelling jauh. Udah terjadi malah overthingking.


"Ck.. udah terjadi juga, siapa juga malam- malam begini rekam- rekam? Ngrekam kan juga nggak keliatan, nggak usah pikirin, cepat bersihkan dan rapikan lagi!." tutur Adip mengajak Jingga merapikan bangku ke tempat semula.


"Hee... iya sih. Tapi kok Abang bisa kaya tadi?" tanya Jingga lagi sambil bangun masih penasaran.


"Kan, Bang Adip bilang jangan dipegang! Makanya jangan nakal." jawab Adip, menoleh ke istrinya sambil mengangkat bangkunya.


"He..,"


"Tapi suka kan?"


"Mendebarkan Bang. Jingga takut ada yang lihat!"

__ADS_1


"Udah, ah. Yuk jalan!" ajak Adip melanjutkan perjalanan.


__ADS_2